Dialog Ruhani Muslim-Cendekia Kristen (pengantar)

Oleh: Imam Jawad Chirri

Pada  abad-abad  yang  silam  orang-orang  Katolik mengusir kaum Muslimin dan  ajaran-ajaran Muhammad keluar dari Eropa dan dari Dunia Barat. Apabila hal  itu  tidak terjadi maka orang-orang (Barat) akan lebih sedikit memerlukan orang-orang Arab yang terpelajar dan guru-guru seperti Imam Mohamad  Jawad  Chirri untuk membawa pesan Tuhan ke dunia Barat ini.

Orang ini meninggalkan keluarganya dan kerabatnya lantaran mereka melihat adanya kebutuhan penjelasan ajaran agama yang dibutuhkan oleh manusia dan tidak dipenuhi di Amerika.

Saya adalah salah satu di antara orang-orang yang beruntung yang dapat mengecap kelezatan dialog dari Muhammad Jawad Chirri.  Saya  adalah  orang pertama   yang  ditata dan dirobah,  kendati saya tidak  pernah  mempercayai ajaran Kristen, akan lebih jelas bila saya katakan bahwa saya belajar mempercayai Tuhan untuk yang pertama kali melalui Islam oleh imam saya (Chirri).

Bila anda adalah seorang Muslim bacalah buku ini di luar kewajiban untuk  memperoleh pengetahuan. Jika Anda adalah seorang Yahudi atau Kristen bacalah buku ini untuk hal yang sama yaitu belajar mempercayai Tuhan. [Read the rest of this entry…]

Leave a Comment

Menyoroti Wacana Pluralisme Agama

Oleh: Abdulhussein Khusrupanah

Salah satu faktor yang memperkaya ilmu dan pengetahuan masyarakat adalah luasnya jangkauan dialog dan perbincangan ilmiah. Pertumbuhan kuantitatif dan kualitatif suatu gagasan sebenarnya merupakan hasil benturan pendapat dan pertukaran pikiran. Teologi Islam (Ilmu Kalam) juga tidak terlepas dari hukum di atas. Seiring dengan perjalanan waktu, cakupan disiplin ini menjadi semakin luas. Melalui lontaran pelbagai pendapat dan keyakinan dalam ilmu agama-agama dan teologi, disiplin ini keluar dari keredupan dan kebekuan. Jenis gerakan ilmiah ini menyebabkan pendalaman dalil-dalil dan bukti-bukti mengenai pengetahuan tentang Allah, dan menyebabkan masuknya masalah-masalah baru ke wilayah teologi Islam, seperti masalah wahyu dan keimanan, kriteria kebenaran dalam isu-isu keagamaan, bahasa agama, pluralisme agama dan lain sebagainya.

Makalah ini secara ringkas berusaha menjelaskan dan mengkritik sejumlah pendapat tentang kesatuan dan pluralitas agama-agama, sekalipun upaya untuk menjelaskan secara rinci terhadap hal tersebut dibutuhkan kesempatan lain dan banyak makalah.
Pluralisme adalah aliran dan kecenderungan yang menganggap bahwa dasar dan bangunannya adalah pluralitas, dan memiliki pandangan ke arah kemajemukan. Seorang pluralis mempercayai kemajemukan, dan adanya lebih dari satu kebenaran atau hakikat mutlak. Berbeda dengan seorang pluralis adalah orang yang menyakini kesatuan dan cenderung pada semacam pembatasan agama. Aliran pluralisme terbagi menjadi tiga: pluralisme etika, politik dan agama. [Read the rest of this entry…]

Comments (1)

Mengapa Kita Menengadahkan Tangan ke Langit Ketika Berdoa?

Oleh: Admin

Umumnya, pertanyaan seperti ini dikemukakan oleh masyarakat umum. Allah Swt. tidak memiliki ruang dan tempat, lalu mengapa ketika memanjatkan doa sambil mengarahkan mata ke langit dan menengadahkan tangan ke atas sana? Memangnya—al’iyâdzubillah—Tuhan bersemayam di langit?

Pertanyaan ini juga pernah bergulir pada masa para Imam Maksum As Hisyam bin Hakam berkata, “Seorang kafir zindiq datang kepada Imam Ash-Shadiq As dan bertanya ihwal ayat ‘ar-Rahmân ‘ala al-‘arsyi-stawa.’

Imam dalam menjelaskan ayat ini berkata, “Allah tidak memerlukan sedikit pun kepada ruang dan makhluk. Justru  seluruh makhluk bergantung kepada-Nya.”

