Definisi Gerakan Substansial
Untuk menjelaskan gerakan
substansial (al-harakah al-jauhariyah)
kiranya kita perlu menjelaskan apa yang dimaksud
dengan harakat (gerakan) dan jauhar
(substansi).
Harakah (gerakan)
dari tinjauan filsafat adalah perubahan gradual
atau keluarnya sesuatu secara gradual dari alam
potensial kepada alam aktual; artinya gerakan
adalah perkara eksistensial dimana sesuatu
melalui perantaranya secara gradual keluar dari
kondisi potensial menuju kondisi aktual.
Gradualnya gerakan ini bermakna bahwa
bagian-bagian yang diasumsikan bagi wujudnya
tidak dapat dikumpulkan pada suatu masa secara
bersamaan, melainkan mewujud sepanjang waktu
secara gradual.[1]
Jauhar
merupakan sebuah kuiditas yang tidak memerlukan
obyek untuk mewujud di dunia luaran. Jauhar
terdiri dari lima bagian: 1. Maddah (matter).
2. Shurat (form). 3. Akal. 4. Nafs.
5. Jism (benda).[2]
Berbeda dengan aksiden (aradh)
yang memerlukan obyek untuk mewujud di dunia
luaran. Misalnya warna yang merupakan salah satu
jenis aradh (aksiden) dan untuk mewujud
di dunia luaran, maka pasti ia harus mewujud (menempel)
pada satu obyek, lain halnya dengan substansi
yang lantaran merupakan entitas mandiri seperti
jism (benda) dimana untuk mewujud di
dunia luaran ia tidak memerlukan obyek.
Adapun al-harakah al-jauhariyah
(dengan penjelasan sederhana) bermakna bahwa
asas dan dasar alam terbentuk dari substansi (jauhar)
dan seluruh substansi senantiasa dan detik per
detik secara dawam bergerak, bahkan sebab
mengapa aksiden-aksiden sebuah substansi,
seperti warna, berat dan sebagainya, mengalami
perubahan hal itu disebabkan lantaran adanya
gerakan pada zat jauhar yang senantiasa dalam
kondisi bergerak. Dengan kata lain, gerakan
substansial adalah wujud jauhar itu sendiri. Dan
ia hanya memerlukan Pelaku Ilahi dan Pemberi
Wujud. Pengadaan (penciptaan) jauhar
adalah persis sama dengan pengadaan al-harâkah
al-jauhariyah.
Adapun gerakan
seluruh aksiden adalah mengikut pada gerakan
substansi[3]
dan segala perubahan pada aksiden adalah akibat
natural substansinya; artinya kita tidak
memiliki keraguan pada gerakan aksiden-aksiden
satu substansi, akan tetapi sebab perubahan ini
adalah karena adanya gerakan pada substansinya.
Dengan demikian, pelaku natural perubahan ini
harus seperti pelaku itu sendiri yang mengalami
perubahan, karena itu subtansilah yang menjadi
pelaku natural bagi gerakan-gerakan aksidental
dan ia harus bergerak.
Sebelum Mulla Shadra pembahasan
gerakan substansial belum lagi dikenal di
kalangan filosof. Hanya sebagian ucapan-ucapan
filosof Yunani yang dinukil yang dapat
dicocokkan dengan gerakan substansial. Akan
tetapi di kalangan filosof Islam, Mulla Shadra (Shadr
al-Muta'allihin Syirazi) mengemukakan pembahasan
al-harâkah al-jauhariyah dan
menetapkannya dengan menyodorkan beberapa
argumentasi.
Salah satu argumen dan dalil yang
disodorkan oleh Mulla Shadra adalah bahwa
seluruh aksiden tidak memiliki eksistensi
mandiri dari obyek-obyeknya. Melainkan seluruh
aksiden berasal dari wujud jauhar. Dari satu
sisi ketika seluruh aksiden ini mengalami
perubahan dan terjadi pergerakan di dalamnya
maka hal itu memahamkan kepada kita bahwa jauhar
juga memiliki gerakan. Karena segala jenis
perubahan yang terjadi pada satu entitas, maka
perubahan tersebut juga terjadi padanya. Hal itu
merupakan perlambang dari perubahan pada esensi
dan batinnya. Dan sebagai hasilnya gerakan
aksidental merupakan petunjuk dari gerakan pada
substansi dan demikianlah yang dimaksud dengan
gerakan substansial.
Dari sisi lain, sebagian penafsir
memaknai ayat, "Dan
kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia
tetap di tempatnya, padahal ia berjalan seperti
jalannya awan."
