Ibnu
Khaldun menulis,
"Selain
alam
tabiat
manusia ini terdapat alam ruhani dan malaikat.
Jiwa manusia berpotensi beranjak dari sisi
ketabiatannya menuju alam para malaikat yang
berada di atas alam ini, dan pada suatu waktu
berada di dalam kumpulan para malaikat,
mengambil ilmu pengetahuan dari alam tersebut
dan kembali lagi ke alam jasmaninya, dan
menyampaikan apa-apa yang ia perolehnya kepada
orang lain. Arti wahyu dan ucapan malaikat
adalah juga seperti hal ini."[1]
Shadrul Mutaallihin (Mulla Sadra) mengenai hal
ini menyatakan bahwa ketika ruh Nabi beranjak ke
alam malaikat yakni alam wahyu rabbani, maka
beliau mendengar kalam Allah yakni maklumat
hakikat-hakikat dalam maqam “qooba
qousaini au adnaa”
yang adalah maqam kedekatan Ilahi dan maq’ad
shidq. Wahyu di sini adalah berupa kalam
hakiki rabbani.
Dan demikian juga ketika ruh para nabi menjalin
hubungan dengan malaikat illiyyin atau
malaikat tertinggi maka akan mendengar kalam dan
bisikan mereka. Kalam mereka adalah kalam Allah
yang turun ke hati-hati mereka, karena
malaikat-malaikat ini berada dalam maqam
kedekatan
tertinggi Ilahi.
Sebagaimana Nabi Muhammad saw memberitakan bahwa
pada malam mi’raj aku telah sampai pada sebuah
maqam sehingga aku mendengar kalam para malaikat.
Ketika ruh Nabi saw turun dari alam atas ke
tingkat malakut samawi, apa-apa yang
beliau telah saksikan di alam arwah qadariyah,
gambarannya menjelma bagi Nabi Muhammad saw, dan
me-lahiriah kepadanya. Oleh karena itu,
terjadi sebuah kondisi menyerupai
"ketakutan"
dan
"ketidaksadaran"
menyelimuti beliau. Sebelumnya telah dikatakan
bahwa ruh suci Nabi berada pada batas
pertengahan antara alam mulk (alam fisik
dan duniawi yaitu tubuh) dan malakut (alam
batin dan gaib), dan ruh tersebut mengendalikan
masing-masing dari keduanya, maka beliau dengan
perasaan dan indera melakukan suluk
kepada Tuhan semesta alam.
Dengan demikian,
perasaan
dan
jiwanya
terselimuti dengan
makrifat dan ketaatan kepada Allah.
Ketika sosok manusia seperti ini Nabi Muhammad
saw menjadi obyek kalam Allah Swt –baik tanpa
perantara atau dengan perantara malaikat wahyu-
tanpa adanya hijab eksternal dan menjalin
hubungan dengan alam gaib, maka sebuah gambaran
dari alam malakut dan bentuk jabarut
akan memantul dalam jiwa beliau saw, dan efeknya,
sebuah gambaran dari wahyu dan pembawanya akan
menjelma juga dalam wilayah indera batin beliau.
Dalam kondisi seperti itulah indera lahiriah
Nabi akan
terhubung dengan
indera batin
dan gambaran dari realitas itu
akan menjelma baginya. Perlu diperhatikan juga
bahwa gambaran-gambaran dan jelmaan-jelmaan ini
memiliki realitas hakiki dan bukan bersifat
mimpi-mimpi dan imajinasi-imajinasi kosong
belaka.
Atas dasar itu, malaikat menjelma dalam sebuah
bentuk inderawi kepada Nabi
dan
beliau
pun
menyaksikannya
dengan
kemampuan
spiritual yang dimilikinya.
Maka Nabi Muhammad saw menyaksikan malaikat
dengan sebuah
"bentuk"
tidak sebagaimana yang sesungguhnya, karena
keberadaan yang nonmateri (mujarrad,
abstrak) ketika turun dan menjelma ke alam dunia,
akan menjadi sebuah keberadaan duniawi dan
terbatas. Oleh karena itu, ia dapat disaksikan
dalam bentuk keberadaan duniawi dan ucapannya
dapat didengar, walaupun dalam tahap-tahap yang
lebih tinggi dari wahyu itu bersifat abstrak dan
berada di alam akal. Dan terkadang tampak dalam
bentuk lauh (lembaran) tertulis.
Oleh sebab itu malaikat pembawa wahyu, ucapan
dan kitabnya turun dari alam gaib dan batin
kepada perasaan-perasaan inderawi dan daya
intelektual Nabi, akan tetapi penjelmaan ini
tidak berarti perpindahan malaikat dari maqamnya
ke maqam yang lebih rendah, namun artinya adalah
gerak Nabi dari tingkatan batin kepada tingkatan
lahiriah, berbeda dengan perjalanan pertama
beliau saw yang beranjak dari alam materi dan
indera ke alam gaib."[2]
Ringkasan ucapan filosof ini adalah sebagai
berikut: Ruh yang bercahaya dan jiwa malakuti
Nabi dalam sebuah perjalanan batin dan ruhani
melakukan proses perjalanan menaik menuju alam
malaikat yang adalah gudang penyimpanan
ilmu-ilmu Ilahi.
Nabi
menyaksikan malaikat wahyu dengan mata hati,
mendengar kalam malaikat yang adalah kalam Allah
dengan telinga batin. Dalam kondisi seperti ini,
ilmu-ilmu yang ada di dalam realitas cahaya para
malaikat pembawa wahyu terpantul ke dalam hati
Nabi yang juga penuh cahaya itu.
Dengan memperhatikan bahwa ruh kudus Nabi berada
di antara alam mulk (lahiriah dan fisik)
dan malakut (batin dan gaib) dan mampu
mengendalikan sisi mulki dan malakuti-nya
dalam satu waktu, dalam keadaan menyaksikan
dunia gaib dan menyaksikan Jibril As, dan
mendengar ucapannya melalui ruh kudus, mata hati
dan telinga batinnya, maka pada kondisi itulah
jiwa Nabi juga turun dan masuk ke alam imajinasi
dan indera lahiriah. Dalam
manifestasi
ini Jibril As
menjelma dalam bentuk sesosok manusia rupawan
dan tidak asing bagi Nabi saw. Nabi lantas
menyaksikannya dan mendengar ucapanya.
Faktor-faktor Wahyu
Wahyu atau koneksi dengan alam gaib memiliki
beberapa faktor:
1.
Sumber Wahyu.
Sumber
wahyu adalah Zat Mahasuci Allah
Swt
yang menjalin hubungan dengan nabi tanpa
perantara atau dengan perantara malaikat
pembawa
wahyu.
2.
Malaikat.
Malaikat wahyu adalah Jibril
As
yang adalah sebuah sarana natural dan alami
untuk turunnya wahyu. Dia mengemban misi
Ilahi.
Nabi menyaksikannya dalam bentuk manusia rupawan
dan terkadang dengan bentuk asli dan mendengar
ucapannya.
