Artikel

 

 

 

Hubungan Nabi dan Malaikat Menurut Pemikir Muslim

 

 

  

Ibnu Khaldun menulis, "Selain alam tabiat manusia ini terdapat alam ruhani dan malaikat. Jiwa manusia berpotensi beranjak dari sisi ketabiatannya menuju alam para malaikat yang berada di atas alam ini, dan pada suatu waktu berada di dalam kumpulan para malaikat, mengambil ilmu pengetahuan dari alam tersebut dan kembali lagi ke alam jasmaninya, dan menyampaikan apa-apa yang ia perolehnya kepada orang lain. Arti wahyu dan ucapan malaikat adalah juga seperti hal ini."[1]

Shadrul Mutaallihin (Mulla Sadra) mengenai hal ini menyatakan bahwa ketika ruh Nabi beranjak ke alam malaikat yakni alam wahyu rabbani, maka beliau mendengar kalam Allah yakni maklumat hakikat-hakikat dalam maqam “qooba qousaini au adnaa” yang adalah maqam kedekatan Ilahi dan maq’ad shidq. Wahyu di sini adalah berupa kalam hakiki rabbani.

Dan demikian juga ketika ruh para nabi menjalin hubungan dengan malaikat illiyyin atau malaikat tertinggi maka akan mendengar kalam dan bisikan mereka. Kalam mereka adalah kalam Allah yang turun ke hati-hati mereka, karena malaikat-malaikat ini berada dalam maqam kedekatan tertinggi Ilahi. Sebagaimana Nabi Muhammad saw memberitakan bahwa pada malam mi’raj aku telah sampai pada sebuah maqam sehingga aku mendengar kalam para malaikat. Ketika ruh Nabi saw turun dari alam atas ke tingkat malakut samawi, apa-apa yang beliau telah saksikan di alam arwah qadariyah, gambarannya menjelma bagi Nabi Muhammad saw, dan me-lahiriah kepadanya. Oleh karena itu, terjadi sebuah kondisi menyerupai "ketakutan" dan "ketidaksadaran" menyelimuti beliau. Sebelumnya telah dikatakan bahwa ruh suci Nabi berada pada batas pertengahan antara alam mulk (alam fisik dan duniawi yaitu tubuh) dan malakut (alam batin dan gaib), dan ruh tersebut mengendalikan masing-masing dari keduanya, maka beliau dengan perasaan dan indera melakukan suluk kepada Tuhan semesta alam. Dengan demikian, perasaan dan jiwanya terselimuti dengan makrifat dan ketaatan kepada Allah.

Ketika sosok manusia seperti ini Nabi Muhammad saw menjadi obyek kalam Allah Swt –baik tanpa perantara atau dengan perantara malaikat wahyu- tanpa adanya hijab eksternal dan menjalin hubungan dengan alam gaib, maka sebuah gambaran dari alam malakut dan bentuk jabarut akan memantul dalam jiwa beliau saw, dan efeknya, sebuah gambaran dari wahyu dan pembawanya akan menjelma juga dalam wilayah indera batin beliau. Dalam kondisi seperti itulah indera lahiriah Nabi akan terhubung dengan indera batin dan gambaran dari realitas itu akan menjelma baginya. Perlu diperhatikan juga bahwa gambaran-gambaran dan jelmaan-jelmaan ini memiliki realitas hakiki dan bukan bersifat mimpi-mimpi dan imajinasi-imajinasi kosong belaka.

Atas dasar itu, malaikat menjelma dalam sebuah bentuk inderawi kepada Nabi dan beliau pun menyaksikannya dengan kemampuan spiritual yang dimilikinya. Maka Nabi Muhammad saw menyaksikan malaikat dengan sebuah "bentuk" tidak sebagaimana yang sesungguhnya, karena keberadaan yang nonmateri (mujarrad, abstrak) ketika turun dan menjelma ke alam dunia, akan menjadi sebuah keberadaan duniawi dan terbatas. Oleh karena itu, ia dapat disaksikan dalam bentuk keberadaan duniawi dan ucapannya dapat didengar, walaupun dalam tahap-tahap yang lebih tinggi dari wahyu itu bersifat abstrak dan berada di alam akal. Dan terkadang tampak dalam bentuk lauh (lembaran) tertulis.

