|
Mengapa Kita Memerlukan
Nabi?
Wilson :
Mengapa manusia memerlukan seorang nabi atau rasul Tuhan?
Manusia dianugerahi dengan kemampuan mental yang
dengannya ia dapat membedakan antara baik dan buruk.
Seseorang dapat berkata bahwa tidak ada perlunya kita
bimbingan langit untuk mengatakan kepada kita apa yang
harus kita lakukan dan apa yang tidak boleh kita lakukan.
Rata-rata orang mampu berlaku rasional untuk dirinya,
sehingga ia bisa berhubungan dengan orang lain dan
keluarganya secara rasional tanpa perlu adanya hukum
Ilahi.
Chirri :
Kenabian diperlukan karena beberapa alasan:
1. Adanya Kebutuhan untuk
Mengingatkan Manusia Kepada Tuhan
Secara
teoritis, manusia mampu berargumen secara deduktif (menggunakan
silogisme) akan keberadaan Sang Pencipta melalui
pengamatannya terhadap ciptaan-ciptaan Tuhan di muka
bumi. Manusia yang berfikiran bebas mampu memahami
hal-hal yang abstrak dan ide-ide universal. Lantaran
nafsu atau kebutuhan, kita nyaris lekat dan terikat
dengan dunia materi. Ketertarikan kepada materi dunia
telah membuat kita berpaling. Kendatipun orang
kebanyakan tidak mampu melepaskan pemahamannya ihwal
penciptanya, namun kita juga tidak dapat berharap kepada
orang kebanyakan menalak dirinya dari dunia materi untuk
berpikir jelas dan jernih tentang Tuhan.
Tatanan
yang menakjubkan yang terdapat pada alam semesta
menandakan keberadaan Sang Penata, Tuhan Yang Mahakuasa.
Namun manusia terpikat perhatiannya terhadap yang kecil
dalam memperhatikan hukum-hukum natural. Manusia menjadi
terbiasa mengapa matahari terbit di belahan timur bumi.
Umat manusia kurang menaruh perhatian terhadap
pentingnya pengenalan terhadap Sang Pencipta. Pengenalan
universal manusia akan keberadaan-Nya bukan merupakan
hasil pemikiran umum, namun berdasarkan kepada ajaran
orang-orang yang dianugerahi yang berhasil membawa
manusia kepada kesimpulan seperti ini.
2. Kebutuhan Terhadap
Seseorang Yang Memiliki Otoritas Yang Tak Terbantahkan
Manusia
berbeda dalam pendidikan, kemampuan, perasaan dan latar
belakang; sehingga mereka berbeda dalam cara pandang.
Banyak isu penting berkenaan dengan perbuatan manusia
yang sangat kontroversial di kalangan setiap individu
dan kelompok. Etika dan akhlak sangat diperdebatkan.
Pembenaran filosofis dapat dijumpai pada hampir sudut
pandang. Alih-alih menjelaskan isu-isu ini sehingga
seseorang menemukannya untuk membuat sebuah pilihan
rasional, pembenaran filosofis justru semakin menambah
kebingungan. Akal dan filsafat telah gagal menjadi
sebuah solusi bagi pertanyaan-pertanyaan moral dan etika.
Pelbagai jawaban yang kita cari harus dicari dari
seseorang yang memiliki otoritas yang tak terbantahkan,
dimana kepadanyalah setiap individu dan kelompok harus
berserah diri. Pemiliki otoritas itu adalah Tuhan.
3. Kebutuhan Ibadah
Kepada Tuhan
Kendati
seorang pemikir bebas boleh jadi mengenali Tuhan dan
kebesaran-Nya, ia biasanya melalaikan pentingnya
penyembahan dan pemujaan. Bahkan jika seseorang perlu
kepada penyembahan, ia tidak tahu bagaimana melakukannya.