3.
Penerima Wahyu.
Penerima wahyu adalah seorang manusia sempurna
yang karena keterjagaannya dari dosa,
meninggalkan dosa, menjauhi kecintaan kepada
dunia, dan kesucian jiwanya berpotensi
menciptakan koneksi dengan alam gaib dan
memperoleh pengetahuan-pengetahuan Ilahi.
Seluruh nabi memiliki kondisi jiwa seperti ini.
Perolehan wahyu secara rasional tidak terbatas
kepada para nabi saja, akan tetapi setiap orang
yang berada dalam tingkatan kesempurnaan ini
dapat menjalin hubungan dengan alam gaib dan
memperoleh pengetahuan-pengetahuan, namun
pembuktiannya butuh kepada argumen pasti dan
dalam kondisi seperti ini
pengetahuan-pengetahuan hasil perolehan itu
tidak akan dapat digolongkan ke dalam wahyu
tasyri’i.
4.
Kandungan Wahyu.
Kandungan atau isi wahyu berupa seluruh
pengetahuan yang turun dari sisi Allah kepada
Nabi, seperti pengetahuan-pengetahuan yang
berhubungan dengan Tuhan alam semesta dan
sifat-sifat jamaliyah dan jalaliyah-Nya,
pengetahuan-pengetahuan berkenaan dengan hari
kebangkitan dan alam pasca kematian,
pengetahuan-pengetahuan seputar kenabian, baik
termasuk dalam kategori rukun-rukun iman dan
juga argumentasi rasional yang dapat dibuktikan
atau keyakinan-keyakinan lain yang diperoleh
hanya melalui wahyu. Demikian juga penjelasan
kisah-kisah para nabi dan sejarah umat atau
orang-orang terdahulu yang dapat berpengaruh
sebagai pelajaran dan petunjuk bagi manusia.
Penjelasan akhlak mulia dan menyeru mereka
kepadanya, akhlak tercela dan melarang mereka
darinya, walaupun akal juga dapat menjangkaunya.
Metode penyembahan dan hukum-hukum dalam
beribadah (adab ibadah); hal-hal yang wajib dan
hal-hal yang mustahab atau sunnah.
Dan keterangan permasalahan-permasalahan haram
yang merugikan untuk kehidupan duniawi atau
kejiwaan manusia, juga hukum-hukum dan
undang-undang politik, sosial, hak asasi, hukum
pidana, ekonomi, kesehatan, militer dan
kedisiplinan yang urgen dalam menjamin
kebahagiaan dan kedamaian kehidupan duniawi
manusia.
Ringkasnya hal-hal yang terdapat di dalam al-Qur’an
dan hadis-hadis Nabi sebagai
sesuatu yang
merupakan
kandungan
dan isi
wahyu.
Wahyu terkadang disandarkan kepada Allah, yang
berarti pancaran pengetahuan-pengetahuan agama
ke hati para nabi dan terkadang digunakan untuk
kandungan wahyu yaitu pengetahuan-pengetahuan
yang turun dari sisi Allah.
Wahyu
dan
Keterjagaan
dari
Segala Bentuk
Kesalahan
Sekarang muncul pertanyaan seperti ini: Apakah
hakikat-hakikat wahyu, seperti al-Qur’an, Taurat
dan Injil dan hakikat-hakikat lain yang
diturunkan kepada para nabi sebagai wahyu adalah
hakikat-hakikat final yang terjaga dari segala
bentuk kesalahan dan kekeliruan, ataukah ada
kemungkinan untuk bisa salah?
Di sini ada dua pendapat:
Pendapat Pertama.
Kaum muslimin yang menerima kemungkinan pertama
mengatakan hakikat-hakikat
yang terdapat di dalam al-Qur’an,
mulai dari kata-kata, kalimat-kalimat,
dan
makna-maknanya
semuanya bersumber
dari sisi Allah dan berasal dari sumber yang
sangat
terjaga dari
segala
kesalahan yaitu ilmu
Ilahi;
dan Nabi Muhammad saw juga di dalam penerimaan
wahyu dan penyampaiannya
niscaya
terjaga dari
segala
kesalahan, kelalaian dan kekeliruan. Mengenai
seluruh hal seputar wahyu, yaitu seluruh hal
yang dilontarkan Nabi sebagai wahyu dan penyampaiannya
telah terbukti dengan argumen-argumen
tentang keterjagaannya dari segala kekeliruan.
Sebagian kaum
Kristen
tradisional juga berkeyakinan seperti ini
mengenai kitab-kitab suci dan hakikat-hakikat
yang berhubungan dengan wahyu. Di dalam buku
‘Ilm Wa Din (Pengetahuan Dan Agama)
disebutkan demikian,
"Semenjak
abad ketujuh belas banyak di antara kaum
Protestan menerima kitab suci sebagai gudang
penyimpanan pengetahuan-pengetahuan laduni
dan lahi yang terpelihara dari kesalahan, di
antaranya mencakup permasalahan-permasalahan
ilmiah yang berasal dari sisi Tuhan. Yaitu
mereka tidak memandang kitab suci sebagai
riwayat beberapa kejadian yang di dalamnya Tuhan
menjelma, mereka melihatnya sebagai kumpulan
pengetahuan-pengetahuan tanpa cela dan tidak
menerima kesalahan yang turun dari sisi Tuhan
berdasarkan kata per kata."[3]
Di dalam buku Falsafe-ye Din (Filsafat
Agama) disebutkan demikian,
"Wahyu
adalah sekumpulan hakikat yang dijelaskan dalam
bingkai hukum-hukum dan premis-premis, wahyu
mentransfer hakikat-hakikat Ilahi secara
originil dan valid kepada manusia. Menurut
Ensiklopedia Katolik: Wahyu dapat didefinisikan
sebagai pentransferan sebagian hakikat dari sisi
Tuhan kepada keberadaan-keberadaan yang berakal
melalui perantara-perantara yang berada di balik
kejadian biasa di alam."[4]
Akan tetapi mayoritas ulama Kristen kontemporer
menafsirkan wahyu dengan perspektif lain dan
tidak meyakini kandungan kitab suci sebagai
sesuatu yang terjaga dari kesalahan. Di dalam
buku ‘Ilm Wa Din dijelaskan,
"Tuhan
mengirim wahyu namun tidak dengan melalui
pendiktean langsung dan tidak dengan kitab yang
terjaga dari perubahan dan kesalahan, akan
tetapi dengan kehadiran dan manifestasi diri-Nya
di dalam kehidupan al-Masih dan seluruh nabi
serta Bani Israel. Dengan demikian, kitab suci
adalah bukan kitab wahyu langsung akan tetapi
kesaksian seseorang atas refleksi wahyu di dalam
cermin kondisi-kondisi dan pengalaman-pengalaman
manusiawi."[5]
Di dalam buku Falsafe-ye Din tertulis,
"Menurut
keyakinan para reformis religius abad
keenambelas (Luther
dan
Kallon), wahyu adalah bukan sekumpulan hakikat
mengenai Tuhan akan tetapi Tuhan masuk ke area
eksperimen
batin
manusia melalui pemberian efek dalam
kejadian-kejadian
sejarah. Dari kaca mata ini hukum-hukum teologi
tidak bersandar kepada wahyu akan tetapi
menjelaskan usaha-usaha manusia untuk mengenal
arti dan keurgenan kejadian-kejadian yang
berhubungan dengan wahyu."[6]
Di dalam buku ‘Ilm Wa Din menukil dari
ucapan Uskup Agung Tempel yang mengatakan,
"Wahyu
dan eksperesinya akan muncul di dalam sebuah
kejadian. Dari sini, Tuhan tidak bermaksud
mendiktekan sebuah kitab atau membisikkan
ajaran-ajaran yang tidak ada kesalahannya
didalamnya, akan tetapi bertujuan menampakkan
kejadian-kejadian di dalam kehidupan manusia.