Oleh sebab itu malaikat pembawa wahyu, ucapan dan kitabnya turun dari alam gaib dan batin kepada perasaan-perasaan inderawi dan daya intelektual Nabi, akan tetapi penjelmaan ini tidak berarti perpindahan malaikat dari maqamnya ke maqam yang lebih rendah, namun artinya adalah gerak Nabi dari tingkatan batin kepada tingkatan lahiriah, berbeda dengan perjalanan pertama beliau saw yang beranjak dari alam materi dan indera ke alam gaib."[2]

Ringkasan ucapan filosof ini adalah sebagai berikut: Ruh yang bercahaya dan jiwa malakuti Nabi dalam sebuah perjalanan batin dan ruhani melakukan proses perjalanan menaik menuju alam malaikat yang adalah gudang penyimpanan ilmu-ilmu Ilahi. Nabi menyaksikan malaikat wahyu dengan mata hati, mendengar kalam malaikat yang adalah kalam Allah dengan telinga batin. Dalam kondisi seperti ini, ilmu-ilmu yang ada di dalam realitas cahaya para malaikat pembawa wahyu terpantul ke dalam hati Nabi yang juga penuh cahaya itu.

Dengan memperhatikan bahwa ruh kudus Nabi berada di antara alam mulk (lahiriah dan fisik) dan malakut (batin dan gaib) dan mampu mengendalikan sisi mulki dan malakuti-nya dalam satu waktu, dalam keadaan menyaksikan dunia gaib dan menyaksikan Jibril As, dan mendengar ucapannya melalui ruh kudus, mata hati dan telinga batinnya, maka pada kondisi itulah jiwa Nabi juga turun dan masuk ke alam imajinasi dan indera lahiriah. Dalam manifestasi ini Jibril As menjelma dalam bentuk sesosok manusia rupawan dan tidak asing bagi Nabi saw. Nabi lantas menyaksikannya dan mendengar ucapanya.

 

Faktor-faktor Wahyu

Wahyu atau koneksi dengan alam gaib memiliki beberapa faktor:

 

1.       Sumber Wahyu. Sumber wahyu adalah Zat Mahasuci Allah Swt yang menjalin hubungan dengan nabi tanpa perantara atau dengan perantara malaikat pembawa wahyu.

2.       Malaikat. Malaikat wahyu adalah Jibril As yang adalah sebuah sarana natural dan alami untuk turunnya wahyu. Dia mengemban misi Ilahi. Nabi menyaksikannya dalam bentuk manusia rupawan dan terkadang dengan bentuk asli dan mendengar ucapannya.

3.       Penerima Wahyu. Penerima wahyu adalah seorang manusia sempurna yang karena keterjagaannya dari dosa, meninggalkan dosa, menjauhi kecintaan kepada dunia, dan kesucian jiwanya berpotensi menciptakan koneksi dengan alam gaib dan memperoleh pengetahuan-pengetahuan Ilahi. Seluruh nabi memiliki kondisi jiwa seperti ini. Perolehan wahyu secara rasional tidak terbatas kepada para nabi saja, akan tetapi setiap orang yang berada dalam tingkatan kesempurnaan ini dapat menjalin hubungan dengan alam gaib dan memperoleh pengetahuan-pengetahuan, namun pembuktiannya butuh kepada argumen pasti dan dalam kondisi seperti ini pengetahuan-pengetahuan hasil perolehan itu tidak akan dapat digolongkan ke dalam wahyu tasyri’i.

