|
Pencipta
Semesta
Wilson :
Saya tahu bahwa beriman kepada Tuhan, Sang Pencipta semesta
merupakan hal pertama dan utama dalam keyakinan Islam, dan
bahwa pengingkaran terhadap keberadaan-Nya mengeluarkan
seseorang dari agama Islam. Tapi saya tidak tahu apakah
Islam menawarkan bukti konkrit tentang eksistensi Wujud
Agung atau apakah ia menasihati para pengikutnya untuk
bersandar kepada ayat-ayat otoritatif Qur’an dan
hadis-hadis Nabi. Chirri:
Islam menuntut setiap pengikutnya untuk beriman kepada Tuhan,
Sang Pencipta Semesta, tapi ia tidak menasihatkan mereka
untuk menyandarkan keyakinan tersebut kepada ayat-ayat
Qur’an atau hadis-hadis Nabi Saw. Keyakinan kami kepada
sebuah kitab suci, seperti al-Qur’an, atau kepada seorang
nabi suci, seperti Muhammad, harus didahului oleh keyakinan
kami kepada Tuhan. Sebuah kitab religius adalah suci
lantaran diperkenalkan oleh seorang yang kita pandang
sebagai nabi. Kenabian dapat diterima bilamana ada Tuhan
karena seorang nabi merupakan seorang utusan Tuhan.
Keyakinan kami kepada Tuhan, dengan demikian, harus hadir
sebelum keyakinan kami terhadap sebuah kitab agama atau
seorang nabi, bukan sebaliknya. Tidak ada kitab agama yang
diyakini oleh setiap orang, dan tidak ada nabi yang dikenali
secara universal. Oleh karena itu, akan menjadi sia-sia
bersandar kepada sebuah hadis otoritatif seorang nabi atau
sebuah kitab suci tatkala berurusan dengan seorang atheis
yang menolak seluruh pewahyuan samawi dan mengingkari
seluruh konsep tentang Tuhan.
Wilson:
Apakah harus saya pahami dari komentar Anda bahwa Islam
menawarkan beberapa bukti (argumen) universal untuk menyokong
keberadaan Tuhan yang boleh jadi dipertimbangkan bahkan oleh
mereka yang tidak memeluk satu agama pun, seperti kaum atheis
dan agnostis? Jika ini yang Anda maksud, apa buktinya (argumen)?
Chirri:
Tatkala keyakinan kita kepada Tuhan
mendahului keyakinan keagamaan yang lain, bukti yang
menghasilkan keyakinan semacam ini harus bercorak universal dan
tersedia bagi setiap makhluk rasional, apakah ia mengikuti
sebuah agama tertentu atau tidak. Kitab Suci al-Qur’an
menawarkan semesta sebagai bukti keberadaan Penciptanya. Dunia
material, benda-benda angkasa, bumi, dan planet-planet lainnya,
dipandang oleh Islam sebagai bukti utama Pencipta materi dan
energi. Dunia materi dapat diamati oleh atheis demikian juga
oleh kaum beriman, bagi mereka yang tak terpelajar dan juga bagi
filosof. Seseorang dapat merefleksikan susunan benda-benda
angkasa dan keberadaan materi dan energi tanpa menganut suatu
agama tertentu atau mengenal setiap kitab-kitab agama.
Wilson:
Namun mengapa seseorang harus memandang keberadaan dunia mater
sebagai bukti keberadaan pencipta materi? Anggaplah seseorang
memandang bahwa materi atau energi telah berusia lanjut secara
tak terbatas, dan ia tidak pernah didahului oleh ketiadaan.
Mampukah Anda mematahkan pandangannya?
Chirri :
Sangat sukar diterima gagasan yang menyatakan bahwa materi
berusia lanjut secara tak terbatas. Ketika seseorang berkata
bahwa materi atau energi telah berusia lanjut secara tak
terbatas, ia beranggapan bahwa materi yang darinya miliaran
bintang-bintang tercipta, hadir secara simultan. Tatkala
kita sadari bahwa setiap bintang memuat miliaran ton materi,
dan bahwa keseimbangan materi mentah lebih banyak dari
materi yang terkandung dalam bintang-bintang dan
planet-planet, kita sadari kemustahilan gagasan ini. Kita
tidak dapat menerima bahwa seluruh kuantitas materi ini
hadir dalam sekejap dan tiada satu pun darinya yang
didahului oleh ketiadaan. Ketika Anda berkata bahwa hanya
satu porsi dari materi itu yang berusia lanjut secara tak
terbatas, dan porsi lainnya mewujud pada tingkatan
selanjutnya, artinya Anda menerima kebutuhan pencipta,
karena materi yang tidak hidup tidak berkembang melalui
swa-reproduksi. Hanya makhluk hidup yang mampu memperbanyak
jenis mereka melalui swa-reproduksi. Membolehkan adanya
perkembangan gradual dalam kuantitas materi artinya menerima
kebutuhan terhadap seorang pencipta.