Kitab suci itu sendiri seluruhnya adalah sebuah
karya tulis manusia yang menghikayatkan
kejadian-kejadian yang berhubungan dengan wahyu
tersebut."[7]
Dia juga menulis,
"
Penafsiran-penafsiran
Luther
dan bahkan Kallon
tentang
kitab suci adalah tergolong yang fleksibel dan
tidak rumit. Menurut keyakinan mereka, sumber
konvidensi dan kevalidan wahyu tidak berada pada
teksnya (kitab tertulis) akan tetapi berada di
dalam diri al-Masih yakni tempat turun dan obyek
wahyu. Kitab suci menjadi penting karena adalah
saksi kebenaran atas fenomena-fenomena bebas
yang memantulkan kasih sayang dan ampunan Ilahi
yang menjelma di dalam diri Almasih dalam
kondisi-kondisi personal mereka dan seluruh kaum
mukmin. Menurut pandangan kaum reformis pertama,
kata wahyu (kalimatullah atau kitab hidup)
dikonfirmasikan melalui inspirasi-inspirasi yang
dapat diperoleh setiap orang dari Ruhul Kudus."[8]
Dari sudut pandang ini, sebagian ulama Kristen
juga memperbolehkan kemungkinan salah pada Nabi
Muhammad saw. Salah seorang di antara mereka
menulis demikian,
"Keyakinan
bahwa Kenabiaan Muhammad adalah benar tidak
berindikasi bahwa seluruh keyakinannya adalah
benar. Bisa saja seseorang
memiliki pengetahuan yang terpadu
di dalam sebuah permasalahan akan tetapi dia
keliru."[9]
Bukan hal yang sulit bagi para penulis Barat
membuktikan bahwa Muhammad mungkin melakukan
kesalahan-kesalahan.
Teori ilmuwan Kristen dalam menegaskan
bahwa
kesalahan dan kekeliruan pada hakikat-hakikat
yang berhubungan dengan wahyu
adalah
bersumber dari penafsiran khusus mereka seputar
wahyu. Mereka menafsirkan wahyu itu sebagai
bentuk manifestasi Zat Maha Suci Ilahi di dalam
diri Isa As, meyakini al-Masih sebagai bukti dan
fakta wahyu dan menganggap kalamnya sebagai
kalam seorang manusia yang bisa salah, akan
tetapi kita sebelumnya telah menyinggung
ketidakbenaran pondasi teori ini, maka
ketidakbenaran bangunannya pun menjadi jelas.
Kaum Muslimin tidak hanya meyakini keterjagaan
dan kemaksuman Nabi Muhammad saw dari setiap
kesalahan, kekeliruan, kealpaan dan dosa, bahkan
meyakini bahwa seluruh nabi juga seperti ini.
Mereka meyakini kemaksuman dan keterjagaan
para nabi
di dalam penerimaan, penjagaan dan penyampaian
wahyu
itu.
Kebohongan, kesalahan dan kealpaan pada diri
nabi tidak beralasan, karena keterjagaan dari
dosa adalah salah satu syarat final dan wajib
bagi kenabian dan menjadi bahan pembahasan
secara mendetail di dalam kitab-kitab teologi
dan untuk membuktikannya dilontarkan
argumentasi-argumentasi rasional dan tekstual.
Disebutkan bahwa tujuan terpenting para nabi
adalah menyodorkan hakikat-hakikat yang
bersumber dari wahyu yang dibutuhkan oleh
manusia dalam menempuh jalan kebahagiaan dunia
dan akhirat, jasmani dan ruhani dengan tanpa
mengurangi atau menambahi sedikitpun isi wahyu,
dan realisasi hal ini tidak akan mungkin tanpa
kemaksuman dan keterjagaan nabi dari kesalahan
dan dosa. Apabila sosok nabi
secara spiritual dan batin
sama seperti seluruh manusia yang bisa berbuat
salah maka apakah ada jaminan
bahwa para
nabi menyodorkan hakikat-hakikat
asli yang
berasal dari wahyu secara sempurna kepada
manusia?
Permasalahan ini juga telah disinggung di dalam
al-Qur’an,
"(Dia
adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka
Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun
tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang
diridhaiNya, maka sesungguhnya Dia mengadakan
penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di
belakangnya. Supaya Dia mengetahui, bahwa
sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan
risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya)
ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan
Dia menghitung segala sesuatu satu persatu."[10]
Di dalam ayat tersebut Allamah Thaba’thabai
menulis,
"Maksud
dari “min baini yadaihi”
adalah apa yang ada antara Rasulullah
saw
dan manusia-manusia.
Dan maksud dari “min khalfihi” adalah
apa yang ada antara Nabi saw dan sumber wahyu
yaitu Allah.
Ayat di atas mengindikasikan bahwa wahyu Ilahi
sejak diambil dari sumbernya hingga penyampaian
kepada manusia, terjaga dari segala bentuk
kesalahan dan kekeliruan. Nabi dalam tahap
penerimaan hingga penyampaian wahyu kepada umat
manusia terpelihara dari
pengaruh
setan. Jumlah “Liya’lama an qad ablaghuu
risaalaati rabihim” menunjukkan hal ini.
Jelas bahwa wahyu itu harus disampaikan kepada
umat manusia secara sempurna, dan apabila rasul
atau utusan-Nya tidak terjaga dari segala bentuk
kesalahan dan kekeliruan maka tidak ada jaminan
bahwa wahyu Tuhan itu sampai ke tangan manusia
secara sempurna."
Oleh karena itu, dengan memperhatikan
argumentasi-argumentasi rasional dan tekstual
(al-Quran dan hadis), kemaksuman dan keterjagaan
para nabi dari kesalahan dalam menerima dan
menyampaikan wahyu adalah sebuah hal yang pasti,
sebagai konklusinya wahyu juga terpelihara dari
kesalahan dan kekeliruan.
