Salah seorang sahabat saya yang
kuliah di sebuah institute kedokteran datang menemuiku dan
berkata: di kampus kami ada seorang mahasiswa komunis yang
mana dia adalah orang yang mengingkari akan wujud dan
keberadaan tuhan, dan dia sangat kuat dalam berdiskusi dan
berdebat, meskipun kami berusaha semaksimal mungkin untuk
membuat dia puas dan mau menerima tentang wujud tuhan, namun
tetap saja dia tidak mau mengalah, sehingga sampai pada
suatu kondisi dimana sebagian mahasiswa dijangkiti
keragu-raguan dikarenakan dialog-dialog serta bahasan
tersebut, dan bahkan tidak mau bertemu dengan seorang pun
dari ulama yang ada, karena yakin bahwa ulama-ulama itu
adalah kaki tangan para penjajah dan tidak mempunyai logika
dan akhlak, dan saya tidak tahu lagi apa yang harus saya
perbuat dengannya?
Saya berkata: "Apakah Anda bisa
mengajak dia untuk datang ke sini?"
Dia (berkata: sudah pasti dia tidak
akan mau ke sini).
Saya berkata: "Usahakan dengan
berbagai macam cara Anda ajak dia ke sini."
Teman saya itu pergi dan beberapa
bulan kemudian dia datang dengan sekelompok mahasiswa.
Setelah mengucapkan selamat datang, saya berjanji dalam hati
ingin memenangkan dialog ini di tengah teman-teman ateis ini,
sehingga semua kemuliaan palsu yang dimilikinya itu hancur
berantakan.
Saya berkata pada komunis ateis itu:
"Anda baik-baik saja kan?"
Dia berkata: "Teman-teman saya
berkata padaku bahwa Anda siap berdiskusi dan berdebat
dengan saya tentang keberadaan tuhan."
Saya berkata: "Betul, kalau menurut
Anda bagaimana?"
Dia berkata: "Menurut saya tuhan itu
tidak ada."
Saya berkata: "Tapi pandangan saya
tidak seperti Anda. Malah sebaliknya pendapat saya Tuhan itu
niscaya ada."
Dia berkata: "Apa dalilnya?"
Saya berkata: "Kalian para mahasiswa
dikarenakan tidak belajar filsafat maka saya tidak akan
menjelaskan dan membuktikan secara filosofis akan keberadaan
tuhan, akan tetapi saya dengan terpaksa akan menjelaskan
tentang eksistensi tuhan dengan menggunakan dalil sederhana
yang mana dalil-dalil semacam ini dipelajari oleh
siswa-siswa kami yang masih duduk di sekolah dasar."
Dia berkata: "Sangat menakjubkan,
saya yang mengingkari eksistensi tuhan, dan saya mempunyai
dalil yang kuat tentang itu, lalu orang (ulama) ini ingin
membuat saya puas dengan dalil-dalil sederhana yang
dipelajari oleh siswa-siswa sekolah dasar?!"
(Saya juga bermaksud untuk berkata
seperti ini, hingga semakin dia tinggi hati dan congkak dan
saya akan hancurkan khayalan-khayalannya).
Kemudian dia pun berkata: "Apa
dalil sederhana tersebut?"
Saya berkata: "Tuan! Saya akan
memilikan salah satu dari empat jalan ini."
Dia berkata: "Apa maksud empat
jalan ini?"
Saya berkata: "Pertama, apakah Anda
sendiri yang menciptakan diri Anda?"
Dia berkata: "Tidak."
"Kedua, apakah yang menciptakan Anda
adalah salah satu dari makhluk-makhluk seperti bapak Anda,
ibu Anda, bulan, matahari, air, udara, ikan, burung dan
telaga ataukah manusia lain?"
Dia berkata: "Tidak."
"Ketiga, apakah pencipta Anda adalah
sesuatu yang tidak ada ('Adam)?"
Dia menjawab: "Tidak."
"Keempat, karena itu, Anda adalah
makhluk yang diciptakan mempunyai akal dan pikiran dan
mempunyai daya dan kudrat, dan yang menciptakan hal itu
adalah Allah Swt."
Dia berkata: "Saya diciptakan oleh
tabiat (nature)."
Saya berkata: "Apakah alam tabiat
itu mempunyai akal, mempunyai kekuatan, mempunyai
pengetahuan?"Dia jadi diam seribu bahasa dan tidak menjawab
apa-apa.
Kemudian saya berkata: "Bapak! Saya
tidak tahu kenapa kalian para komunis tidak tahu sedikit pun
tentang alam dan tabiat ini, ...sahabat-sahabat Anda berkata:
Anda sangat cerdas dan pandai dalam berdialog dan berdebat,
tetapi sekarang jelaslah bagi saya bahwa Anda ini hanya
pantas berdialog dengan pelajar-pelajar sekolah dasar kami
dan bahkan tidak setara dengan mereka.! Seperti Anda ini
ibarat seorang yang menginkari ilmu kedokteran, namun ketika
membahas masalah yang paling sederhana dalam ilmu tersebut
Anda hanya bisa diam dan tidak memberikan komentar apa-apa."
Dengan adanya dialog dan bahasan
semacam ini, nampaklah di wajah para sahabat-sahabat rasa
senang dan bahagia, dan pemuda komunis itu pun menjadi malu
dan kehilangan harga diri.
Kemudian saya pun berbicara beberapa
kata kepadanya dan meminta maaf, lalu berkata: "Sekarang,
saya akan memberikan jawaban terhadap pernyataan Anda yang
mengatakan bahwa yang menciptakan Anda adalah alam tabiat
ini: Alam tabiat ini adalah sesuatu yang tidak ada, atau
sesuatu yang wujud (ada) yang mana tidak mempunyai akal dan
daya paham, seperti air dan udara dan tumbuhan."
"Dan matahari apakah sesuatu yang
berakal, mempunyai kudrat, dan mengetahui?"
"Baik perkara yang 'tidak ada',
tidak akan bisa menjadi pencipta, maupun perkara yang 'ada'
yang mana tidak mempunyai akal dan daya paham, juga tidak
akan pernah layak untuk menjadi pencipta. Karena itu sebuah
kemestian bahwa sang pencipta itu adalah sesuatu yang
mempunyai akal, daya, dan pengetahuan, dan wujud ini tidak
lain adalah Allah Swt."
Salah seorang dari para mahasiswa
itu berkata: "Siapa yang berkata bahwa Tuhan itu adalah
pencipta?"
Saya berkata: "Kalau Tuhan bukan
pencipta, siapa yang mencipta?" Dia tidak mempunyai jawaban.
Oleh karena itu, majlis sederhana
ini pun berakhir, dan mereka mengucapkan terima kasih
kepada saya, lalu pergi, beberapa waktu kemudian, saya
berjumpa dengan sahabat saya yang menjadi media penghubung
ketika dialog di atas berlangsung, dan saya bertanya padanya:
"Apakah teman komunis Anda masih juga mengulangi
pernyataan-pernyataannya yang dulu?"
Teman saya menjawab: "Tidak! Dia
sudah kehilangan wibawa dan teman-temannya pun menertawakan
dia."
Saya berkata: "Jangan Anda
mengganggu dia supaya tidak terjadi reaksi negatif! Tetapi
jalan terbaik bagi Anda adalah menemaninya dan bergaul
dengan baik dengannya."[www.wisdoms4all.com]