Wilson:
Sejarah kehidupan Nabi Muhammad mewartakan kepada
kita bahwa pada usia keempat puluh, selagi ia beribadah di
gua Hira, cahaya Tuhan bersinar ke atasnya dan ia mendengar
suara kebenaran. Pada saat itulah penugasannya sebagai
seorang Nabi Allah kepada manusia dimulai. Pesan apa yang
disampaikan kepada Muhammad di gua Hira?
Chirri:
Risalah atau pesan Hira yang diwahyukan kepada nabi baru
adalah realitas-realitas yang bersumber dari konsep
kebenaran dari Tuhan yang Haq. Kekuasaan mencipta, kekuasaan
mentransformasi lempung menjadi manusia, dan kekuasaan
membuat sesuatu menyadari dirinya sendiri dan dunianya.
Kekuasaan yang menjadikan sesuatu menyadari dirinya sendiri
adalah secara jelas dibuktikan oleh ilmu pengetahuan manusia
dan kemampuan manusia menulis, yang merupakan fondasi dari
peradaban dunia. Dari al-Qur'an kita membaca, "Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah
menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan
Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan
perantaraan kalam (dengan perantaraan tulis baca).
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya."
(Qs. al-Alaq [96]:1-5)
Wilson:
Bagaimana kedudukan Muhammad di antara para nabi?
Chirri:
Kedudukannya tercatat sebagai nabi-nabi utama dengan
perbedaan-perbedaan yang jelas:
1. Ia
merupakan bagian dari sejarah dunia dan agama. Risalahnya
merupakan faktor penting dalam mengubah sejarah dunia, dan
tiada sejarawan yang meragukan keberadaannya dan perannya
dalam peristiwa-peristiwa dunia.
2. Ia adalah
satu-satunya nabi yang menyaksikan dengan mata-kepala
sendiri perkembangan agamanya hingga agama tersebut dianut
oleh seluruh bangsa selama masa hidupnya.
3. Ia
merupakan nabi semesta yang diutus, tidak hanya kepada umat
tertentu, seperti Arab atau Yahudi, tapi kepada seluruh
manusia. Dari al-Qur'an kita membaca: "Katakanlah: "Hai
manusia! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua,
Yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi"
(Qs. al-A'raf [7]:158)
4.
Risalahnya secara jelas menentang segala jenis diskriminasi
sosial. Menghapus seluruh rintangan sosial merupakan bagian
penting dari risalahnya. Hitam, putih, merah dan kuning
adalah sama dan sederajat.
Tiada ras
lebih unggul dan superior atas ras lainnya, dan tiada bangsa
lebih rendah atau inferior atas bangsa lainnya. Manusia
dipuji atau dicela atas apa yang ia pilih secara bebas.
Menjadi bagian dari satu bangsa atau ras tertentu bukan
pilihan kita, juga tidak terjadi atas perbuatan kita sendiri.
Perbedaan kita hanya dapat ditelusuri melalui perbuatan baik
dan amal shaleh kita.
Dari al-Qur'an
kita membaca:
"Sesungguhnya,
yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling takwa."
(Qs. al-Hujurat [49]:13)
5. Ia
membangun dan mendirikan, selama masa hidupnya, sebuah
negara yang berkuasa, berdasarkan kepada cita-cita tinggi.
Negara Muslim lahir pada saat dan masa dimana pemerintah
diterima sebagai sebuah ruling body (anggota yang
berkuasa), lebih unggul dari masyarakat dan memaksakan
kehendak-kehendaknya tanpa masyarakat dapat memilih.
Masyarakat sendiri tidak pernah menerima kesederajatan
mereka di hadapan para penguasa, juga tidak meyakini
persamaan mereka dari yang lain. Dalam ajaran Islam
kenyataan ini berbanding terbalik. Pemerintah merupakan buah
dari keyakinan masyarakat dalam sebuah prinsip-prinsip yang
menuntun. Pemerintah merupakan halal jadah dari spontanitas
kebersamaan mereka dalam mendeklarasikan prinsip-prinsip
tersebut. Lalu, para pendeklarasi prinsip-prinsip tersebut
berhubungan satu dengan yang lain dan mereka dirangkum dalam
satu persaudaraan.
6. Ia
menaklukkan seluruh penentang dan musuhnya, dan tidak ada
satu kelompok pun yang mampu menaklukkanya.
7. Ia
merupakan nabi yang mendeklarasikan kebebasan beragama
ketika ia berkuasa, dimana sebelumnya banyak orang
tercampakkan dari kebebasan seperti itu . Ia dan para
pengikutnya disiksa selama tiga belas tahun karena pilihan
agamanya. Sebelumnya, penguasa-penguasa tidak pernah
berbicara tentang kebebasan beragama dan mereka melakukan
penyiksaan terhadap orang-orang yang meninggalkan agama
berhalanya dan memeluk agama Muhammad. Namun, ia (Muhammad)
tatkala menaklukkan seluruh penentangnya dan mampu untuk
menghukum para penindas, ia mengumumkan deklarasi berikut
ini: "Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam);
sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan
yang sesat. Karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada
Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah
berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan
putus, dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui."
(Qs. al-Baqarah [2]:256)
8. Ia
merupakan satu-satunya nabi yang mendeklarasikan dirinya
sebagai Nabi Pamungkas yang dengan wafatnya mengakhiri
sejarah panjang kenabian. Adapun kenabian-kenabian yang
diklaim oleh banyak orang setelah Muhammad, tidak satupun
dari mereka yang mampu menopang klaimnya. Dan kini, setelah
berapa abad semenjak wafatnya, ia masih duduk pada altar
sejarah sebagai penutup para nabi.
