1.
Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang
itu jadi. Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu
dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. Dan Allah menamai
terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan
jadilah pagi, itulah hari pertama.” (Kejadian, 1 :3-5) Ayat
Kejadian ini menunjukkan bahwa hal pertama yang dicipta adalah
siang dan malam. Namun kita ketahui bahwa siang dan malam dapat
hadir setelah keberadaan matahari dan melalui terbit dan
terbenamnya. Bagaimanapun, ayat 14 dari surah yang sama
mengindikasikan bahwa matahari diciptakan pada hari keempat: “Berfirmanlah Allah: “Jadilah benda-benda penerang pada
cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda
penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap
dan hari-hari serta tahun-tahun. Dan sebagai penerang pada
cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi.” Dan jadilah
demikian. Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar
itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih
kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.
Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi dan
untuk menguasai siang dan malam dan untuk memisahkan terang dari
gelap. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keempat.”
(Kejadian 1:14-19) Redaksi pada ayat ini
menunjukkan bahwa matahari dicipta pada hari keempat, dan dari
sinilah seharusnya hari bermula. Hal ini, tentu saja,
berseberangan dengan ayat 3 yang mengabarkan kepada kita
permulaan hari ketiga tahap sebelum pembentukan matahari.
2. Pada Surah yang sama disebutkan bahwa tumbuh-tumbuhan,
tanaman yang memiliki benih, dan pepohonan yang berbuah
diciptakan dan tumbuh pada hari ketiga: “Dan Tuhan berfirman,
“Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan
yang berbiji, segala jenis pepohonan buah-buahan yang
menghasilkan berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan yang berbiji.
Allah melihatnya semuanya itu baik. Jadilah petang dan jadilah
pagi, itulah hari ketiga.” (Kejadian 1:11-13) Namun kita
tahu bahwa tidak satu pun tumbuh-tumbuhan dan tanam-tanaman ini
dapat tumbuh berkembang tanpa matahari, sementara pada surah
yang sama disebutkan bahwa matahari diciptakan pada hari keempat
sebagaiamana yang disebutkan sebelumnya.
3. Pada surah yang sama disebutkan bahwa Tuhan, pada hari keenam,
menciptakan manusia dalam citra dan rupa-Nya sendiri: “Maka
Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, laki-laki dan
perempuan diciptakan-Nya mereka.” (Kejadian 1: 27) Kaum
Muslimin meyakini bahwa Tuhan tidak memiliki rupa dan bentuk.
Dia adalah tak terbatas Yang meliputi seluruh semesta. Dia tidak
memiliki raga, juga tidak berbentuk materi, juga pandangan tidak
mampu mencerap-Nya. Berpikir bahw Tuhan memiliki bentuk dan rupa
manusia, bagi kaum Muslimin adalah meruntuhkan seluruh tatanan
konsep Ketuhanan.
4. Surah kedua (dari kitab Kejadian) bertolak belakang dengan
surah pertama. Pada surah pertama, sebagaiamana Anda ketahui,
telah disebutkan bahwa tumbuh-tumbuhan dan tanaman serta
pepohonan diciptakan pada hari ketiga, sebelum penciptaan
manusia, yang diciptakan pada hari keenam. Surah kedua
mengatakan bahwa manusia diciptakan sebelum penciptaan
tumbuh-tumbuhan dan tanaman: “Demikianlah riwayat langit dan
bumi pada waktu diciptakan. Ketika Allah menjadikan bumi dan
langit… belum ada semak apapun di bumi, belum timbul
tumbuh-tumbuhan apapun di ilalang, sebab Tuhan Allah belum
menurunkan hujan di bumi, dan belum ada yang mengusahakan tanah
itu; tetapi ada kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi
seluruh permukaan bumi itu. Ketika itulah Tuhan Allah membentuk
manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke
dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang
hidup. Selanjutnya Tuhan Allah membuat taman di Eden; di sebelah
timur; di situlah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu.
