Filsafat materialis menawarkan satu saja penjelasan
untuk keter-aturan dan keseimbangan yang ada di alam
semesta: peristiwa kebetulan. Menurut klaim ini, seluruh
alam semesta terbentuk melalui serangkaian peristiwa
kebetulan.
Namun, jika kita meneliti alam semesta ini secara
sekilas, kita melihat bahwa klaim ini sungguh tidak
benar. Suatu kebetulan hanya akan menimbulkan kekacauan,
padahal di alam semesta ini kita melihat keteraturan di
mana-mana. Keteraturan ini membuktikan kekuasaan Allah
yang abadi, Yang menciptakan alam semesta dari ketiadaan
lalu memberinya bentuk.
Ketika menjelajahi alam semesta, kita menemukan banyak
contoh keteraturan. Dunia yang kita tempati ini hanyalah
salah satunya. Dengan segala keistimewaan yang ada
padanya, bumi diciptakan dengan kese-imbangan yang luar
biasa stabil, yang membuatnya cocok bagi berlang-sungnya
kehidupan makhluk hidup.
Jarak bumi dari matahari, kemiringan sumbu bumi terhadap
orbit, keseimbangan dalam atmosfer, kecepatan rotasi
bumi pada sumbunya, kecepatannya mengelilingi matahari,
fungsi laut dan gunung di bumi, sifat-sifat dan
interaksi di antara makhluk hidup, semua ini hanyalah
beberapa unsur dari keseimbangan ekologis yang terdapat
di bumi.
Kalau dibandingkan dengan planet lain, semakin jelas
bahwa bumi secara khusus dirancang bagi manusia. Air,
misalnya, adalah senyawa yang sangat sulit ditemukan di
planet lain. Dalam tata surya kita, air ber-wujud cair
hanya ditemukan di bumi. Terlebih lagi, 70% permukaan
bumi tertutup air. Jutaan jenis makhluk hidup di air.
Pembekuan air, kapasitas air untuk menarik dan menyimpan
panas, adanya badan air berukuran besar berbentuk
lautan, dan bahkan penyaluran panas yang melintasi bumi
adalah karakteristik yang hanya dimiliki oleh bumi.
Tidak ada planet lain yang memiliki sirkulasi badan cair
yang konstan seperti yang terdapat di bumi.
Poros bumi membuat sudut miring (inklinasi) sebesar 23
dari orbit-nya. Musim terbentuk akibat kemiringan ini.
Andaikan sudut kemiringan ini sedikit lebih besar atau
lebih kecil, perbedaan suhu antara musim akan menjadi
sangat ekstrem. Andaikan ini terjadi, di bumi akan
terjadi kondisi ekstrem yang tak tertahankan, musim
panas yang sangat panas dan mu-sim dingin yang sangat
dingin.
Kecepatan rotasi bumi pada sumbunya merupakan kecepatan
yang paling sesuai bagi makhluk hidup. Planet-planet
lain dalam tata surya pun mengalami siang dan malam.
Karena perbedaan waktu di planet lain jauh lebih besar
dibandingkan dengan di bumi, perbedaan antara suhu siang
dan malam pun sangat tinggi. Hebatnya aktivitas angin di
atmosfer planet lain tidak kita temukan di bumi ini,
suatu keistimewaan berkat rotasi planet bumi yang
seimbang.
Jenis dan konsentrasi gas-gas yang menyusun atmosfer
sangat penting bagi keberadaan bukan hanya umat manusia,
melainkan juga semua makhluk hidup yang ada di bumi.
Koeksistensi sejumlah besar keseimbangan yang stabil di
bumi memungkinkan terbentuknya gas-gas atmosfer dengan
proporsi yang tepat dan selalu konstan.
Kita dapat membuat daftar yang berisi ratusan
keistimewaan selain yang telah disebutkan di atas.
Walaupun demikian, semua contoh di atas pun sudah dapat
menunjukkan suatu kenyataan: Bumi yang kita huni ini
diciptakan secara khusus guna berlangsungnya kehidupan
berbagai makhluk. Hal ini bukanlah hasil suatu
kebetulan, melainkan keteraturan yang disengaja.
Kesempurnaan keteraturan yang terdapat di alam semesta
mem-bawa kita pada satu kesimpulan: adanya satu Pencipta
yang memiliki kekuatan dan pengetahuan tak terbatas,
yaitu Allah, Yang Memiliki seluruh dunia, dan
menciptakan alam semesta.
Keseimbangan di Atmosfer
Atmosfer bumi terdiri atas empat gas utama, yaitu
nitrogen (78%), oksigen (21%), argon (kurang dari 1%),
dan karbon dioksida (0,03%). Gas yang ada di atmosfer
dapat dibagi ke dalam dua kelompok: “gas yang reaktif”
dan “gas yang tidak reaktif”. Analisis terhadap gas-gas
reaktif mengungkap bahwa reaksi yang melibatkan gas
reaktif sangat penting bagi kehidupan, sedangkan gas-gas
yang tidak reaktif akan menghasilkan senyawa yang
merusak jika bereaksi. Misalnya, argon dan nitrogen
adalah gas tidak aktif, yang hanya dapat bereaksi secara
terbatas. Bila kedua gas tersebut mudah bereaksi seperti
oksigen, lautan akan berubah menjadi asam nitrat.
