Ada seorang komunis dari Musayyab[1]
datang kepada saya, dimana kelompok Komunis di daerah
ini -yang dipimpin oleh Hasan Righa' telah melakukan
Kriminal luar biasa, di antaranya menangkapi orang-orang,
dan mengikat tangan dan kakinya serta menuangkan
kalajengking ke badan-badan mereka-, orang tersebut
berkata: saya seorang komunis dan saya sangat bangga
pula.
Saya berkata: Anda adalah pengikut Hasan Righa'
kaffasy (tukang sepatu)?
Dia berkata: Iya, saya adalah pengikut tuan guru Hasan,
dan meskipun nama beliau kaffasy, tapi ini tidak
membuatnya kurang, karena ketika revolusi terjadi,
kedudukan dan posisi para pekerja dan petani menjadi
lebih baik dan lebih tinggi, dan hal-hal yang tidak
berguna akan terbinasakan.
Saya berkata: Apakah posisi sebagai dokter, insinyur,
pengacara, fisikawan, juga tidak punya makna dan tidak
ada artinya?
Dia berkata: Iya, petani dan pekerja lebih mulia dari
mereka-mereka ini.
Saya berkata: Anda sendiri petani atau pekerja?
Dia berkata: Saya seorang pekerja.
Saya berkata: Apa pekerjaan anda?
Dia berkata: Saya seorang guru.
Saya berkata: Baiklah sekarang apa yang anda inginkan?
Dia berkata: Saya punya banyak pertanyaan.
Saya berkata: Silahkan ungkapkan.
Dia berkata: Siapa yang mengatakan bahwa Tuhan itu ada?
Saya berkata: Ada dua miliar manusia yang mengatakannya.
Dia berkata: Siapa saja dua miliar tersebut?
Saya berkata: Umat Islam, umat Masehi, umat Yahudi, umat
Budha, Umat Majusi, dan agama serta mazhab lainnya.
Dia berkata: Tuhan itu adalah bagian dari
khurafat-khurafat.
Saya berkata: Apa dalilnya?
Dia berkata: Kalau memang Tuhan itu ada, maka pasti kita
bisa melihatnya dengan mata kepala, mendengar suaranya,
dan bisa merabanya.
Saya berkata: Apakah segala sesuatu yang tidak bisa
ditangkap oleh panca indra adalah tidak ada?
Dia berkata: Iya, karena era sekarang adalah era
eksperimen dan era ilmu pengetahuan, era agama dan era
khurafat-khurafat telah berlalu.
Saya berkata: Anda pernah ke Kutub Utara ?
Dia berkata: Tidak.
Saya berkata: Ini berarti Kutub Utara itu tidak ada.
Dia berkata: Orang yang pernah ke Kutub Utara yang
memberitahu kita, bahwa Kutub Utara itu ada.
Saya berkata: Orang-orang yang mendengar firman Tuhan
yang memberitahu kami, bahwa mereka mendengar firman dan
suara Tuhan.
Dia berkata: Siapa orang-orang tersebut?
Saya berkata: Nabi Musa As dan Nabi Muhammad Saw.
Dia berkata: Perkataan mereka tidak bisa diterima.
Saya berkata: Kalau begitu, orang yang memberitahu anda
bahwa London itu ada, tidak bisa diterima juga.
Dia pun terdiam.
Dia berkata: Saya telah membaca buku utama anda yang
berisi tentang Tuhan. Namun, tidak terdapat dalil yang
memuaskan.
Saya berkata: Buku kami yang mana yang anda baca?
Dia berkata: Buku Syarh At-Tajriid.
Saya berkata: Dengan penuh keterusterangan, saya katakan
pada anda, bahwa pengetahuan anda tidak sampai pada
Syarh At-Tajriid. Karena anda tidak pernah belajar
filsafat secara seksama dan sistematis .
Dia berkata: Bagaimana mungkin, saya ini seorang
magister.
Saya berkata: Anda ini lulusan master sebuah sekolah
yang di dalamnya tidak diajarkan filsafat. Dan anda ini
tidak memiliki sedikit pun pengetahuan tentang filsafat.
Kemudian saya berkata: Dalil yang saya tulis dalam buku
Syarh At-Tajriid yang tidak memuaskan anda itu,
tolong sebutkan!
Dia berkata: Dalil daur dan tasalsul.
Saya berkata: Apakah anda paham dengan dalil daur
dan tasalsul tersebut?
Dia berkata: Tidak.
Saya berkata: Kalau begitu alangkah baiknya kalau anda
mengatakan: Saya tidak bisa memahami dalil anda, bukan
malah mengatakan: Dalil anda tidak bisa memuaskan saya.
Dia terdiam, kemudian berkata: Apa makna dari daur
dan tasalsul ?
Saya berkata: Ini adalah sesuatu yang badihi dan jelas,
penjelasannya: Anda dibuat oleh bapak anda, bapak anda
dibuat oleh kakek anda, kakek anda dibuat oleh bapak
kakek anda, dan demikian seterusnya sampai ke atas dan
tidak punya akhir, ini yang dinamakan tasalsul
dan ini adalah sesuatu yang mustahil. Atau, kakek anda
yang paling tua dibuat oleh bapak anda sendiri, ini
disebut daur dan ini juga adalah sesuatu yang
mustahil.
Nampak tanda-tanda kebingungan dan keheranan di raut
mukanya, namun dia tidak berucap apa-apa, sepertinya dia
tidak senang dan tidak suka menyalahkan dirinya dan
berkata saya tidak paham.
Dia berkata: Kalau memang Tuhan itu ada, lalu kenapa
kita tidak bisa melihatnya?
