Seorang pemuda komunis datang pada
saya dan berkata: "Apakah Anda mengizinkan saya untuk
berdialog dengan Anda tentang Tuhan?"
Saya berkata: "Silahkan!"
Dia berkata: "Apakah telur ayam yang
lebih dulu ada kemudian ayam ataukah sebaliknya ayam
dulu kemudian telur?"
Saya berkata: "Menurut Anda
bagaimana?"
Beberapa menit dia berpikir lalu
berkata: "Saya tidak tahu."
Saya berkata: "Apa kaitan pertanyaan
ini dengan ada dan tiadanya Tuhan?" Anggaplah telur
lebih dulu dari pada ayam atau sebaliknya ayam lebih
dulu dari pada telur, maksudnya apa?"
Dia berkata: "Kelompok komunis
mengatakan: Stetmen semacam ini menjadi dalil bahwa
Tuhan itu tidak ada."
Saya berkata: "Bagaimana bisa ini
menjadi dalil tidak adanya tuhan?"
Dia berkata: "Saya juga tidak tahu."
Saya berkata: "Lalu bagaimana Anda
bisa berdialog tentang sesuatu yang Anda tidak tahu,
pergi dan carilah seorang komunis dan tanyakan padanya
tentang maksud dari pernyataan di atas, kemudian bawa ke
sini jawabannya dan kita berdialog kembali."
Kemudian saya berkata: "Namun
pertanyaan ini, kebalikan dari apa yang dikatakan oleh
komunis tersebut kepada Anda merupakan dalil akan
eksistensi Tuhan."
Dia berkata: "Bagaimana?"
Saya berkata: "Karena, kedua telur
dan ayam ini harus diciptakan secara bersamaan ataukah
pertama ayam kemudian bertelur atau sebaliknya telur
dulu lalu menjadi ayam, pada akhirnya apapun yang lebih
dulu, pasti ada penciptanya."
Dia berkata: "Apa yang dikatakan
oleh komunis?"
Saya berkata: "Pergi dan tanyakan
saja pada mereka."
Dia berkata: "Apakah Anda tahu apa
yang dikatakan oleh komunis itu?"
Saya berkata: "Iya."
Dia berkata: "Apa yang mereka
katakan?"
Saya berkata: "Mereka mengatakan:
Sesuatu yang paling awal ada di alam tabiat adalah
sel-sel, kemudian sel-sel ini menjadi banyak sehingga
berbentuk seekor hewan, lalu hewan tersebut berubah
menjadi seekor ayam dan ayam itu pun bertelur."
Dia berkata: "Apa jawaban Anda?"
Saya berkata: "Jawaban saya sangat
jelas, tentang keberadaan sesuatu yang memberi kehidupan
terhadap sel-sel yang menurut Anda adalah awal
keberadaan. Saya bertanya apakah sesuatu yang memberi
kehidupan kepada yang lain itu adalah sesuatu yang hidup
ataukah sesuatu yang mati?"
Kalau dikatakan: "Sesuatu yang
memberikan kehidupan kepada sel-sel tersebut adalah
sesuatu yang tidak hidup dan mati, maka akan kita
katakan: Sesuatu yang dia sendiri tidak hidup, tidak
akan bisa memberi kehidupan kepada yang lain, apakah
logis jika Anda bisa memberi uang kepada seseorang
sementara Anda sendiri tidak punya uang?"
Dia berkata: "Tidak!"
Saya berkata: "Dan jika dikatakan:
Hal atau sesuatu yang memberi kehidupan kepada sel-sel
tersebut adalah sesuatu yang hidup dan menghidupkan,
maka kita akan bertanya kepada mereka: Sesuatu tersebut,
- yang mana adalah sesuatu yang hidup -, itu apa?"
Di sini terpaksa harus mengakui
tentang eksistensi Tuhan, karena sesuatu tersebut adalah
sesuatu yang maha hidup dan itu tidak lain adalah Allah
Swt.
Dia berkata: "Kenapa tidak mungkin,
di mana hayat (hidup) yang ada pada sel-sel
paling awal tersebut adalah sesuatu yang terwujud secara
kebetulan?"
Saya berkata: "Kebetulan itu
apa? Apakah maknanya adalah hayat yang ada dalam
sel-sel tersebut terwujud, tanpa sebab atau dengan sebab?"
Dia berkata: "Dengan sebab."
Saya berkata: "Sebab itu, apa?"
Saya berkata: "Tanpa sebab."
Saya berkata: Tidak logis jika
sesuatu itu terwujud tanpa sebab, karena ibaratnya Anda
mengatakan pulpen ini atau kamar ini ada tanpa sebab.
Apakah ada di antara manusia berakal mengizinkan dirinya
untuk mengungkapkan hal semacam ini?"
Dia berkata: "Kalau setiap sesuatu
itu bisa terwujud karena ada sebab, maka sebab wujud
tuhan apa?"
Saya berkata: "Eksistensi setiap
sesuatu itu bersumber dari Tuhan, sementara eksistensi
Tuhan itu bersumber dari zat-Nya, sebagaimana
dingin sesuatu itu bersumber dari es dan dingin es itu
bersumber dari diri es itu sendiri, dan panas sesuatu
itu bersumber dari api tetapi panas api itu bersumber
dari api itu sendiri."
Kemudian saya berkata pada dia: "Contoh-contoh
yang saya ungkapkan tadi hanya sekedar untuk memudahkan
dalam memahami dan hanya sekedar pendekatan pikiran. Dan
kalau tidak salah, hal yang saya ungkapkan tadi
merupakan salah satu kaidah filsafat dimana dikatakan
bahwa:
"Segala sesuatu itu mempunyai kebergantungan kepada yang
lain dan harus berhenti pada sesuatu yang dzati,
sementara sesuatu yang dzati itu tidak mempunyai
kebergantungan kepada yang lain."
Dia berkata: "Kenapa ilmu-ilmu
semacam ini tidak diajarkan di sekolah-sekolah? Saya
sejak pertama kali datang ke sekolah sampai saat ini di
mana saya telah lulus magister dari sebuah universitas,
tidak pernah mendengar hal semacam ini."
Saya berkata: "Sistem pelajaran kita
diatur sedemikian rupa oleh para kolonial sehingga
kering dari unsur maknawi dan spiritual serta
fadilah-fadilah, dan menciptakan pelajar-pelajar atheis
dan dengan mudah mereka menjajah dan memperbudaknya, dan
mencapai tujuan yang diinginkan hati mereka!"
Dia berkata: "Kalian orang-orang
theis (beragama), kenapa tidak berusaha untuk
melenyapkan segala bentuk mimpi-mimpi buruk semacam ini?"
Saya berkata: "Karena kekuasaan
tidak berada di tangan kami."[www.wisdoms4all.com]