4.       Kandungan Wahyu. Kandungan atau isi wahyu berupa seluruh pengetahuan yang turun dari sisi Allah kepada Nabi, seperti pengetahuan-pengetahuan yang berhubungan dengan Tuhan alam semesta dan sifat-sifat jamaliyah dan jalaliyah-Nya, pengetahuan-pengetahuan berkenaan dengan hari kebangkitan dan alam pasca kematian, pengetahuan-pengetahuan seputar kenabian, baik termasuk dalam kategori rukun-rukun iman dan juga argumentasi rasional yang dapat dibuktikan atau keyakinan-keyakinan lain yang diperoleh hanya melalui wahyu. Demikian juga penjelasan kisah-kisah para nabi dan sejarah umat atau orang-orang terdahulu yang dapat berpengaruh sebagai pelajaran dan petunjuk bagi manusia. Penjelasan akhlak mulia dan menyeru mereka kepadanya, akhlak tercela dan melarang mereka darinya, walaupun akal juga dapat menjangkaunya. Metode penyembahan  dan hukum-hukum dalam beribadah (adab ibadah); hal-hal yang wajib dan hal-hal yang mustahab atau sunnah. Dan keterangan permasalahan-permasalahan haram yang merugikan untuk kehidupan duniawi atau kejiwaan manusia, juga hukum-hukum dan undang-undang politik, sosial, hak asasi, hukum pidana, ekonomi, kesehatan, militer dan kedisiplinan yang urgen dalam menjamin kebahagiaan dan kedamaian kehidupan duniawi manusia.

Ringkasnya hal-hal yang terdapat di dalam al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi sebagai sesuatu yang merupakan kandungan dan isi wahyu.

Wahyu terkadang disandarkan kepada Allah, yang berarti pancaran pengetahuan-pengetahuan agama ke hati para nabi dan terkadang digunakan untuk kandungan wahyu yaitu pengetahuan-pengetahuan yang turun dari sisi Allah.

 

Wahyu dan Keterjagaan dari Segala Bentuk Kesalahan

Sekarang muncul pertanyaan seperti ini: Apakah hakikat-hakikat wahyu, seperti al-Qur’an, Taurat dan Injil dan hakikat-hakikat lain yang diturunkan kepada para nabi sebagai wahyu adalah hakikat-hakikat final yang terjaga dari segala bentuk kesalahan dan kekeliruan, ataukah ada kemungkinan untuk bisa salah?

Di sini ada dua pendapat:

 

Pendapat Pertama. Kaum muslimin yang menerima kemungkinan pertama mengatakan hakikat-hakikat yang terdapat di dalam al-Qur’an, mulai dari kata-kata, kalimat-kalimat, dan makna-maknanya semuanya bersumber dari sisi Allah dan berasal dari sumber yang sangat terjaga dari segala kesalahan yaitu ilmu Ilahi; dan Nabi Muhammad saw juga di dalam penerimaan wahyu dan penyampaiannya niscaya terjaga dari segala kesalahan, kelalaian dan kekeliruan. Mengenai seluruh hal seputar wahyu, yaitu seluruh hal yang dilontarkan Nabi sebagai wahyu dan penyampaiannya telah terbukti dengan argumen-argumen tentang keterjagaannya dari segala kekeliruan.

Sebagian kaum Kristen tradisional juga berkeyakinan seperti ini mengenai kitab-kitab suci dan hakikat-hakikat yang berhubungan dengan wahyu. Di dalam buku ‘Ilm Wa Din (Pengetahuan Dan Agama) disebutkan demikian, "Semenjak abad ketujuh belas banyak di antara kaum Protestan menerima kitab suci sebagai gudang penyimpanan pengetahuan-pengetahuan laduni dan lahi yang terpelihara dari kesalahan, di antaranya mencakup permasalahan-permasalahan ilmiah yang berasal dari sisi Tuhan. Yaitu mereka tidak memandang kitab suci sebagai riwayat beberapa kejadian yang di dalamnya Tuhan menjelma, mereka melihatnya sebagai kumpulan pengetahuan-pengetahuan tanpa cela dan tidak menerima kesalahan yang turun dari sisi Tuhan berdasarkan kata per kata."[3]

Di dalam buku Falsafe-ye Din (Filsafat Agama) disebutkan demikian, "Wahyu adalah sekumpulan hakikat yang dijelaskan dalam bingkai hukum-hukum dan premis-premis, wahyu mentransfer hakikat-hakikat Ilahi secara originil dan valid kepada manusia. Menurut Ensiklopedia Katolik: Wahyu dapat didefinisikan sebagai pentransferan sebagian hakikat dari sisi Tuhan kepada keberadaan-keberadaan yang berakal melalui perantara-perantara yang berada di balik kejadian biasa di alam."[4]

