Pustaka

 

 

 

SERI EPISTEMOLOGI

 

 

          

Mistisisme sebagai Satu Bentuk Ilmu Hudhuri

 

Sebagaimana yang ditampakkan oleh judul artikel ini, untuk melengkapi isu-isu yang tengah dikaji dan dibahas, di sini kami akan menggambarkan secara terperinci penerapan komprehensif tentang ilmu hudhuri (pengetahuan dengan kehadiran). Karena dalam versi filsafat Iluminasi yang disebut di muka, perkembangan ini didasarkan pada pengakuan atas pentingnya ilmu hudhuri secara fundamental dan berdasarkan prinsip bahwa pengetahuan-kehadiran diri mutlak mempunyai prioritas atas seluruh jenis pengetahuan manusia yang lain, maka di sini pun kami bermaksud mengikuti alur pikiran yang sama. Karena itu, kami telah menempatkan pertimbangan empiris yang muncul di sini sebagai apendiks bagi pembahasan kita tentang masalah pengetahuan-diri untuk mencerminkan lebih jauh keaslian filosofis tesis kami.[1] Alasan mengapa kita membahas dimensi empiris pengetahuan dengan kehadiran bahkan sebelum membahas masalah pengetahuan-diri, semata-mata bersifat pedagogis.[2] Artinya, kita mencoba memulai dengan apa yang dianggap lebih dekat kepada pemahaman empiris kita daripada isu problematik tentang identitas personal.

Dalam artikel-artikel terdahulu, kami telah menyuguhkan secara terperinci dua kasus spesifik yang kami sebut contoh-contoh empiris dan bentu pertama ilmu hudhuri (pengetahuan dengan kehadiran), yang berfungsi menjelaskan kebenaran dan kesahihan teori pencerahan ini dalam berbagai tahap kesadaran, pengalaman inderawi, dan pengetahuan diri manusia. Masing-masing contoh tersebut ditangani sesuai dengan ciri-ciri intrinsiknya sendiri agar memungkinkan kita mengetahui bagaimana jenis pengetahuan ini bisa diverivikasi dalam dua tahap kesadaran dan pengetahuan ini. Dalam artikel ini, sekali lagi dengan mengikuti cara berpikir Suhrawardi, kita akan merekapitulasi beberapa pokok-pokok penting argumen-argumen yang telah dipaparkan di muka, dan kemudian berlanjut ke presentasi mode empiris lain dari teori tersebut, yang aplikabilitasnya jauh melampaui kedua kasus sebelumnya. Akan tetapi,untuk menghindari pengulangan dan kemubadziran, kita akan membatasi diri pada penjelasan mengenai sebagian dari perkembangan-perkembangan paling penting yang terjadi belakangan dalam pendekatan empiris terhadap teori tersebut. Karena itu, ketika kembali kepada hal-hal mendasar yang telah dikemukakan sebelumnya, kami akan mengandalkan pemahaman yang telah diperoleh melalui pengenalan pertama dengan teori tersebut.

 

Kesimpulan Dalil-dalil Terdahulu tentang Ilmu Hudhuri

Berkaitan dengan persoalan pengetahuan dan pemahaman manusia di atas, Suhrawardi meyakini bahwa pertanyaan pertama yang kita hadapi sebagai filosof adalah bagaimana kita bisa benar-benar mengetahui diri kita sendiri. Pertanyaan ini mendahului kepedulian mengenai pengikatan diri pada klaim bahwa kita mungkin mengetahui sesuatu dari dunia eksternal sebelum kita mengetahui keadaan-keadaan pribadi kita sendiri.[3]

Menghadapi pertanyaan ini, Suhrawardi melangkah lebih lanjut dari ringkasan argumen-argumen yang terdahulu kepada versi yang diperluas dari teori tersebut dengan cara berikut: 

Dalam alur perjalanan pengetahuannya, manusia harus melakukan penyelidikannya ke dalam pengetahuan akan dirinya sendiri ('ilmuhu bi dzatihi), kemudian berlanjut kepada apa yang di atas dan di luar dirinya (dunia eksternal).

Demikianlah, kita katakan: kenyataan bahwa jiwa kita menyadari realitasnya sendiri dan tidak menyiratkan bahwa pengetahuan tersebut telah datang kepadanya melalui suatu representasi dan penggambaran.

Hal ini karena: pertama, representasi yang digunakan oleh, dan tampak dalam, pikiran bukanlah pikiran tersebut sebagaimana adanya dalam dirinya sendiri (hiya hiya). Tetapi, sesuatu yang sadar akan dirinya semestinya sadar akan apa yang membentuk 'keakuan' obyektifnya (li'ayn ma hiya ana'iyyatuhu), dan bukan apa yang selaras dengan 'keakuan' obyektif tersebut. Setiap representasi yang muncul dalam pikiran orang yang mengetahui, dalam kenyataannya, adalah sesuatu yang ditambahkan kepada realitas ini yang, jika dibandingkan dengan realitas tersebut, bertindak sebagai 'dia' (huwa) dan tak pernah sebagai 'aku' (ana).”

Kedua, misalkan pengetahuan tentang diri sendiri diperoleh melalui representasi. Nah, setiap representasi yang eksis dalam diri, sebagai sebuah akal, adalah bersifat universal (dalam pengertian bahwa tidak mustahil untuk mempredikatkannya kepada individu-individu yang banyak). Bahkan apabila seluruh hal yang universal secara sekaligus merujuk kepada satu individu tunggal di antara individu-individu lain yang telah berkumpul bersama dalam sebuah kesatuan kompleks, ia masih belum bisa membuat representasi tersebut tak universal lagi. Akan tetapi, kenyataannya pengetahuan setiap orang akan realitasnya sendiri bersifat sangat individual sehingga tak mungkin memiliki persamaan dengan yang lain. Jadi, pemahaman seseorang akan realitas individualnya sendiri takkan mungkin diperoleh melalui representasi.

Lebih lanjut, diri dalam kenyataannya menyadari tubuhnya serta imajinasi dan fantasinya. Pemisalan bahwa hal-hal ini disadari melalui representasi yang inheren dalam realitas diri, sementara representasi itu sendiri bersifat universal, akan menyiratkan bahwa diri itu adalah penggerak suatu jasad universal, dengan menggunakan kekuatan-kekuatan mental universal, dan tidak memiliki pengetahuan akan tubuhnya sendiri ataupun pengenalan akan kekuatan-kekuatan yang dimilikinya sendiri. (Pertimbangan) ini jelas tidak benar. Karena imajinasi itu tidak peduli pada (tidak bisa mengetahui) dirinya, seperti halnya semua kekuatan mental, dan karenanya ia tidak bisa menentang efek-efek kekuatan-kekuatan ini dalam operasi aktual. Nah, jika imajinasi tidak mampu menyadari dirinya ataupun kekuatan-kekuatan mental ini, maka tak ada kekuatan material yang bisa memahami kebenaran dirinya sendiri. Dan seandainya diri sebgai sebuah akal juga tidak mengetahui apa pun selain hal-hal yang universal, maka dengan sendirinya bisa disimpulkan bahwa seorang manusia tidak akan pernah mengetahui tubuhnya sendiri, imajinasinya sendiri, serta fantasinya sendiri, yang semuanya berkaitan dengan dirinya sendiri. Tetapi keadaan sesungguhnya tidaklah demikianm sebab di dunia realitas tidak ada manusia yang tidak mengetahui kehadiran tubuh dan mentalitas sendiri sementara mereka menggunakan kekuatan-kekuatannya. Kesimpulannya, manusia mengetahui semua kekuatan mentalnya tanpa perantaraan suatu citra mental, dan mengetahui keseluruhan tubuhnya dengan cara yang sama.[4]

Sementara mencoba, dalam wacana yang panjang ini, untuk meringkaskan argumen-argumen yang sudah dirumuskannya dengan baik dan menjadikan posisinya agak lebih jelas dan lebih bisa dimengerti, Suhrawardi telah mengambil dua langkah lebih jauh ke arah penjelasan empirisnya:

 

1.                    Seperti halnya pengetahuan terhadap diri sendiri, pengetahuan akan tubuh sendiri semua kekuatan serta aktivitas mentalnya harus dicirikan sebagai suatu bentuk ilmu hudhuri.

2.                    Ada kriteria epistemik bagi universitalitas dan partikularitas pengetahuan,[5] yang mesti diperhitungkan manakala yang dipersoalkan adalah masalah keadaan-keadaan pribadi pikiran.

