:
Anda telah menyebutkan sebelumnya bahwa keesaan Tuhan (dialog
kedua) merupakan tema yang sangat ditekankan dalam Kitab Suci
al-Qur’an; bahwa Islam, atas alasan ini, juga disebut sebagai
“Din at-Tauhid (agama yang meyakini keesaan Tuhan); dan bahwa
bersaksi terhadap keesaan-Nya merupakan redaksi pertama dalam
Deklarasi Keimanan: “Aku bersaksi bahwa tiada
tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” Apakah
Islam menyuguhkan bukti-bukti atas prinsip penting ini?
Chirri
:
Kitab Suci al-Qur’an menyebutkan hubungan di antara
bagian-bagian semesta sebagai bukti keesaan Penciptanya. Ia
menasihatkan kita untuk melihat tatanan yang ada di alam semesta,
dan kenyataan bahwa tatanan semacam itu tidak dapat mewujud jika
terdapat lebih dari Satu Pencipta. Lebih dari satu administrasi
bagi semesta adalah lebih mirip dengan satu administrasi untuk
satu kota, negeri atau bangsa. Tentu saja hal ini akan menimbulkan
kekacauan dan disorder
(amburadul). “Sekiranya ada
di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah
keduanya itu telah Rusak binasa. Maka Maha suci Allah yang
mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.”
(Qs. al-Anbiya [21]:22) “Dan ketahuilah, wahai putraku,”
sabda Imam Ali bin Abi Thalib kepada putranya al-Hasan, “bahwa
bila Tuhanmu memiliki sekutu, nabi-nabi dari sekutu-Nya akan
datang kepadamu. Namun Dialah satu-satunya Tuhan, sendiri tanpa
sekutu.” (Nahjul Balagha,
bagian 3)
Wilson
:
Bagaimana pandangan Islam ihwal doktrin Trinitas?
Chirri
:
Islam dengan sangat tegas mengingkari dan menolak doktrin ini.
Kitab Suci al-Qur’an mendeklarasikan: “Katakanlah:
“Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang
bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan
tidak pula diperanakkan.Dan tidak ada seorangpun yang setara
dengan Dia.” (Qs. al-Ikhlas [112]:1-4)“Dan
mereka berkata: “Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai)
anak”. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara
yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena Ucapan
itu, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, Karena mereka
mendakwahkan Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak
layak bagi Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.”
(Qs. Maryam [19]:88-92)
Wilson
:
Mengapa Islam menolak sedemikian tegas doktrin Trinitas?
Chirri
:
Islam menolak Trinitas lantaran kebapakan Tuhan bagi seluruh
makhluk hidup atau non-makhluk hidup tidak dapat diterima dan
mendegradasi konsep ketuhanan. Dia tidak terbatas dan terangkum
dalam bentuk raga, dan Dia meliputi segala sesuatu di alam
semesta ini. Dia tidak memiliki sekutu untuk memiliki anak
sebagaimana tabiat makhluk hidup. Ruh kebapakannya juga tidak
dapat diterima bagi setiap jiwa atau ruh apabila hal ini
bermakna selain menjadi Pencipta jiwa dan ruh. Tidak ada
hubungan yang dapat diterima antara Pencipta dan ciptaan-Nya.
Kalau tidak, wujud yang
lain akan mandiri dan merdeka dari Tuhan, dan akan menjadi
sekutu-Nya. Kini, jika kita menisbahkan anak menyatu
dengan Tuhan, urusannya seolah-olah saya mengatakan bahwa anakku
dan aku adalah satu. Jika statmen itu benar adanya, aku akan
menjadi ayah bagi diriku, lantaran aku sendiri adalah putraku
sendiri. Dan putraku akan menjadi putra bagi dirinya sendiri,
lantaran ia adalah aku. Oleh karena itu, Tuhan akan menjadi
bapak bagi dirinya sendiri, dan putra-Nya menjadi putra bagi
dirinya sendiri. Tuhan tidak, dan tidak dapat menjadi bapak dari
makhluk hidup atau non-hidup jika kebapakan digunakan dengan
makna yang sesungguhnya. Jika kata yang digunakan memiliki arti
majazi (figuratif), bermaksud bahwa Tuhan adalah pengasih
terhadap makhluknya sebagaimana pengasihnya seorang ayah, maka
Dia tidak hanya akan menjadi ayah bagi satu orang tetapi bagi
seluruh umat manusia. Dan hal ini merupakan sesuatu yang dapat
dipahami dari doa kaum Krisitan, “Bapa kami, Engkau di surga…”Akan
tetapi, bahkan penggunaan ini juga tertolak bagi Islam, lantaran
kalimat ini menyesatkan dan membingungkan orang. Oleh karena itu,
kaum muslimin, tidak menggunakan kalimat figuratif ini untuk
Tuhan.
Wilson
:
Ucapan Anda menunjukkan bahwa kaum Muslimin tidak meyakini
keilahian Isa. Apakah Anda memiliki bukti jelas terhadap klaim
yang menentang keilahian Isa?
Chirri
:
Anda tidak perlu mematahkan bukti keilahian Isa atau Muhammad
atau manusia lainnya. Namun jika Anda mengklaim keilahian
seseorang selain Tuhan, Anda harus membuktikan klaim tersebut.