(Qs. Al-Naml [27]:88) sebagai al-harâkah
al-jauhariyah (gerakan substansi). Mereka
berkata bahwa seluruh entitas dengan
substansinya bergerak menuju tujuannya
sendiri-sendiri dan hal ini merupakan penjelas
gerakan substansial.[4]
Dengan kata lain, mereka menafsirkan ayat ini
bahwa: Kalian menyangka gunung-gunung itu
jamid (tetap pada tempatnya) padahal ia
senantiasa bergerak dengan gerakan substansial.
Lebih jauh, terdapat dalil-dalil lain dalam
menjelaskan gerakan substansial yang disampaikan
secara detil dalam kitab-kitab filsafat.
Sekiranya Anda tertarik untuk menelaahnya lebih
jeluk, kami persilahkan untuk merujuk pada
kitab-kitab tersebut.[5]
2.
Kedudukan dan Peran Gerakan
Substansial dalam kehidupan
Dalam pandangan Mulla Shadra,
seluruh entitas dan eksistensinya adalah in
flux (mengalami perubahan terus menerus) dan
seluruhnya memendam kerinduan terhadap mabda
(sumber). Dan "substansi" wujud segala sesuatu
yang senantiasa berubah dan bergerak serta
perubahan pada seluruh aksiden dan bentuk
lahirnya adalah bertitik-tolak dari subtansi
(jauhar). Karena itu, seluruh alam natural
merupakan sebuah alam yang terdiri dari gerakan,
pencarian dan kerinduan terhadap sebuah entitas
atau pelbagai entitas non-material yang
merupakan ujung gerakan dan tempat berhenti dan
diamnya; entitas-entitas non-material secara
esensial merupakan pencipta perubahan terus
menerus dan sebab seluruh gerakan di alam
natural.
Dengan demikian, pada sebuah
polar eksistensi, terdapat alam material dan
natural. Dan pada polar lainnya terdapat alam
non-material. Alam material senantiasa
mengalami perubahan dan dalam pergerakan menuju
alam non-material dan keseimbangan yang muncul
darinya hingga tirai yang menyelimuti keindahan
entitas atau seluruh entitas non-material
tersingkap dan terangkat. Alam non-material juga
merupakan sebab munculnya gerakan substansial (al-harakah
al-jauhariyah) dan secara esensial menjadi
penyebab munculnya gerakan dalam kerangka
entitas material. Karena itu, keberadaan setiap
entitas pada alam natural, pada pelbagai ragam
tingkatan lintasannya, senantiasa mengalami
transformasi antara gerakan dan diam, antara
perubahan terus-menerus dan tetap hingga pada
puncaknya ia mencapai kesempurnaannya pada alam
meta-natural.
Teori ini yang memandang bahwa
alam semesta bertitik tolak dari gerakan
substansial dapat memberikan pengaruh pada
pelbagai sisi dalam kehidupan manusia dan
menjadi sumber insipirasi dan ilham dimana di
sini kami akan sebutkan sebagai contoh beberapa
sisi berikut ini:
A.
Seluruh gerakan di alam semesta
menuju kepada kesempurnaan
Dengan menerima konsep gerakan
substansial maka kita juga harus menerima bahwa
keseluruhan alam, secara serentak dan seiring
sejalan bergerak menuju kesempurnaan. Dalam
teori ini, gerakan menuju kesempurnaan merupakan
bagian dari fitrah alam natural. Seseorang
setelah memperoleh pengetahuan dan makrifat
tentang hal ini secara otomatis akan menemukan
dirinya dengan mudah berada dalam sebuah harmoni
dengan fitrah asli semesta. Hari demi hari ia
akan semakin tahu tentang gerakan intrinsik ini
dan dari magnet ruh yang merupakan hasil dari
pengetahuan tentang gerakan substansial dalam
dirinya dan semesta. Adapun berkaitan dengan
orang yang tidak memperoleh pengetahuan dan
makrifat terhadap hakikat ini maka ia akan
memandang seluruh alam natural sebagai
sekumpulan benda yang tidak memiliki ruh, tidak
memiliki gerakan, arah dan sasaran yang jelas.
Dan boleh jadi, mengikut pandangan kelirunya,
ia akan melupakan dan mengabaikan begitu saja
terkait dengan lintasan gerakannya dalam menuju
kesempurnaan. Dan memandang dirinya dalam
lintasan ini sebagai entitas yang terpisah dari
keseluruhan alam tanpa tujuan dan motivasi untuk
menyempurna.