Si kafir zindiq bertanya kembali, “Lalu apa bedanya ketika berdoa; Anda menengadahkan tangan ke langit atau menurunkan tangan Anda ke bumi?” [Read the rest of this entry…]

Leave a Comment

Yaa Bunayya…[1]

Oleh: Sayid Muh. Taqi Hakim

Musim semi baru saja tiba dan semesta terasa lahir kembali. Pepohonan kembali tumbuh segar, nampak hijau di sana-sini. Bumi menjadi hijau dan sedap dipandang mata. Musim semi berhembus meniupkan angin surgawi. Burung-burung berkicau bernyanyi lagu indah. Di mana-mana udara berisi keceriaan. Kesedihan berubah menjadi kebahagiaan. Tiada yang dapat bertahan tinggal di dalam rumah, orang-orang, tua-muda, laki dan perempuan, bergegas memenuhi tanah lapang dan savanah untuk menikmati suguhan asri dan sejuk musim semi, suguhan sublim Sang Pencipta. Seluruhnya dengan orang-orang yang dicintai berhimpun dalam sebuah lingkaran-lingkaran kecil duduk di sepanjang taman hijau dan kebun bunga.

Suasana ini merupakan sebuah suasana baru, setiap orang melupakan keraguannya tentang segalanya. Tersunggin senyuman di setiap wajah. Pendeknya, orang-orang bergerak, dengan pikiran dan semangat baru. Beberapa orang berebahan tanpa peduli baju-baju rapi mereka akan ternoda, para pelajar mengambil manfaat udara bersih tenggelam dalam pelajaran mereka. Para keluarga datang ke tempat ini untuk bersilaturahmi. Keceriaan meliputi perhimpunan ini. Keceriaan ini dapat disaksikan dari setiap wajah yang hadir. Senyuman dan permainan yang berlaku di hari ini. Ketika mereka lelah duduk dan saling sapa, mereka melonggarkan kaki dan berjalan-jalan kecil di sekitar taman. [Read the rest of this entry…]

Leave a Comment

Hidup yang Tidak Dikaji, Bukanlah Hidup

Oleh: Akmal Kamil

Barangkali Anda sangat familiar dengan aporisme di atas. Tentu bagi mereka yang memiliki kuriositas tentang kehidupan sudah barang tentu sering mengulang-ngulang aporisme ini. Sebuah aporisme yang menantang manusia untuk membuat hidup lebih berarti dan bermakna. Lebih dinamis dan progresif. Socrates demikian juga Plato muridnya dalam menemani manusia mencari makna hidup bertutur bijak: “Hidup yang tidak dikaji bukanlah hidup.” Iya, hidup yang tidak dihayati, diinternalisasi dan dikaji tidaklah pantas disebut sebagai hidup. Manusia yang menjalani hidup sedemikian tidak lain kecuali seonggok jasad yang mengikuti pergiliran siang dan malam, reproduksi generasi, menyitir Iqbal, hanyalah seorang pengembara berkenala mengikuti pundak usianya, ia lalui siang dan malam, semakin jauh dari kehidupan, semakin dekat kepada kematian.

Bertitik-tolak dari aporisme inilah manusia dengan berbagai jalan dan upaya berusaha mengkaji hidup ini. Aporisme ini boleh jadi memiliki arti bagi mereka yang masih mencari makna hidup dan akan semakin berarti bagi mereka yang ingin menambah luas cakrawalanya tentang hidup.  [Read the rest of this entry…]

Leave a Comment

Membincang Takdir Manusia [1]

Oleh: Murtadha Muthahhari

Tidak ada sesuatu yang lebih mengganggu dan menyakitkan jiwa seseorang daripada perasaan bahwa ia hidup di bawah bayang-bayang sebuah kekuasaan absolut yang amat kuat dan mencengkram segala sesuatu dalam kehidupannya, serta mengarahkannya ke mana saja sesuai dengan kehendaknya. Karena, seperti dikatakan orang, kemerdekaan adalah nikmat yang paling mahal harganya, sedangkan perasaan terjajah adalah rasa sakit yang paling memedihkan. Dengan begitu manusia merasa dirinya terinjak-terinjak dan kehendaknya tercabik-cabik oleh kekuatan absolut yang menjajahnya itu. Tak ubahnya seperti seekor domba yang ditarik oleh sang penggembala yang menguasai tidur, makan, hidup dan matinya. Hal ini akan menimbulkan perasaan bagai bara api yang menyala-nyala dalam lubuk hatinya serta rasa sakit yang tak terhingga, menyerupai penderitaan seseorang yang menyerah pasrah dalam cengkraman seekor singa yang garang dan buas, setelah menyadari bahwa tidak ada lagi jalan keselamatan baginya dari cengkeraman kuat yang sepenuhnya mengendalikan dirinya itu. [Read the rest of this entry…]

Leave a Comment

Mengkaji Al-Qur’an lewat Sastra

Wawancara dengan Abu Zaid

Kebanyakan orang berkeyakinan, Syeikh Amin Al-Khuli sebagai pelopor studi Al-Quran kontemporer. Ia juga orang pertama yang mengkaji Al-Quran lewat pendekatan sastera. Lalu bagaimana Anda melihat diri Anda dengan pemikiran Amin Al-Khuli? Dan Apakah Anda sebelumnya pernah mengenalnya dari dekat?