Wilson:
Saya boleh jadi setuju dengan Anda bahwa materi dan energi harus
didahului oleh ketiadaan. Namun hal ini tidak begitu jelas bagi
manusia. Apakah ajaran Islam menyarankan pertimbangan segala
sesuatu dalam tabiat bahwa secara pasti didahului oleh ketiadaan?
Chirri:
Iya, ada sesuatu yang kita ketahui semuanya, dan ia lahir
setelah keberadaan bumi, namanya:kehidupan.
Para ilmuan kita mengatakan bahwa bumi terlalu panas (dan
sebagian dari mereka berkta terlalu dingin) bagi setiap jenis
kehidupan untuk mengada. Bumi memerlukan jutaan tahun lamanya
hingga ia menjadi tempat yang layak untuk kehidupan. Oleh karena
itu, tanpa ragu, kehidupan adalah sebuah kelahiran baru. Ilmu
pengetahuan, bagaimanapun, mengatakan kepada kita bahwa
kehidupan tidak bermula dari non-makhluk hidup. Eksperimen
Pasteur, yang terjadi pada abad kesembilanbelas, masih berlaku
hingga sekarang. Melalui sup yang ia sterilkan, ia membuktikan
tanpa adanya keraguan bahwa kehidupan tidak bermula dari materi
non-animatif (yang tidak hidup). Kaum ilmuan dewasa ini masih
tidak mampu untuk mematahkan kesimpulannya. Bumi, beserta
atmosfirnya, pada saat pembentukannya adalah steril dan tidak
produktif. Transformasi materi-materi yang non-animatif seperti,
karbon, hidrogen, nitrogen, kalsium dan besi, tidak dapat
dilakukan melalui proses natural. Ia harus dilakukan melalui
mukjizat. Hal ini bermakna bahwa keberadaan hidup di atas planet
merupakan bukti yang terang akan keberadaan sosok Cerdas,
Pencipta yang bersifat supernatural.
Wilson:
Anda telah membuatnya jelas. Pada kenyataannya, para ilmuan
selama beberapa dekade telah mencoba tanpa henti untuk
menyingkap misteri kehidupan dan menjelaskan permulaannya pada
planet ini. Namun usaha mereka yang tak kenal lelah sejauh ini
tidak menghasilkan pengetahuan yang bersifat substansial dalam
bidang ini. Keberadaan kehidupan di planet ini, tanpa
disangsikan, sebuah keajaiban besar yang tidak dapat terjadi
tanpa adanya sebab supernatural. Manusia telah banyak menyingkap
rahasia di alam semesta, maju dalam pengetahuan teknis dan
ilmiahnya, dan bahkan telah mendarat di bulan; namun di samping
semua ini, ia masih tidak mampu menghasilkan selembar daun dari
sebuah tanaman atau sebiji benih dari apel.
Kini, saya ingin bertanya apakah al-Qur’an menyebutkan
keberadaan kehidupan di planet kita dalam menyokong
keberadan Tuhan?
Chirri:
Iya, Qur’an menyebutkan transformasi bumi yang tidak hidup
menjadi hidup sebagai sebuah tanda keberadaan Tuhan: “…Dan
suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi
yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari
padanya biji-bijian, Maka daripadanya mereka makan. Dan Kami
jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan
padanya beberapa mata air.” (Qs. Yasin [36]:33-34)
Wilson:
Sejauh ini, Anda telah menjawab banyak pertanyaan penting ihwal
keberadaan Tuhan, namun ada satu lagi pertanyaan penting lainnya
yang Anda tidak singgung: Mengapa kita tidak dapat melihat Tuhan?