Sebaliknya, oksigen bereaksi dengan atom-atom lain,
senyawa organik, dan bahkan batuan. Reaksi tersebut
menghasilkan molekul-molekul dasar kehidupan seperti air
dan karbon dioksida.
Selain tingkat reaktif gas, konsentrasi gas-gas tersebut
saat ini sangat penting bagi kehidupan. Misalnya,
oksigen. Oksigen adalah gas reaktif yang paling
berlimpah di atmosfer. Konsentrasi oksigen yang tinggi
di atmosfer bumi adalah salah satu keistimewaan yang
membedakan bumi dengan planet lain di tata surya.
Planet-planet tersebut tidak memiliki oksigen sedikit
pun.
Andaikan konsentrasi oksigen di atmosfer lebih tinggi,
oksidasi akan terjadi lebih cepat dan mengakibatkan
batuan dan logam terkikis lebih cepat. Oleh karena itu,
bumi akan terkikis dan hancur, dan kehidupan di bumi
akan menghadapi ancaman besar. Andaikan konsentrasi
oksigen lebih kecil, pernapasan akan menjadi sulit, dan
lebih sedikit ozon yang dihasilkan. Perubahan jumlah
ozon akan berakibat fatal bagi kehidupan. Berkurangnya
ozon akan menyebabkan sinar ultraviolet mencapai bumi
dengan intensitas yang lebih tinggi, sehingga kehidupan
di muka bumi akan lenyap. Banyaknya ozon akan mencegah
panas matahari mencapai bumi dan berakibat fatal bagi
kehidupan.
Karbon dioksida juga berada dalam keseimbangan yang
sama. Tumbuh-tumbuhan menyerap radiasi sinar matahari
melalui gas ini. Bila bercampur dengan air, gas ini
membentuk bikarbonat yang dapat mela-rutkan batuan dan
meninggalkannya di lautan. Reaksi tersebut menguraikan
karbon dioksida dan melepaskan oksigen kembali ke
atmosfer. Oksi-gen, yang sangat penting bagi makhluk
hidup, dilepaskan ke atmosfer secara terus-menerus.
Karbon dioksida juga ikut menjaga “efek rumah kaca”,
untuk menjaga suhu bumi tetap konstan.
Andaikan jumlah karbon dioksida berkurang, jumlah
tumbuhan hidup di darat dan laut akan berkurang,
sehingga makanan bagi hewan berkurang. Selain itu,
jumlah bikarbonat di laut akan berkurang dan membuat
laut menjadi lebih asam. Andaikan jumlah karbon dioksida
di atmosfer meningkat, erosi kimia tanah akan semakin
cepat dan membentuk residu alkali yang berbahaya di
laut. Selain itu, “efek rumah kaca” akan meningkat,
menyebabkan naiknya suhu permukaan bumi dan melenyapkan
kehidupan yang ada di bumi.
Seperti telah kita lihat, keberadaan
atmosfer sangat penting bagi kelangsungan hidup di bumi.
Beberapa kondisi astrofisika harus saling melengkapi
agar atmosfer tetap terpelihara.
A) Permukaan bumi harus tetap berada pada suhu sedang,
dalam kisaran tertentu. Untuk itu:
1. Bumi harus berada pada jarak tertentu dari matahari.
Jarak ini menentukan banyaknya energi panas matahari
yang mencapai bumi. Perubahan sedikit saja orbit bumi
mengitari matahari - baik lebih dekat maupun lebih jauh
- akan mengakibatkan perubahan besar dalam banyaknya
energi panas matahari yang mencapai bumi. Perhitungan
menunjukkan bahwa berkurangnya panas yang mencapai bumi
sebesar 13% akan menyebabkan bumi diselimuti lapisan es
setebal 1.000 meter. Sebaliknya, sedikit saja panas bumi
yang mencapai bumi meningkat akan menyebabkan seluruh
makhluk hidup hangus terpanggang.
2. Suhu permukaan bumi harus homogen. Untuk ini, bumi
harus melakukan rotasi pada sumbunya dengan kecepatan
tertentu (1.670 km/jam di khatulistiwa). Bila kecepatan
rotasi bumi melebihi batas tertentu, atmosfer akan
menjadi sangat hangat. Meningkatnya suhu atmosfer ini
mengakibatkan bertambah cepatnya molekul gas lepas dari
bumi, sehingga atmosfer bumi akan lenyap ke angkasa.
Andaikan kecepatan rotasi bumi lebih lambat, kecepatan
molekul gas lepas dari bumi akan menurun. Molekul gas
tersebut akan menghilang karena terserap oleh bumi
akibat efek gravitasi.