 

Saya tidak mengenal Syeik Amin Al-Khuli dari dekat, namun ia adalah orang pertama yang mencetak makalah saya di majalah Al-Adab. Pada waktu itu saya masih remaja. Sejak masa itu saya mulai punya hubungan batin dengannya. Setelah memasuki universitas dan sepeninggal Al-Khuli, saya mempelajari dengan teliti buku-bukunya dan beberapa penelitian Muhammad Ahmad Khalaf Allah. Kajian saya kali ini berbarengan dengan kesadaran saya akan krisis studi-studi keislaman di Fakultas Bahasa Arab dan masalah yang mendera Universitas Al-Azhar. Salah seorang dosen paling berpengaruh dalam pemikiran saya adalah Syukri Iyad. Ia adalah murid Syeikh Al-Khuli. Penulisan tesis S2 saya berjudul Yaum Al-Hisab Fi Al-Quran di bawah bimbingannya. Syukri Iyad terpaksa membanting setir dari jurusan kajian dan mata kuliah yang diberikannya dari studi-studi keislaman menjadi studi yang terkait dengan kritik. [Read the rest of this entry…]

Comments (1)

Mencari Pencipta Tuhan?

Oleh: Tim Al-Balagh

Kaum agamawan, baik mereka yang konsisten menjalankan agamanya ataupun tidak, meyakini eksistensi Tuhan Pencipta alam raya ini. Sehubungan dengan persoalan Tuhan Pencipta, dan karena sulitnya meyakini suatu maujud tanpa pencipta, seringkali muncul sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh orang-orang awam dari kalangan mereka, yaitu: “Jika Tuhan telah menciptakan alam raya ini dan semua isinya, lalu siapakah yang menciptakan Tuhan itu sendiri?”

Pertanyaan semacam itu dapat pula dilontarkan dengan kemasan sedikit ilmiah oleh sebagian ilmuan materialisme, yaitu: ”Apabila orang-orang yang meyakini wujud Tuhan menyatakan bahwa alam raya ini diciptakan oleh Tuhan, semestinya Tuhan itupun ada yang menciptakan-Nya. Hal itu sesuai dengan hukum kausalitas (sebab-akibat) yang mereka yakini keberadaannya. Hukum kausalitas menyatakan bahwa setiap yang maujud di alam raya ini pasti merupakan ciptaan Sang Pencipta. Apabila mereka telah memastikan dan meyakini eksistensi Tuhan, maka merekapun -mau tidak mau- harus tunduk pada hukum kausalitas ini. Yakni bahwa Pencipta tersebut harus ada yang menciptakan-Nya”.  [Read the rest of this entry…]

Comments (2)

Belajar di Sekolah Tauhid [selesai]

Oleh: Majid Fakhri

Lebih dari seminggu lamanya semenjak berakhirnya disksui antara sang ayah dan anak. Masa jeda ini sengaja diatur supaya sang anak memiliki waktu untuk meraup pelajaran-pelajaran tauhid dan meninjau ulang konsep-konsep yang telah didiskusikan bersama serta melakukan beberapa eksperimen atas konsep-konsep tersebut. Sang anak terlihat sangat khusyuk sepanjang hari… Segala sesuatu dulunya tidak terlalu penting kini menjadi obyek perhatian dan pandangannya. Ia beranjak ke luar ke taman, melihat sisi-sisi khusus dari setiap tanaman dan memegang buah-buah tanpa memotongnnya. Ia perhatikan secara seksama dan merenungi buah ini ketika ia masih merupakan sebuah biji kuculuk dilempar dan ditabur ke bumi kemudian ditutupi tanah…Alangkah menariknya dan kini ia telah tumbuh besar! Sebuah pohon yang kuat berbau yang kurang enak, namun memberikan buah yang manis dan lezat Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Qs. Al-An’am [6]:95) [Read the rest of this entry…]

Comments (1)

Argumen Rasional atas Kemaksuman Para Nabi [4]

Oleh: Ayatullah Misbah Yazdi

Meyakini kemaksuman para nabi dari maksiat dan dosa, yang disengaja atau tidak, merupakan  keyakinan yang pasti dan populer di kalangan Syi’ah Imamiyah yang telah diajarkan oleh para imam suci kepada Syi’ah (pengikut setia) mereka. Mengenai masalah ini, mereka mengadakan dialog  dengan orang-orang yang menentang mereka melalui berbagai macam metode. Di antaranya, dialog yang dilakukan oleh Imam Ridha As yang disebutkan dalam buku-buku hadis dan sejarah. Akan tetapi, ada perbedaan mengenai mungkinya kealpaan dan kelupaan pada diri para nabi As dalam hal-hal yang sifatnya mubah. Bahkan secara lahir, riwayat-riwayat yang dinukil dari Ahlul Bait As itu pun tidak lepas dari pertentangan. Pembahasan mengenai hal ini memerlukan  luang yang lebih luas lagi.  Yang jelas, hal itu tidak mungkin dianggap sebagai keyakinan yang prinsipil.

Dalil-dalil atas kemaksuman dapat dibagi menjadi dua kelom-pok; dalil akal dan dalil wahyu. Walaupun  meng-gunakan dalil kedua lebih banyak daripada dalil pertama, di sini kami hanya akan menjelaskan dua dalil pertama saja. Kemudian setelah itu kami akan menyebutkan dalil-dalil wahyu dari Al-Qur’an. [Read the rest of this entry…]

Leave a Comment