Saya berkata: Apakah segala sesuatu bisa kita lihat?
Dia berkata: Iya.
Saya berkata: 4x4 sama dengan berapa?
Dia berkata: Sama dengan 16.
Saya berkata: Apakah anda dengan mata kepala melihat
bahwa 4x4=16?
Dia berkata: Ini adalah sebuah perkara logikal (akal)
dan tidak perlu dilihat.
Saya berkata: Demikian juga tentang eksistensi Tuhan
adalah perkara logikal dan tidak perlu dilihat.
Dia berkata: Dari mana kita bisa memahami wujud Tuhan?
Saya berkata: Dari ciptaannya kita bisa memahami
keberadaan dan wujud-Nya.
Dia berkata: Apa makna mengenal Tuhan dengan melalui
ciptaan-ciptaan-Nya?
Saya berkata: Kalau anda pergi ke sebuah padang pasir
dan anda menyaksikan bekas-bekas ban mobil yang lewat di
atas pasir itu, apakah anda akan mengatakan, bahwa di
sini ada sebuah mobil pernah lewat?
Dia berkata: Iya, ini hal yang lumrah.
Saya berkata: Padahal anda tidak melihat mobil
tersebut?!
Dia berkata: Melihat mobil bukanlah syarat dan bukanlah
sebuah keharusan.
Saya berkata: Oleh karena itu, di sini bekas-bekas
tersebut menunjukkan akan adanya pemilik bekas tersebut.
Bukankah demikian?
Dia berkata: Iya.
Saya berkata: Demikian pula alam semesta ini adalah
bekas dan ciptaan Tuhan dan ini menunjukkah akan
keberadaan-Nya.
Dia terdiam.
Dia berkata: Apa perlunya kita mengakui keberadaan
Tuhan?
Saya berkata: Apa perlunya anda mengakui keberadaan
penguasa atau pemerintah?
Dia berkata: Pemerintah atau penguasa adalah sesuatu
yang hakiki.
Saya berkata: Demikian juga Tuhan adalah sesuatu yang
memiliki hakikat.
Dia berkata: Siapa yang mengatakan bahwa Tuhan itu
adalah suatu hakikat?
Saya berkata: Ciptaan-ciptaan Tuhan yang mengatakan
bahwa Tuhan itu adalah sebuah hakikat.
Dan kemudian saya berkata: Tuhan lah yang menciptakan
kita dan memberi kita rezeki, yang menghidupkan kita,
dan memberikan segala sesuatu kepada kita, dengan semua
ini apakah tidak ada kemestian bagi kita untuk mengenal
dan mengetahui-Nya? Dan apakah dengan mengingkari
keberadaan-Nya tidak sama dengan kita mengingkari
pemberi dan pemilik nikmat sangat besar ini?!
Setelah kita mati nanti, di alam sana terbentuklah
sebuah pengadilan besar Ilahi, dan Allah Swt
menganugerahkan surga kepada orang-orang saleh di antara
kita dan melempar para pendosa dan pendurhaka ke dalam
api neraka. Oleh karena itu, kita butuh dan memerlukan
Allah Swt sama seperti ketika kita punya masalah hukum,
kita memerlukan seorang hakim.
Dia berkata: Anda dengan segala pengetahuan tinggi yang
anda miliki membenarkan adanya surga dan neraka?
Saya berkata: Ini adalah ilmu dan budaya saya, bagi saya
adalah sebuah kemestian untuk membenarkan keberadaan
surga dan neraka.
Dia berkata: Ilmu dan budaya sangat menentang akan
keberadaan surga dan neraka, dan ilmu pengetahuan adalah
musuh agama.
Saya berkata: Bahkan sebaliknya, bacalah buku-buku yang
berisi tentang arwah, tidur buatan, menghadirkan arwah,
di sana anda akan memahami bahwa setelah alam dunia ini
ada alam lain. Dan ini adalah hal yang telah dibuktikan
oleh ilmu pengetahuan.
Dia berkata: Iya, saya mendengar semua itu, namun dalam
hal ini saya belum pernah menelitinya.
Saya berkata: Iya, karena tuan guru Hasan Righa' tidak
memberikan kesempatan kepada para pemuda untuk menelaah
dan mengkaji.
Dia berkata: Anda menertawakan saya?
Saya berkata: Tidak! Saya justru menangisi anda.
Dia berkata: Kenapa?
Saya berkata: Bukankah hal yang sangat disayangkan,
dimana seorang pemuda berpendidikan, pengajar, menjadi
bagian anggota dan pembantu seorang manusia awam yang
dari segi pendidikan dan ilmu jauh di bawahnya? Sebangsa
anda dan juga sekampung anda telah disiksa dengan
gigitan kalajengking. Dia sangat terpengaruh dengan
ucapan-ucapan saya dan hampir-hampir dia menangis, tapi
dia berusaha mengontrol dirinya.
Dia berkata: kondisilah yang seperti ini.
Saya berkata: Semoga Allah Swt melenyapkan kondisi dan
keadaan seperti ini, dan semoga Allah Swt menciptakan
pribadi-pribadi seperti anda yang akan menjadi
pembimbing generasi-generasi baru selanjutnya yang akan
merombak sejarah orang-orang yang telah menganiaya dan
mencaci rakyat dan masyarakat.
Dia meminta maaf kepada saya dan berjanji untuk
senantiasa bersikap bijak, dia bangkit dan pergi, dan di
akhir-akhir ini saya melihat dia sebagai seorang yang
sangat saleh dan sangat menyesali masa-masa lalunya.[www.wisdoms4all.com]
[1]
. sebuah perkotaan dekat Karbala Irak.