3. Sudut kemiringan bumi sebesar 23o27' dari sumbunya
mencegah adanya panas berlebih antara kutub dan
khatulistiwa. Panas berlebih ini dapat menghambat
pembentukan atmosfer. Bila tidak ada sudut miring,
perbedaan suhu antara kutub dan khatulistiwa akan
meningkat hebat, dan tidak mungkin tercipta atmosfer
yang dapat menyokong kehidupan.
B) Sebuah lapisan diperlukan untuk mencegah lepasnya
panas yang telah dihasilkan:
Untuk menjaga agar suhu permukaan bumi berada pada
tingkat yang konstan, hilangnya panas harus dicegah,
terutama pada malam hari. Untuk itu, dibutuhkan senyawa
yang dapat mencegah hilangnya panas dari atmosfer.
Kebutuhan ini terpenuhi dengan adanya karbon dioksida di
atmosfer. Karbon dioksida menutupi bumi seperti selimut
dan mencegah hilangnya panas ke angkasa.
C) Di bumi terdapat struktur-struktur tertentu yang
menjaga keseimbangan panas antara kutub dan
khatulistiwa:
Perbedaan suhu antara daerah kutub dan khatulistiwa
adalah sebe-sar 120C. Andaikan perbedaan panas ini
terjadi pada permukaan yang rata, akan terjadi
pergerakan atmosfer yang hebat. Badai hebat dengan
kecepatan 1.000 km/jam akan menjungkirbalikkan dunia,
menghancur-kan keseimbangan atmosfer dan atmosfer akan
buyar.
Bumi memiliki permukaan yang tidak rata, dan permukaan
ini menghalangi timbulnya arus udara kuat yang bisa
terjadi akibat perbeda-an panas. Ketidakrataan ini
dimulai dengan Pegunungan Himalaya antara Cina dan anak
benua India, dilanjutkan dengan Pegunungan Taurus di
Anatolia, dan mencapai Pegunungan Alpen di Eropa melalui
rangkaian gunung menghubungkan Laut Atlantik di barat
dan Laut Pasifik di timur. Di lautan, kelebihan panas
yang terbentuk di khatulistiwa akan diteruskan ke utara
dan selatan dengan memanfaatkan badan air ini, sehingga
perbedaan panas ini seimbang.
Seperti terlihat, keberadaan udara, salah satu unsur
dasar kehidupan, menjadi mungkin de-ngan adanya ribuan
keseimbangan fisik dan ekologis. Lebih dari itu, adanya
kondisi ini tidak cukup bagi kelangsung-an hidup di bumi.
Andaikan bumi berada dalam kondisi seperti saat ini,
dengan struktur geofisik dan pergerakannya di angkasa,
tetapi menem-pati posisi yang berbeda di galaksi,
keseimbangan tetap akan terganggu.
Misalnya, bintang yang lebih kecil daripada matahari
akan menyebabkan bumi menjadi sangat dingin, dan bintang
yang lebih besar akan menghanguskan bumi.
Pengamatan planet-planet mati di angkasa sudah cukup
untuk memahami bahwa bumi bukanlah hasil dari peristiwa
kebetulan yang acak. Kondisi esensial bagi kehidupan
terlalu kompleks untuk terbentuk secara acak dengan
sendirinya, dan, tentunya dalam tata surya kita, bumi
khusus diciptakan untuk berlangsungnya kehidupan.
Keseimbangan Nitrogen dan Bakteri
Daur nitrogen adalah bukti lain bahwa bumi secara khusus
dirancang untuk kehidupan manusia. Nitrogen adalah salah
satu unsur dasar yang terdapat dalam jaringan tubuh
semua organisme hidup. Meskipun 78% dari atmosfer
merupakan nitrogen, manusia dan hewan tidak dapat
menyerapnya secara langsung. Di sinilah bakteri
berfungsi dengan membantu kita memenuhi kebutuhan
nitrogen.
Daur nitrogen dimulai dengan gas nitrogen (N2) yang ada
di udara. Bakteri yang hidup di beberapa tanaman
mengubah nitrogen menjadi amonia (NH3). Sebaliknya,
jenis bakteri lain mengubah amonia menjadi nitrat (NO3).
(Halilintar juga memainkan peranan penting pada proses
perubahan nitrogen di udara menjadi amonia).
Pada tingkat selanjutnya, makhluk hidup yang dapat
membuat ma-kanannya sendiri, seperti tumbuhan hijau,
dapat menyerap nitrogen. He-wan dan manusia, yang tidak
dapat membuat makanannya sendiri, dapat memenuhi
kebutuhan nitrogen hanya dengan memakan tumbuh-tum-buhan
tersebut.
Nitrogen pada hewan dan manusia kembali ke alam melalui
kotoran dan bangkai yang diuraikan oleh bakteri.
Sementara menguraikan zat, bakteri tidak hanya melakukan
tugas sebagai pembersih, tetapi juga melepaskan amonia,
sumber utama nitrogen. Ada bakteri yang meng-ubah
sejumlah tertentu amonia menjadi nitrogen dan
mencampurnya de-ngan udara. Ada juga bakteri yang
mengubah sisanya menjadi nitrat. Tumbuhan menggunakan
nitrat dan daur terus berlanjut.