Akan tetapi,
tidak berarti bahwa apa-apa yang telah
disandarkan kepada
para nabi
di dalam kitab-kitab sejarah dan hadis seratus
persen benar, namun permasalahan ini hanya
memiliki kebenaran di dalam al-Qur’an, karena
kepastian sumbernya dari Allah
Swt,
dan demikian juga dapat disebutkan mengenai
hadis-hadis yang telah terbukti bersumber dari
Nabi saw dengan arumentasi-argumentasi valid
yang berdasarkan hukum agama.
Dalam menjustifikasi keterpeliharaan wahyu dari
kesalahan dapat dijelaskan demikian: Sebagaimana
yang telah lewat bahwa wahyu berbeda dengan
pengetahuan-pengetahuan hushuli (pengetahuan
dengan korespondensi) dan
pengetahuan-pengetahuan selain hushuli.
Karena pada wahyu hakikat-hakikat yang bersifat
kewahyuan secara langsung diturunkan ke hati dan
jiwa Nabi dari sisi Allah Swt, tanpa andil
indera lahiriah di dalamnya.
Pengetahuan-pengetahuan yang berhubungan dengan
wahyu bukan termasuk dalam kategori
konsepsi-konsepsi atau pemahaman-pemahaman akan
tetapi semacam penyaksiaan batin dan hudhuri
(pengetahuan dengan kehadiran).
Ilmu hudhuri
tidak menerima kesalahan. Oleh karena itu, dalam
penerimaan wahyu
itu
tidak terdapat satu kesalahanpun.
Pada penurunan hakikat yang berhubungan dengan
wahyu dari ruh Nabi kepada indera dan
penyampaiannya kepada manusia juga tidak terjadi
kesalahan dan kekeliruan, karena hal itu berdiri
tegak di atas kesaksian-kesaksian hudluri
Nabi dan bersumber dari batin beliau. Dan
dukungan kokoh batin ini senantiasa dan dalam
semua kondisi akan berada di dalam genggaman
dan kontrol
Nabi.
Sarana Keyakinan
Mungkin saja seseorang berkata para nabi adalah
orang-orang yang jujur, dalam hal ini tidak
dapat diragukan bahwa terkadang mereka merasa
mendapatkan bisikan di dalam hati. Akan tetapi
dari manakah mereka memahami bisikan tersebut
datang dari sisi Allah dan bukan termasuk
bisikan-bisikan yang datang dari setan atau hawa
nafsu? Bagaimanapun juga masih ada kemungkinan
bahwa bisikan-bisikan tersebut berasal dari
setan, bagaimanakah kemungkinan ini dapat
dinafikan?
Untuk menjawabnya –sebagaimana yang sebelumnya
telah kita katakan-, wahyu tidak termasuk dalam
kategori pengetahuan-pengetahuan hushuli
sehingga mungkin saja mengalami kesalahan, akan
tetapi pengetahuan-pengetahuan dan
hakikat-hakikat wahyu dibisikkan kepada batin
Nabi, dan beliau menangkapnya secara hudhuri.
Ketika wahyu turun Nabi menyaksikan realita dan
hakikat wahyu dengan mata hati yang mana tidak
ada kemungkinan terjadi kesalahan sama sekali.
Di dalam sebagian hadis juga telah disinggung
seperti penjelasan ini.
Zurarah berkata, Aku berkata kepada Abu Abdillah
(Imam Ja’far Shadiq As): Bagaimana Rasulullah
saw tidak merasa takut tentang apa yang datang
kepada beliau saw dari sisi Allah adalah dari
bisikan-bisikan setan? Zurarah berkata: Maka
Imam Shadiq
As
bersabda: Sesungguhnya Allah ketika menjadikan
seorang hamba sebagai rasul atau utusan maka Dia
akan menurunkan ketenangan dan ketenteraman
kepadanya. Maka apa yang datang kepada beliau
saw dari sisi Allah
Swt
seperti apa yang beliau saw lihat dengan mata.[11]
Dikatakan kepada Imam Shadiq
As:
Bagaimana para rasul mengetahui bahwa mereka
adalah utusan? Imam Shadiq as menjawab:
Tersingkapnya tirai dari mereka.[12]
Muhammad bin Muslim dan Muhammad bin Marwan dari
Imam Shadiq as, beliau bersabda: Rasulullah saw
tidak mengetahui bahwa Jibril As datang dari
sisi Allah kecuali dengan taufik.[13]
Syekh Mufid
ra
menunjukkan metode lain dalam pemecahan problema
ini. Ia menulis,
"Oleh
karena nabi memiliki mukjizat maka beliau
memahami bahwa kalam yang dibisikkan ke hati
beliau adalah kalam Allah dan tidak datang dari
setan. Mengenai al-Qur’an juga demikian karena
dia adalah mukjizat maka nabi memahami bahwa dia
datang dari sisi Allah dan sebagai kalam-Nya.
Sebagaimana Nabi Musa As mendapatkan keyakinan
bahwa perbincangan dari pohon adalah berasal
dari sisi Allah melalui mukjizat yadun baidho’
(tangan yang bercahaya) dan (perubahan
tongkat menjadi ular)."[14]
Dengan demikian, harus dikatakan bahwa para nabi
telah memahami dengan jelas dan yakin semenjak
permulaan wahyu bahwa mereke itu telah menjadi
nabi dan kalam Tuhan akan turun kepada mereka,
mereka meyakini hal ini dan tidak ada keraguan
dan kesamaran di dalamnya sehingga harus
membutuhkan konfirmasi orang lain. Dan tidak
dapat diterima apabila di dalam sejarah terlihat
sesuatu yang bertentangan dengan ini.
Tanda-tanda
Kehadiran
Wahyu
pada Nabi
Dari sebagian hadis, nukilan dan kesaksian para
sahabat dapat disimpulkan bahwa ketika
hadirnya
wahyu,
Nabi Muhammad saw
mengalami beberapa kondisi dan keadaan yang
mereka anggap sebagai tanda-tanda turunnya wahyu.
Dinukil bahwa penerimaan wahyu sedemikian berat
bagi
beliau
sehingga pada musim dingin keringat bercucuran
dan mengaliri wajah sucinya.
Menurut nukilan lain, air muka beliau berubah
dan kepala beliau menunduk ke bawah. Para
sahabat menamakan kondisi tersebut dengan
burohaa’ul wahy (kesukaran-kesukaran
wahyu).[15]
Diriwayatkan bahwa ketika turunnya wahyu
terkadang Nabi saw sedang berada di antara para
sahabat, karena pengaruh wahyu beliau saw sampai
tidak sadarkan diri dan keringat mengaliri
sekujur tubuh, ketika kembali kepada kondisi
semula beliau saw bersabda: Allah Swt telah
menurunkan firman begini dan begitu, dan
memerintahkan fulan amal dan melarang fulan
perbuatan kepada kalian.[16]
Ikrimah berkata:
"Ketika
wahyu turun kepada Rasulullah saw sesaat beliau
saw seperti seorang yang tidak sadar jatuh ke
tanah."[17]
Abu Arwa berkata:
"Aku
melihat Nabi saw ketika turun wahyu
padanya beliau
sedang berada di atas hewan tunggangannya.