Sebagian orang boleh jadi berpikir pentingnya berkorban
dan membakar binatang dan hewan, sebagian lainnya
memburu binatang atas nama Tuhan. Sebagian orang percaya
hidup zuhud dan asketik dicintai oleh tuhan-tuhan,
sementara sebagian lainnya meyakini bahwa kehidupan
merupakan sesuatu yang sangat dibenci oleh Tuhan dan
destruktif bagi umat manusia. Sebagian orang memuja
Tuhan dengan bernyanyi dan memainkan alat-alat musikal,
sementara yang lain meyakini kepada penyerahan diri dan
bertekuk lutut sebagai bentuk pengabdian. Bentuk yang
diterima harus sesuai dengan kehendak Tuhan, bukan
berdasarkan kepada keinginan dan anggapan kita. Tuhan
membuat kehendak-Nya jelas kepada kita melalui seorang
nabi atau rasul.
4. Kebutuhan untuk
Mengendalikan Gejolak Nafsu
Manusia
yang tak terbimbing dan terbina, mirip dengan binatang
dalam bangunan instingnya. Akal akan tunduk dalam
pelayanan memuaskan nafsu, kecuali diperkenalkan sebuah
elemen yang mampu mengendalikan dan mencegahnya untuk
tidak tunduk di bawah pengaruh nafsu. Filsafat tidak
banyak membantu dalam mengendalikan hawa nafsu, ia hanya
dapat sedikit membantu dalam hal ini; juga tidak
terdapat konsistensi dalam filsafat yang menyerukan kita
untuk mengontrol hawa nafsu. Beberapa orang mencari
kesimpulan bahwa kita harus berjuang untuk memenuhi
kepuasan instingtif. Kini kita berjuang melawan ideologi
ultra-materialistik semacam ini, doktrin yang melemahkan
kendali nafus dikarenakan alasan-alasan moral. Standar
moral dan etika semuanya berada bersama Tuhan. Ketika
para nabi-Nya menyampaikan firman-Nya, itu akan menjadi
basis kuat untuk menghentikan pertikaian seputar masalah
ini.
5.
Kebutuhan Informasi akan Hari Kiamat
Bagi
seseorang yang percaya kepada Tuhan, kemungkinan besar
ia akan percaya bahwa hidupnya akan berlanjut setelah
kematian dalam beberapa bentuk. Mungkin juga ia akan
percaya bahwa akan ada sebuah hari perhitungan yang di
dalamnya manusia akan diberi ganjaran dan balasan.
Bilamana ada kehidupan semacam itu setelah kehidupan ini,
manusia harus mempersiapkan dirinya untuk perhitungan
tersebut. Hanya Tuhan yang dapat mengetahui kehidupan
pada hari kiamat. Filsafat tidak dapat membantu dalam
hal ini; juga manusia tidak akan mampu mendeduksi
keberadaannya setelah kehidupan ini melalui observasi
atau pengalaman di dunia ini. Hanya Tuhan yang memiliki
ilmu tentang hal ini. Dia dapat menyampaikan kabar ini
melalui seorang nabi sehingga manusia mengetahui masalah
ini dan mendapatkan peringatan.
Jawaban
atas pertanyaan di atas terletak di tangan Tuhan. Dia
dapat membagi pengetahuan ini kepada manusia sesuai
dengan yang Dia kehendaki. Salah satunya adalah mengutus
seorang nabi yang menjawab dengan jelas setiap
pertanyaan tersebut sebagai mediator antara Tuhan dan
manusia. Ajaran-ajaran dari nabi samawi ini menyuguhkan
beberapa tujuan berikut ini:
A.
Untuk menarik perhatian manusia kepada signifikansi riil
dari tatanan agung alam semesta, yang menjadi non-signifikan
bagi manusia biasa, karena familiarnya mereka dengan
masalah ini. Alam semesta yang penuh keajaiban dan
tak-terbatas; dan jika direnungi secara seksama, akan
menuntun kepada iman yang dalam dan kuat kepada Sang
Pencipta. Perhatian manusia dapat ditarik kepada
ayat-ayat natural ini melalui ajaran dan bimbingan nabi.
B.
Mengekspresikan standar moral dan kode etik yang dapat
dihadapi dan diselesaiakan oleh manusia dalam menghadapi
isu-isu kontroversial dalam masalah etika.
