Nubuat Kemenangan Kristen
Wilson:
Saya sering bertanya-tanya ihwal ayat-ayat Qur'an
yang termaktub pada surah ar-Rum (surah 30). Ayat-ayat dalam
surah tersebut berhubungan dengan masa depan orang-orang
Roma dan nubuat kemenangan mereka atas musuh-musuhnya:
Alif Lām Mīm. Telah dikalahkan bangsa Romawi.
Di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu
akan menang. Dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah
urusan sebelum dan sesudah (mereka kalah dan menang itu).
Dan di hari itu orang-orang yang beriman bergembira (lantaran
suatu kemenangan yang lain). Karena pertolongan Allah. Dia
menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dia-lah Yang Maha
Perkasa lagi Maha
Penyayang. Sebagai janji yang
sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi
janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
(Qs. Rum [30]:1-6)
Saya ingin
mendengar ulasan Anda tentang ayat-ayat ini yang nampaknya
mengandung sebuah nubuat yang tepat, sebagaiman saya ingin
tahu apakah nubuat ini benar-benar terjadi.
Chirri:
Pada dekade pertama abad ke-VII, sebuah peperangan meletus
antara dua kekuatan besar pada waktu itu, emperium Persia
dan Byzantium (Roma). Perang tersebut berlanjut hingga lebih
dari dua puluh dua tahun, dan emperium Persia yang keluar
sebagai pemenang. Encyclopaedia Britannica melukiskan
situasi yang berkembang pada masa itu:
"Lasykar
emperium Persia menaklukkan Suriah dan Asia Kecil, dan pada
tahun 608 bergerak maju hingga Chaledon. Pada tahun 613 dan
614, Damaskus dan Yerusalem diambil oleh Jendral Shahaboraz,
dan Salib Suci dibawa dalam kemenangan. Tidak lama berselang,
bahkan Mesir pun dapat ditakalukkan. Orang-orang Roma (penduduk
emperium Byzantium) hanya dapat menunjukkan perlawanan kecil,
karena menderita pertikaian internal dan ditekan oleh Avars
dan Slavs. "
Ayat-ayat
al-Qur'an dinukil mewahyukan enam atau tujuh tahun pasca
pewahyuan pertama yang datang kepada Muhammad. (Hal ini
bermakna bahwa ayat-ayat ini diwahyukan pada tahun 615 atau
616). Nubuat yang terkandung di dalamnya adalah bersifat
definitif dan mutlak.
Ayat-ayat
tersebebut menyebutkan orang-orang Roma yang binasa akan
mencapai kemenangan yang gemilang atas orang-orang Persia
yang meraih kemenangan dalam jangka waktu sembilan bulan
semenjak pewahyuan ini.
Sekali lagi
nubuat ini dibuat dalam arah yang berlawanan dengan hasil
yang dicapai dari konflik bersenjata tersebut. Diperkirakan
bahwa orang-orang Roma akan menderita kekalahan telak,
karena lasykar emperium Persia telah terlebih dahulu
mencapai gerbang Konstantinopel. Pada masa itu bahkan
pemimpin-pemimpin Roma berhati kecut untuk mendapatkan
kemenangan kemudian.
Para
pemimpin Roma, dengan segala kemahiran dan pengetahuan
tempur mereka, tidak dapat mengira kemenangan yang mereka
capai. Informasi jelas tidak tersedia bagi Muhammad karena
radio, TV, dan alat-alat pos belum lagi tercipta waktu itu.
Muhammad, hidup di Mekkah dan sangat jauh dari
Konstantinopel, membuat nubuat kemenangan pada waktu yang
telah ditentukan.
Nubuat
terpenuhi dalam waktu sembilan tahun setelah ia dibuat.
Heraclius, kaisar Roma, bergerak maju ke Northern Media,
dimana ia menghancurkan candi besar Gondzak; kemudian pada
tahun 623 ia merebut kembali tanah-tanah yang telah diambil
oleh pihak musuh.
Wilson:
Ayat-ayat yang dinukil di atas mengindikasikan bahwa kaum
Muslimin sangat konsern terhadap kekalahan orang-orang Roma
di tangan orang-orang Persia. Nubuat tersebut nampaknya
telah diwahyukan sebagai sebuah ungkapan duka bagi kaum
Muslimin, lantaran pada ayat tersebut dikatakan bahwa kaum
Mukminin dalam Islam akan bersuka cita atas kemenangan
orang-orang Roma. Hal ini sebenarnya mengumumkan sebuah
cinta sejati dari kaum Muslimin kepada kaum Kristian.
Chirri:
Ucapan Anda benar. Kaum Muslimin sebenarnya sangat bersedih
mendengar berita kekalahan kaum Kristian pada saat itu. Kaum
Kristian adalah Ahli Kitab, dan kaum Muslimin merupakan
pengikut dari kitab yang baru, al-Qur'an. Keduanya adalah
orang-orang beriman. Oleh karena itu, Kaum Muslimin merasa
bahwa ada ikatan erat antara mereka dan kaum Kristian.
Mereka merasa bahwa kaum Kristian adalah saudara-saudara
mereka dalam agama.
Berita
kekalahan bangsa Roma merupakan sebuah berita gembira bagi
para penyembah berhala. Mereka bersuka cita atas kekalahan
kaum Kristian dan menggolongkan mereka dengan kaum Muslimin,
musuh mereka, lantaran kaum Muslimin dan Kristian keduanya
merupakan Ahlul Kitab dan menentang penyembahan berhala.
Hubungan
antara kaum Kristian dan Muslimin merupakan sebuah hubungan
yang bersifat natural. Jika kaum Kristian menerima Muhammad
dan kebenarannya dengan hati yang terbuka, sebagaimana kaum
Muslimin menerima kebenaran Isa (Yesus), hubungan
persaudaraan dapat tetap berlanjut antara para pengikut dua
ajaran ini. Namun sayang, kaum Kristian menolak untuk
mengakui kenabian Muhammad dan menerima kebenarannya.
Peristiwa ini dan yang terjadi selanjutnya pasca wafatnya
Nabi Saw merubah suasana natural antara kaum Muslimin dan
Kristian.[www.wisdoms4all.com]
Back to Top