Wilson
Sejarah menunjukkan bahwa Islam tersebar pada masa-masa
awalnya di belahan dunia Asia, Afrika dan Eropa dengan
sangat cepat. Barangkali tidak ada agama yang tersebar di
seluruh penjuru dunia dengan sangat cepat dan pesat
sebagaimana Islam. Pasti terdapat faktor-faktor tertentu
dalam Islam yang menyebabkan perkembangan pesatnya dan
membuatnya sedemikian fenomenal. Saya ingin tahu
faktor-faktor tersebut yang memberikan kontribusi terhadap
perkembangan pesat itu.
Chirri:
Terdapat banyak faktor yang memberikan kontribusi, dan masih
memberikan kontribusi bagi penyebaran Islam. Di antara
faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:
1.
Kitab Suci Al-Qur'an
Merupakan sebuah kenyataan yang tidak dapat
dinafikan bahwa Qur'an merupakan sebuah kitab hidup yang
telah mempengaruhi jutaan manusia melalui keindahan dan
pesonanya. Ketinggian wacana Qur'an melemparkan tantangan
dan bahkan masih melemparkan tantangan. Qur'an sendiri
menyeru orang-orang yang menentangnya untuk mengajukan
sebuah wacana yang dapat menandingi wacana yang ia
sampaikannya.
Al-Qur'an berulang kali menyatakan bahwa jika
orang-orang yang menentangnya dapat menyuguhkan wacana yang
sebanding dengan kandungan al-Qur'an, mereka secara otomatis
telah menggugurkan seluruh tatanan keyakinan Islam. Qur'an
masih tetap bertengger di atas dan di atas seluruh
perbandingan literatur Arab semenjak pewahyuannya pada abad
ketujuh. Dengan demikian, Kitab Suci al-Qur'an masih tetap
bertahan semenjak awal diperkenalkannya hingga sekarang
menjadi sumber atraktif bagi keyakinan Islam.
2.
Pesona Pribadi Nabi Muhammad Saw
Muhammad lahir di bawah pendar cahaya sejarah.
Tidak ada awan yang menyelimuti kelahiran, keberadaan dan
hidupnya di antara bangsanya. Jika para nabi yang lain
dipandang sebagai bagian dari sejarah agama, Muhammad
merupakan bagian dari keduanya, sejarah agama dan dunia.
Muhammad lahir di Mekkah dari seorang ayah
dan ibu yang terkenal dan hidup dengan bangsanya selama
empat puluh tahun sebelum ia terlantik sebagai seorang Nabi
Allah. Ia disaksikan oleh bangsanya selama masa kecil dan
dewasanya. Ia diperhatikan oleh seluruh kerabatnya sebagai
seorang teladan dalam kejujuran dan integritas. Masyarakat
Arab tidak pernah mendapatkannya berbuat salah. Mereka
memanggilnya al-Amin, orang yang terpercaya.
Muhammad tidak hidup sebagai seorang yang
terasing. Sebaliknya, ia senantiasa bergaul dengan
masyarakat. Sebagai seorang peniaga, Muhammad mengadakan
perjalanan dan bergaul dengan masyarakat dari seluruh
lapisan, namun ia tidak pernah terpengaruh oleh nafsu rendah
dan ambisi duniawi mereka. Ia hidup di tengah masyarakat
kafir, yang didominasi oleh para penyembah berhala, namun ia
tidak pernah tunduk terhadap pemikiran mereka, juga tidak
toleran dengan mereka dalam keimanan. Ia hidup di dunia itu
sebagai sebuah dunia bagi dirinya. Ia dihormati oleh
musuh-musuhnya dan dipuja oleh sahabatnya, dan tidak ada
nabi dalam sejarah yang menerima ketaatan secara spontan
oleh sahabat-sahabatnya sebagaimana yang diterima oleh
Muhammad.
3 .
Kekuatan Iman Kaum Muslimin Pada Masa-Masa Awal
Berkat kejujuran dan pengaruh pribadi
Muhammad yang mempesona, iman para sahabatnya kepadanya luar
biasa kuat. Hal ini bersandar kepada perkenalan pertama
mereka dengan kehidupannya yang menjadi teladan.