Jika seseorang mengklaim bahwa Anda merupakan seorang malaikat,
ia harus membuktikan klaim itu. Saya tidak perlu membuktikan
bahwa Anda merupakan seorang manusia lantaran penampilan Anda
sebagai seorang manusia dan memiliki seluruh atribut seorang
manusia. Orang yang mengklaim Anda sebagai seorang malaikat yang
harus membuktikan klaimnya, lantaran klaimnya itu berlawanan
dengan akal sehat dan dengan kenyataan faktual yang terlihat.
Tatkala seseorang berkata bahwa Isa atau Muhammad adalah manusia,
bukan seorang Tuhan, ia sejalan dengan definisi yang diterima.
Isa hidup sebagaimana manusia, memiliki rupa seperti manusia,
tidur dan makan sebagaimana laiknya manusia dan dianiaya
sebagaimana manusia. Tidak ada satu pun dari fakta ini yang
memerlukan bukti. Hal ini tidak seperti kasusnya dengan orang
yang mengklaim keilahiannya. Klaimnya bertentangan dengan
pengetahuan umum. Oleh karena itu, ia dan bukan orang lain, yang
harus menghadirkan bukti untuk menyokong klaim tersebut. Meski
kaum Muslimin tidak sepatutnya menyuguhkan bukti untuk
mengingkari keilahian Isa, mereka dapat menghadirkan bukti dan
argumen lebih dari satu: 1. Isa merupakan seorang yang ahli
ibadah. Tentu saja, ia beribadah kepada Tuhan, bukan kepada
dirinya. Hal ini membuktikan bahwa ia bukanlah tuhan namun
seorang hamba Tuhan. 2. Sesuai dengan tiga kitab Injil, ucapan
terakhir yang disampaikan Isa adalah: “Tuhanku, Tuhanku, mengapa
Engkau meninggalkanku?” Seseorang yang memiliki tuhan bukanlah
Tuhan.3. Tuhan adalah abadi, sementara Isa adalah fana; Tuhan
Mahakuasa, tapi Isa dianiaya.
Wilson: Mengapa kita tidak dapat melihat Isa
sebagai seorang tuhan dari sisi spiritual dan seorang manusia
yang fana dari sisi keragaannya?
Chirri
:
Memiliki dua sisi, raga dan ruhani, tidak hanya dimiliki oleh
Isa secara eksklusif, karena setiap manusia memiliki kedua sisi
ini. Anda memiliki dua sisi, ruhani dan ragawi dan demikian juga
saya. Dan ruh kita tidak ada satu pun yang berisifat fana,
karena ruh kita akan tetap hidup setelah kematian kita. Namun
hal ini tidak membuat kita menjadi Tuhan, demikian juga bagi Isa.
Wilson
:
Namun Isa tidak seperti kita. Ia, menurut al-Qur’an dan Injil,
lahir dari seorang ibu perawan tanpa ayah. Bukankah hal ini
bermakna bahwa ia lebih dari seorang manusia biasa?
Chirri
:
Terlahir dari seorang ibu tanpa seorang ayah tidak akan membuat
Isa lebih dari seorang manusia biasa. Adam dicipta tanpa ayah
dan ibu, dan hal itu tidak membuatnya melebihi manusia biasa.
Dari al-Qur’an kita membaca: “Sesungguhnya
misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan)
Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah
berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), Maka jadilah
Dia.” (Qs. Ali Imran [3]:59) Isa bukanlah tuhan,
demikian juga Adam karena tidak satu pun dari mereka yang
merupakan Sang Pencipta semesta.
Wilson
:
Bagaimana kita tahu bahwa ia bukan Pencipta semesta?
Chirri:
Para ilmuan berkata bahwa usia bintang-bintang adalah lebih
dari empat miliar tahun lamanya, dan Isa lahir kurang lebih
dua ribu tahun yang lalu. Bagaimana mungkin usia semesta
yang sedemikian tuanya dicipta oleh seorang pencipta muda?
Wilson
:
Anda tepat. Dan saya pikir Anda telah membuat masalahnya menjadi
jelas untuk meyakinkan setiap orang yang berpikiran jujur dan
jernih. Sebenarnya, fakta-fakta yang Anda beberkan telah masyhur
bagi setiap orang. Namun menakjubkan bagaimana orang-orang
melalaikannya. Saya pikir mereka melakukan hal ini karena mereka
diajarkan keilahian Isa semenjak kecil. Ajaran ini diulang-ulang
di rumah dan di gereja yang tetap lekat dalam ingatan anak-anak;
dan ketika mereka tumbuh dewasa, mereka tumbuh seiring dengan
pikiran mereka. Mereka tidak mempersoalkan masalah ini karena
mengangggap masalah ini sudah seperti ini adanya (taken
for granted). Dari apa yang telah didialogkan selama
ini, telah jelas bagiku pandangan tanpa kompromi Islam ihwal
keesaan Tuhan yang merupakan hal yang sangat rasional. Oleh
karena itu, saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang
Mahakuasa, Esa tanpa sekutu, mitra dan anak.[www.wisdoms4all.com]