Chirri:
Dari diskusi kita yang sebelumnya, telah
menjadi jelas bahwa Pencipta semesta haruslah bersifat Mutlak
dan Tak-terbatas. Dia meliputi seluruh semesta. Dia Mahaberada
dan tidak pernah alpa dari manapun. Dengan ke-Mahaberadaan-Nya,
penampakannya tidak akan membuat kita percaya kepada-Nya atau
mengenal-Nya. Penampakannya akan menjadi sangat merugikan bagi
kita. Sebelum kita mengenal-Nya dengan ke-Mahaberadaan-Nya, kita
akan binasa. Penampakannya akan membutakan seluruh manusia.
Anggaplah bahwa udara (yang wujud hanya pada ruang yang terbatas)
dapat dilihat. Ia akan memiliki warna, dan kita tidak akan
melihat apapun kecuali udara yang telah mengisi seluruh atmosfir.
Sekiranya hal ini terjadi, kita tidak akan mampu mendapatkan
makanan atau minuman, juga tidak akan mampu menemukan jalan atau
perlindungan. Jika penampakan udara yang wujud hanya pada
atmosfir planet kita akan membutakan dan membinasakan, apatah
lagi penampakan Sang Pencipta yang meliputi seluruh alam semesta?
Tatkala memikirkan hal ini, kita sadari bahwa betapa
beruntungnya kita tidak mampu melihat Tuhan, Pencipta kita.
Wilson :
Jika Tuhan tidak dapat dilihat, bagaimana kita dapat yakin
akan keberadaan-Nya? Bagaimana mungkin seorang atheis
percaya kepada Tuhan yang ia tidak lihat?
Chirri:
Untuk meyakini sesuatu, Anda tidak perlu harus melihatnya.
Anda percaya kepada listrik, namun Anda tidak melihatnya. Anda
meyakininya hanya karena Anda melihat produknya seperti cahaya,
panas dan sebagainya. Jika hal ini memadai untuk membuat Anda
menjadi seorang beriman kepada keberadaan listrik, semesta raya
seharusnya memadai bagi setiap manusia untuk percaya kepada
keberadaan Sang Pencipta.
Wilson:
Tolong Anda sebutkan contoh selain listrik.
Chirri:
Eksistensi Anda sendiri merupakan sebuah bukti agung tentang
keberadaan Adam dan Hawa, atau kita katakan dua manusia pertama.
Anda tidak melihat Adam dan Hawa, namun Anda yakin bahwa mereka
pernah ada. Untuk membuatnya lebih jelas: Anda datang melalui
kedua orangtua Anda. Kedua orang tua Anda datang melalui kedua
orang tua mereka, dan kedua orang tua mereka datang melalui
kedua orang tua mereka, dan seterusnya. Anda dapat
melanjutkannya kembali hingga Adam dan Hawa. Jika Anda
mengingkari kedua manusia pertama, Anda akan melenyapkan
generasi pertama dari anak-anak mereka. Dengan menghilangkan
generasi pertama, Anda menghilangkan generasi kedua dan
seterusnya. Dan pada akhirnya, Anda harus melenyapkan kedua
orang tua Anda. Namun Anda berkata kepada diri sendiri: Saya
tidak dapat melakukan hal itu karena saya ada di sini. Oleh
karena itu, Anda harus berkata: Adam dan Hawa dulu ada.
Wilson:
Anda telah membuat persoalan ini menjadi jelas. Kita harus
percaya kepada Tuhan. Namun bagaimana kita dapat percaya bahwa
Dia tidak memiliki permulaan sementara segala sesuatu yang lain
selainnya memiliki permulaan?
Chirri:
Sang Pencipta semesta tidak dapat didahului oleh ketiadaan;
kalau tidak, Dia akan memerlukan tuhan yang lain untuk
menciptakannya; dan tuhan itu, jika ia didahului oleh ketiadaan,
ia akan memerlukan tuhan yang lain dan demikian seterusnya.
Dengan demikian, kita akan memiliki mata rantai yang tak
berujung tanpa mencapai sebuah sebab yang tak bersebab yang
menjadi sumber keberadaan semesta. Lalu kita harus mengingkari
keberadaan semesta. Juga kita harus mengingkari diri kita
sendiri sebagai bagian dari semesta ini.[www.wisdoms4all.com]
Back to Top
|