Wilson:
Beberapa agama melarang adanya sikap kritis dan gemar bertanya berkenaan
dengan ajaran agama mereka. Mereka menganjurkan kepada para pengikutnya
untuk mengikuti instruksi-instruksi mereka tanpa pengujian dan
pengkajian. Mereka menuntut iman dan melarang mereka untuk bergaul
dengan orang yang memeluk agama lain yang boleh jadi menuntunnya kepada
keraguan. Bagaimana sikap Islam terhadap pertanyaan yang tertuju kepada
ajaranya dan membandingkan ajarannya dengan keyakinan yang lain
Chirri:
Islam sangat liberal dan free dalam masalah ini. Ia boleh
jadi menuntut seseorang untuk beriman kepada ajaran-ajaran
tertentu, namun pada saat yang sama ia menasihatinya untuk
mencoba membangun keyakinannya berdasarkan dalil dan argumen.
Islam memberinya kebebasan untuk mengajukan pertanyaan dan tidak
mencelanya ketika ia memiliki keraguan, jika keraguannya diikuti
oleh usaha intensif untuk menemukan kebenaran. Jika agama
lainnya menasihatkan pengikutnya untuk menghindari diskusi ihwal
masalah-masalah prinsipil selain darinya dan membuatnya takut
bahwa ia telah memprovokasi murka Tuhan dengan melakukan hal
tersebut, Islam membuat orang merasa aman dari murka Tuhan jika
ia menindaklanjuti penelitiannya mencari kebenaran.
Pada kenyataannya, Islam tidak pernah menasihatkan orang untuk
menghindari diskusi yang menuntun kepada pengetahuan baru dan
sebuah penemuan baru tentang kebenaran. Tapi jangan takut, Islam
menganjurkan untuk mendiskusikan setiap prinsip-prinsip ajaran
agama, apakah itu ajaran Islam atau non-Islam. Tidak pernah
merasa risau dan kuatir akan murka Tuhan lantaran Dia merupakan
Tuhan kebenaran. Sebaliknya, semakin orang mencari kebenaran
dan melakukan penelitian intensif, semakin banyak ganjaran yang
ia dapatkan dari Tuhan menurut pandangan Islam. Dalam pandangan Islam, ganjaran yang paling bernilai dan sikap
yang paling berharga, adalah melakukan pendekatan terhadap
isu-isu keagamaan dengan semangat dan spirit seorang ilmuan dan
saintis yang menyambut setiap dalil yang dapat membuktikan atau
membatalkan teorinya (atau teori yang ia dapatkan
Wilson: Apakah Islam memiliki aturan spesifik atau anjuran berkenaan
dengan riset dan pengkajian agama?
Chirri: Ada beberapa aturan tertentu yang tercantum dalam al-Qur'an yang
harus digunakan dalam riset agama demi terjaminnya setiap
kesimpulan yang boleh jadi dicapai.
1. Tidak dibenarkan memeluk sebuah doktrin ketika dalil dan
argumen telah dibangun yang berseberangan dengan doktrin
tersebut, dan tidak dibenarkan mengikuti sebuah prinsip tanpa
adanya dalil.