Akan tetapi mayoritas ulama Kristen kontemporer menafsirkan wahyu dengan perspektif lain dan tidak meyakini kandungan kitab suci sebagai sesuatu yang terjaga dari kesalahan. Di dalam buku ‘Ilm Wa Din dijelaskan, "Tuhan mengirim wahyu namun tidak dengan melalui pendiktean langsung dan tidak dengan kitab yang terjaga dari perubahan dan kesalahan, akan tetapi dengan kehadiran dan manifestasi diri-Nya di dalam kehidupan al-Masih dan seluruh nabi serta Bani Israel. Dengan demikian, kitab suci adalah bukan kitab wahyu langsung akan tetapi kesaksian seseorang atas refleksi wahyu di dalam cermin kondisi-kondisi dan pengalaman-pengalaman manusiawi."[5]

Di dalam buku Falsafe-ye Din tertulis, "Menurut keyakinan para reformis religius abad keenambelas (Luther dan Kallon), wahyu adalah bukan sekumpulan hakikat mengenai Tuhan akan tetapi Tuhan masuk ke area eksperimen batin manusia melalui pemberian efek dalam kejadian-kejadian sejarah. Dari kaca mata ini hukum-hukum teologi tidak bersandar kepada wahyu akan tetapi menjelaskan usaha-usaha manusia untuk mengenal arti dan keurgenan kejadian-kejadian yang berhubungan dengan wahyu."[6]

Di dalam buku ‘Ilm Wa Din menukil dari ucapan Uskup Agung Tempel yang mengatakan, "Wahyu dan eksperesinya akan muncul di dalam sebuah kejadian. Dari sini, Tuhan tidak bermaksud mendiktekan sebuah kitab atau membisikkan ajaran-ajaran yang tidak ada kesalahannya didalamnya, akan tetapi bertujuan menampakkan kejadian-kejadian di dalam kehidupan manusia. Kitab suci itu sendiri seluruhnya adalah sebuah karya tulis manusia yang menghikayatkan kejadian-kejadian yang berhubungan dengan wahyu tersebut."[7]

Dia juga menulis, " Penafsiran-penafsiran Luther dan bahkan Kallon tentang kitab suci adalah tergolong yang fleksibel dan tidak rumit. Menurut keyakinan mereka, sumber konvidensi dan kevalidan wahyu tidak berada pada teksnya (kitab tertulis) akan tetapi berada di dalam diri al-Masih yakni tempat turun dan obyek wahyu. Kitab suci menjadi penting karena adalah saksi kebenaran atas fenomena-fenomena bebas yang memantulkan kasih sayang dan ampunan Ilahi yang menjelma di dalam diri Almasih dalam kondisi-kondisi personal mereka dan seluruh kaum mukmin. Menurut pandangan kaum reformis pertama, kata wahyu (kalimatullah atau kitab hidup) dikonfirmasikan melalui inspirasi-inspirasi yang dapat diperoleh setiap orang dari Ruhul Kudus."[8]

Dari sudut pandang ini, sebagian ulama Kristen juga memperbolehkan kemungkinan salah pada Nabi Muhammad saw. Salah seorang di antara mereka menulis demikian, "Keyakinan bahwa Kenabiaan Muhammad adalah benar tidak berindikasi bahwa seluruh keyakinannya adalah benar. Bisa saja seseorang memiliki pengetahuan yang terpadu di dalam sebuah permasalahan akan tetapi dia keliru."[9] Bukan hal yang sulit bagi para penulis Barat membuktikan bahwa Muhammad mungkin melakukan kesalahan-kesalahan.