 

Dengan demikian dipahami bahwa kedua hal yang menarik ini betul-betul merupakan suatu kemajuan dan memerlukan penjelasan. Marilah kita mulai dengan perenungan ringkas mengenai hal yang pertama sebelum kita sampai pada pemaparan hal yang kedua.

 

Observasi terhadap Pengetahuan Diri Sendiri

Untuk sementara, marilah kita kesampingkan persoalan pengetahuan tentang diri sendiri yang dikonstruksi oleh filsafat   Iluminasi Suhrawardi sebagai langkah dasar menuju solusi masalah pengetahuan manusia pada umumnya. Sekalipun demikian, filsafat tersebut haruslah menjawab pertanyaan bagaimana dan dengan cara apa kita bisa atau dengan pasti mengenal jiwa dan tubuh kita, kekuatan mental imajinasi dan fantasi kita, serta persepsi indera kita pada umumnya. Dengan mengajukan pertanyaan ini dan membahas aspek-aspek metafisik dan epistemologis masalah ini, tidak dengan sendirinya berarti kita secara tak sengaja terlibat dalam evaluasi psikologis terhadap mentalitas manusia dan cara-cara berfungsinya akal-pikiran. Sebaliknya, agak jelas bahwa persoalan bagaimana saya 'mengetahui' kekuatan-kekuatan mental pemahaman saya bukan merupakan masalah psikologis, yang berarti penyelidikan mengenai "prosedur ilmiah" yang mengatur kemampuan-kemampuan mental, dan dengan demikian menentukan aksi dan reaksi. Akan tetapi, ada dua hal yang harus dicatat dalam hal ini:

 

1. Representasi jasad, imajinasi, dan fantasi adalah universal

Premis dasar di balik isu filosofis ini adalah bahwa sementara kita tak syak lagi mengetahui daya imajinasi, fantasi, dan juga tubuh kita, kita perlu memahami lebih jauh bagaimana kita bisa mencirikan pengetahuan ini. Apakah untuk mengetahui daya imajinasi kita sendiri, kita harus dengan cara tertentu, menangkap representasi daya tersebut? Dengan begitu, apakah pengetahuan tentang fantasi mengharuskan dimilikinya sebuah bayangan mental sebagai representasi fantasi tersebut, dan begitu pula halnya dengan tubuh kita dan semua kekuatan yang bekerja dalam tubuh kita? Jika demikian halnya, maka pertanyaannya adak menjadi: Bagaimana dan di mana representasi seperti itu terjadi? Apakah representasi imajinasi tersebut muncul dalam imajinasi itu sendiri, dan representasi pengalaman indera kita muncul dalam indera-indera kita sendiri, dan demikian pula representasi tubuh kita juga muncul dalam tubuh kita sendiri dan seterusnya?[6]

Seperti dinyatakan oleh hukum epistemik klasik, representasi hal-hal ini tidak pernah terjadi dalam dirinya sendiri, melainkan dalam tahap diri yang lebih tinggi yang disebut "akal", atau kekuatan pemahaman transendental. Ini karena sebagaimana halnya persepsi indera tak pernah bisa mempersepsi dirinya sendiri, maka tubuh juga tidak bisa memahami dirinya sendiri. Karena itu, imajinasi dan fantasi juga tidak bisa mengkhayalkan dan memfantasikan diri mereka sendiri. Bertolak dari hipotesis ini, kita sampai pada kesimpulan bahwa representasi hal-hal yang disebutkan di muka hanya bisa muncul dalam kemampuan pemahaman intelektual diri dan tak pernah dalam suatu kemampuan pemahaman mental yang lebih rendah. Jadi, semua representasi dan penampakan mental yang diambil dari tubuh dan mentalitas kita dengan sendirinya mesti dipandang sebagai bersifat intelektual, dan karenanya, universal. Karena itu, tak ada gerak tersadari dalam tubuh kita yang dipandang bersifat partikular.

 

2. Akal hanya bisa berhubungan dengan ‘jasad’ universal

Karena semua representasi yang berada dalam diri intelektual adalah abstrak, dan dalam pengertian tersebut, juga universal, maka diri sebagai subyek performatif tak pernah bisa bertindak terhadap atau diberi informasi oleh realitas partikular dari hal-hal yang direpresentasikan. Ini semata-mata karena diri tidak bisa menjalin komunikasi apapun dengan hal-hal partikular ini jika tidak ada mata rantai penghubung antara representasi universal intelektual dengan realitas partikular hal-hal yang direpresentasikan. Dalam keadaan seperti itu, yang bisa dilakukan oleh 'aku' sebagai diri performatif, adalah menggerakkan ‘jasad’ universal secara "intelektual" yang merupakan representasi jasad partikular saya, dan mengoperasikan imajinasi dan fantasi universal, yang juga merupakan representasi. Inilah yang dikemukakan oleh Suhrawardi dalam teori empirisnya dengan mengatakan bahwa teori tersebut "akan menyiratkan bahwa diri adalah penggerak 'jasad' universal dengan menggunakan kekuatan-kekuatan universal".[7] Tentu saja, ini adalah pengingkaran terhadap gerakan yang paling nyata dan aktual dari jasad-jasad partikular yang secara empiris kita lakukan dalam setiap aksi intensional, yang absurditas pengingkarannya mesti disebut sebagai kontradiksi pragmatis, jika bukan kontradiksi logis. Sebab cara beroperasi danberfungsinya gerakan-gerakan intensional kita bertentangan dengan klaim pengingkaran bahwa tidak ada gerakan-gerakan partikular sama sekali dalam jasad kita dan bahwa semua gerakan jasadi kita adalah universal.

 

Penetapan Tolok Ukur Universalitas dan Partikularitas Pengetahuan

Melangkah lebih lanjut kepada masalah selanjutnya yang terlibat dalam penjelasan empiris ini, dengan mudah bisa dilihat bahwa Suhrawardi telah menunjukkan, dengan sangat jelas, kriterianya untuk membedakan pengetahuan partikular dari pengetahuan universal.[8] Dalam wacana di atas, dia telah secara implisit menggariskan kondisi-kondisi yang harus diperoleh agar pengetahuan seseorang menjadi partikular secara logis. Terlebih lagi, dia telah menyitirkondisi-kondisi lain yang mesti diperoleh agar pengetahuan seseorang menjadi universal. Sekarang kita mesti menjelaskan apakah upaya seperti itu bisa dipandang berhasil. Bisa dinyatakan kembali secara logis sebagai berikut.[9]

"Universitalitas pengetahuan", menurut filsafat ini, adalah kualitas suatu gagasan atau proposisi yang penerapannya pada banyak obyek individual tidak mustahil atau kontradiktif secara logis. Di lain pihak, "partikularitas pengetahuan" adalah kualitas suatu gagasan atau proposisi yang penerapannya pada lebih dari satu obyek individual menyiratkan absurditas atau kontradiksi logis. Kontraposisi terhadap definisi ini yang sama-sama sahihnya adalah bahwa suatu gagasan atau proposisi yang secara logis mustahil atau kontradiktif untuk diterapkan pada yang banyak tidak bersifat universal, melainkan partikular. Kemudian, suatu gagasan atau proposisi yang penerapannya terhadap lebihdari satu individu tidak menyiratkan absurditas atau kontradiksi logis tidak bersifat partikular, melainkan universal.

Dengan demikian, maka penjelasan yang telah kita sarikan dari wacana Suhrawardi dan ditafsirkan dengan cara ini bukan sampai titik ini, merupakan kemajuan yang besar dalam filsafat. Dalam kenyataannya, kita bisa dengan mudah menemukan pandangan-pandangan yang serupa dalam pernyataan-pernyataan sejumlah filosof begitu mereka sampai pada posisi harus melakukan pembedaan antara pengetahuan universal dan pengetahuan partikular. Sekalipun demikian, kita harus mencatat bahwa keunggulan yang signifikan dari kategori Suhrawardi terletak pada cara ia menyatakan penjelasan tradisional tersebut dalam kerangka teori pencerahan ilmu hudhuri. Dalam melakukan itu, dia bergerak maju dengan mengatakan bahwa setiap representasi yang eksis dalam diri (tentu saja, diri intelektual yang disebut ‘akal’) adalah universal (dalam pengertian bahwa tidak mustahil untuk mempredikatkannya kepada individu yang banyak). Bahkan jika seluruh universal secara bersama merujuk kepada satu individu di antara individu-individu yang lain telah dikumpulkan dalam sebuah kesatuan kelompok, ia masih tidak bisa mengubah status universal dari representasi tersebut.