Tidak adanya bakteri dalam daur ini akan mengakibatkan
berakhir-nya kehidupan. Tanpa bakteri, tumbuhan tidak
dapat memenuhi kebu-tuhan nitrogennya dan akan segera
punah. Kehidupan tak mungkin terjadi di tempat yang tak
memiliki tumbuhan.
Atmosfer: Atap Bumi yang Terpelihara
Meskipun biasanya tidak pernah kita sadari, banyak
meteorit jatuh ke bumi seperti pada planet lain.
Meteorit, yang membentuk kawah besar jika jatuh di
planet lain, tidak merusak bumi karena bumi memiliki at-mosfer
yang menghasilkan gesekan kuat pada meteor yang jatuh.
Meteor tidak dapat bertahan melawan gesekan ini terlalu
lama dan kehilangan sejumlah besar massanya akibat
terbakar. Keberadaan atmosfer mence-gah kerusakan yang
bisa disebabkan oleh meteorit.
Di dalam Al Quran, sifat dalam penciptaan atmosfer ini
dijelaskan: “Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap
yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala
tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya.”
(QS. Al Anbiyaa’,21: 32)
Salah satu petunjuk terpenting bahwa langit adalah “atap
yang terpelihara” adalah medan magnet yang melingkupi
bumi. Lapisan teratas atmosfer merupakan daerah medan
magnet yang disebut “Sabuk Van Allen”. Daerah ini
dibentuk oleh sifat-sifat inti bumi.
Inti bumi mengandung unsur-unsur magnetik yang kuat
seperti besi dan nikel. Yang lebih penting, inti bumi
terdiri atas dua struktur yang berbeda. Inti dalam
berbentuk padat sementara inti luar berbentuk cair.
Lapisan luar mengapung di atas lapisan dalam,
menciptakan efek mag-netik pada logam-logam berat, yang
membentuk medan magnet. Sabuk Van Allen adalah
perpanjangan medan magnet ini, yang mencapai lapis-an
luar atmosfer. Medan magnet ini melindungi bumi dari
kemungkinan bahaya dari angkasa.
Salah satu bahaya terbesar adalah “angin matahari”.
Selain panas, cahaya, dan radiasi, matahari mengirimi
bumi angin yang tersusun dari proton dan elektron yang
bergerak dengan kecepatan 1,5 miliar kilometer per jam.
Angin matahari tidak dapat menembus Sabuk Van Allen,
yang men-ciptakan medan magnet pada jarak 64.000 km dari
bumi. Ketika angin matahari, dalam bentuk hujan partikel,
bertemu dengan medan magnet bumi, partikel-partikel
tersebut akan terurai dan mengalir mengitari medan
magnet bumi.
Atmosfer menyerap sebagian besar sinar X dan sinar
ultraviolet yang dipancarkan matahari. Tanpa penyerapan
ini, di muka bumi tidak mungkin ada kehidupan.
Atmosfer yang menyelimuti bumi hanya dapat dilalui oleh
sinar-sinar yang tidak berbahaya, gelombang radio, dan
cahaya tampak. Andai saja atmosfer tidak memiliki sifat
impermeabilitas ini, kita tentu tidak dapat menggunakan
gelombang radio untuk berkomunikasi, tidak juga cahaya
yang sangat penting bagi kehidupan.
Lapisan ozon yang menyelimuti bumi mencegah sinar
ultraviolet matahari, yang sangat berbahaya, mencapai
bumi. Sinar ultraviolet ma-tahari begitu tinggi
kandungan energinya, sehingga dapat membunuh semua
kehidupan yang ada di bumi. Untuk alasan ini, untuk
memung-kinkan terjadinya kehidupan di bumi, lapisan ozon
adalah bagian dari langit sebagai “atap yang terpelihara”
yang diciptakan secara khusus.
Ozon dihasilkan dari oksigen. Oksigen (O2) dibentuk dari
dua atom oksigen, sedangkan ozon (O3) dibentuk oleh tiga
atom oksigen. Sinar ultraviolet yang berasal dari
matahari menambah satu atom kepada molekul oksigen untuk
membentuk molekul ozon. Lapisan ozon, yang terbentuk
dengan bantuan sinar ultraviolet, menahan sinar
ultraviolet yang berbahaya dan merupakan salah satu
kondisi dasar yang paling penting.
Singkatnya, andai saja inti bumi tidak memiliki
kemampuan untuk membentuk medan magnet, dan atmosfer
bumi tidak memiliki struktur dan kepadatan untuk
menyaring sinar-sinar yang berbahaya, di bumi tidak
mungkin ada kehidupan. Sangat jelas bahwa manusia maupun
makhluk hidup yang lain tidak mungkin dapat mengatur
hal-hal terse-but. Ini adalah bukti bahwa Allah telah
menciptakan suatu pelindung yang sangat penting bagi
kehidupan manusia, dan Dia telah menciptakan langit
sebagai “atap yang terpelihara”.