Disebutkan bahwa para pengikut Musa menolak
memasuki Yerusalem tatkala diperintahkan kepada mereka untuk
melakukan hal tersebut dan berkata kepadanya bahwa ia dan
Tuhannya yang harus memasuki kota itu dan berperang dengan
musuh. Disebutkan bahwa banyak orang yang berkumpul di
sekeliling Isa meninggalkannya tatkala kesusahan datang
menerjang. Bahkan murid-muridnya sendiri yang
meninggalkannya. Murid utamanya mengingkarinya selama tiga
kali sebelum fajar menyingsing pada malam yang amat
menentukan itu. Keadaan yang sama terjadi pada hampir
kebanyakan para nabi. Tidak ada seorang pun dari mereka yang
mendapatkan sokongan sejati dari para pengikut mereka ketika
mereka menghadapi musibah dan petaka.
Para sahabat Muhammad, bagaimanapun, adalah
berbeda dengan para sahabat nabi-nabi sebelumnya. Tatkala
Muhammad berada di Mekkah, ia dan ratusan pengikutnya tidak
berdaya dan tanpa perlindungan hukum. Semuanya berdiri di
hadapan ujian musibah, dan tidak ada seorang pun yang
menanggalkan imannya kepada Sang Nabi. Tindakan dan
perbuatan kaum Muslimin ini membuktikan iman mereka kepada
Islam dan Nabi Saw. Kesemuanya mendakwahkan Islam dan
mengamalkan apa yang mereka dakwahkan, dan setiap Muslim
yang asli memberikan iman mereka sebagai sokongan asli dalam
ucapan dan perbuatan.
4.
Ajaran Islam Merupakan Sumber Ketertarikan Lantaran Ajaran
Tersebut Adalah Ajaran Logis Dan Jelas
Dengan pemikiran serius, seseorang dapat
dengan mudah menerima ajaran agama yang mendeklarasikan hal
berikut ini: Tiada Tuhan selain Allah Yang menciptakan
seluruh semesta; Tiada yang patut disembah selain-Nya;
Dialah satu-satunya Tuhan, tanpa sekutu, mitra atau anak;
Dia tidak beranak juga tidak diperanakkan dan tiada yang
menyerupai-Nya; Dialah yang Mahaadil, Mahapengasih, dan
Mahakuasa, tidak bersifat fisikal atau antropomorpis;
kekuasaan-Nya meliputi seluruh semesta.
Monotheisme sederhana dan tanpa kompromi
semacam ini dapat diterima oleh akal sehat manusia yang
mencari sebuah penjelasan bagi keberadaan dunia ini. Ia
tidak membingungkan pikiran manusia dengan mengatakan bahwa
Tuhan adalah Esa dan Dia pada saat yang sama, lebih dari
satu. Juga tidak mencitrakan Tuhan sebagai manusia yang
lahir dari manusia lainnya.
5.
Ajaran Islam Merupakan Ajaran Yang Konsisten Dan Kohesif
Ajaran Islam tidak bertentangan satu dengan
yang lain, dan juga tidak kontradiksi dengan kebenaran yang
lain. Ajaran Kristen, Yahudi dan Islam mengajarkan keadilan
Tuhan. Islam, betapapun, memegang konsep fundamental ini dan
mengamalkannya secara keseluruhan. Konsep ini membangun
konsep-konsep keagamaan lainnya yang mengikuti konsep
keadilan. Tatkala Tuhan adalah adil dan bijaksana, Dia tidak
memaksakan setiap jiwa untuk melakukan sesuatu yang berada
di luar kemampuannya. Islam mengajarkan kita juga bahwa Sang
Mahaadil tidak membebankan tanggung jawab kepada setiap
orang atas apa yang ia lakukan kecuali ia lakukan dengan
ikhtiar. Dia tidak membebani seseorang dengan tanggung jawab
atas dosa yang dilakukan oleh orang tuanya atau kakek
buyutnya lantaran ia tidak memiliki kendali atas perbuatan
mereka.