Jika Tuhan menghendaki seseorang untuk beriman kepada sebuah
doktrin, Dia membuatnya jelas dan berdalil. Dia adalah Mahaadil
lagi Bijaksana. Dia mengetahui bahwa keyakinan dan iman bukan
merupakan sebuah hal yang bersifat dipaksakan. Seseorang tidak
dapat meyakini atau mengingkari segala sesuatu yang ia tidak
pilih. Raga manusia berada di bawah kontrol perintah tapi
jiwanya tidak demikian. Saya menaati sebuah titah yang
memerintahkan untuk menggerakkan tanganku ke atas dan ke bawah,
berjalan atau duduk, bahkan jika perintah tersebut nampaknya
tidak bijaksana. Namun saya tidak dapat menaati sebuah perintah,
misalnya, yang menitahkan aku bahwa dua kali dua sama dengan
lima, atau angka tiga merupakan angka satu, atau api itu dingin
atau salju itu panas. Pengetahuan manusiawi kita datang dari dalil langsung dan tidak
langsung, dan ia tidak mengikuti kehendak dan kemauan kita
sendiri. Keyakinan dan iman yang dapat diterima haruslah
berdasarkan kepada ilmu pengetahuan. Ketika Tuhan menghendaki
aku untuk mengetahui sesuatu, Dia membuat ilmu tersebut mungkin
bagiku dengan menyediakan petunjuk dan jalan untuknya. Jika Dia
menuntut aku untuk meyakini sesuatu sementara ada dalil yang
bertentangan dengannya, Dia memintaku untuk melakukan sesuatu
yang mustahil. Dan hal ini berseberangan dengan keadilan-Nya. Islam tidak pernah mencela seseorang apabila ia tidak meyakini
sebuah ajaran lantaran kurangya dalil; sebaliknya, Islam mencela
seseorang ketika ia mengikuti sebuah ajaran sementara ia
meraba-raba dalam kegelapan tanpa adanya petunjuk yang
menerangi, atau apabila ajaran tersebut tidak sesuai dengan
kebenaran.
Mengikuti sebuah ajaran yang bertetangan dengan petunjuk, atau
kurangnya dalil, adalah ibarat sebuah pengadilan mahkamah yang
memutuskan perkara ke atas terdakwa tanpa adanya bukti. Sikap
semacam ini bukan merupakan sebuah perbuatan terpuji. Al-Qur'an
menegaskan:
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai
pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan
dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya."
(Qs. al-Isra' [17]:36)
2. Tidak pernah menerima populeritas secara lahir. Seorang
periset dalam bidang agama tidak dibenarkan menerima populeritas
sebuah doktrin agama dalam masyarakatnya sebagai sebuah bukti
atas kebenarannya. Banyak ide dan gagasan populer yang terbukti
kesalahannya. Pada suatu waktu, diyakini bahwa bumi ini datar
dan matahari yang mengelilingi bumi. Orang-orang meyakini
masalah ini selama ribuan tahun, tetapi kita ketahui bahwa tidak
satupun ide dan gagasan ini yang benar. Terlebih, apa yang populer pada suatu komunitas belum tentu
populer di komunitas lain. Kebalikannya juga benar. Jika
populeritas merupakan simbol kebenaran, seluruh ide yang populer
yang bertentangan satu sama lain akan menjadi benar, namun
kebenaran tidak pernah bertentangan dengan dirinya.
Tatlkala nabi pertama datang untuk memproklamasikan konsep
tauhid (keesaan Tuhan), risalahnya tidak populer di setiap
masyarakat lantaran masyarakat dunia ketika itu adalah kafir
dan musyrik. Tidak populernya risalah Ilahi seperti itu tidak
mencegah risalah itu dari kebenarannya. Pada kenyataannya,
seluruh nabi datang ke masyarakatnya dengan risalah-risalah yang
tidak populer. Maksud mereka adalah mengoreksi hal-hal yang
keliru dan bersifat populer dan menggantinya dengan kebenaran
yang bersifat tidak populer. Al-Qur'an menandaskan,
"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi
ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka
tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka
tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).
(Qs. al-An'am [6]:116)
3. Ajaran-ajaran agama yang bersifat warisan harus dikaji. Islam
menganjurkan setiap orang dewasa untuk mengkaji agama yang ia
warisi dari orang tuanya. Agama yang diwariskan, seperti agama
yang lain, harus dibuktikan dengan dalil dan argumen. Seseorang dapat bersandar kepada penilaian orang tuanya selama
ia masih kecil dan tidak mampu mengambil keputusan sendiri.
Tatkala ia mencapai masa dewasa, agamanya menjadi tanggung
jawabnya sendiri. Santun dan hormat kepada orang tua merupakan
salah satu perintah Islam, namun hal itu tidak berarti menerima
pendapat mereka dalam suatu perkara penting seperti agama jika
pendapat mereka merupakan pendapat keliru.