Tidak terdapatnya “atap yang terpelihara” pada planet
lain me-rupakan petunjuk lain bahwa bumi secara khusus
diciptakan untuk manusia. Misalnya, seluruh inti planet
Mars adalah padat dan karenanya Mars tidak memiliki
medan magnet di sekelilingnya. Mars tidak memiliki
tekanan yang cukup untuk membentuk inti yang cair karena
planetnya tidak sebesar bumi. Selain itu, berukuran
tepat tidaklah cukup untuk membentuk medan magnet di
sekeliling sebuah planet. Contohnya, Venus memiliki
diameter yang hampir sama dengan bumi. Massa planet
Venus hanya 2% lebih kecil dari massa bumi, dan beratnya
hampir sama dengan berat bumi. Oleh karena itu, baik
dalam hal tekanan maupun alasan lainnya, sudah
sewajarnya inti Venus pun memiliki bagian logam cair.
Namun, Venus tidak diselimuti oleh medan magnet, karena
Venus memiliki kecepatan rotasi yang lebih rendah
dibandingkan dengan rotasi bumi. Bumi melakukan satu
rotasi penuh dalam satu hari, sedangkan Venus
melakukannya dalam 243 hari.
Ukuran bulan, planet-planet lain yang berdekatan dengan
bumi, serta jarak mereka dari bumi merupakan hal yang
penting bagi keber-adaan medan magnet bumi yang
merupakan “atap yang terpelihara”. Andaikan salah satu
dari planet ini berukuran lebih besar, planet tersebut
memiliki kekuatan gravitasi yang lebih besar pula.
Planet yang berde-katan dengan bumi yang memiliki
kekuatan gravitasi besar akan meng-ubah kecepatan cairan
dan bagian padat inti bumi serta mencegah terben-tuknya
medan magnet seperti yang ada sekarang.
Singkatnya, langit yang memiliki fungsi sebagai “atap
yang terpeli-hara” membutuhkan beberapa variabel seperti
struktur inti bumi, kece-patan rotasi, jarak antarplanet,
dan kumpulan massa planet tersebut menghasilkan resultan
yang tepat.
Daur Air dan Kehidupan
Setiap saat, miliaran liter air berpindah dari lautan
menuju atmosfer lalu menuju daratan. Kehidupan
bergantung pada daur air ini. Andai manusia mencoba
mengatur daur ini, ia tidak akan pernah ber-hasil,
sekalipun menggunakan semua teknologi yang ada di dunia.
Walaupun demikian, kita memperoleh air, yang merupakan
syarat kehidupan yang utama dan terpenting, melalui
penguapan tanpa menge-luarkan biaya maupun energi.
Setiap tahunnya 45 miliar liter kubik air menguap dari
lautan. Air yang menguap tersebut dibawa angin melintasi
daratan dalam bentuk awan. Setiap tahun 3-4 miliar liter
air dibawa dari lautan menuju daratan, menuju manusia.
Singkatnya, airyang daurnya tidak dapat kita atur, dan
yang tanpanya kita tidak dapat hidup lebih dari beberapa
haridikirim kepada manusia dengan cara yang sangat
istimewa.
Al Quran mengingatkan kepada kita bahwa hal ini
merupakan salah satu bukti yang harus kita syukuri:
“Maka terangkanlah kepada-Ku tentang air yang kamu minum.
Ka-mukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang
menu-runkan? Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan
dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?” (QS. Al
Waaqi'ah, 56: 68-70) !
Air Turun ke Bumi Menurut Kadar Tertentu
Dalam ayat kesebelas surat Az-Zukhruf, hujan
didefinisikan sebagai air yang dikirimkan “menurut kadar”.
“Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang
diperlukan).”
Sudah tentu, hujan turun ke bumi dalam takaran yang
tepat. Takaran pertama yang berhubungan dengan hujan
adalah kecepatan turun-nya. Benda yang berat dan
ukurannya sama dengan air hujan, bila dijatuhkan dari
ketinggian 1.200 meter, akan mengalami percepatan
terus-menerus dan jatuh ke bumi dengan kecepatan 558
km/jam. Akan tetapi, tata-rata kecepatan jatuhnya air
hujan hanyalah 8-10 km/jam.
Air jatuh ke bumi dengan kecepatan yang rendah karena
titik hujan memiliki bentuk khusus yang meningkatkan
efek gesekan atmosfer dan membantu hujan turun ke bumi
dengan kecepat-an yang lebih rendah. Andaikan bentuk
titik hujan berbeda, atau andaikan atmosfer tidak
memiliki sifat gesekan, bumi akan menghadapi kehancuran
setiap turun hujan. Hal ini menjadi jelas hanya dengan
melihat angka-angka di bawah ini secara sekilas.