Maka hewan tersebut mengerang, dan kaki-kakinya
menjadi sedemikian lemas sehingga aku mengira
akan segera patah dan terkadang lututnya ambruk
ke tanah karena beratnya beban dan terkadang
kaki depannya tertancap, dan kondisi ini
berlanjut hingga selesainya wahyu. Dalam keadaan
demikian ini keringat seperti mutiara mengucur
dari kepala dan wajah Rasulullah saw."[18]
Dari sebagian hadis dapat disimpulkan bahwa
kondisi-kondisi ini tidak terjadi pada setiap
kali turunnya wahyu akan tetapi di saat Nabi
menerima wahyu secara langsung dari sisi Allah
Swt tanpa melalui perantara malaikat Jibril As.
Zurarah menukil dari ayahnya yang berkata:
"Aku
berkata kepada Imam Shadiq As: Bagaimana keadaan
sulit yang terjadi pada Rasululah saw ketika
turun wahyu? Imam Shadiq
As
bersabda: Kondisi sulit terjadi ketika tidak ada
penghalang antara Allah
Swt
dan Nabi saw,
yakni
ketika Allah
Swt
bermanifestasi kepada Nabi. Dan inilah kenabian."[19]
Hisyam bin Salim menukil dari Imam Shadiq
As
ketika sebagian sahabat bertanya kepada beliau:
Terkadang Rasulullah saw berkata: Jibril
As,
inilah Jibril
As
dan dia sedang memberikan perintah kepadaku, dan
pada kesempatan lain dalam keadaan tidak
sadarkan diri, apakah artinya? Imam Shadiq as
menjawab: Kondisi tidak sadar terjadi ketika
wahyu turun dari sisi Allah secara langsung
tanpa melalui perantara Jibril, akan tetapi
apabila Jibril As menjadi perantara wahyu tidak
terjadi apa-apa, dan beliau saw berkata: Jibril
As membisikkan demikian dan ini adalah Jibril
As."[20]
Ringkasnya kondisi-kondisi tersebut adalah dari
tanda-tanda wahyu dan sahabat Nabi saw telah
terbiasa dengan hal tersebut. Abu Hurairah
berkata:
"Ketika
wahyu turun kita juga mengetahuinya, atensi
sahabat tertuju kepada Nabi saw dan hingga
selesainya wahyu mereka tidak mengalihkan mata."[21]
Dari nukilan-nukilan seperti ini dapat
disimpulkan bahwa ketika turun wahyu sebuah
kondisi tidak alami menimpa Nabi saw, dan karena
para sahabat tidak memiliki sebuah ekspresi yang
benar untuk menjelaskan kondisi tersebut, mereka
menceritakan kondisi tidak alami ini dengan
bantuan kata-kata seperti: seperti kondisi tak
sadar, tak terkontrol, dan lain sebagainya.
Kondisi ini dapat didefinisikan
sebagai semacam keberpalingan dari dunia,
tertarik dan
tersambung
dengan alam gaib. Karena memikul beban ini
sangat berat atas seseorang maka tampaklah
kondisi-kondisi seperti itu. Hubungan seorang
manusia yang bersifat jasmani, walaupun
sedemikian tinggi, dengan Tuhan yang Maha
Besar
adalah sebuah hal yang berat dan sulit.
Allah swt berfirman di dalam al-Qur’an:
"Sesungguhnya
Kami akan meurunkan kepadamu perkataan yang
berat."[22]
Ibnu Khaldun menulis:
"Para
nabi dalam kondisi turun wahyu terputus dari
alam ini yang mana dapat digambarkan kegelisahan
dan ketidaksadaran menyelimuti mereka, sementara
tidaklah demikian, akan tetapi mereka tenggelam
dalam menyaksikan malaikat wahyu. Pada saat
itulah mereka memiliki sebuah persepsi spesial
yang berbeda dengan persepsi-persepsi pada
umumnya manusia."[23]
Di tempat lain ia menulis:
"Di
antara manusia harus ada orang-orang istimewa
yang pada suatu waktu dan kesempatan dapat
meninggalkan keterikatannya dengan alam materi
dan terbang ke arah dunia malaikat, memperoleh
ilmu-ilmu pengetahuan kemudian kembali ke
dunianya dan berada di tengah-tengah manusia
lain. Inilah arti wahyu. Karena efek keluar dari
kejasmaniannya sehingga terjadilah
kondisi-kondisi dan suara-suara yang tidak biasa
mereka alami."[24]
Mungkin salah satu alasan tuduhan kepada Nabi
besar Islam saw dengan penyakit gila, atau
penyakit jiwa yang dilontarkan oleh musuh-musuh
Islam adalah terjadinya kondisi-kondisi turunnya
wahyu.
Akan tetapi tuduhan ini sepenuhnya tertolak,
karena berdasarkan kesaksian sejarah, kehidupan
Muhammad saw sebelum pengangkatan sebagai nabi
dan rasul adalah sebuah kehidupan yang samgat
teratur dan sehat, dan tidak pernah dituduhkan
kepada beliau saw akan tertimpa penyakit gila;
tidak pada umur kanak-kanak tertimpa
penyakit-penyakit semacam ini, tidak juga pada
periode remaja dan dewasa. Apabila ada sesuatu
maka hal itu niscaya akan disinggung oleh
sejarah. Pada kondisi-kondisi biasa tidak
terlihat pengaruh-pengaruh dari kegilaan dan
epilepsi. Hanya pada saat wahyu turun tampak
kondisi-kondisi tidak biasa. Musuh-musuh Islam
karena tidak mengetahui hakikat dan
kejadian-kejadian yang berasal dari hal itu,
melihat tuduhan gila sebagai hal yang pantas dan
dengan perantara itu mereka menampakkan
permusuhan terhadap Islam.
Apakah mungkin bagi orang yang tertimpa penyakit
gila mendatangkan sebuah kitab seperti al-Qur’an,
menciptakan dan menulis hukum-hukum dan
undang-undang luas dan jeli, dan memberikan
ilmu-ilmu mendalam seperti apa yang terdapat di
dalam al-Qur’an dan hadis kepada manusia? Dan
dalam jangka waktu 23 tahun berusaha dengan
sangat jeli, perhitungan dalam bertabligh dan
menyebarkan agama Islam, menjinakkan berbagai
macam konspirasi musuh-musuh dan mengokohkan
pondasi-pondasi Islam? Apabila tuduhan semacam
itu memiliki kebenaran apakah kaum muslimin pada
permulaan Islam yang mengetahui persis kondisi
Nabi saw pasrah kepada seorang manusia yang gila
dan berjuang serta berkorban hingga sampai batas
ke-syahid-an dalam menjacapai tujuan-tujuannya?
Kemungkinan irrasional seperti ini tidak dapat
diterima oleh seorang manusia berakal.
