Salah seorang dari sahabat-sahabat
berkata pada saya: Ada seorang komunis ateis dari Halleh
ingin berdialog dengan Anda tentang asul-usul pokok
Komunisme.
Saya berkata: Silahkan, hal ini
merupakan sesuatu yang sangat baik.
Teman saya berkata: Akan tetapi saya
takut dan khawatir.
Saya berkata: Buat apa takut?
Teman saya berkata: Karena orang
komunis tersebut memiliki dalil-dalil yang kuat, dan sudah
banyak berdialog dengan orang-orang dan semuanya takluk di
hadapannya. Saya khawatir Anda juga bisa takluk di depannya
dan hal ini akan menyebabkan kita malu dan kedudukan serta
harga diri kita jatuh.
Saya berkata: Jadi, menurutmu apa
yang harus dilakukan?
Teman saya berkata: Yang menarik
adalah Anda menyampaikan tentang aktifitas-aktifitas agama
dan sosial Anda kepadanya dan dengan cara ini Anda buat dia
puas.
Saya berkata: Biarkan dia datang,
Kalau dia membawa sesuatu yang baru, saya akan belajar
darinya. Dan kalau tidak, Insya Allah kita akan menang
atasnya, dan alangkah indahnya jika kita bisa menaklukkannya.
Adapun jika tidak, saya akan mengambil pelajaran darinya
dan akan menyediakan jawabannya di masa datang.
Anggaplah misalnya dia menang dalam
dialog ini, maka tidak ada salahnya jika kamu sedikit
bersabar atas kekalahan ini, karena ini menjadi sebab akan
banyaknya pelajaran yang bisa saya dapatkan dan juga saya
akan memahami letak titik kelemahan saya dalam dialog ini.
Singkatnya, sahabat saya ini selalu
berusaha agar saya menghindari dialog dengan orang komunis
tersebut. Namun saya tidak mengabulkannya. Karena itu kami
pun menetapkan jadwal waktu untuk melakukan dialog. Dan
orang komunis ateis itu pun datang pada waktu yang
ditentukan.
Pemuda (komunis) itu umurnya sekitar
tiga puluh tahunan, dan sangat bangga dan tinggi hati serta
sangat menyepelekan agama dan ulama. Dia duduk menghadap
saya bagaikan seorang sultan duduk di depan budaknya.
Pemuda komunis itu memulai
pembicaraannya. Dia berkata: Saya tidaklah sama seperti
orang yang pernah kamu lihat selama ini. Saya adalah seorang
yang berpendidikan, dan sudah demikian banyak berdialog
dengan orang-orang mengenai agama dan Tuhan, dan tidak satu
pun jawaban yang benar yang saya dapatkan. Saya sejak lima
belas tahun yang lalu telah menjadi ketua umum partai
komunis di sebuah wilayah. Pemuda komunis itu terus menerus
memuji dan mengagung-agungkan diri dan kemudian berkata:
Apakah Anda siap untuk berdialog dengan saya?
Maksud dari pemuda komunis tersebut
menjelaskan semua kelebihan dirinya, mungkin untuk
menakut-nakuti lawan dialognya nanti.
Saya berkata:"Silahkan, Anda mau
berdialog perihal apa?"
Dia berkata: "Saya ingin berdialog
dengan Anda tentang Tuhan."
Saya berkata: "Tidak masalah."
Dia berkata: "Apa pendapat Anda
tentang keberadaan tuhan?"
Saya berkata: "Tuhan itu ada."
Dia berkata: "Dengan dalil apa?"
Saya berkata: "Pendapat Anda sendiri
tentang keberadaan Tuhan bagaimana?" (maksud saya dari
pertanyaan ini adalah saya sebagai penanya dan orang komunis
itu yang menjawab- karena, sesuai dengan sebuah kaidah yang
masyhur dalam ilmu dialog, bahwa penanya akan selalu menjadi
pemenang dalam sebuah medan, karena penanya berada pada
posisi penyerang, dan yang menjawab biasanya kalah karena
posisinya adalah bertahan, dan saya ingin menaklukkan dan
berusaha menjatuhkan mental serta kesombongannya diawal
dialog ini)
Dengan pertanyaan yang saya utarakan:
"Apa pendapat Anda tentang tuhan?" Dia tanpa rasa malu
berkata: Tuhan itu adalah sebuah perkara takhayul dan
khurafat dan saya mengingkari akan keberadaannya.