Islam mengajarkan kepada kita bahwa karena
Tuhan tidak membebankan seseorang tanggung jawab atas apa
yang dilakukan oleh ayahnya, Dia tidak mencela seluruh umat
manusia lantaran sebuah dosa yang dikerjakan sebelum
keberadaan generasi umat manusia. Celaan semacam ini adalah
bertentangan dengan konsep keadilan Ilahi. Alih-alih
membebani manusia dengan dosa warisan, Islam mengajarkan
bahwa setiap manusia lahir dalam keadaan suci dan kudus dari
segala bentuk dosa, akan berlaku demikian, hingga ia
mengerjakan dosa sebagai seorang dewasa.
6.
Ajaran Islam Memiliki Sikap Positif Terhadap Seluruh Aspek
Kehidupan Manusia
Islam, tidak seperti agama lainnya,
menekankan pentingnya aspek spiritual dan material kehidupan
manusia. Tuhan, menurut Islam, tidak menghendaki manusia
melupakan kebutuhan biologisnya, juga tidak menginginkan
adanya konflik intrinsik antara tanggapan kita terhadap
kebutuhan ini dan pertumbuhan spiritual kita. Sebaliknya,
kedua sisi masing-masing saling bergantung satu dengan yang
lainnya. Keduanya berhimpun satu dengan yang lain dan dapat
disatukan dalam kebanyakan kegiatan manusia. Seorang manusia
yang kekurangan kebutuhan makanan, kehangatan, perlindungan,
dan melakukan meditasi, mengerjakan tugas-tugas ibadah, atau
mengerjakan kebaikan kepada manusia lainnya. Namun, tatkala
kebutuhan tersebut terpuaskan, manusia dapat dengan mudah
mengarahkan dirinya secara langsung kepada Tuhannya.
Oleh karena itu, pekerjaan yang diniatkan
dengan baik untuk memenuhi kebutuhan ragawinya menjadi
sebuah porsi dalam tugas keagamaan kita. Agama, menurut
ajaran Islam, tidak bermaksud untuk menekan nafsu-nafsu
biologis; agama bermaksud untuk membina nafsu-nafsu biologis
tersebut dan mencegah setiap orang untuk berlaku ekstrim dan
merugikan dirinya sendiri atau masyarakatnya.
7.
Ajaran Islam Merupakan Ajaran Universal
Universalitas ajaran Islam dapat terlihat
dari ajarannya yang tak memandang bulu dan berlaku
diskriminatif terhadap umat manusia, dan ia mengakui seluruh
nabi-nabi sebelumnya.
Semenjak kedatangannya, Islam telah membawa
merek universalitas. Ia mengalamatkan dirinya kepada seluruh
umat manusia, tidak memandang bulu di antara seluruh bangsa
dan kelompok etnis. Setiap umat manusia merupakan sebuah
anggota dari sebuah keluarga besar. Tidak ada seorang invidu
atau bangsa yang merupakan pilihan Tuhan atau ciptaan
favorit karena kelahirann, kebangsaan, atau keyakinan
terhadap sebuah dogma tertentu. Manusia adalah sama dan
setara di hadapan Tuhan, dan setiap orang memiliki akses
terhadap kerajaan Tuhan, jika ia merupakan seorang yang
benar.
Sebuah kebenaran tidak pernah bertentangan
dengan kebenaran yang lain. Oleh karena itu, Islam
memproklamirkan bahwa hanya ada satu agama samawi yang telah
diwahyukan pada waktu yang berbeda kepada para nabi yang
ditugaskan oleh Tuhan untuk menyampaikan risalah kepada umat
manusia. Merupakan sebuah hal yang tidak dapat diterima
bahwa Tuhan akan mewahyukan sebuah doktrin tertentu kepada
seorang rasul atau nabi dan kemudian mewahyukan ajaran yang
lain kepada nabi yang lain yang menentang ajaran sebelumnya.