Ketinggian minimum awan hujan adalah 1.200 meter. Efek
yang ditimbulkan oleh satu tetes air hujan yang jatuh
dari ketinggian tersebut sama dengan benda seberat 1 kg
yang jatuh dari keting-gian 15 cm. Awan hujan pun dapat
ditemui pada ketinggian 10.000 meter. Pada kasus ini,
satu tetes air yang jatuh akan memiliki efek yang sama
dengan benda seberat 1 kg yang jatuh dari ketinggian 110
cm.
Dalam satu detik, kira-kira 16 juta ton air menguap dari
bumi. Jumlah ini sama dengan jumlah air yang turun ke
bumi dalam satu detik. Dalam satu tahun, diperkirakan
jumlah ini akan mencapai 505x1012 ton. Air terus
berputar dalam daur yang seimbang berdasarkan “takaran”.
Pembentukan Hujan
Tahapan pembentukan hujan baru dapat dipelajari setelah
radar cuaca ditemukan. Menurut radar, pembentukan hujan
terjadi dalam tiga tahap. Pertama, pembentukan angin;
kedua, pembentukan awan; ketiga, turunnya hujan.
Yang tercantum di dalam Al Quran tentang pembentukan
hujan sa-ngatlah sesuai dengan penemuan ini:
“Allah, Dialah yang mengirim angin (tahap pertama),
lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah
membentangkannya di langit menu-rut yang dikehendaki-Nya,
dan menjadikannya bergumpal-gumpal (tahap kedua); lalu
kamu lihat hujan ke luar dari celah-celahnya (ta-hap
ketiga), maka apabila hujan itu turun mengenai
hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka
menjadi gembira.” (QS. Ar-Ruum, 30: 48) !
TAHAP PERTAMA: “Dialah (Allah) yang mengirim angin …”
Sejumlah besar gelembung udara terbentuk karena buih di
lautan secara terus-menerus pecah dan menyebabkan
partikel air disemburkan ke langit. Partikel yang
kaya-garam ini kemudian dibawa angin dan naik ke
atmosfer. Partikel-partikel ini, yang disebut aerosol,
berfungsi sebagai perangkap air. Inilah yang akan
membentuk titik-titik awan dengan mengumpulkan uap air
di sekitarnya, yang kemudian naik dari lautan sebagai
tetesan kecil.
TAHAP KEDUA: “.......menggerakkan awan dan Allah
membentang-kannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya,
dan menjadikannya bergumpal-gumpal…”
Awan terbentuk dari uap air yang meng-embun di sekitar
kristal garam atau partikel debu di udara. Karena
tetesan air di awan sangat kecil (dengan kisaran
diameter 0,01 dan 0,02 mm), awan menggantung di udara
dan menyebar di langit, sehingga langit tertutup oleh
awan.
TAHAP KETIGA: “... lalu kamu lihat hujan keluar dari
celah-celahnya.”
Partikel air yang mengelilingi kristal ga-ram dan
partikel debu akan bertambah tebal dan membentuk tetesan
hujan, sehingga tetes-an hujan akan menjadi lebih berat
daripada udara, dan mulai jatuh ke bumi sebagai hujan.
Air Hujan adalah Tawar
Al Quran menarik perhatian kita dengan pernyataan air
hujan adalah “tawar”:
“Maka terangkanlah kepada-Ku tentang air yang kamu
minum. Ka-mukah yang menurunkannya dari awan ataukah
Kami yang menu-runkan? Kalau Kami kehendaki, niscaya
Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak
bersyukur?” (QS. Al Waaqi'ah, 56: 68-70) !
“… dan Kami beri minum kamu dengan air yang tawar?” (QS.
Al-Mursalat, 77: 27) !
“Dialah Yang telah menurunkan air hujan dari langit
untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya
(menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat
tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu.” (QS. An-Nahl,
16: 10) !
Seperti telah kita ketahui, air hujan berasal dari
penguapan air dan 97% merupakan penguapan air laut yang
asin. Namun, air hujan adalah tawar. Air hujan bersifat
tawar karena adanya hukum fisika yang telah ditetapkan
Allah. Berdasarkan hukum ini, dari mana pun asalnya
peng-uapan air ini, baik dari laut yang asin, dari danau
yang mengandung mi-neral, atau dari dalam lumpur, air
yang menguap tidak pernah mengan-dung bahan lain. Air
hujan akan jatuh ke tanah dalam keadaan murni dan bersih,
sesuai dengan ketentuan Allah “… Kami turunkan dari
langit air yang amat bersih. ” (QS. Al Furqan, 25: 48)
Hujan yang Memberi Kehidupan bagi Tanah yang Mati
Di dalam Al Quran banyak ayat yang menyeru kepada kita
agar memperhatikan bahwa hujan berguna untuk
menghidupkan negeri (tanah) yang mati. “… dan Kami
turunkan dari langit air yang amat ber-sih agar Kami
menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati,
dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian
besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan
manusia yang banyak.” (QS. Al Furqan, 25: 48-49)
Selain tanah diberi air, yang merupakan kebutuhan mutlak
bagi makhluk hidup, hujan juga berfungsi sebagai
penyubur.