C.
Membuat perintah dan titah Tuhan untuk beribadah menjadi
jelas dan mengajarkan kepada kita untuk menunaikan
ibadah tersebut.
D.
Menyampaikan aturan kepada kita yang diperlukan untuk
memenuhi kebutuhan kita dan menstimulir aspirasi kita
untuk ketinggian dan kesucian yang bilamana meningkat
secara progressif dapat mendudukkan kita setingkat
dengan para malaikat.
E.
Menginformasikan kepada kita secara jelas bahwa ada atau
tiadanya kehidupan setelah mati. Informasi ini hanya
dapat diperoleh dari Sang Pencipta melalui orang yang
mengetahui bahwa Dia akan menciptakan dunia lain.
Wilson :
Ajaran samawi ini sama sekali tidak menyuguhkan
tujuan-tujuan ini, karena kita masih bercekcok dalam
isu-isu moral dan etika. Ketidaksesuaian masih terdapat
dalam masalah tata cara ibadah kepada Sang Pencipta,
Keberadaan-Nya dan kehidupan setelah kematian.
Chirri :
Tujuan-tujuan ini telah disajikan secara memuaskan,
karena sebagian besar manusia telah bersepakat dalam
isu-isu moral dan meyakini Sang Pencipta dan Hari Kiamat.
Dengan penerimaan prinsip-prinsip samawi ini oleh
sebagian besar umat manusia, manusia dapat membatasi
gejolak nafsunya dan memoralisasi dunia hingga pada
tingkatan tertentu.
Terlebih, warta samawi ini tetap diperlukan meskipun
jika tidak untuk melayan tujuan-tujuan ini. Hal ini
benar adanya lantaran Sang Pencipta seyogyanya
menyediakan kesempatan ini demi membuat kita mampu untuk
mengenal-Nya dan membantu untuk meninggikan moralitas
kita, yang menarik garis aktual antara manusia dan hewan.
Tatkala
Tuhan menciptakan dunia lain atau berencana untuk
menciptakannya, Dia harus membuatnya masyhur bagi
manusia melalui warta samawi-Nya ini, yang merupakan
satu-satunya jalan yang dapat membuat kita mengenalnya.
Jika Sang Pencipta tidak mengutus nabi-Nya untuk
menyampaikan warta ini kepada manusia, kita dapat
dimaafkan ketika kita tidak mengetahuinya, dan kita
tidak akan memiliki kesempatan untuk menggapai
kesempurnaan. Terlebih, jika Dia mencipta dunia lain,
dan membuatnya misterius bagi kita, ciptaan-Nya dapat
disebut sebagai sesuatu yang sia-sia. Tuhan tidak
melalaikan manusia karena mereka berada pada tingkatan
yang sangat sederhana. Oleh karena itu, banyak
orang-orang pilihan yang dipilih oleh Sang Pencipta
untuk menunaikan tugas agung dan mulia ini, mengadakan
perbaikan dan mengajarkan manusia ajaran samawi.
Wilson :
Dari kata "nabi" kita mengetahui bahwa seorang nabi
harus berkomunikasi dengan Tuhan dan menerima firman-Nya.
Corak komunikasi manusia adalah fisikal, baik melalui
audio atau membaca beberapa kata yang tertulis. Seorang
nabi seperti manusia sebagaimana kita. Ia dapat
mendengar suara melalui indra pendengaran dan melihat
tulisan melalui indra penglihatan. Tapi Tuhan tidak
bersifat fisikal. Dia tidak berfirman dengan suara, juga
tidak menulis dengan tangan. Bagaimana seorang nabi
berkomunikasi dengan Tuhan?
Chirri :
Seorang nabi dapat berkomunikasi dengan Tuhan melalui
salah satu jalan di bawah ini:
(a) Ia
menerima wahyu secara mental. Tuhan menunjukkan
kepadanya secara ruhani kebenaran, dengan menciptakan
pengetahuan tentang kebenaran itu dalam benaknya.