Tuhan telah mewahyukan ajaran samawi-Nya, perintah-perintah
dan hukum pada tingkatan peradaban yang berbeda sesuai
dengan kapasitas pemahaman dan pemikiran manusia. Pewahyuan
berikutnya merupakan pelengkap, dan tidak menentang
pewahyuan sebelumnya. Oleh karena itu, Islam berkata bahwa
merupakan tugas setiap Muslimin untuk mengenal dan
menghormati Isa, Musa dan seluruh nabi-nabi dan
ajaran-ajarannya yang benar. Hal ini secara berulang terekam
dalam al-Qur'an, "Katakanlah (hai orang-orang mukmin): "Kami
beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada Kami,
dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq,
Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa
dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari
Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara
mereka dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya". (Qs. al-Baqarah
[2]:136)
Kaum Krisitian yang bersinggungan dengan
kaum Muslimin pada masa-masa awal kedatangan Islam
menyaksikan penghormatan kaum Muslimin terhadap Nabi Isa.
Sebagai hasilnya, jutaan dari mereka memeluk Islam, bukan
karena mereka meninggalkan ajaran Isa, namun karena mereka
menghendaki tetap melanjutkan ketaatan mereka terhadap
ajarannya yang benar secara lekat dalam ajaran Islam.
Wilson
Apakah Islam menganjurkan pengutusan
misionaris untuk mengislamkan orang-orang non-Muslim
sebagaimana yang dilakukan dan dipraktikkan dalam ajaran
Kristen selama ini?
Chirri:
Islam, sebagaimana Kristen, mengajak
orang-orang kepada ajarannya dan menyeru kepada non-Muslim
untuk bergabung dengan para pengikutnya. Namun, Islam tidak
pernah mengorganisir misi-misi seperti yang dilakukan oleh
Kristen. Manakala seorang non-Muslim menunjukkan
ketertarikan untuk mengkaji Islam, merupakan tugas setiap
Muslim untuk memberi tahu ihwal Islam kepadanya. Pekerjaan
semacam ini, bagaimanapun, adalah jauh dari misi yang
terorganisir.
Ketiadaan ulama Islam merupakan salah satu
sebab ketiadaan misi yang terorganisir ketika dibandingkan
dengan Kristen. Faktor lain adalah bahwa sekelompok besar
kaum Muslimin cenderung meyakini bahwa Islam akan tersebar
tanpa misionaris. Kecendrungan ini merupakan sebuah hasil
dari ragam prestasi spektakuler yang dicapai oleh Islam
tanpa usaha dan kerja keras dari kaum Muslimin.
Jutaan orang di berbagai negara memeluk
Islam, bukan melalui misi yang terorganisir, tapi melalui
kontak mereka dengan beberapa Muslim yang meninggalkan kesan
terhadapnya dengan integritas dan kebenaran ajarannya.
Orang-orang Muslim yang menanamkan gagasan iman mereka
terhadap yang lain, bukan karena mereka diutus oleh beberapa
lembaga berpengaruh sebagai misionaris, tapi karena mereka
percaya bahwa Islam merupakan urusan setiap Muslimin.
Berapa kali, saya mengadakan muhibah ke
Afrika Barat. Saya jumpai banyak misionaris Kristen di
belahan dunia tersebut, namun saya tidak melihat adanya misi
kaum Muslimin yang terorganisir. Kendati demikian, hasil
pendapat dalam lingkaran ini mengabarkan bahwa Islam lebih
berkembang dengan pesat daripada Kristen di daerah tersebut.
Wilson
Apakah Anda memiliki data ihwal jumlah
misionaris Kristen di seluruh dunia?
Chirri:
Jumlah misionaris Kristen di seluruh dunia (menurut harian
Detroit News yang terbit hari Minggu, April 2, 1961) adalah
212,250. Angka ini termasuk 170.000 misionaris Katolik dan
42,250 misionaris Protestan. (Coba Anda bayangkan dialog
ini terjadi empat puluh lima tahun yang lalu, sekarang pasti
lebih banyak dan lebih besar jumlahnya, red). Serdadu besar
misionaris ini didukung oleh ribuan organisasi keagamaan
yang menghabiskan triliunan Dolar setiap tahunnya untuk
pelaksanaan misi ini. Dibandingkan dengan kenyataan ini,
kaum Muslimin memiliki sentral-sentral penerangan yang di
seluruh dunia tidak mencapai ribuan jumlahnya.