Teori ilmuwan Kristen dalam menegaskan bahwa kesalahan dan kekeliruan pada hakikat-hakikat yang berhubungan dengan wahyu adalah bersumber dari penafsiran khusus mereka seputar wahyu. Mereka menafsirkan wahyu itu sebagai bentuk manifestasi Zat Maha Suci Ilahi di dalam diri Isa As, meyakini al-Masih sebagai bukti dan fakta wahyu dan menganggap kalamnya sebagai kalam seorang manusia yang bisa salah, akan tetapi kita sebelumnya telah menyinggung ketidakbenaran pondasi teori ini, maka ketidakbenaran bangunannya pun menjadi jelas.

Kaum Muslimin tidak hanya meyakini keterjagaan dan kemaksuman Nabi Muhammad saw dari setiap kesalahan, kekeliruan, kealpaan dan dosa, bahkan meyakini bahwa seluruh nabi juga seperti ini. Mereka meyakini kemaksuman dan keterjagaan para nabi di dalam penerimaan, penjagaan dan penyampaian wahyu itu. Kebohongan, kesalahan dan kealpaan pada diri nabi tidak beralasan, karena keterjagaan dari dosa adalah salah satu syarat final dan wajib bagi kenabian dan menjadi bahan pembahasan secara mendetail di dalam kitab-kitab teologi dan untuk membuktikannya dilontarkan argumentasi-argumentasi rasional dan tekstual.

Disebutkan bahwa tujuan terpenting para nabi adalah menyodorkan hakikat-hakikat yang bersumber dari wahyu yang dibutuhkan oleh manusia dalam menempuh jalan kebahagiaan dunia dan akhirat, jasmani dan ruhani dengan tanpa mengurangi atau menambahi sedikitpun isi wahyu, dan realisasi hal ini tidak akan mungkin tanpa kemaksuman dan keterjagaan nabi dari kesalahan dan dosa. Apabila sosok nabi secara spiritual dan batin sama seperti seluruh manusia yang bisa berbuat salah maka apakah ada jaminan bahwa para nabi menyodorkan hakikat-hakikat asli yang berasal dari wahyu secara sempurna kepada manusia?

Permasalahan ini juga telah disinggung di dalam al-Qur’an, "(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhaiNya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu."[10]

Di dalam ayat tersebut Allamah Thaba’thabai menulis, "Maksud dari “min baini yadaihi adalah apa yang ada antara Rasulullah saw dan manusia-manusia. Dan maksud  dari “min khalfihi” adalah apa yang ada antara Nabi saw dan sumber wahyu yaitu Allah.

Ayat di atas mengindikasikan bahwa wahyu Ilahi sejak diambil dari sumbernya hingga penyampaian kepada manusia, terjaga dari segala bentuk kesalahan dan kekeliruan. Nabi dalam tahap penerimaan hingga penyampaian wahyu kepada umat manusia terpelihara dari pengaruh setan. Jumlah “Liya’lama an qad ablaghuu risaalaati rabihim” menunjukkan hal ini. Jelas bahwa wahyu itu harus disampaikan kepada umat manusia secara sempurna, dan apabila rasul atau utusan-Nya tidak terjaga dari segala bentuk kesalahan dan kekeliruan maka tidak ada jaminan bahwa wahyu Tuhan itu sampai ke tangan manusia secara sempurna."

Oleh karena itu, dengan memperhatikan argumentasi-argumentasi rasional dan tekstual (al-Quran dan hadis), kemaksuman dan keterjagaan para nabi dari kesalahan dalam menerima dan menyampaikan wahyu adalah sebuah hal yang pasti, sebagai konklusinya wahyu juga terpelihara dari kesalahan dan kekeliruan.

Akan tetapi, tidak berarti bahwa apa-apa yang telah disandarkan kepada para nabi di dalam kitab-kitab sejarah dan hadis seratus persen benar, namun permasalahan ini hanya memiliki kebenaran di dalam al-Qur’an, karena kepastian sumbernya dari Allah Swt, dan demikian juga dapat disebutkan mengenai hadis-hadis yang telah terbukti bersumber dari Nabi saw dengan arumentasi-argumentasi valid yang berdasarkan hukum agama.