Ini berarti bahwa spesifikasi suatu representasi intelektual tidak pernah menghasilkan pengetahuan partikular, karena ia tidak bergerak lebih jauh daripada meletakkan beberapa "pembatasan" pada representasi universal tersebut dengan mengumpulkan semua kualifikasi universal yang bisa diterapkan pada sebuah obyek partikular. Seperti mungkin diharapkan, proses spesifikasi ini gagal membawa kepada sejenis pengetahuan partikular yang logis, karena tak ada kualifikasi dan pembatasan konseptual yang bisa mengesampingkan secara logis kemungkinan representasi tersebut dengan semua kualifikasinya diterapkan kepada yang banyak. Jika benar bahwa kemungkinan logis penerapan kepada yang banyak tidak bisa dihilangkan dari suatu representasi intelektual, maka representasi tersebut harus tetap bersifat universal dan boleh jadi tak pernah menjadi partikular sebagai akibat dari spesifikasi ini.

Di lain pihak, kita tahu, dengan seluruh kepastian faktual, bahwa kita mengenal jasad-jasad partikular kita sedemikian rupa sehingga adalah mustahil atau kontradiktif jika apa yang kita ketahui itu diterapkan pada atau dimiliki bersama orang lain. Karena itu, tidak ada pembenaran bagi pengandaian bahwa pengetahuan pribadi partikular seperti itu mungkin bisa diperoleh melalui representasi intelektual. Kemungkinan ia bisa diperoleh melalui representasi non-intelektual, seperti misalnya dalam imajinasi atau persepsi indera, telah dikesampingkan oleh Suhrawardi ketia dia menunjukkan bahwa fakultas non-intelektual tidak bisa menyadari dirinya sendiri. Konsekuensinya, jelaslah bahwa pengetahuan partikular saya tentang jasad saya sendiri tidak mungkin nisa diperoleh melalui representasi, melainkan melalui kehadiran. Juga menjadi jelas bahwa kriteria bagi "partikularitas" logis, yang diperlawankan dengan "universitalitas", hanya bersandar pada teori kehadiran pencerahan ini saja. Dan seperti akan kita lihat nanti, harus dibedakan antara "kualifikasi" dalam pengertian pembatasan atau spesifikasi, dengan "partikularisasi" dalam pengertian individualisasi.

 

Kualifikasi dan Partikularisasi

Seperti telah kita lihat dalam argumen di atas, dalam hal yang berkaitan dengan pengetahuan harus dilakukan pembedaan antara "kualifikasi" atau "pembatasan", dengan "partikularisasi",[10] karena pengetahuan yang terbatas tidak dengan sendirinya partikular dan pribadi. Kategori pertama melibatkan semacamspesifikasi sebuah konsep universal yang tidak dengan sendirinya berarti partikularisasi. Dan kategori kedua adalah partikularisasi pengetahuan tentang sebuah obyek individual yang tidak bisa diterapkan pada yang banyak. Kami telah mengatakan bahwa spesifikasi jenis yang pertama betapapun tidak mempunyai cukup kekuatan untuk menghilangkan kemungkinan logis penerapan terhadap yang banyak, meskipun, dalam kenyataannya, di dunia eksternal mungkin terdapat tak lebih dari satu obyek individual. Maka sebuah konsep yang dispesifikasikan oleh sebarang kualifikasi konseptual niscaya tetap universal. Akan tetapi, sebuah obyek partikular yang dihadirkan dengan seketika sungguh merupakan apa yang dimaksud dengan partikularisasi, dan inilah yang menjadi ciri pengetahuan pribadi melalui kehadiran. Jadi, semua pengetahuan pribadi kita hanya mungkin melalui kehadiran, sebab obyek pengetahuan ini secara logis bersifat pertikular dan dengan demikian tak bisa universal. "Partikularitas" logis dalam pengetahuan ekuivalen dengan "pribadi", yang tak bisa dicapai kecuali melalui suatu bentuk pengetahuan dengan kehadiran.

Dalam penerapannya pada pengetahuan pribadi tentang tubuh, imajinasi, dan fantasi kita, sebagai akibat partikularitas logis unsur-unsur ini, kriteria pencerahan ini belum menunjukkan kepada kita banyak hal mengenai aplikabilitasnya terhadap pengetahuan tentang sebuah obyek eksternal partikular. Akan tetapi, di dalam sistem filsafat ini, haruskah kita tetap tak bisa memutuskan apakah kita mampu memiliki pengetahuan "partikular" tentang sebuah obyek individual partikular atau tidak?

Ketika mempertimbangkan pertanyaan ini sekali lagi, kita harus mengingatkan diri bahwa perkataan universalitas dan partikularitas, maupun kemungkinan dan kemustahilan, menurut kriteria ini, semuanya mesti dipahami, tak lebih tak kurang, dalam pengertian teknis sebagaimana yang dimaksudkan dalam logika. Akan tetapi, mengingat kriteria ini berkenaan dengan aplikabilitasnya terhadap pengetahuan tentang sebuah obyek eksternal, jelaslah bahwa jawaban terhadap pertanyaan ini adalah negatif. Artinya, orang tidak bisa memiliki pengetahuan dengan kehadiran partikular yang logis tentang sebuah obyek eksternal. Karena itu, orang sama sekali tidak bisa memiliki pengetahuan partikular yang logis tentang sebuah obyek eksternal,[11] dengan alasan bahwa obyek seperti itu, karena berupa eksistensi yang mandiri, tidak hadir dalam pikiran kita, dan karenanya tidak bisa dipartikularkan dengan jenis partikularisasi ini, baik secara langsung maupun melalui kehadiran.

Akan tetapi, ada suatu partikularisasi "tak langsung", yang mesti diperhitungkan dengan merujuk kepada pengetahuan kita tentang sebuah obyek eksternal. Singkatnya, partikularisasi langsung dalam pengertian pengetahuan pribadi adalah ciri intrinsik pengetahuan dengan kehadiran. Asalkan representasi-representasi non-intelektual dari sebuah obyek eksternal dan data inderanya semuanya hadir dalam pikiran, maka mereka secara langsung dipartikularkan dengan kehadiran realitas individual mereka yang tak terbagi. Akan tetapi, rujukan obyektif mereka, yang tidak hadir dalam pikiran subyek yang mengetahui, menarik partikularisasi secara tak langsung melalui perantaraan representasi-representasi dan data inderawi ini. Rujukan obyektif lalu diketahui secara partikular karena termasuk dalam representasi-representasi dan data indera tertentu.

Alasan bahwa representasi non-intelektual dari obyek eksternal dipartikularkan secara langsung tetapi rujukan obyektifnya tidak, adalah sebagai berikut: Pertama, representasi itu hadir dalam daya mental diri, yang semuanya hadir dalam subyek yang mengetahui, yaitu 'aku' performatif. Kedua, representasi-representasi non-intelektual dari suatu obyek eksternal, seperti data inderawi, pada hakikatnya tidak bersifat universal dan, berbeda dengan representasi intelektual, tidak tunduk pada proses spesifikasi melalui kualifikasi konseptual. Akibatnya, semua representasi non-intelektual dan data inderawi masuk ke dalam wilayah esensialitas pengetahuan melalui kehadiran, dan pengetahuan tentang mereka, seperti halnya pengetahuan tentang tubuh dan imajinasi, bersifat pribadi dan partikular. Tetapi, pengetahuan tentang obyek eksternal yang diwakili oleh representasi-representasi non-intelektual tidaklah, menurut kriteria ini, bersifat pribadi dan partikular dalam pengertian tersebut. Sebaliknya, ia hanya bersifat partikular dalam pengertian bahwa rujukan obyektifnya menjadi partikular secara tak langsung oleh kehadiran representasi-representasinya di dalam pikiran kita.[12] Dengan ungkapan lain, pengetahuan kita tentang sebuah obyek eksternal adalah bersifat partikular yang hanya dalam pengertian derivatif, dan bukan dalam pengertian partikularitas yang primer dan ketat.

Mesti dicatat bahwa, sebagaimana telah kami tunjukkan pada awal artikel ini, kami hanya mengajak untuk mengarahkan perhatian kepada besar dan luasnya lingkup pengetahuan melalui kehadiran untuk memberikan gambaran mengenai konsistensi dan kelengkapan tesis kami. Sesuai dengan tujuan ini, kami merasa terpanggil untuk membahas dengan ringkas beberapa mode dan contoh pengetahuan melalui kehadiran. Akan tetapi, kami merasa tidak berkewajiban untuk melewati batas pokok masalah kami lebih lanjut dengan melibatkan diri dalam isu-isu lain seperti mengatakan sesuatu tentang perbedaan-perbedaan antara jasad, imajinasi, fantasi dan lain-lain. Sepanjang menyangkut ilmu hudhuri (pengetahuan dengan kehadiran), tampaknya cukup beralasan untuk mengungkapkan kenyataan bahwa semua yang disebut di muka adalah keadaan-keadaan pikiran yang bersifat pribadi, dan ikut berbagi dalam kenyataan bahwa mereka diketahui oleh kita melalui kehadiran. Akan tetapi, ciri yang membedakan mereka bukanlah persoalan yang menjadi isu kita sekarang ini.