(b)
Tuhan menciptakan beberapa firman yang dapat didengar
oleh nabi, dalam objek yang tak-terkatakan. Wahyu
pertama yang diterima oleh Musa melalui jalan ini. Ia
mendengar firman Tuhan yang datang dari sebuah pohon.
(c)
Seorang nabi dapat menerima sebuah pesan jelas dari
Tuhan melalui malaikat utusan. Nabi Muhammad menerima
al-Qur'an melalui Malaikat Jibril. Dari al-Qur'an kita
membaca:
"Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu
seorang ruh dengan perintah Kami (sebagaimana Kami juga
telah mengutus seorang ruh kepada para nabi sebelummu).
Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al-Kitab (Al-Qur’an)
dan tidak pula mengetahui apakah iman itu. Tetapi Kami
menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki
dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara
hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar
memberi petunjuk kepada jalan yang lurus."
(Qs. asy-Syura [42]:51)
Tidak
satu pun dari jalan ini yang digunakan oleh seorang nabi
dalam berkomunikasi dengan Tuhan merupakan sesuatu yang
biasa bagi manusia selainnya. Dan tiada satu pun dari
hal ini mustahil adanya bagi orang lain. Sang
Pencipta dapat berkomunikasi dengan hamba-Nya sesuai
yang Dia kehendaki. Betapapun, penerima wahyu harus
memiliki kualifikasi tertentu yang menempatkannya lebih
qualified secara spiritual dari manusia lainnya.
Wilson :
Sejarah menyaksikan betapa banyak orang yang mengklaim
dirinya sebagai nabi. Orang-orang ini tampil di
pelataran sejarah dalam masa yang berbeda, dan beberapa
dari mereka masih hidup. Kita tahu bahwa beberapa dari
mereka merupakan nabi yang sebenarnya, dan sebagian
lainnya adalah palsu. Bagaimana kita dapat membedakan
antara nabi yang benar dan nabi palsu?
Chirri :
Seorang nabi merupakan utusan Tuhan. Ia merupakan duta
Tuhan bagi manusia. Seorang duta harus memiliki
surat-surat kredensial, beberapa tanda-tanda yang
membuktikan kebenarannya.
Tidak
seorang pun yang diterima sebagai seorang duta
berdasarkan klaimnya sendiri. Terlebih, kita jumpai
bahwa orang-orang tersebut yang diyakini sebagai para
nabi dibekali dengan beberapa kekuatan luar biasa yang
tidak dapat dijumpai pada orang-orang selainnya.
Musa
dibekali kekuatan oleh Tuhan untuk merubah tongkatnya
menjadi seekor ular, mengganti air menjadi darah, dan
memecah lautan dengan sebuah pukulan tongkatnya. Isa
dimodali kekuatan untuk menyembuhkan tanpa obat, dan
menurut al-Qur'an, berbicara kepada orang-orang selagi
ia masih dalam buaian. Muhammad dibekali dengan bahasa
yang agung, Kitab Suci al-Qur'an, yang menantang manusia
untuk memproduksi yang serupa dengan yang dimiliki al-Qur'an.
Wilson :
Haruskah seorang nabi seorang manusia atau dapatkah
Tuhan mengutus seorang nabi yang bukan manusia (seperti
malaikat) kepada manusia?
Chirri :
Seorang nabi merupakan sebuah teladan bagi umat manusia.
Ia harus memiliki tabiat yang sama seperti dengan mereka,
kemampuan yang sama, dan keterbatasan yang sama.
Keteladanan yang menarik bagi manusia harus dapat
dicapai. Ia harus memiliki kemampuan menarik manusia
untuk mengikutinya. Jika seorang nabi berbeda tabiatnya
dengan manusia, manusia tidak akan berupaya mengikutinya
dan menjadikannya sebagai teladan. Kesempurnaan relativ
ditunjukkan oleh seorang nabi harus menjadi mungkin bagi
seluruh pengikutnya. Jika seorang manusia menunjukkan
kepadaku sebuah derajat kemuliaan hidup, saya boleh jadi
tergoda untuk mencapai derajat tersebut. Ia dan aku
adalah sama sebagai manusia. Apa yang menjadi mungkin
baginya adalah menjadi mungkin bagiku. Tapi jika seorang
malaikat menunjukkan kepadaku sebuah kemuliaan moral,
saya barangkali tidak tergoda untuk mengikutinya sebagai
teladan. Apa yang menjadi mungkin baginya boleh jadi
mustahil bagiku. Lantaran ia tidak berasal dari tabiat
yang sama denganku.