Tetesan hujan, yang mencapai awan setelah sebelumnya
menguap dari laut, mengandung zat-zat tertentu yang bisa
memberi kesuburan pada tanah yang mati. Tetesan yang
“memberi kehidupan” ini disebut “tetesan tegangan
permukaan”. Tetesan tegangan permukaan terbentuk di
bagian atas permukaan laut, yang disebut lapisan mikro
oleh ahli biologi. Pada lapisan yang lebih tipis dari
1/10 mm ini, terdapat sisa senyawa organik dari polusi
yang disebabkan oleh ganggang mikro-skopis dan
zooplankton. Dalam sisa senyawa organik ini terkandung
beberapa unsur yang sangat jarang ditemukan pada air
laut seperti fosfor, magnesium, kalium, dan beberapa
logam berat seperti tembaga, seng, kobal, dan timah.
Tetesan berisi “pupuk” ini naik ke langit dengan bantuan
angin dan setelah beberapa waktu akan jatuh ke bumi
sebagai tetesan hujan. Dari air hujan inilah, benih dan
tumbuhan di bumi memperoleh berbagai garam logam dan
unsur-unsur lain yang penting bagi pertumbuhan mereka.
Seperti yang tertera dalam ayat:
“Dan Kami turunkan dari langit air yang ba-nyak
manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu
pohon-pohon dan biji-biji ta-naman yang diketam.” (QS.
Qaaf, 50: 9) !
Garam-garam mineral yang turun bersama hu-jan merupakan
contoh dari pupuk konvensional (kalsium, magnesium,
kalium, dan lain-lain) yang digunakan untuk meningkatkan
kesuburan. Sementara itu, logam berat, yang terdapat
dalam tipe aerosol ini, adalah unsur-unsur lain yang me-ningkatkan
kesuburan pada masa perkembangan dan produksi tanaman.
Singkatnya, hujan adalah penyubur yang sa-ngat penting.
Setelah seratus tahun lebih, tanah tandus dapat menjadi
su-bur dan kaya akan unsur esensial untuk tanaman, hanya
dari pupuk yang jatuh bersama hujan. Hutan pun
berkembang dan diberi “makan” dengan bantuan aerosol
dari laut tersebut.
Dengan cara seperti ini, 150 juta ton pupuk jatuh ke
permukaan bumi setiap tahunnya. Andaikan tidak ada pupuk
alami seperti ini, di bumi ini hanya akan terdapat
sedikit tumbuhan, dan keseimbangan ekologi akan
terganggu.
Manfaat Membekunya Air dari Atas
Salah satu sifat air yang paling menarik dan paling
penting adalah bahwatidak seperti senyawa lainair
berwujud padat itu lebih ringan daripada air berwujud
cair, sehingga es lebih ringan dari air. Oleh sebab itu,
laut mulai membeku dari atas karena lapisan beku lebih
ringan dari-pada air di bawahnya. Dengan demikian,
risiko pembekuan seluruh laut-an, yang dapat berakibat
lenyapnya kehidupan, tidak akan terjadi. Lapis-an beku
yang naik ke permukaan itu menjadi penyekat antara cuaca
dingin di luar dan air di bawah.
Andaikan es lebih berat daripada air (seperti yang
umumnya terjadi pada zat lain), laut akan mulai membeku
dari bawah. Pada kondisi ini, penyekatan seperti yang
disebut di atas tidak akan terjadi dan seluruh lautan
akan membeku, sehingga kehidupan di air akan musnah.
Karena volume es lebih luas daripada volume air untuk
massa yang sama, lautan yang membeku akan membutuhkan
ruang yang lebih besar dari sebelumnya dan akan
menyebabkan air di permukaan naik dan meluap.
Selain itu, air itu paling berat pada suhu 4oC. Fakta
ini sangat penting bagi kehidupan. Di lautan, air yang
mencapai suhu 4oC akan tenggelam ke dasar karena
merupakan badan air yang terberat. Karena alasan ini,
pada lautan yang tertutupi gunung es, dasarnya akan
selalu berwujud ca-ir dan memiliki suhu 4oC, dan di situ
makhluk hidup masih bisa bertahan. Hal yang hampir
serupa terjadi pada musim dingin. Bagian dasar danau dan
sungai yang ditutupi lapisan es tetap dapat mendukung
kehidupan.
Air Lambat Memanas dan Membeku
Sifat air yang lain adalah penguapan dan pembekuan yang
lambat. Telah diketahui bahwa pada musim panas, pasir
cepat memanas pada siang hari dan juga cepat mendingin
pada malam hari. Sebaliknya, suhu air laut hanya berubah
sekitar 2-3C antara siang dan malam. Hal ini dise-babkan
karena air menjaga suhunya ketika suhu mendadak naik
atau turun, dan memperlambat penguapan dan pembekuan.