Sebenarnya, ketika orang tua memeluk sebuah ajaran agama yang
salah dan menuntut anak-anaknya untuk mengikuti mereka, mereka
tidak boleh ditaati lantaran tindakan tersebut bertentangan
dengan kehendak Tuhan; artinya, jika seseorang menaati orang
tuanya ketika mereka melakukan kesalahan, ia telah membangkang
perintah Tuhan. Senada dengan hal ini, al-Qur'an berkata,
"Dan
Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua
orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan
lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.
bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang ibu bapakmu, hanya
kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk
mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu
tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan
pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan
orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah
kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu
kerjakan.
(Qs. Luqman [31]:14-15)
Islam memerintahkan setiap orang untuk menguji ajarannya
sebagaimana ia memerintahkan setiap orang untuk mengkaji dan
menguji ajaran lain. Dengan demikian, seseorang dapat menilai
Islam lebih dari yang sebelumnya.
4. Tidak dibenarkan adanya keragu-raguan pada diri seseorang.
Ketika seseorang tidak komitmen terhadap satu agama dan
meragukan seluruh konsep agama, ia tidak boleh puas dengan
keraguannya. Adalah tugasnya melindungi dirinya dan kepentingan
vitalnya di dunia ini dari segala bentuk musibah dan petaka.
Sama saja, ia memiliki tanggung jawab dan tugas yang sama dalam
melindungi kepentingan spiritual dari kerusakan. Pencarian
seriusnya tentang apa yang menimpa atas kehidupan spritualnya
sama pentingnya dengan pencariannya terhadap apa yang menimpa
kehidupan fisikalnya. Supaya seseorang menunaikan tanggun jawab
dan mengerjakan tugasnya, diwajibkan baginya untuk mencari, dan
mencari secara serius tentang keraguan yang ia miliki tentang
agamanya. Barangkali terdapat banyak fakta-fakta yang dapat
diakses dalam wilayah keraguan; oleh karena itu, ia harus
menemukannya. Ketika ia melakukan riset dan berupaya sekuat
tenaga lalu gagal menemukan kebenaran, ia akan diampuni di
hadapan Tuhan. Tuhan meminta setiap orang untuk melakukan apa
yang dapat mereka lakukan. Al-Qur'an menyatakan,
"Allah
tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang
diusahakannya."
(Qs. al-Baqarah [2]:286)
5. Ketika Anda melakukan riset agama, jangan biarkan orang lain
memutuskan sesuatu untuk Anda. Jangan bersandar kepada
peniliaian setiap orang, meski ia merupakan seorang tulus dan
cerdik cendikia.
Di setiap keyakinan terdapat beberapa guru yang tulus dan
cendikia. Jika seseorang membolehkannya untuk membuat keputusan
tentang agama baginya, ia akan terbiasi lantaran guru-guru ini
pasti berbeda satu dengan yang lainnya. Jika ia bersandar kepada
penilaian para guru hanya dalam satu bidang iman, melupakan
guru-guru yang lain, ia akan memiliki bias dan subyektifitas.
Seorang guru yang tulus dan cendikia dapat salah, dan seseorang
tidak akan dimaafkan apabila ia mengikuti penilaian gurunya.
Agama seseorang adalah tanggungjawabnya dan setelah ia melakukan
pencarian yang bersifat ekstensif, ia adalah seorang penilai
tunggal untuk mencapai kesimpulan dan membentuk beragam
pendapat. Dalam al-Qur'an disebutkan,
Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.
(Qs. 35:18,
53:38)
Dengan demikian, kita dapat melihat kelima ayat
al-Qur'an dimana Islam tidak takut untuk ditanyai atau
dianalisa. Hanya mereka yang takut gagal yang melarang diskusi
secara bebas terhadap ajaran agama mereka dan menghindari
pengujian dari para periset dan peneliti.[www.wisdoms4all.com]
Back to Top