Sentral-sentral ini tidak menikmati dukungan finansial
sebagaimana yang diterima oleh misionaris Kristen. Juga
tidak bermaksud untuk mengganti agama orang lain. Pekerjaan
mereka hanyalah memberikan informasi, dalam keterbatasan
mereka, kepada mereka yang mencari informasi tentang Islam.
Wilson
Beberapa orang menisbahkan bahwa penyebaran Islam terlaksana
berkat kelonggarannya. Mereka berpikir bahwa Islam tidak
banyak menuntut para pengikutnya sebagaimana agama yang lain
seperti Kristen. Apa komentar Anda?
Chirri:
Saya pikir gagasan ini tidak benar. Islam menuntut lebih
dari para pengikutnya daripada agama-agama lain. Islam
menuntut kaum Muslimin untuk beribadah sebanyak lima kali
sehari: sebelum fajar, tengah hari, petang dan senja dan
malam hari. Islam meminta kaum Muslimin untuk berpuasa 30
puluh hari berturut-turut selama bulan Ramadhan. Seorang
yang berpuasa diminta untuk tidak makan, minum dan merokok
semenjak waktu subuh hingga matahari tenggelam. Islam
meminta setiap orang dewasa yang mampu secara fisikal dan
finansial untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah dan seluruh
tempat suci di dalamnya dan sekitarnya, dimana manusia
meninggalkan seluruh kemewahan dan harta benda duniawi
termasuk pakaian yang terjahit untuk beberapa waktu tertentu.
Islam juga meminta setiap Muslim untuk
memberikan sebagian harta kekayaannya setiap tahun untuk ia
dermakan. Ia mengharamkan minuman keras dan babi. Tidak ada
satu pun dari aturan ini yang mudah, dan tidak ada yang
menunjukkan bahwa adanya kelonggaran dalam ajaran Islam.
Juga tidak ada kelonggaran dalam tuntutannya terhadap
pengikutnya untuk melayani yang lain dengan sebuah perlakuan
yang penuh persaudaraan, melindungi martabatnya dan
mencegahnya dari perkataan yang dapat menyingkap
keburukannya, bahkan pada mereka yang melakukan keburukan
terhadapnya.
Wilson
Beberapa orang mengkritisi bahwa Islam menjanjikan kaum
Muslimin yang berbuat baik firdaus yang di dalamnya mereka
akan mendapatkan kesenangan segala sesuatu yang mereka
senangi. Para pengkritik ini berpikir bahwa Islam melebihi
Kristen dalam mengumbar janji, dan dengan demikian, menarik
orang-orang dengan janjinya.
Chirri:
Sebuah janji menjadi atraktif hanya jika berasal dari sebuah
sumber yang terpercaya. Jika sebuah perusahaan yang memiliki
reputasi menawarkan seseorang dengan sebuah pekerjaan yang
bergaji lumayan besar, ia akan senang menerima posisi
tersebut. Di sisi lain, jika orang yang sama ditawari sebuah
kedudukan dari sebuah perusahaan yang tidak dapat dipercaya
atau sebuah perusahaan yang menderita kepailitan, ia pasti
menolak tawaran tersebut lantaran ia tidak akan memiliki
kepercayaan dalam reliabilitas keuangan perusahaan.
Sama halnya, saya pikir bahwa sebuah
pergantian agama tidak akan menunaikan sedemikian banyak
tugas agama dan meninggalkan banyak hal yang disenangi demi
segepok janji jika ia tidak memiliki kepercayaan terhadap
Islam. Bukan janji yang menarik jika ditawarkan oleh sebuah
sumber yang tidak dapat dipercaya. Menariknya sebuah janji
merupakan sebuah hasil dari kepercayaan. Iman terhadap
Islam, oleh karena itu, mendahului menariknya sebuah janji,
bukan sebaliknya.