Jika kita mem-pertimbangkan sifat air ini dalam konteks
bumi secara keseluruhan, kita akan melihat air, dalam
wujud cair ataupun uap, di laut dan di atmosfer,
memiliki peran yang sangat penting bagi suhu bumi. Air
yang ada di permukaan bumi mencegah pemanasan yang
berle-bihan, dengan cara menyerap panas pada bagian bumi
yang terdedah matahari. Pada bagian bumi yang tidak
terkena matahari langsung, dengan panas yang
di-kandungnya, lautan dan air berfungsi sebagai radiator
dan mencegah suhu turun terlalu rendah. Dengan me-kanisme
ini, perbedaan suhu antara siang dan malam selalu berada
dalam batas toleransi manusia dan makh-luk hidup lain.
Andaikan jumlah air lebih sedikit dari-pada luas daratan,
perbedaan suhu siang dan malam akan meningkat dan
mengubah bumi menjadi gurun dan membuat kehidupan
menjadi tidak mungkin, atau setidaknya sangat sulit.
Berat Awan
Awan dapat menjadi sangat berat. Misalnya, awan badai
yang disebut kumulonimbus merupakan aku-mulasi dari
300.000 ton air.
Terbentuknya keteraturan yang menjadikan massa air
sebesar 300.000 ton dapat melayang di udara sangatlah
menakjubkan. Sebuah ayat Al Quran menyeru kepada kita
untuk memperhatikan berat awan:
“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita
gembi-ra sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga
apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau
ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di
daerah itu, maka Kami ke-luarkan dengan sebab hujan itu
pelbagai macam buah-buahan. Se-perti itulah Kami
membangkitkan orang-orang yang telah mati,
mu-dah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (QS. Al A'raaf,
7: 57) !
Angin
“… dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekua-saan
Allah) bagi kaum yang berakal.” QS. Al Jaatsiyah, 45: 5)
!
Angin adalah arus udara yang terbentuk di antara dua
zona yang memiliki suhu yang berbeda. Perbedaan suhu di
atmosfer menyebabkan perbedaan tekanan udara, dan
mengakibatkan udara terus-menerus mengalir dari tekanan
tinggi ke tekanan rendah. Bila terjadi perbedaan di
antara pusat tekanan (yakni suhu atmosfer) terlalu
tinggi, arus udara (yakni angin) menjadi sangat kuat.
Demikianlah terbentuknya angin yang sangat merusak,
misalnya angin ribut.
Yang menarik, meskipun terdapat daerah-daerah yang
memiliki per-bedaan suhu yang sangat jauh seperti antara
khatulistiwa dan kutub, bumi tidak selalu dihadapkan
pada angin dan tekanan yang kuat, berkat adanya
rintangan dan “pengaturan”. Andai saja arus udara kuat,
yang semestinya terbentuk di antara khatulistiwa dan
kutub, tidak diperlemah (seperti akan digambarkan di
bawah), tentu bumi akan berubah menjadi planet mati yang
didera badai terus-menerus.
Pada prinsipnya, perbedaan ketinggian permukaan bumi
memecah kekuatan angin. Perbedaan ketinggian yang
mencolok akan menghasil-kan sistem fron dingin dan panas.
Seperti yang terlihat pada lereng pegu-nungan yang lebih
rendah, sistem ini dapat menyebabkan munculnya angin
baru. Dengan demikian, sistem dengan dua pusat (bi-centered)
antara khatulistiwa dan kutub berubah menjadi sistem
dengan banyak pusat (multi-centered) berkat adanya
tebing-tebing terjal, dan angin diper-lemah karena
disalurkan ke beberapa arah. Rantai pegunungan pada
ke-rak bumi berfungsi sebagai koridor udara raksasa.
Koridor-koridor ini akan membantu angin menyebarkan
udara ke seluruh penjuru bumi secara merata.
Kemiringan sumbu bumi juga berperan penting dalam
memper-lemah angin. Andai saja sumbu bumi benar-benar
tegak lurus pada orbitnya, bumi akan dilanda badai
terus-menerus. Khatulistiwa bumi memiliki kemiringan
dengan sudut 23o27' pada bidang orbitnya. Dengan
demikian, suhu di daerah antara dua kutub tidaklah tetap,
berubah ber-dasarkan musim. Ini berarti bahwa tekanan
udara menjadi seimbang, sehingga kekuatan angin jadi
berkurang. Bila perbedaan suhu antara khatulistiwa dan
kedua kutub menurun, angin akan bertiup lebih hangat.
Selain itu, dua lapisan gas yang menyelimuti planet bumi
telah dicip-takan untuk menyeimbangkan perbedaan suhu.
Lapisan ozon dan kar-bon dioksida menyeimbangkan suhu
atmosfer. Lapisan ozon menyerap kelebihan sinar matahari.
Sebaliknya, karbon dioksida berfungsi mena-han panas
yang diperoleh dan mencegah pendinginan.
Semua hal di atas menunjukkan bahwa manusia berutang
budi pada sistem iniyang luar biasa terdiri atas
subsistem-subsistem yang kompleks. Seluruh alam semesta
diciptakan untuk memungkinkan adanya kehi-dupan manusia.[]
Back
to top