B.
Kebutuhan dawam alam natural
kepada Sang Pencipta
Salah satu
dimensi penjelasan filosofis gerakan substansial
adalah menyoroti bahwa setiap materi pada setiap
detiknya, berubah dari sebuah bentuk menjadi
bentuk yang lain. Dengan demikian, gerakan
menyempurna pada substansi segala sesuatu akan
terealisir.[6]
Atas dasar itu,
gerakan adalah sekumpulan entitas yang
senantiasa sirna dan punah dimana pada setiap
detiknya muncul potensi yang baru dan aktual
sebelumnya akan sirna. Dan proses ini senantiasa
berlangsung demikian. Karena itu, alam semesta
detik demi detik berada dalam kondisi
dekonstruksi (khal'e) dan konstruksi (lubs).
Wujudnya detik demi detik akan hancur dan sirna
dan (setelah itu) emanasi wujud dari Allah Swt
akan memancar kepadanya.[7]
Akan tetapi lantaran kejadian ini berlansung
dalam bentuk bersambung sehingga secara lahir
kita membayangkan seluruh entitas di alam
semesta sebagai entitas mandiri dan berdiri
sendiri.
Menurut teori ini, alam semesta
dan seluruh entitas yang ada di dalamnya sekali-kali
tidak mandiri dan berdiri sendiri. Keduanya
membutuhkan sebabnya masing-masing; sebuah
kebutuhan yang memiliki akar pada jantung setiap
entitas dan meliputi seluruh wujudnya. Orang
yang menerima hakikat dan realitas ini
sekali-kali, meminjam bahasa Shadra, tidak akan
melupakan bahwa seluruh entitas di alam semesta
kesemuanya merupakan entitas yang bergantung
dimana masing-masing dari entitas tersebut
mendapatkan wujud dari Sang Pemberi Wujud dan
bahkan disebutkan bahwa keberadaan seluruh
entitas ini adalah murni kebergantungan dan
murni relasi ('ain al-rabth). Seseorang
yang memandang alam semesta pada setiap detiknya
membutuhkan keberadaan untuk mengada kembali
dimana kebutuhan ini senantiasa bersama esensi
dan substansinya. Pandangan ini tentu saja
berbeda dengan orang yang memandang bahwa
seluruh entitas hanya butuh pada pengadaan
pertamanya saja dan setelahnya mandiri dan
berdiri sendiri.
Orang yang menerima teori gerakan
substansial ini akan menyaksikan kehadiran Sang
Pemberi Wujud pada segala sesuatu dan tidak
memandangnya sebagai sebab asumtif yang sekali
saja menciptakan alam semesta kemudian
membiarkan alam semesta begitu saja. Melainkan
Tuhan yang kepelakuan-Nya detik demi detik dan
secara berketerusan hadir dan tampak nyata pada
jantung setiap makhluk-Nya dan padap gerakan
esensi tabiat.
C.
Tujuan gerakan substansial
Dalam mengelaborasi gerakan
substansial dan melalui jalan seluruh entitas
hingga sampai pada tujuannya harus dikatakan
bahwa secara asasi gerakan menyempurna ini pada
awalnya bermula dari materi awal (hyle)
yang merupakan murni potensi dan sama sekali
tidak memiliki aktualisasi. Kemudian materi
murni ini untuk pertama kalinya menampakkan
aktualisasi lemah pada dirinya dan berbentuk
rangkapan dan kemudian berubah menjadi mineral (jamad).
Pada kelanjutan gerakan gradualnya, ia memasuki
alam tumbuhan dan setelah melintasi beberapa
tingkatan, ia memiliki bentuk hewani dan
melintas pada alam hewani dan selepas itu
memasuki alam manusiawi yang memiliki ragam
tingkatan dan derajat. Untuk melintasi tingkatan
manusiawi ini, ia memerlukan ilmu dan amal dan
setelah melintasi ragam dan banyak tingkatan di
alam manusiawi secara gradual ia akan melesak
meninggalkan alam manusiawi; karena entitas
berada dalam keadaan menyempurna, maka ia tidak
lagi memiliki kecendrungan untuk tinggal di alam
ini sedemikian ia melaju sehingga menjadi akal
universal. Dan pada akhirnya menggapai Tuhan.
Karena itu, dalam
melintasi gerakan substansial dan keluarnya dari
alam potensi menuju alam aktual seluruh kafilah
substansi-subtansi material pada akhirnya menuju
manusia dan manusia juga pada kelanjutan gerakan
ini beranjak menuju alam non-material.