 

Pelebaran Konsep Ilmu Hudhuri menjadi Mistisisme Umum

Hakikat Berbagai Bentuk Mistisisme

Konsep dan teori umum Mistisisme meliputi serangkaian gagasan dan pengalaman psikologis maupun intelaktual. Dengan mengesampingkan, untuk sementara, beragam bentuk pengalaman mistik dalam berbagai budaya, agama, dan periode dalam sejarahnya yang panjang, terdapat paling tidak satu inti bersama yang dengannya semua pengalaman mistik terkait. Inti ini adalah konsepsi "kesadaran uniter".[13] Itulah konsep dasar yang menjadi pusat perhatian kita pada titik persimpangan ini.

Pembahasan tentang mistisisme, sebagaimana istilah tersebut telah dipahami sejauh ini, pada tahap ini tak perlu melibatkan pemeriksaan leksikografis terhadap setiap bentuk dan percabangan partikular esensi batinnya. Karena itu, dalam pembahasan sekarang kita tak perlu memperhatikan masalah definisi a priori, atau masalah keserupaan keluarga (family resemblance) empiris di antara berbagai bentuk pengalaman mistik, karena sasaran utamanya adalah kesadaran uniter.[14] Di samping itu, pokok masalah yang sedang kita bicarakan bukanlah kajian komparatif tentang pengalaman mistik, melainkan dimensi epistemologis kesadaran mistik –yakni analisis filosofis tentang kesadaran uniter dan kesahihannya. Karena itu, kita harus langsung menghadapkan diri kepada persoalan fundamental kita, yang seluruhnya berpusat pada kesahihan swaobyektif dari kesadaran ini, dan bermaksud meletakkan filsafat mistisisme di jalan yang pasti dan menegakkannya kembali atas dasar tesis kami, yaitu ilmu hudhuri. Jika kita tak mampu melakukan ini, semua pendekatan terhadap filsafat mistisisme akan gagal menjadi konsisten secara logis.[15]

 

Kesadaran Mistik Bersifat Non-Representasional

Dengan demikian, pertanyaan pertamanya adalah: Bagaimana kita bisa mengidentikkan pengalaman mistik dengan satu mode kesadaran di antara kesadaran-kesadaran lain, khususnya di hadapan pembagian pengetahuan terdahulu yakni pengetahuan hudhuri dan pengetahuan hushuli? Dengan kata lain, Apabila diasumsikan bahwa kesadaran uniter adalah ungkapan lain bagi mistisisme, maka pertanyaan kita, dalam kaitannya dengan pengetahuan adalah: Apakah kesadaran uniter ini adalah bentuk lain dari ilmu hudhuri yang non-representasional ataukah sebuah pengecualian dalam pengetahuan hushuli yang representasional? Kesadaran uniter juga bisa jadi tidak termasuk dalam keduanya, dan merupakan sejenis halusinasi yang menghadirkan diri secara palsu sebagai sebuah mode kesadaran transendental.

Dari ketiga kemungkinan ini, kemungkinan yang terakhir tidak menjadi perhatian kita, karena kemungkinan pengalaman mistik sebagai sekedar halusinasi telah dengan cermat dibahas oleh para filosof modern, di antaranya William James,[16] R.M. Bucke,[17] dan W. T. Stace.[18] Pada umumnya, mereka telah mencapai kesimpulan bahwa karena keteraturan dan keseragaman pengalaman-pengalaman ini, maka akan sangat tak bisa dibenarkan jika mistisisme diperlakukan sebagai halusinasi, dan karenanya bersifat subyektif. Di samping itu, jika kita setuju dengan para filosof di atas bahwa mistisime benar-benar memiliki "keteraturan" dan "keseragaman", maka itu akan menjadi alasan cukup untuk memandang mistisisme bersifat non-subyektif dalam pengertian yang penting. Artinya, satu-satunya jawaban logis bagi pertanyaan skeptis apakah keteraturan dan keseragaman membenarkan kita untuk mengatakan mistisisme non-subyektif adalah dengan mempersilahkan orang memasuki sebuah lorong pengalaman mistik yang sejati, jalan yang cukup baik untuk memungkinkannya menemukan apakah pengalaman tersebut benar-benar asli. Berdasarkan analogi, hal ini bisa diserupakan secara persis dengan sebuah pulau yang belum pernah ditemukan yang telah dilihat oleh sedikit orang, tapi belum oleh banyak orang lain dan karenanya mereka anggap dongeng saja. Semua paparan dan informasi yang diberikan oleh sedikit orang yang memperoleh informasi ini memiliki ciri keteraturan dan keseragaman. Nah, tanggapan apakah yang akan diberikan oleh sejumlah kecil orang yang tahu tersebut terhadap kelompok skeptis yang tidak percaya bahwa pulau tersebut benar-benar ada? Apakah mungkin ada tanggapan lain kecuali mempersilahkan dan membimbing mereka ke dalam pengalaman yang telah mereka capai itu?

Salah satu kelebihan mistisisme atas isu-isu metafisika lain adalah bahwa ia bersifat empiris dan ilmiah, bukan transendental. Karena itu, dengan mengasumsikan bahwa keberatan kaum skeptis telah dipelajari oleh para pengkaji terdahulu, maka kami akan mengesampingkannya dari pembahasan kami dan membatasi diri pada batas-batassebuah pertanyaan alternatif: Apakah sebuah kasus pengalaman mistik yang asli harus dijajarkan di antara kejadian-kejadian normal pengetahuan dengan korespondensi yang bisa kita peroleh mengenai obyek-obyek eksternal, atau haruskah pengalaman seperti itu ditempatkan di bawah kategori pengetahuan dengan kehadiran? Marilah kita bahas hipotesis yang pertama, bahwa pengalaman mistik, seperti halnya pengalaman indera kita yang normal, adalah pengetahuan dengan korespondensi. Ini mengharuskan pengalaman jenis yang pertama, seperti halnya yang kedua, memiliki semua esensialitas yang diperlukan untuk membentuk sejenis pengetahuan yang berkorespondensi dengan acuan obyektif eksternalnya. Berdasarkan hal ini, kesadaran mistik akan merupakan bentuk khas pengetahuan hushuli yang menuntut sebuah acuan obyektif eksternal yang berkoresponden.

Dengan asumsi bahwa pengalaman mistik bisa digolongkan kedalam pengetahuan hushuli, kita telah memahami bahwa esensialitas pertama pengetahuan seperti itu adalah eksistensi representasi mental yang berkoresponden dengan obyek eksternal. Akan tetapi, analisis sederhana mengenai korespondensi ini cukup untuk membuktikan bahwa di samping tindak pengetahuan, ada pluralitas dalam hubungan ini yang terdiri atas subyek yang mengetahui, representasi obyek yang diketahui dan realitas independen obyek eksternal itu sendiri. Ini adalah sifat esensial pengetahuan dengan korespondensi, yang benar-benar tak konsisten dengan kesadaran uniter mistisisme dari jenis manapun dan dalam derajat manapun. Kepada kesulitan pengetahuan dengan representasional dengan korespondensi (ilmu hushuli) inilah Plotinus merujuk dalam pernyataannya bahwa dalam kasus pengetahuan, jiwa tidak bisa tetap merupakan sebuah simpleks:, “Sumber utama kesulitan tersebut adalah bahwa kesadaran akan Prinsip ini datang tidak melalui proses mengetahui ataupun inteleksi yang menemukan wujud-wujud intelektual melainkan melalui suatu kehadiran yang melampaui semua pengetahuan. Dalam tindak mengetahui, jiwa atau pikiran meninggalkan kesatuannya, ia tak dapat tetap merupakan suatu simpleks.”[19]       