Wilson
Sejarah menunjukkan bahwa kaum Muslimin pada masa-masa awal
merupakan serdadu dan orang-orang yang militan. Banyak
konflik bersenjata yang terjadi antara kaum Muslimin dan
non-Muslim di Suriah, Mesir, Afrika Utara, Spanyol dan
banyak tempat lainnya. Beberapa orang melontarkan kritik
bahwa Islam disebarkan dengan kekuatan, bukan dengan dakwah
dan diskusi.
Chirri:
Kekuatan boleh jadi menundukkan raga,
tapi ia tidak mampu menjinakkan jiwa. Anda dapat menundukkan
seseorang atau sebuah komunitas dengan menggunakan kekuataan,
tapi Anda tidak dapat membuatnya percaya bahwa Anda benar.
Orang-orang Aljazair yang dikuasai oleh penjajah Prancis
selama ratusan tahun, tapi tidak membuat mereka mencintai
kaum penguasa. Segera setelah mereka mendapatkan kesempatan,
mereka angkat senjata melawan tuan mereka dan mengenyahkan
penindasan yang dilakukan oleh bangsa penjajah.
Merupakan sebuah hal yang tidak logis untuk
diyakini bahwa Islam tersebar dengan kekuatan. Muhammad,
sebagai seorang pribadi, tidak dapat memaksa ribuan atau
ratusan orang untuk memeluk agama yang ia yakini. Sejarah
membuktikan bahwa Muhamamad hidup selama 13 tahun di Mekah
setelah memproklamasikan iman yang ia yakini, ia senantiasa
mendapat ancaman dari musuh-musuhnya yang merupakan
mayoritas penduduk Mekah. Setiap orang yang ingin masuk
Islam didera, diancam dan dianiaya oleh penduduk Mekah; dan
kendati demikian, jumlah populasi kaum Muslimin naik secara
mantap. Dapatkah kita menerima bahwa Muhammad di bawah
keadaan seperti ini dapat merubah agama seseorang dengan
kekuatan sementara ia sendiri merupakan sasaran penganiayaan?
Pada tingkatan berikutnya, kaum Muslimin
telah menjadi kekuatan yang diperhitungkan untuk berperang
melawan musuh-musuh mereka; dan sejarah menunjukkan bahwa
mereka berjuang demi membela Islam. Tapi hal ini tidak
bermakna bahwa Islam telah merubah agama seseorang dengan
kekuataan dan paksaan. Kini terdapat lebih 100 juta kaum
Muslimin di Indonesia dan jutaan lainnya di Afrika Barat.
Keseluruh jumlah populasi yang mencapai jutaan ini menjadi
pemeluk Islam melalui kontak dan hubungan damai antara kaum
Muslimin yang datang ke daerah-daerah ini sebagai peniaga
atau pengajar.
Bagaimanapun, tidak ada alasan untuk
mengingkari bahwa kaum Muslimin merupakan orang-orang
militan. Kaum Muslimin sebenarnya merupakan pembela yang
baik atas kebebasan mereka yang miliki. Kita tahu bahwa
tidak ada ideologi akan tersebar atau hidup pada sebuah
komunitas yang tidak bebas. Kebebasan beriman, beramal dan
berbicara adalah diperlukan untuk pertumbuhan dan
perkembangan setiap ideologi. Tiadanya sebuah perlindungan
konstitusional bagi kebebasan, akan menjadi tugas
orang-orang yang menganut ideologi untuk melindungi dan
mengamankan kebebasan yang mereka punyai. Jika hal ini tidak
dapat dijadikan sebagai justifikasi kekuatan kaum Muslimin
pada masa-masa awal, maka tidak ada jalan untuk
menjustifikasi kekuatan militer setiap bangsa pada masa kini
yang bangkit dan angkat senjata untuk membela kebebasan dan
kedaulatannya tatkala mendapat ancaman dari musuh-musuhnya.[www.wisdoms4all.com]