Sebagaimana dikatakan: "Kamal al-'Alam
al-Kauni an-Yuhdatsa minhu Insan."[8]
Artinya kesempurnaan alam penciptaan adalah
bahwa manusia (harus) diciptakan. Dengan kata
lain, alam merupakan pabrik untuk memproduksi
manusia. Dan tujuan sempurna manusia juga adalah
untuk mencapai makam insan kamil.
Pada saat itulah seseorang akan
memahami realitas ini bahwa seluruh silsilah
substansi material (jawâhir) berada pada
gerakan untuk menyempurnakan dirinya dengan
kerinduan fitri bergerak hingga mencapai
tujuannya yaitu manusia. Setelah menerima
hakikat ini, kedudukan hakiki dan unggulnya di
alam natural kembali ia akan temukan dan tidak
akan melintasi jalan ke belakang. Gerakan
menyempurna ini akan semakin laju dan sebagai
kelanjutan gerakan substansial setelah sampai
pada manusia, beranjak menuju alam malakut dan
Keindahan Mutlak. Sejatinya dapat dikatakan
bahwa seluruh alam material dengan segala
entitas di dalamnya seluruhnya merupakan juru
bicara kisah gerakan substansial manusia yang
senantiasa bergerak dari materi awal (hyle)
hingga menggapai Tuhan. Sebagaimana Rumi yang
memandang seluruh lintasan ini sebagai jalan
menuju Allah Swt dengan gubahan syairnya:
Aku mati dari mineral dan menjadi
tumbuhan
Aku mati dari tumbuhan kemudian
menjadi hewan
Aku mati dari hewan kemudian
menjadi manusia
Lalu mengapa aku takut apabila
aku mati beringsut
Aku berlalu sebagai manusia
Membawa empat sayap dan bulu bak
malaikat
Setelah itu, berkoar lebih
menjulang dari malaikat
Mengapa engkau tidak dapat
membayangkan
Aku akan menjadi seperti itu
Lalu aku tiada setelah tiada[9]
bak dentang organ
Aku berkata Inna liLlahi rajiun[10]
Kami cukupkan hingga di sini
pembahasan gerakan substansial ini, meski dengan
semakin memperdalam teori ini dari pelbagai
sudut pandang kita dapat membuahkan hasil-hasil
praktis yang tak terkira dan mengaplikasikannya
dalam kehidupan keseharian. [IQuest]
[1].
Muhammad Taqi Misbah Yazdi, Âmuzesy-e
Falsafeh, jil. 2, hal. 285 – 293,
Nasyr-e Bainal Milal, Cap-e Haftum, Qum,
1386 S.
[2].
Muhammad Husain Thabathabai, Nihâyat
al-Hikmah, hal. 207; Silahkan lihat:
Pertanyaan 785 (Site: 844), Indeks:
Substansi dan Aksiden (Jauhar dan
Aradh).
[3].
Âmuzesy-e
Falsafeh,
jil. 2, hal. 334; Murtadha Muthahari,
Maqalat-e Falsafi, jil. 1, hal. 286,
Intisyarat-e Shadra.
[4].
Sayid Muhammad Baqir
Musawi Hamadani, Terjemahan Persia
al-Mizân, jil. 15, hal. 578, Cap-e
Jame-e Mudarassin.
[5].
Diadaptasi dari jawaban
Pertanyaan 1826 (Site: 1800) pada site
ini.
[6].
Shadr al-Din
Muhammad Syirazi (Mulla Shadra), al-Syawâhid
al-Rububiyah, hal. 108, Intisyarat-e
Bunyad-e Hikmat Islami, Teheran 1382 S.
[7].
'Azizullah
Salari, Khalq-e Mâdâm dar Negâh Ibn 'Arabi
wa Muqâyasa-ye An ba Harâkat-e Jauhari
Mulla Shadra, Fashl Name Andisye
Dini, Danesygah-e Syiraz, Paiz 1384.
[8].
Al-Muhaqqiq
al-Sabzewari, Syarh al-Manzhumah,
jil. 4, hal. 314, Nasyr-e Nab.
[9].
Jelas bahwa yang dimaksud
tiada dalam bait syair ini adalah tiada
yang telah disinggung Rumi pada
bait-bait sebelumnya yang bermakna
posisi meninggi (posisi rendah menanjak
menuju posisi yang lebih tinggi).
[10].
Matsnawi Ma'nawi, Daftar-e Sewwum,
hal. 1512.