Karena, kesatuan dan ketakberangkapan pengetahuan hudhurilah yang menjadi dasar swaobyektivitas dalam pengertian yang kuat, maka begitu pula kompleksitas pengetahuan hushulilah yang menjadi ciri obyektivitas ganda. Mari kita sepakati, demi argumen, bahwa pengalaman mistik adalah kesadaran representasional akan sebuah obyek eksternal semisal Kesatuan.[20] Dengan mengambilnya sebagai suatu obyek eksternal di antara yang lain-lain, kita tak bisa mengelakkan keterikatan pada konsekuensi langsung bahwa mungkin sekali di antara obyek-obyek eksternal itu ada satu hal yang merupakan Kesatuan, dan yang disadari oleh sang mistik yang mengklaim telah mengalami pengalaman seperti itu. Akan tetapi, ini pasti bukan hal yang diklaim oleh sang mistikus itu sendiri. Artinya, dia tidak pernah mengatakan: "Saya telah melihat, pada suatu waktu tertentu, sesuatu di antara banyak yang lainnya sedemikian rupa sehingga, jika untuk sementara ia diberi nama 'Kesatuan', maka adalah benar bahwa Kesatuan adalah sebuah obyek dan ia tak terdiferensiasi".[21] Tetapi, dalam bahasa sehari-hari, kita memang mengatakan, misalnya: "Saya telah melihat, pada waktu tertentu, sesuatu di antara yang lain-lain sedemikian sehingga jika untuk sementara diberi nama X, maka adalah benar bahwa X adalah seorang Yunani dan X adalah fana." Hal ini, karena kita biasanya memang ingin menerjunkan diri dalam dualisme hubungan 'keakuan-kediaan' yang khas pengetahuan hushuli; tetapi seorang mistikus tidak. Suatu pernyataan mistik diketahui dan didefinisikan sebagai mistik jika dan hanya jika ia menghindari memberikan kesan dualisme antara subyek dan obyek, atau 'keakuan' dan 'kediaan', yang merupakan titik inti diskursus dalam bahasa kita sehari-hari. Kita bisa meletakkan argumen ini dalam bahasa silogistik berikut: Tak ada kesadaran uniter yang melibatkan dualisme 'keakuan-kediaan', semua pengetahuan hushuli melibatkan dualisme 'keakuan-kediaan' itu; karenanya, tak ada kesadaran uniter yang merupakan pengetahuan hushuli.

Argumen ini cukup untuk mengesampingkan alasan positif apapun bagi kemungkinan mistisisme menjadi pengetahuan representasional empiris (pengetahuan hushuli) yang berfokus pada sebuah rujukan obyektif empiris. Di samping itu, argumen tersebut sama sahihnya untuk membuktikan bahwa kesadaran mistik tidak memiliki tanda apapun yang menunjukkan suatu ‘keserupaan keluarga’ dengan pengetahuan transendental, dalam pengertian pengetahuan universal yang abstrak, mengikuti skema dualisme 'keakuan-kediaan' yang sama-seperti pengetahuan empiris. Dengan memiliki obyek fenomenal transenden, pengetahuan transenden juga masuk dalam konteks diktum 'keakuan-kediaan'. Jelas bahwa dalam konteks ini perlawanan dan multiplitas subyek dan obyek tidak pernah dibutuhkan demi mendapatkan kesatuan mistik kecuali melalui kontradiksi yang nyata. Plotinus menggambarkan bagaimana dualisme ini harus dilenyapkan dalam bahasa mistik, dia berkata, “Tak syak lagi bahwa kita tidak boleh berbicara tentang melihat, tetapi kita tak bisa menahan diri untuk tidak berbicara dalam dualitas, yang dilihat dan yang melihat, alih-alih, berbicara tentang tercapainya kesatuan. Dalam melihat ini, kita tidak melihat obyek ataupun mencari-cari perbedaan; tidak ada kebergandaan. Manusia berubah, tak lagi menjadi dirinya sendiri ataupun menjadi milik diri sendiri; dia lebih dalam Yang Tertinggi …”[22]

Stace menawarkan interpretasinya mengenai hal yang sama dengan cara berikut, “Kita juga harus mencatat bahwa meskipun pada tahap pemaparan mistisisme ini kita berbicara tentang pengalaman mistik sebagaisuatu kesadaran tentang Kesatuan, kaum mistikus Hindu dan Budha, maupun Plotinus dan banyak lagi yang lain, pada umumnya bersiteguh bahwa hal ini tidak benar, karena mengandaikan pembagian antara subyek dan obyek.”[23]

Dari semua yang telah dikatakan sejauh ini, dapatlah disimpulkan bahwa dalam sifat esensial pengetahuan fenomenal dimana dualisme hubungan subyek-obyek (atau dalam bahasa pencerahan, dictum 'keakuan-kediaan') terbentuk, pengertian apapun mengenai kesadaran kesatuan mistik alan terhitung sebagai kontradiksi yang nyata. Hakikat kontradiksi tersebut adalah telah ditunjukkan dalam wacana Plotinus di atas: “Dalam penglihatan ini, kita tidak melihat sebuah obyek ataupun mencari-cari perbedaan, tidak ada kebergandaaan.” Sementara dalam kesadaran mistik tidak ada jejak obyek vis-a-vis subyek, dualisme hubungan subyek-obyek berlaku dalam semua jenis pengetahuan fenomenal, dan kontradiksi antara kesadaran uniter mistisisme dan dualisme subyek-obyek pengetahuan fenomenal ini tidak tersingkirkan dengan semata-mata mengubah status pengetahuan dari bersifat empiris menjadi transendental, bergantung pada sebuah obyek transendental.

Marilah kita berbicara dengan agak lebih jelas mengenai perbedaan penting antara penafsiran mistik dan kesadaran itu sendiri. Tanpa memandang mistisisme itu sendiri, yang menurut banyak filosof bersifat paradoks, suatu penafsiran tentang mistisime juga bisa dinyatakan dalam bahasa yang paradoks. Paradoks tersebut bisa ditampilkan sebagai berikut: Apabila kita mulai menafsirkan kesadaran kesatuan mistik pada akhirnya kita akan tiba pada multiplitas hubungan subyek-obyek yang dalam satu hal merupakan penafian kesatuan mistik; artinya, jika kita tiba pada multiplitas, berarti kita telah gagal menafsirkan kesatuan mistik kita; karena itu, setiap penafsiran tentang mistisisme akan menyiratkan penafian atas apa yang seharusnya telah ditafsirkan.[24]

Satu solusi bagi paradoks ini adalah analogi predikat dua-tempat yang telah kami singgung dalam beberapa diskusi kita terdahulu. Analogi ini adalah kesederhanaan pusat lingkaran dan kemajemukan dalam menafsirkan pusat yang sama ketika dipandang dari berbagai sudut yang berbeda pada keliling lingkaran tersebut. Tidak mungkin kemajemukan pada keliling lingkaran seperti itu, meski berpusat pada titik yang sama, bisa dikatakan bertentangan atau bahkan merusak kesederhanaan garis-garis yang bertemu di pusat. Garis-garis tegak lurus dari keliling lingkaran yang bertemu dan lenyap di pusat ini semuanya dipandang sebagai masalah perspektif-perspektif yang beraneka, yang secara faktual tak bisa diidentikkan begitu saja dengan titik yang tak bisa dibagi-bagi di pusat itu. Karena itu, kemajemukan garis-garis yang bersimpang dari titik-titik yang jumlahnya tak terhitung di lingkaran ini tidak punya hubungan apapun dengan kesederhanaan matematis titik pusat meskipun semuanya adalah "penafsiran-penafsiran" tentangnya.

Berdasarkan analogi ini, marilah kita sebut pengetahuan interpretatif representasional kita tentang kesatuan mistik dengan sebutan "pengetahuan lingkaran-luar" (circumferencial knowledge) yang bersasaran pada ketunggalan pusat kesatuan mistik. Sementara, tak diragukan sedikutpun bahwa semua pengetahuan lingkaran-luar interpretatif yang banyak ini terbentuk oleh kemajemukan hubungan subyek-obyek, secara factual ia tidak bisa diidentikkan dengan pengetahuan sentral kesatuan mistik. Seandainya keduanya mutlak identik, maka ia akan menjadi kesatuan dan (juga) bukan kesatuan, dan kejamakan dan (juga) bukan kejamakan, yang jelas merupakan kontradiksi ganda. Keterlibatan kontradiksi inilah yang membawakan kegagalan sepenuhnya pada upaya-upaya filosofis yang sejauh ini dilakukan badi kejelasan kebenaran mistisisme. Seandainya masalah ini telah diperiksa dengan cermat sejak semula, niscaya tidak ada filosof yang akan mencoba-coba mengkontradiksikan dirinya sendiri dalam membahas kesadaran mistik dengan menyebutnya pengetahuan representasional, baik empiris maupun transcendental.