Lalu Tuhan Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi,
yang menarik dan yang baik untuk makan buahnya; dan pohon
kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan
tentang yang baik dan yang buruk.”(Kejadian 2:49) Pada ayat
ini disebutkan secara terang bahwa tidak ada tanaman sebelum
penciptaan manusia. Terdapat poin lain dalam ayat ini, yaitu,
adanya pohon pengetahuan ihwal baik dan buruk. Namu yang kita
ketahui bahwa pengetahuan tidak tumbuh di atas pohon; ia
didapatkan melalui pengalaman dan pembelajaran.
5. Pada surah pertama (dari kitab Kejadian) telah disebutkan
bahwa kerajaan binatang diciptakan pada hari kelima: “Dan Tuhan
berfirman, “Hendaklah dalam air berkeriapan makhluk yang hidup,
dan hendaklah burung berterbangan di atas bumi melintasi
cakrawala.” Maka Allah menciptakan binatang-binatang laut yang
besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak, yang
berkeriapan dalam air, dan segala jenis burung yang bersayap.
Allah melihat semuanya itu baik. Lalu Allah memberkati semuanya
itu, firman-Nya: “Berkembangbiaklah dan bertambah banyaklah
serta penuhilah air dalam laut, dan hendaklah burung-burung di
bumi bertambah banyak. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah
hari kelima. Berfirmanlah Allah: “Baiklah kita menjadikan
segala jenis binatang liar dan segala jenis ternak dan binatang
melata dan segala jenis binatang melata di muka bumi. Allah
melihat bahwa semuanya baik. Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita
menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka
berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan
atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang
melata yang merayap di bumi.” (Kejadian 1:20-26) Ayat ini
secara jelas menunjukkan bahwa manusia diciptakan setelah
penciptaan ikan, burung-burung, binatang liar dan melata, namun
pada surah kedua disebutkan bahwa manusia diciptakan sebelum
penciptaan makhluk tersebut: “Tuhan Allah berfirman: “Tidak
baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan
penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Lalu Tuhan Allah
membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di
udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat,
bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia
itu kepada tiap-tiap makhluk hidup, demikianlah nanti nama
makhluk hidup itu.” (Kejadian 2:18-19)
6. Kita jumpai pada surah ketiga kitab Kejadian bahwa Hawa
dikecoh oleh ular yang membujuknya untuk memakan pohon terlarang:
“Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah
berfirman, “Semua pohon dalam taman ini jangan kamu memakan
buahnya, bukan? ….Namun ular itu berkata kepada perempuan itu:
“Sekali-kali kamu tidak akan mati. Tetapi Allah mengetahui,
bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu
akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang
jahat.” (Kejadian 3:1-5) Tapi kita tahu bahwa seekor ular
tidak mampu berbicara, mengecoh atau membujuk. Seekor ular tidak
dianugerahi kemampuan mental atau mengucapkan kata-kata dan
bercakap-cakap.
7. Pada surah yang sama kita jumpai hal yang menunjukkan
keterbatasan pengetahuan Tuhan, dan Dia adalah raga yang
berjalan dan bahwa Adam dan Hawa mampu bersembunyi dari-Nya:“Dan
ketika mereka mendengar suara langkah Tuhan, yang berjalan-jalan
dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia
dan isterinya itu dari Tuhan Allah di antara pepohonan dan taman.
Tetapi Tuhan Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya,
“Dimanakah engkau?” Ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa
Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku
telanjang; sebab itu aku bersembunyi.” Firman-Nya, “Siapakah
yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah
engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?”
(Kejadian 3:8-11) Tiada satu pun yang tersembunyi dari Tuhan
yang Mahahadir dan Mahatahu segala sesuatu. Tuhan tidak perlu
bertanya kepada Adam dimana gerangan ia berada dan juga tidak
perlu bertanya apakah ia telah memakan pohon itu.[www.wisdoms4all.com]
Back to Top