Wahyu Hasil Manifestasi
Aspek Batin
Nabi
Sebagian ilmuwan Barat meyakini
bahwa
wahyu
yang dimaknakan sebagai bentuk
hubungan Tuhan dengan manusia,
merupakan
sebuah hal yang tidak mungkin. Dengan
argumentasi bahwa wujud Tuhan adalah abstrak,
nonmateri dan tidak terbatas, sementara wujud
Nabi adalah materi dan terbatas, hubungan
komunikasi antara keduanya menjadi tidak mungkin.
Tuhan tidak memiliki tempat, lidah dan mulut
sehingga dapat berkomunikasi dengan Nabi. Nabi
adalah seorang manusia, bagaimana mungkin dapat
menjalin hubungan dengan Tuhan?
Cendekiawan-cendekiawan ini tidak memiliki
justifikasi yang dapat diterima mengenai
kemungkinan terjadinya wahyu dan
metode-metodenya, oleh karena itu mereka
mengingkarinya. Akan tetapi, semenjak dimulainya
pembahasan mengenai ruh dan jiwa manusia dengan
berbagai macam eksperimen dan
pengalaman-pengalaman panjang dan berulang-ulang,
mereka sampai pada beberapa kesimpulan yang
menakjubkan, dengan demikian metode justifikasi
dan tafsiran wahyu terbuka lebar di hadapan
mereka, dan akhirnya mereka meyakini wahyu
sampai pada batas tertentu.
Cendekiawan-cendekiawan yang meneliti wujud jiwa
dan ruh, setelah sekian lama meneliti dan
melakukan bermacam percobaan akhirnya sampai
pada kesimpulan bahwa manusia memiliki dua
dimensi wujud: salah satunya adalah dimensi
lahiriah yang bekerja dengan indera lahiriah dan
memiliki kemampuan yang terbatas, dan yang lain
adalah dimensi batiniah (esoterik) yang tak
terbatas, abstrak, dan nonmateri. Mereka
mengatakan: Di dalam dunia ini kita tidak hidup
dengan seluruh wujud kita akan tetapi sebagian
kecil darinya digunakan dalam area indera kita
yang lemah. Kita memiliki sebuah keberadaan
kehidupan yang lebih baik, lebih tinggi dan
lebih luas, dan kita hanya mengalaminya dalam
kondisi tidur atau kondisi tidak sadar lainnya.
Para cendekiawan
menidurkan banyak orang dengan tidur buatan dan
memperoleh informasi-informasi yang sangat
menarik dengan pertanyaan dan jawaban-jawaban
detail dari pemikiran-pemikiran internal
dan kejadian-kejadian masa lalu dan masa depan
mereka sendiri dan orang lain.
Seorang yang terbawa tidur akan memberitahukan
tentang hal-hal gaib,
kejadian-kejadian masa lalu dan masa depan.
Dalam sekejap akan melakukan perjalanan ke
tempat-tempat yang sangat jauh dan membawa kabar
tentang kejadian-kejadian di tempat tersebut.
Akan kembali ke masa-masa lalu dan menyaksikan
kejadian-kejadian di masa itu. Terkadang mampu
dalam sekejap menjawab permasalahan-permasalahan
rumit matematika yang pemecahannya memerlukan
waktu berjam-jam.
Terkadang juga dapat disaksikan pada sebagian
orang yang dalam waktu singkat dan terkadang
beberapa bulan dan beberapa tahun tanpa tidur
dan dalam kondisi biasa memiliki keadaan semacam
itu. Para cendikiawan telah bekerja
bertahun-tahun dalam permasalahan ini dan
menuliskan hasil-hasil percobaan-percobaan dan
kesaksian-kesaksian mereka di dalam buku-buku.
Dan dari kumpulan ini mereka mengambil
kesimpulan bahwa manusia, disamping kepribadian
lahiriah dan yang telah dikenalnya, juga
memiliki kepribadian lebih kuat yang belum
dikenalnya di dalam batin yang terkadang muncul
dan meninggalkan efek-efeknya.
Sebagian cendikiawan mengeksploitasi hasil-hasil
penelitian-penelitian tersebut dan berusaha
untuk menjustifikasi dan menafsirkan wahyu para
nabi. Mereka mengatakan:
"Wahyu
adalah bukan ilham dari dunia luar akan tetapi
bersumber dari dalam
diri
nabi.
Dimensi batiniah
yang lebih tinggi
dari
nabilah yang membisikkan hal-hal tersebut ke
hati beliau. Menyerahkan sepenuhnya ke tangan
beliau program-program yang baik dan bermanfaat
untuk diri beliau sendiri dan orang lain dan
menginstruksikan untuk menyampaikan kepada orang
lain. Memberitahukan hal-hal gaib dari masa lalu
dan masa depan.
Orang yang mengaku
sebagai
nabi beranggapan bahwa Tuhan memberikan
berita-berita dan program-program ini dan
berbicara kepadanya. Terkadang dimensi batin
beliau menjelmakan sebuah bentuk kepadanya dan
berbincang-bincang dengannya dan membayangkan
bahwa itu adalah malaikat wahyu yang membawa
misi dari sisi Tuhan. Sementara tidak ada
sesuatupun selain
dari
manifestasi
dimensi batin itu sendiri."[25]
Dengan memperhatikan kepada kajian-kajian yang
telah dilakukan dalam menafsirkan dan
menjustifikasi wahyu, mereka mengatakan: Memang
benar bahwa para nabi adalah orang-orang yang
ikhlas, jujur dan berkelakuan baik serta tidak
ada kesengajaan untuk berdusta dalam hal-hal
yang mana mereka katakan itu sebagai
hakikat-hakikat gaib yang diwahyukan, hal ini
adalah suatu kebenaran, akan tetapi
bisikan-bisikan ini berasal dari dimensi
internal dan batin mereka bukan dari wujud luar,
dari sisi Tuhan atau melalui malaikat wahyu.
Para nabi hanya melakukan kesalahan dari sisi
bahwa wahyu
yang
mereka yakini
itu bersumber
dari sisi Tuhan. Inilah ringkasan perkataan cendekiawan-cendekiawan
tersebut.
Dalam menjawab sanggahan di atas kita akan
menyinggung beberapa hal:
Pertama:
Anggap saja bahwa kita menerima
aspek
internal
atau dimensi batin manusia
dan meyakini bahwa hal tersebut terkadang dapat
berdampak pada kepribadian lahiriah manusia dan
membisikkan beberapa hal kepadanya, akan tetapi
hal ini tidak dapat menjadi indikasi bahwa
hakikat-hakikat yang telah dibisikkan kepada
para nabi juga termasuk dalam kategori ini dan
tidak datang dari sisi Tuhan. Wahyu dari sisi
Tuhan juga
bersifat
mungkin dan hal itu tidak dapat diingkari. Oleh
karena itu, minimal kita harus memberikan
kemungkinan bahwa wahyu
yang hadir
kepada mereka adalah datang dari sisi Tuhan.