Harus dicatat bahwa dengan mengambil posisi negarif ini kita tidak bermaksud menggalakkan doktrin terkenal bahwa mistisisme tidak terkatakan dan tak mungkin dikonseptualkan dalam term-term pengetahuan fenomenal. Sebaliknya, kitaakan sampai pada posisi positif bahwa mistisisme, seperti halnya bentuk-bentuk pengetahuan-kehadiran lain, bisa direfleksikan dan ditafsirkan melalui konseptualisasi dan introspeksi para mistikus, dan bisa diajarkan serta diperbincangkan dalam bahasa kita sehari-hari. Tetapi, penafsiran ini sama sekali tak boleh dikacaukan dengan kesadaran kesatuan mistik yang sedang kita bicarakan di sini.[25] Oleh karena itu, kita harus mengakui bahwa semua penafsiran dan pemahaman konseptual tentang mistisisme masuk ke dalam wilayah pengetahuan fenomenal dan bukannya pengetahuan hudhuri. Sekalipun begitu, ungkapan rasional, atau permainan bahasa, mistisisme tetap merupakan persoalan yang mesti diputuskan nanti. Untuk sementara, adalah perlu untuk memahami dengan jelas bahwa kesadaran mistik benar-benar berbeda dari penafsiran tentangnya. Sekarang kita akan memalingkan perhatian kepada kebenaran dan kesahihan kesadaran tersebut dan berbicara tentang penafsiran dan bahasa obyek mistisisme pada saatnya nanti.

 

Alam-alam Ide (Mutsul) Plato Tidak Bersifat Mistik

Dalam argumen di atas kita menggunakan prinsip kontradiksi sebagai dasar untuk membedakan dengan mudah antara kesadaran kesatuan mistik dengan semua bentuk pengetahuan hushuli. Kita telah mengatakan bahwa jenis kejamakan apapun dalam pengetahuan dan emosi tak konsisten dengan kesadaran uniter mutlak mistisisme. Atas dasar ini kita juga mampu menggeneralisasi posisi kita dengan konjungsi berikut:

"Tak mungkin ada kesadaran mistik yang identik dengan bentuk pengetahuan hushuli, dalam teori ataupun kenyataan", dan "Tak mungkin ada pengetahuan hushuli yang identik dengan derajat kesadaran mistik, dalam kenyataan ataupun dalam teori".

Marilah kita periksa sejenak, atas dasar prinsip ini, pemikiran Plato tentang “alam-alam ide” (mutsul), untuk mengetahui apakah ada kaitannya dengan kesadaran mistik. Kita memahami bahwa, dalam filsafat Plato, konsep yang diperluas tentang “penglihatan” telah digunakan dalam arti kesadaran intelektual manusia yang berbeda dengan kesadaran inderawi empiris. Dalam hal ini doktrin Plato tentang “alam-alam ide” disubstitusikan untuk teori Aristotelian tentang “pengetahuan abstrak”. Sungguh harus dicatat bahwa “alam-alam ide” Plato, seperti halnya pengetahuan intelektual biasa kita, pada dasarnya dicirikan oleh dualisme hubungan subyek-obyek, dan karena alasan ini tidak identik dengan kesadaran mistik. Marilah kita sekarang merujuk langsung kepada Plato untuk melihat apakah “alam-alam ide” itu benar-benar berkaitan dengan kesadaran mistik.

Di antara banyak rujukan di berbagai tempat, ada dua pernyataan yang relatif jelas di dalam The Republic mengenai doktrin “alam ide”:

 

a.                   Dalam dunia pengetahuan, hal terbaik yang bisa dipersepsi dan hanya didapat dengan upaya keras adalah Bentuk esensial Kebaikan … Tanpa memiliki “penglihatan” atas bentuk-bentuk ini tak seorang pun bisa bertindak bijaksana, baik dalam kehidupannya sendiri ataupun dalam masalah kenegaraan.[26]

b.                   Mereka harus disuruh mendaki menuju “penglihatan” Kebaikan, yang kita sebut obyek pengetahuan tertinggi, dan apabila mereka telah melihatnya cukup lama, mereka tidak boleh, seperti halnya sekarang, tetap berada di ketinggian tersebut, dan menolak turun kembali kepada para tawanan atau bagian manapun dalam pekerjaan dan ganjaran mereka, betapapun banyak atau sedikitnya nilai pekerjaan dan ganjaran itu.[27]

Dalam kedua wacana ini ada indikasi yang jelas bahwa dalam sistem “alam ide” Plato terutama memaksudkan hal yang dipersepsi sebagai obyek pengetahuan yang tertinggi. Penglihatan intelektual atau “alam ide” mengenai obyek ini karenanya merupakan sifat esensial yang menjadi sasaran pencarian kebijaksanaan bagi subyek yang mengetahui. Di sini, kita sekali lagi dihadapkan pada masalah perbedaan subyek-obyek, yang tak bisa diterapkan pada penglihatan mistik. Karena alasan ini, jelaslah bahwa upaya apapun untuk mendorong doktrin Platonik ini ke arah pengertian kesadaran mistik akan berakhir dengan kegagalan. Akan tetapi, tidak dengan sendirinya berarti bahwa penafsiran dan konseptualisasi pengalaman-pengalaman mistik juga tak konsisten dengan “penglihatan” atau “alam ide” Platonik. Dengan merenungi pengalaman mistiknya, seorang mistikus bisa memberi kesaksian kebenaran obyektif teori filosofis ini dengan sangat positif; akan tetapi tidak berarti bahwa kesadaran mistik dan penglihatan intelektual atau alam ide itu adalah identik.[28]

 

Agama dan Mistisisme

Apapun definisi yang diberikan kepada konsep agama, pasti dimengerti bahwa "kepercayaan kepadasuatu kekuatan Mutlak atau kehendak Mutlak sebagai keperdulian tertinggi"[29] adalah hakikat esensial konsep ini dalam semua budaya dan dalam semua variasinya. Karena itu, "keimanan dan kepercayaan kepada apa yang menjadi obyek kepedulian tertinggi dari subyek yang mempercayai" adalah analisis singkat atas hipotesis tentang agama. Berdasarkan pemahaman ini, begitu kita menerima proposisi behwa kepercayaan dan keimanan memiliki tempat dalam pengetahuan biasa kita, maka teori agama dan keimanan dengan sendirinya akan masuk ke dalam kerangka hubungan subyek-obyek yang sama, yang menjadi ciri khas semua mode pengetahuan dengan korespondensi. Ini karena, berdasarkan ketentuan ini, pernyataan "X percaya kepada Tuhan", menyiratkan pernyataan "X mengetahui Tuhan". Seandainya halnya demikian, kita tidak akan perlu menyimpulkan perbedaan sistematik apapun antara mistisisme dan agama selain perbedaan yang telah kita simnpulkan antara pengetahuan kita sehari-hari dan mistisisme. Kita hanya akan mengatakan bahwa agama, sebagai suatu mode pengetahuan fenomenal, terlibat dalam kompleksitas subyek-obyek. Karenanya ia tak bisa memenuhi kondisi utama mistisisme, yang menuntut pelenyapan total hubungan subyek-obyek untuk bisa memperoleh keutuhan kesadaran uniter, yang merupakan sebuah mode pengetahuan dengan kehadiran.

Akan tetapi, jika kita tidak mengidentikkan fenomena iman dengan fenomena pengetahuan biasa, maka kita harus membuka alur argumen lain, dengan mempertanyakan pakah fenomena iman pada dasarnya bersifat mistik dan apakah mistisisme dengan sendirinya bersifat religius, atau apakah keduanya saling independen.

Akan tetapi, dalam jalur argumen ini, kita perlu, pertama-tam, menjawab pertanyaan: Apakah agama pada prinsipnya merupakan hubungan biner ataukah hubungan uniter? Sebab kami akan berusaha mengambil posisi bahwa kesadaran mistik adalah unik jika ia merupakan hubungan uniter yang darinya semua hubungan biner disisihkan, dan pertanyaan apakah mistisisme per definisi identik dengan agama merupakan masalah yang krusial. Akan tetapi, menyangkut masalah ini, kami ingin menjelaskan bahwa sementara mistisisme dan agama mempunyai persamaan karena keduanya dicirikan oleh kenyataan keterkaitannya dengan Yang Mutlak, keunikan mistisisme adalah karen ia bukan hubungan predikat dua-tempat. Jika kita sudah memahami perbedaan mendasar antara agama dan mistisisme ini, maka kita bisa dengan mudah sampai pada kesimpulan bahwa mustahil agama mengalami transformasi dari keadaan sebagai hubungan biner kepada hubungan uniter tanpa kehilangan arti pentingnya yang esensial. Maka bagaimana kita bisa mengidentikkan agama dengan mistisisme?