Saya berkata: Bapak yang mulia,
apakah Anda tidak mengetahui jumlah bintang-bintang yang
telah diobservasi sampai saat ini telah mencapai ratusan
miliar?
Dia berkata: "Iya."
Saya berkata: "Apakah Anda tahu
bahwa Uni Soviet (kini Rusia) telah mencapai kemajuan dalam
bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, dan meluncurkan
satelit-satelit buatan ke ruang angkasa dan masih belum
sampai ke bulan?"
Dia berkata: "Iya."
Tentunya pembahasan kita adalah
suatu masa dimana Uni Soviet baru-baru meluncurkan
satelit-satelit buatannya, dan maksud saya mengatakan hal
ini adalah sekedar untuk memuji dan menyanjung akan
kebesaran Unisoviet, sehingga ketika dia (pemuda) itu jatuh
kalah akan merasakan sakit yang sangat seperti orang yang
jatuh dari puncak gunung yang sangat tinggi.
Saya berkata bahwa Anda juga tahu,
satelit-satelit buatan itu adalah bukan bagian dari ratusan
miliar bintang-bintang di langit itu, dan bagian satelit
bumi?
Dia berkata: "Iya, saya tahu."
Saya berkata: "Karena itu, manusia
masih belum sampai ke planet pertama dan yang paling dekat
di sekitarnya?"
Dia berkata: "Betul."
Saya berkata: "Jadi Anda tahu dari
mana kalau Tuhan itu tidak ada, apakah tidak mungkin Tuhan
itu berada di salah satu bintang gemintang ini? Kemudian
saya berkata: Apakah Anda berhak mengatakan kalau si fulan
tidak berada di dalam rumah tetangga, sementara Anda sendiri
tidak datang ke rumah tetangga tersebut dan melihat apakah
si fulan ada di sana atau tidak?"
Dia berkata: "Iya, saya tidak berhak
mengatakan bahwa si fulan tidak sedang berada di dalam rumah
itu sementara saya sendiri belum datang ke rumah tersebut."
Saya berkata: "Lantas, bagaimana
bisa Anda mengatakan bahwa tuhan itu tidak ada sementara
Anda belum pernah datang kesana, betapa banyak tuhan berada
di sana.
Apakah Anda sudah menyelam kedalaman
lautan-lautan itu?
Apakah Anda sudah mengunjugi kawasan
dan pulau-pulau yang ada di bawah lautan itu? Sementara yang
kita ketahui, para ilmuan mengakui bahwa masih banyak
pulau-pulau yang belum ditemukan.
Apakah Anda sudah berkunjung ke
kutub selatan?
Apakah Anda sudah pernah mengunjungi
lapisan tanah paling bawah?
Betapa banyak sesuatu yang ada
didalam tempat-tempat yang tersebut tadi, karena itu
bagaimana Anda bisa mengatakan bahwa tuhan itu tidak ada?"
Saat itu, pemuda tersebut pun diam,
dan tidak bisa memberikan jawaban, dan wajah pemuda tersebut
menampakkan ciri-ciri kekalahan.
Kemudian ketika melihat pemuda
tersebut dalam keadaan diam, saya pun berkata padanya: "Saya
adalah salah seorang yang sangat terkejut terhadap
orang-orang seperti Anda. Bagaimana bisa Anda mengaku-ngaku
sebagai budayawan dan ilmuan sementara Anda A, B, C, D,
filsafat saja tidak tahu?"
Bagaimana Anda bisa mengaku-ngaku
bahwa telah banyak berdiskusi dan berdebat dengan
ulama-ulama dan mengutuk mereka sementara pengetahuan Anda
ini sangat minim? Siapa saja ulama yang Anda kutuk itu.
Ucapan dan perkataan kalian -para komunis- tidak lain
hanyalah propaganda belaka dan omong kosong."
Saya sekarang bersedia untuk
mengajak Anda untuk mendatangi lebih dari dua puluh ulama
untuk mengutuk Anda dan juga orang-orang yang lebih tinggi
dari Anda. Saya begitu banyak menyerang dia (pemuda itu)
sehingga dia sampai pada suatu titik dimana dengan terpaksa
meminta maaf.
Dan kemudian saya banyak menjelaskan
dalil-dalil tentang pembuktian keberadaan tuhan, dan teman
saya yang hadir di majlis tersebut sangat gembira dengan
kemenangan ini.[www.wisdoms4all.com]