Kedua:
Di dalam buku-buku teologi dan filsafat telah
dibuktikan bahwa manusia dalam mengenal
jalan-jalan penyembahan dan meraih kebahagiaan
duniawi dan ukhrawi, jasmani dan spiritual
membutuhkan tuntunan-tuntunan Ilahi. Dan
tuntunan-tuntunan ini akan terrealisasi melalui
para rasul dan nabi. Telah terbukti bahwa Tuhan
yang Maha
Tinggi
tidak membiarkan hamba-hamba-Nya
terhalang dari pancaran anugerah-anugerah
tersebut. Oleh karena itu, kita harus menerima
pengutusan para nabi dan pancaran anugerah
pengetahuan-pengetahuan gaib sebagai sebuah hal
yang urgen
dan pasti.
Tuhan harus mengutus nabi-nabi dan menyerahkan
pengetahuan-pengetahuan yang diperlukan
kepadanya. Rincian hal ini diluar pembahasan
kita, silahkan merujuk kepada buku-buku akidah
dan teologi.
Ketiga:
Di dalam buku-buku teologi telah dibuktikan
bahwa para pengklaim kenabian tidak dapat
diterima begitu saja hanya dengan klaimnya
semanta, akan tetapi harus disertai dengan
mukjizat dan hal-hal yang sangat luar biasa.
Karena wahyu, hubungan manusia dengan Tuhan,
komunikasi dengan-Nya dan perolehan ilmu-ilmu
gaib itu sendiri adalah semacam perbuatan
yangsangat luar biasa. Oleh karena itu, orang
yang mengaku sebagai nabi harus mendatangkan
mukjizat untuk membuktikan kebenaran pengakuan
kenabiannya
itu.
Dan dengan alasan inilah para nabi yang
sesungguhnya sepanjang sejarah selalu memiliki
mukjizat. Tentu saja tidak berarti bahwa nabi
harus selalu dan pada semua tempat serta atas
permintaan siapa saja melakukan perbuatan yang
sanga luar biasa, akan tetapi beliau akan
menampakkan mukjizat itu sesuai yang diperlukan
dan pada batas kebutuhan tertentu. Jelas bahwa
dengan mendatangkan mukjizat
seiring dengan
pengakuannya memperoleh wahyu dari sisi Tuhan
adalah
hal yang urgen dan
benar,
hal ini
berbeda dengan orang-orang yang memperoleh
hakikat-hakikat melalui
aspek batin dan
internalnya
dimana dia
tidak mengklaim
memperoleh
kenabian dan juga tidak memiliki mukjizat.
Keempat:
Pengetahuan dan informasi yang didapatkan
orang-orang yang mengalami eksperimen tidur
buatan atau pada kondisi-kondisi tidak normal
lain, dari
aspek
internalnya tidak dapat dibandingkan sama sekali
dengan pengetahuan dan informasi luas
dari
para nabi. Penyelesaian beberapa permasalahan
rumit matematika dalam waktu yang singkat,
memberitakan tentang beberapa kejadian masa lalu
dan masa datang, ilham terbatas, hal ini itu
hanya berada pada kondisi tidur buatan atau
kejadian-kejadian nonalami, sementara
informasi-informasi gaib yang luas dari para
nabi yang memiliki jangka waktu yang lama
dihasilkan dalam keadaan normal dari kehidupan
para nabi.
Misalnya al-Qur’an Karim diwahyukan kepada Nabi
saw selama 23 tahun, dalam berbagai persyaratan
dan kondisi, bahkan dalam situasi perang. Di
dalam kitab agama yang rinci ini terdapat
berbagai macam permasalahan: keyakinan, akhlak,
sosial, politik, ibadah, kisah-kisah teladan,
kesehatan atau kebersihan, jihad dan bertahan,
pendidikan, ekonomi, peradilan, pidana dan
berpuluh-puluh macam lagi. Demikian juga
pengetahuan-pengetahuan, hukum-hukum dan
undang-undang yang luas dan bermacam-macam lagi
yang masih tersisa dalam wacana hadis Nabi mulia
saw yang kemudian memformat sebuah agama yang
komprehensif dan lengkap.
Apakah semua pengetahuan dan program-program
luas agama Islam dapat diyakini bersumber dari
kepribadian internal dan
aspek batin
Nabi saw? Perkataan ini tidak dapat diterima
oleh setiap orang berakal manapun.
Kenabian dan Kejeniusan
Sebagian kaum intelektual
meyakini kenabian sebagai kejeniusan
tertentu,
dan para nabi
dipandang
sebagai orang-orang jenius. Mereka menempatkan
para nabi sebagaimana orang-orang jenius lainnya
yakni
orang-orang istimewa pada masa mereka dan
memiliki akal yang sempurna,
kecerdasan
dan ramalan
yang selalu benar.
Mereka memiliki pemikiran-pemikiran cemerlang,
ide-ide mendalam dan keinginan tinggi. Selalu
memikirkan kebaikan dan kebahagiaan umat manusia.
Mengenal problema-problema masyarakat dan
menemukan pemecahannya. Dari sinilah mereka
berusaha merombak keyakinan-keyakinan manusia,
menganjurkan untuk memelihara akhlak baik,
menciptakan hukum dan undang-undang untuk
memperbaiki manusia dan menjamin keamanan sosial.
Dan mereka memperkenalkan hal-hal tersebut
sebagai tugas
Ilahi.
Dan meyakini
bahwa
berusaha dalam jalan ini sebagai sebuah tanggung
jawab
Ilahi.
Ringkasnya, para nabi tidak memiliki hubungan
khusus dengan Tuhan dan tidak ada wahyu dalam
hal itu, akan tetapi seluruhnya berasal dari
refleksi akal-pikiran para jenius ini yang
mereka sandarkan kepada Tuhan.
Untuk menjawab
asumsi kaum
intelektual
ini harus disinggung beberapa
poin:
Pertama.
Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa
pengutusan para nabi adalah sebuah keharusan
teologis. Manusia dalam menjamin kebahagiaan
duniawi dan ukhrawi, jasmani dan ruhaninya
memerlukan tuntunan-tuntunan Tuhan dan
pengarahan-pengarahan para nabi. Oleh karena itu,
Tuhan yang Mahabijak harus mengutus para nabi
dan membekali mereka dengan
pengetahuan-pengetahuan, hukum-hukum dan
undang-undang yang dibutuhkan. Untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan ini keberadaan orang-orang
jenius tidaklah
cukup.
Kedua.
Sebagaimana telah diisyaratkan sebelumnya dalam
ilmu kalam (teologi), telah terbukti bahwa untuk
membuktikan kebenaran klaim-klaim para nabi,
mereka memiliki mukjizat dan perbuatan aneh yang
sangat luar biasa, sementara orang-orang jenius
tidak memiliki kekuatan-kekuatan supranatural
ini.
Ketiga.
Apabila para nabi adalah orang-orang jenius maka
program-program mereka bersumber dari kejeniusan
akal-pikiran mereka, oleh karena itu tidak ada
alasan mereka untuk menyandarkan seluruh program
dan pemikirannya kepada wahyu dan mengklaim
bahwa hal itu diperoleh dari Tuhan, karena semua
orang mengakui bahwa para nabi bukanlah para
penipu dan pendusta.