Kita bisa menyederhanakan jawaban kita terhadap pertanyaan ini dengan memahami secara intuitif bahwa mistisisme, sebagai kesadaran yang pada esensinya bersifat uniter, pada hakikatnya tidak religius, dan sebaliknya, sebagai hubungan biner, agama pada dasarnya tidak bersifat mistik. Tetapi, sulit untuk membatasi diri pada penyederhanaan yang berlebihan ini sebelum memberikan penjelasan penuh tentang mistisisme vis a vis apa yang disebut sebagai hubungan-hubungan biner yang paling sederhana, termasuk konsep kepercayaan religius.

Mengenai proposisi bahwa kepercayaan religius adalah hubungan predikat dua-tempat, yang secara teknis disebut hubungan biner atau rangkap dua, kita bisa mengatakan bahwa pernyataan:

 

"X adalah manusia yang religius"

ekuivalen dengan:

"X adalah orang yang percaya pada Tuhan",

atau, agar bisa diterapkan pada agama-agama nontestik:

"X adalah orang yang percaya pada suatu Diri Mutlak".

Akan tetapi, pernyataan kepercayaan ini menyiratkan bahwa ada (1) subyek (orang yang percaya), dan (2) obyek (orang yang dipercayai), dan (3) tindak mempercayai, yang mengikat keduanya dalam suatu kesatuan kompleks. Dalam analisis ini, seperti halnya dalam analisis pengetahuan, kita menemukan subyek-obyek. Nah, karena pengertian dualisme ini terkandung dalam esensinya sendiri, maka agama tidak akan pernah bisa diidentikkan dengan teori prospektif kita tentang kesadaran uniter, yang menuntut, seperti akan kita lihat, suatu hubungan uniter mutlak dengan Tuhan dan penting bagi swaobyektivitas kesadaran mistik.

Pada titik ini mungkin ada keberatan bahwa pengucilan yang begitu kejam terhadap agama dari sifat-sifat esensial mistisisme tidak konsisten dengan gagasan "kesatuan dengan Tuhan", yang begitu sering diungkapkan oleh beberapa agama Barat, khususnya Kristen, sebagai prinsip agama. Lebih lanjut, telah dinyatakan bahwa dorongan kepada kesatuan mistik adalah prinsip vital semua kehidupan beragama. "Tanpanya agama akan layu dalam ritualisme yang kering atau moralisme yang gersang".[30] Sekalipun demikian, jika kita palingkan perhatian kepada masalah pemeriksaan makna kesatuan religius ini, khususnya dalam perbandingan dengan pengertian mistik kesadaran uniter, akan kita temukan bahwa apa yang dicobe tunjukkan oleh otoritas agama dengan ungkapan "kesatuan" jauh dari sifat mistik. Tetapi, merupakan kesatuan religius yang tak lebih dari "asosiasi dengan" atau "pengabdian kepada" Kehendak Ilahi, sehingga dalam kesatuan ini perbedaan antara subyek dan obyek sangat ditekankan dan tak pernah diabaikan. Bahkan seandainya makna kesatuan religius lebih dari ini, berdasarkan hipotesis-hipotesis yang bisa dipahami, ia tak akan pernah bisa memproklamasikan pelenyapan total hubungan subyek-obyek, yang diungkapkan dalam perlawanan antara “yang mencintai (‘âsyiq)” dan “yang dicintai (ma’syuq)”, atau penyingkapan hijab. Nanti akan kita lihat bahwa pengertian kesatuan mistik tak jauh berbeda debgab kesatuan eksistensial yang kepadanya agama tak dapat, paling tidak secara teoritis, mengikatkan dirinya, meskipun agama dan mistisisme tidak bertentangan. Akan tetapi, klaim utama mistisisme adalah peleburan diri yang terbatas ke dalam Kesatuan tak terbatas secara total, sedemikian rupa sehingga ungkapan semisal "Jadilah Engkau pembimbing kami …"[31] tak lagi mempunyai arti.

Kita akan lihat nanti bahwa teori kita tentang hubungan uniter pengalaman mistik tidak cocok dengan hubungan identitas transubstansial, atau kesatuan dalam esensi, atau bahkan dengan "Kesatuan tak Terdiferensi" dari Stace, apalagi dengan pengertian unifikasi religius. Saya memandang pernyataan "dorongan kepada kesatuan mistik adalah prinsip vital semua kehidupan keagamaan", sebagai sejenis kekeliruan logika homonim, yang timbul dari kemiripan kata "kesatuan", yang dipergunakan di berbagai tempat dengan arti yang berbeda-beda, baik secara mistik maupun religius.

Harus ditambahkan bahwa gagasan mistisisme terlepas dari agama tidak dengan sendirinya membawa kita kepada kesimpulan bahwa mistisisme itu "tak religius", karena kesimpulan seperti itu akan menjerumuskan kita ke dalam kontradiksi pragmatis dengan banyak tokoh sejarah, baik dalam Kristen maupun Islam, yang merupakan pribadi-pribadi religius dan sekaligus mistik. Di sini, tidak ada artinya mengatakan bahwa St. John dalam Dark Night of the Soul, karya Cross atau Myskat Al-Anwar, karya Al-Ghazali tidak selaras dengan agama hanya karena kedua buku itu bersifat mistik.

Dalam kenyataannya, mistisisme, setelah membuktikan secara mandiri kebenaran swaobyektifnya, bisa disuguhkan sebagai landasan yang handal, atau bahkan sebagai saksi mata empiris bagi kebenaran-kebenaran agama yang bersifat teoritis, yang semuanya hanya mungkin terjadi sesudah adanya penafsiran dan introspeksi pengalaman mistik. Sebaliknya, agama juga bisa menjadi pembantu penting bagi seorang mistikus dalam perjalanan naik menuju kesadaran kesatuan mistik, begitu sang mistikus membuang ikatan-ikatan khayalnya dengan kemajemukan hidup ini. Sekalipun demikian, hal penting yang mesti dikemukakan adalah bahwa mistisisme sama sekali terlepas dari agama dalam esensinya, sehingga bisa dipahami dengan jelas bahwa:

 

A.      "X adalah orang yang religius"

tidaklah ekuivalen dengan:

 

B.       "X sedang mengalami mistisisme"

Dari penafian ekuivalensi seperti itu bukan berarti bahwa pernyataan A dan B tidak konsisten. Kita mesti sampai pada kesimpulan bahwa walaupun benar mistisisme adalah non-religius, namun adalah salah jika dikatakan bahwa mistisisme itu tidak religius, atau tak punya simpati dengan pengalaman religius. Begitu juga adalah sama keliru dan tak logisnya untuk mengeluarkan mistisisme dari agama dan menganggapnya tak konsisten dengan keyakinan agama.

 

Mistisisme sebagai Satu Bentuk Ilmu Hudhuri

Sejauh ini kami telah membahas hipotesis mistisisme dari sisi negatif, yakni dari apa yang bukan merupakan hakikat mistisisme. Sebaliknya kami ingin membahas pertanyaan: Jenis pengetahuan apakah kesadaran mistik itu, jika ada, kalau ia bukan pengetahuan representasional (ilmu huhuli)?

Karena kami telah menyuguhkan pembedaan antara pengetahuan hudhuri dan pengetahuan hushuli, maka tidak terlalu mengherankan jika kita menjawab pertanyaan di atas secara intuitif, dengan mengatakan bahwa mistisisme adalah satu bentuk ilmu hudhuri. Setelah melakukan renungan singkat atas kerangka mistisisme, kami merasa memperoleh pembenaran untuk memperlakukannya sebagai satu bentuk kesadaran neotic manusia dalam pengertian bahwa suasana hati dan pengalaman mistik bersifat tegas dan sangat informatif. Mistisisme seluruhnya dicirikan oleh kesadaran yang teratur akan dunia realitas. Ia menghadirkan sesuatu di hadapan kita sebagai kebenaran dunia ini. Karenanya, adalah sah untuk menyebut mistisisme sebagai satu bentuk pengetahuan, sebab telah banyak filosof sepakat bahwa mistisisme adalah suatu kesadaran manusia yang bercorak neotic.