Ada
alasan lain yang diyakini bahwa umat manusia harus
menerima nabi manusia: Kita telah mengemukakan bahwa
seorang nabi diharapkan membenarkan kejujurannya dengan
menunjukkan sebuah perbuatan yang tidak biasa. Dengan
melakukan hal itu manusia akan tahu bahwa ia dibekali
oleh Tuhan, lantaran apa yang ia lakukan adalah di luar
kemampuan naturalnya. Hal ini tidak akan berfungsi jika
seorang nabi adalah bukan manusia -katakanlah seorang
malaikat-. Seorang nabi manusia boleh jadi, sebagai
contoh, menunjukkan kebenarannya dengan terbang tanpa
ada alat bantuan. Jika seorang malaikat melakukan hal
yang sama, hal itu tidak akan menunjukkan kebenarannya.
Terbangnya tidak mesti di luar kemampuan naturalnya,
lantaran ia boleh jadi tidak terpengaruh secara natural
oleh gaya gravitasi.
Wilson :
Keyakinan kepada kenabian termasuk apa saja dalam
pandangan Islam?
Chirri :
Keyakinan kepada kenabian, dari sudut pandang Islam,
termasuk beberapa poin berikut ini:
1. kepada
kenabian Muhammad. Muhamamd adalah nabi agung yang tidak
diutus hanya kepada bangsa tertentu, tapi diutus kepada
seluruh umat manusia. Dari al-Qur'an kita membaca ayat
yang menegaskan poin ini.
Katakanlah,
“Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah
kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan
langit dan bumi; tidak ada Tuhan selain Dia, Yang
menghidupkan dan mematikan. Maka berimanlah kepada Allah
dan rasul-Nya, nabi ummi yang beriman kepada Allah dan
kepada kalimat-kalimat-Nya dan ikutilah dia, supaya kamu
mendapat petunjuk.”
(Qs. al-A'raf [7]:158)
2.Keyakinan
kepada kenabian dari seluruh nabi yang datang sebelum
Nabi Muhamad lantaran mereka dikenali oleh al-Qur'an:
"Katakanlah (hai orang-orang mukmin),
“Kami beriman kepada Allah dan apa yang telah diturunkan
kepada kami dan apa yang telah diturunkan kepada Ibrahim,
Ismail, Ishak, Ya’qub dan (para nabi dari) anak cucunya,
serta kepada apa yang telah diberikan kepada Musa, Isa,
dan kepada nabi-nabi (lain) dari Tuhan mereka. Kami
tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan
kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.”
(Qs. al-Baqarah [2]:136)
3.
Keyakinan kepada Muhammad sebagai Nabi
terakhir yang kematiannya menutup pintu kenabian. Kita
membaca dari al-Qur'an demikian:
"Muhammad itu sekali-kali bukanlah ayah
dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah
Rasulullah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha
Mengetahui segala sesuatu."
(Qs. al-Ahzab [33]:40)
Redaksi khatam (pamungkas, terakhir)
bermakna segel yang menutup sebuah kontainer atau segel
yang stampnya menegaskan otensisitas kandungan dari
sebuah dokumen tertulis atau sebuah pesan.
Menyegel untuk menutup atau menegaskan diletakkan pada
akhir dari apa yang ditutup atau ditegaskan.
Nabi
Muhammad bersabda kepada saudaranya Ali:
"Kedudukanmu
bagiku adalah seperti kedudukan Harun bagi Musa, hanya
saja tidak ada nabi selepasku."
[www.wisdoms4all.com]
Back to Top
|