Kenabian dan
Anggapan
"Kegilaan"
Sebagian orang menganggap pengakuan
menerima
wahyu dan kenabian sebagai
bentuk
kegilaan dan penyakit jiwa.
Dan
untuk menjustifikasi pendapat tersebut mereka
mengatakan para nabi adalah orang-orang beriman
dan fanatik, menginginkan kebaikan dan sangat
merasa kasihan kepada umat manusia dan
ketertindasan orang-orang lemah, membenci
kezaliman, kesewenang-wenangan dan ketidakadilan
para penindas. Selalu memikirkan solusi dan
kebaikan-kebaikan sosial. Sedemikian rupa mereka
memikirkan hal ini sehingga keluar dari kondisi
keseimbangan jiwa. Dan dampaknya, seringkali
mengalami mimpi buruk. Dalam mimpi mendengar
ucapan-ucapan dan memperoleh beberapa hal.
Ketika terjaga mereka menganggap apa yang telah
mereka lihat dalam mimpi sebagai hakikat dan
realitas yang dibisikkan dari sisi Tuhan yang
berbentuk wahyu dan mereka lantas dipilih
menjadi nabi. Secara bertahap ketika pemikiran
ini semakin menguat seringkali perasaan seperti
ini
hadir pada mereka
dalam kondisi terjaga. Mereka mendengar
suara-suara yang berbincang-bincang dengan
mereka dan membawa misi dari sisi Tuhan serta
memberikan tugas.
Mereka juga beranggapan semuanya ini sebagai
realita, meyakini tindakan ini sebagai wahyu dan
diri mereka sebagai nabi. Sementara seluruh
hal ini sebenarnya
bersumber dari dalam diri mereka yang sensitif,
fanatik dan tidak stabil, bukan dari sisi Tuhan
dengan perantara wahyu. Tak ada wahyu
dan
tak ada malaikat, tak ada sesuatu apapun selain
fantasi dan khayalan.
Anda dapat saksikan fantasi-fantasi,
khayalan-khayalan, kesaksian-kesaksian dan
perbincangan-perbincangan seperti
itu
pada sebagian orang gila.
Inilah ringkasan justifikasi orang-orang
tersebut.
Tentu saja tuduhan tersebut bukanlah hal baru,
akan tetapi dapat disimpulkan dari al-Qur’an
bahwa pada masa turunnya al-Qur’an dimana
sebagian orang yang menentang juga melontarkan
hal semacam ini kepada Nabi Muhammad saw. Bahkan
mereka berkata (pula):
"(Al-Qur’an
itu adalah) mimpi-mimpi yang kalut, malah
diada-adakannya, bahkan dia sendiri seorang
penyair, maka hendaknya ia mendatangkan kepada
kita suatu mukjizat, sebagaimana rasul-rasul
yang telah lalu diutus."[26]
Dan mereka berkata:
"Hai
orang yang diturunkan al-Qur’an kepadanya,
sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila."[27]
Demikianlah tidak seorang rasul pun yang datang
kepada orang-orang yang sebelum mereka,
melainkan mereka mengatakan:
"Ia
adalah seorang tukang sihir atau orang gila."[28]
Dan ayat-ayat lain yang serupa.
Dari ayat-ayat seperti di atas dapat disimpulkan
bahwa pada masa Nabi Muhammad saw terdapat
orang-orang yang menuduh beliau sebagai orang
gila, penyihir dan penyair dan dengan cara ini
mereka menentang kenabian beliau. Orang-orang
seperti
ini dapat dibagi ke
dalam
dua kelompok:
Kelompok pertama.
Adalah
orang-orang bodoh dan tidak berilmu yang tidak
mampu menjangkau dengan benar arti wahyu dan
hubungan nabi dengan Tuhan yang adalah sebuah
hal yang luar biasa, dan oleh karena itulah
mereka mengingkarinya, dan untuk
menjustifikasinya menuduh Nabi sebagai orang
gila, penyihir atau penyair, sehingga dapat
menenangkan hati sendiri dan juga memalingkan
orang-orang dari beliau.
Kelompok kedua.
Adalah
para pembangkang dan orang-orang musyrik yang
melontarkan tuduhan-tuduhan tersebut melalui
pembangkangan dan permusuhan sehingga
menghalangi syiar-syiar dan penyebaran Islam.
Akan tetapi setiap orang yang berilmu dan tidak
fanatik mengetahui bahwa wujud suci Nabi besar
Muhammad saw bersih dari tuduhan-tuduhan semacam
itu, untuk menjelaskan hal tersebut akan
disinggung beberapa poin:
1.
Kehidupan Nabi Islam sebelum dan setelah
bi’tsat (pengangkatan sebagai nabi dan rasul)
sangat jelas dan gamblang, rincian kehidupan
beliau telah tercatat di dalam sejarah dan
berada di hadapan orang-orang yang
menginginkannya. Setiap orang yang tidak fanatik
dan tidak bertendensi apabila merujuk kepada
sejarah kehidupan beliau akan memahami bahwa
beliau hidup dalam kesempurnaan akal dan
kestabilan jiwa serta tidak memiliki titik
kelemahan sekecil apa pun dalam kehidupannya
dimana membuktikan bahwa beliau mengalami
kegilaan atau ketidakseimbangan jiwa. Di dalam
kehidupan rumah tangga, berhubungan dengan
famili, interaksi dengan para sahabat, dalam
kondisi perang dan damai, dalam
wejangan-wejangan dan ceramah-ceramah, dalam
menjelaskan hukum-hukum dan undang-undang, dalam
berhadapan dengan musuh-musuh, dan secara
universal dalam seluruh kondisi, menggunakan
akal dan kebijaksanaan sempurna,
dan apabila terlihat sebaliknya maka pasti akan
tercatat dalam sejarah dan musuh-musuh beliau
tidak akan begitu saja membiarkan hal ini.
2.
Al-Qur’an al-Karim yang telah turun selama 23
tahun kepada Rasul dapat dijadikan sebagai bukti
terbaik kesempurnaan akal dan keseimbangan jiwa
beliau. Apakah dari seorang yang gila atau
penyihir dapat mendatangkan sebuah kitab yang
indah seperti ini dengan segala kandungannya
yang bermacam-macam dan berharga dari sisi
saintis, keyakinan, akhlak, fikih, historis,
politik, dan sosial?
Karya seperti ini
tidak
memperlihatkan
hal terkecil
sekalipun
dari ketidakseimbangan jiwa dalam wujud beliau.
3.
Pensyariatan agama Islam, penciptaan
undang-undang dan hukum-hukum mendetail dalam
aspek ibadah, politik, sosial, fikih, peradilan
dengan seluruh kejelian dan keluasannya juga
dapat dimasukkan sebagai bukti terbaik
kesempurnan akal dan kesehatan jiwa beliau.
4.
Para penentang dan musuh Islam sendiri dalam
melontarkan tuduhan kepada beliau juga tidak