Kami telah memutuskan bahwa kami tertarik pada hipotesis mistisisme hanya dengan asumsi bahwa mistisisme adalah pendekatan lain kesadaran manusia terhadap realitas dunia. Jadi, karena asumsi ini dipraanggapkan, maka pembahasan tentang apakah mistisisme hanya fenomena subyektif semata-mata berada dalam lingkup tesis yang sekarang ini. Karena itu kami mengambil satu langkah lebih jauh dengan mengemukakan bahwa kesadaran mistik sama sekali tidak mungkin bersifat representasional. Nah, karena kemungkinan bahwa mistisisme merupakan satu bentuk pengetahuan hushuli telah dikesampingkan, maka satu-satunya alternatif logis adalah menilai kesadaran mistik sebagai contoh pengetahuan hudhuri. Mistisisme adalah salah satu bentuk ilmu hudhuri, sebab, jika telah terbukti bersifat nonfenomenal, maka tak ada sesuatupun yang bisa mengakomodasi mistisisme kecuali bentuk pengetahuan hudhuri.

Sekalipun demikian, kita harus mengakui kenyataan bahwa akan merupakan kekurangan intelektual yang substansial jika kita tidak bisa menspesifikasikan dengan suatu penjelasan yang bisa dipahami, pengertian kehadiran apa yang mungkin dimiliki oleh kesadaran mistik. Kami ingin menyatakan bahwa kehadiran mistik adalah kehadiran dengan "penyerapan", yang merupakan sifat esensial pemahaman mistik. Akan tetapi, pertama-tama arti penyerapan haruslah dikaji dengan akurat. Menurut pendapat kami penyerapan adalah gagasan derivatif dari "emanasi". Karena itu kita terlebih dahulu mesti mengetahui apa arti emanasi.[www.wisdoms4all.com]


 

[1] . Kita bisa melihat, dengan amat persis, metodologi yang digunakan di sini sama seperti yang digunakan Ibnu Sina, ketika dia berpindah pada penjelasan mengenai keadaan-keadaan pribadi pikiran kita dan tindak-tindak imanen pikiran, segera sesudah dia merumuskan doktrinnya yang terkenal dengan "jiwa yang tertahan", Lihat Kitab al-Isyarat wa at-Tanbihat, jilid 2, hal 350-8.

[2] . Metode pedagogis ini adalah khas pemikiran Islam secara keseluruham. Nashir Al-Din Thusi yakin bahwa inilah alasan mengapa buku Metaphysics of Aristotle diberi judul demikian. Artinya, suatu kajian tentang hal-hal yang bisa diamati di alam semesta mempunyai prioritas pedagogis alamiah atas isu-isu intelektual yang menjadi pokok perhatian filsafat pertama. Lihat Syaikh Thusi, Syarh al-Isyarat wa at-Tanbihat, hal. 149.

[3] . Ibnu Sina, Kitab al-Isyarat wa at-Tanbihat, jilid 2, hal. 348-9.

[4] . Kitab al-Masyari' wa al-Mutharihat, hal. 485.

[5] . Perhatikan bahwa ini adalah masalah partikularitas dan universitalitas pengetahuan, yang sangat jauh dari partikularitas dan universitalitas benda-benda hakiki. Yang disebut pertama adalah masalah epistemologi, sedang yang kedua adalah persoalan ontologi.

[6] . Saya kira kita harus memahami bahwa persoalan-persoalan yang terutama bersifat epistemologis ini tidak dengan sendirinya melibatkan kita pada masalah mendasar tentang hubungan ruh-tubuh. Apakah hubungan ini dikategorikan sebagai hubungan materi-bentuk atau hubungan substansi-aksiden, tidak menjadi pokok persoalan sepanjang kita memusatkan perhatian kita pada sifat eksistensial 'aku' performatif. Seperti telah kita lihat dengan terinci 'aku' performatif secara keseluruhan termasuk ke dalam tatanan realitas eksistensi yang dalam pancarannya semua "yang lain" menjadi tiada.

[7] . Suhrawardi, Kitab al-Masyari', hal. 485.

[8] . Ibid, hal. 486.

[9] . Harus  dipahami bahwa yang kami maksudkan dengan pengetahuan partikular, sebagai filosof Musllim, bukanlah suatu proposisi partikular dalam logika. Suatu proposisi partikular yang logis adalah proposisi yang dikuantifikasikan dengan istilah semacam "beberapa", "paling tidak ada satu hal", dan sebagainya. Tetapi, pengetahuan partikular adalah pengetahuan yang memiliki tidak lebih dari satu rujukan obyektif tunggal dan yang tidak bisa diterapkan kepada yang banyak.

[10] . Dalam filsafat ontologi Islam, adalah norma eksistensial untuk mengatakan bahwa partikularitas dalam pengertian individuasi bergantung hanya pada eksistensi obyektif sesuatu, tetapi kategori esensi seperti kualitas, kuantitas, posisi, waktu, dan lain-lain tidak bisa menjadikan sesuatu bersifat individual, karena hal ini hanya ada setelah dianalisa dalam pikiran. Lihat Mulla Hadi Sabzewari, Syarh-e Manzhumah, hal. 58.

[11] . Dalam Metafisika karya Ibnu Sina, terdapat ekuivalensi material antara konsep 'eksistensi' dan konsep 'ketunggalan', yang disimpulkan dan dinyatakan dengan cermat. Tapi, apakah ketunggalan ini adalah ketunggalan individual ataukah ketunggalan generik, adalah tidaklah jelas. Belakangan, dalam filsafat Hikmah Muta’aliyah Mulla Sadra, menjadi jelas bahwa ekuivalensi ini hanya berlaku antara realitas eksistensi, sebagai lawan dari konsep tentangnya, dengan individuasi aktual. Lihat Kitab al-Syifa', bab 5.

[12] . Suhrawardi, Kitab al-Masyari' wa al-Mutharihat, hal. 486.

[13] . Yang kami maksud dengan kesadaran uniter bukanlah mode persatuan dan keidentikan yang spesifik. Apakah itu adalah kesatuan dengan Yang Esa yang bersifat personal seperti yang diklaim oleh mistisisme Barat –Yahudi, Kristen, dan Islam- ataukah persatuan dengan Yang Esa yang Universal, seperti dalam kasus mistik Timur, tidak menciptakan perbedaan apapun bagi term "kesadaran uniter". Kesadaran uniter lebih merupakan keidentikan rasional dimana tidak terdapat kemajemukan dalam bentuk apapun. Dalam keadaan ini bahkan dualisme epistemik hubungan subyek-obyek, dualisme metafisik pembedaan eksistensi-esensi, ataupun pengabdian religius yang melibatkan hubungan penyembah dan yang disembah tampak tak berarti.

[14] . Lihat W.T. Stace, Mysticism end Philosophy, bab 2, hal. 41-133.

[15] . Ini karena jenis kesadaran apapun selain kesadaran swaobyek, yang hanya berlaku pada pengetahuan dengan kehadiran, tidak konsisten dengan kesadaran uniter mistik.

[16] . William James, "Mysticism", dalam The Varietes of Religious Experience, hal. 370-420.

[17] . R.M. Bucke, Cosmic Consciousness, hal. 12.

[18] . W. T. Stace, Mysticism and Philosophy, hal. 146-52.

[19] . Plitonus, Tasuat (Enneads), hal. 4.

[20] . Ibid, hal. 10.

[21] . Adalah suatu kontradiksi-diri jika seorang mistikus mengatakan: "Saya telah melihat pada waktu tertentu, sesuatu di antara yang lain-lain sedemikian rupa sehingga ia adalah suatu Kesatuan dan tak bisa dideferensiasi." Karena seandainya ia benar-benar tunggal dan tak terdeferensiasi, maka ia tidak akan menjadi obyek di antara hal-hal lain yang bisa dilihat oleh persepsi seorang.

[22] . Platinus, Tasuat, hal. 10.

[23] . W. T. Stace, The Teaching of the Mystics, hal. 15.

[24] . Paradoks penafsiran ini juga telah dicatat oleh Plotinus karena dia memperingatkan kita dalam wacana di atas: "Tidak ada keraguan lagi kita tidak boleh berbicara tentang melihat, tetapi kita tak bisa menahan diri untuk tidak berbicara dalam dualitas …".

[25] . W. T. Stace, The Teaching of the Mystics, hal. 15.

[26] . Plato, The Republic, VII, 516-7.

[27] . Ibid, VII, 519.

[28] . Plato, Sophist, hal. 266.

[29] . Definisi ini paling tidak tersirat dalam berbagai definisi yang dibuat dalam filsafat agama kontemporer. Lihat William P. Alston, "Religion", dalam The Encyclopedia of Philosophy.

[30] . L. Dupre, "The Mystical Vision", dalam The Other Dimension, bab 12.

[31] . Ini adalah ungkapan simtomatik hubungan penyembahan yang menandai dualisme subyek yang menyembah dan obyek yang disembah.