9. Ia
merupakan satu-satunya nabi yang memperkenalkan kepada dunia
sebuah kitab yang tidak memuat satu pun ucapan manusia. Al-Qur'an
bukan merupakan dialog antara Tuhan dan manusia, sebagaimana
kitab-kitab suci lainnya; al-Qur'an merupakan firman-firman
Tuhan yang Dia letakkan pada lisan Muhammad untuk diteruskan
kepada manusia.
Wilson:
Cukup membingungkan bahwa nabi-nabi sebelum Muhammad seperti
Musa dan Isa telah dibekali dengan kekuasaan untuk
mempertunjukkan pekerjaan luar biasa dan supra-natural,
sementara Muhammad tidak menunjukkan hal tersebut, atau
bahkan ia tidak bersandar kepada perbuatan-perbuatan
mukjizat. Ia hanya bersandar, dalam membuktikan kenabiannya,
pada al-Qur'an. Mengapa ia tidak mempertontonkan
mukjizat-mukjizat sebagaimana yang dilakukan oleh Musa dan
Isa?
Chirri:
Adua dua alasan atas perbedaan gaya mukjizat Muhammad dan
gaya mukjizat nabi-nabi sebelumnya:
1.
Mukjizat-mukjizat Isa dan Musa, benar sangat luar biasa;
namun, kenyataannya, kendatipun mukjizat itu luar biasa,
tapi tidak mengajak manusia pada masanya untuk beriman
kepada mereka atau memeluk ajarannya. Sejarah mengatakan
kepada kita bahwa Bani Israil tidak mengikut Musa setelah ia
mempertontonkan seluruh mukjizatnya. Setelah melintasi laut
dengan kaki mereka, mereka tidak menjadi pengikut setia
kepada ajaran Musa. Setelah ia pergi ke gunung untuk
menerima firman-firman (commandments), setelah turun
gunung, ia mendapati mereka tersesat dari jalan Tuhan. Isa
banyak diikuti oleh orang-orang, namun tatkala krisis
melanda, ia ditinggalkan bahkan oleh murid-muridnya sendiri.
Masyarakat, secara umum, tidak pernah diyakinkan oleh
mukjizat-mukjizat tersebut untuk memeluk ajaran-ajaran
samawi. Ketika mereka menyaksikan pertunjukan supranatural,
mayoritas dari masyarakat ketika itu menyebut Isa dan Musa
sebagai tukang sihir dan penipu. Jika mukjizat yang sama
diulang pada masa Muhammad, hal itu tidak akan membuahkan
hasil yang lebih baik dari sebelumnya. Atas alasan ini, gaya
mukjizat harus diganti.
2. Anggaplah
mukjizat-mukjizat Musa dan Isa sangat produktif, membuat
mereka meyakini kebenaran atas apa yang mereka saksikan.
Kenyataannya adalah mukjizat-mukjizat tersebut tidak
bersifat permanen dan hanya berlangsung sementara. Tiada
satu perbuatan yang dapat disaksikan dua kali. Tiada
perbuatan yang akan berlangsung lama. Membuat orang buta
melihat atau mengembalikan orang mati menjadi hidup
merupakan perbuatan yang sangat luar biasa, namun perbuatan
tersebut lenyap segera setelah dilakukan. Segera setelah
perbuatan itu berakhir, ia menjadi sejarah. Mereka yang
tidak melihat perbuatan ini secara langsung harus bersandar
kepada bukti-bukti dari mereka yang melihatnya.
Seorang nabi
yang akan diikuti oleh nabi yang lain boleh jadi bersandar
kepada sebuah pertunjukan yang luar biasa dalam meyakinkan
orang-orang yang hidup semasanya. Ia tidak perlu kuatir akan
generasi mendatang yang tidak akan melihat mukjizatnya,
lantaran ia dapat bersandar kepada nabi yang datang
selepasnya pada masa yang lain. Nabi yang datang selepasnya
akan mempertunjukkan mukjizatnya sendiri, dan ia akan
memperkenalkan nabi yang akan datang setelahnya.
Adapun dalam
kasus Muhammad, kasusnya berbeda. Ia merupakan Nabi Terakhir.
Ia tidak dapat bersandar kepada setiap perbuatan mukjizat,
lantaran perbuatannya tersebut tidak akan berlangsung lama
untuk dilihat oleh generasi selanjutnya. Ia juga tidak
bersandar kepada pendelegasian seorang nabi yang akan datang
setelahnya, lantaran ia merupakan Nabi Pamungkas. Ia harus
bersandar kepada beberapa mukjizat, namun mukjizatnya harus
dalam bentuk yang lain. Mukjizatnya harus merupakan mukjizat
abadi yang akan disaksikan dan diuji oleh generasi-generasi
mendatang sebagaimana yang disaksikan oleh orang-orang
semasanya.
Pada masa
dimana tidak ada kamera atau film yang dapat membuat satu
perbuatan dapat disaksikan oleh manusia pada masa yang
beragam, kita tidak dapat menerima mukjizat abadi jenis
apapun kecuali dalam bentuk ucapan. Tatkala sebuah ucapan
tinggi dan agung tercatat dalam sebuah buku atau kitab,
keunggulannya dapat disaksikan dan diuji oleh setiap manusia
pada setiap generasi. Jika ia tiada tertandingi, ia akan
bertahan selamanya, dan keunggulannya dapat dinilai oleh
setiap generasi. Mukjizat jenis ini adalah jenis mukjizat
yang cocok dan tepat bagi seorang nabi terakhir, dan atas
alasan inilah mengapa Muhammad dibekali dengan Kitab Suci
al-Qur'an sebagai bukti atas kebenarannya.[www.wisdoms4all.com]
Back to Top