Dalam menjustifikasi keterpeliharaan wahyu dari kesalahan dapat dijelaskan demikian: Sebagaimana yang telah lewat bahwa wahyu berbeda dengan pengetahuan-pengetahuan hushuli (pengetahuan dengan korespondensi) dan pengetahuan-pengetahuan selain hushuli. Karena pada wahyu hakikat-hakikat yang bersifat kewahyuan secara langsung diturunkan ke hati dan jiwa Nabi dari sisi Allah Swt, tanpa andil indera lahiriah di dalamnya. Pengetahuan-pengetahuan yang berhubungan dengan wahyu bukan termasuk dalam kategori konsepsi-konsepsi atau pemahaman-pemahaman akan tetapi semacam penyaksiaan batin dan hudhuri (pengetahuan dengan kehadiran). Ilmu hudhuri tidak menerima kesalahan. Oleh karena itu, dalam penerimaan wahyu itu tidak terdapat satu kesalahanpun.

Pada penurunan hakikat yang berhubungan dengan wahyu dari ruh Nabi kepada indera dan penyampaiannya kepada manusia juga tidak terjadi kesalahan dan kekeliruan, karena hal itu berdiri tegak di atas kesaksian-kesaksian hudluri Nabi dan bersumber dari batin beliau. Dan dukungan kokoh batin ini senantiasa dan dalam semua kondisi akan berada di dalam genggaman dan kontrol Nabi.

 

Sarana Keyakinan

Mungkin saja seseorang berkata para nabi adalah orang-orang yang jujur, dalam hal ini tidak dapat diragukan bahwa terkadang mereka merasa mendapatkan bisikan di dalam hati. Akan tetapi dari manakah mereka memahami bisikan tersebut datang dari sisi Allah dan bukan termasuk bisikan-bisikan yang datang dari setan atau hawa nafsu? Bagaimanapun juga masih ada kemungkinan bahwa bisikan-bisikan tersebut berasal dari setan, bagaimanakah kemungkinan ini dapat dinafikan?

Untuk menjawabnya –sebagaimana yang sebelumnya telah kita katakan-, wahyu tidak termasuk dalam kategori pengetahuan-pengetahuan hushuli sehingga mungkin saja mengalami kesalahan, akan tetapi pengetahuan-pengetahuan dan hakikat-hakikat wahyu dibisikkan kepada batin Nabi, dan beliau menangkapnya secara hudhuri. Ketika wahyu turun Nabi menyaksikan realita dan hakikat wahyu dengan mata hati yang mana tidak ada kemungkinan terjadi kesalahan sama sekali.

Di dalam sebagian hadis juga telah disinggung seperti penjelasan ini.

Zurarah berkata, Aku berkata kepada Abu Abdillah (Imam Ja’far Shadiq As): Bagaimana Rasulullah saw tidak merasa takut tentang apa yang datang kepada beliau saw dari sisi Allah adalah dari bisikan-bisikan setan? Zurarah berkata: Maka Imam Shadiq As bersabda: Sesungguhnya Allah ketika menjadikan seorang hamba sebagai rasul atau utusan maka Dia akan menurunkan ketenangan dan ketenteraman kepadanya. Maka apa yang datang kepada beliau saw dari sisi Allah Swt seperti apa yang beliau saw lihat dengan mata.[11]

Dikatakan kepada Imam Shadiq As: Bagaimana para rasul mengetahui bahwa mereka adalah utusan? Imam Shadiq as menjawab: Tersingkapnya tirai dari mereka.[12]

Muhammad bin Muslim dan Muhammad bin Marwan dari Imam Shadiq as, beliau bersabda: Rasulullah saw tidak mengetahui bahwa Jibril As datang dari sisi Allah kecuali dengan taufik.[13]

Syekh Mufid ra menunjukkan metode lain dalam pemecahan problema ini. Ia menulis, "Oleh karena nabi memiliki mukjizat maka beliau memahami bahwa kalam yang dibisikkan ke hati beliau adalah kalam Allah dan tidak datang dari setan. Mengenai al-Qur’an juga demikian karena dia adalah mukjizat maka nabi memahami bahwa dia datang dari sisi Allah dan sebagai kalam-Nya. Sebagaimana Nabi Musa As mendapatkan keyakinan bahwa perbincangan dari pohon adalah berasal dari sisi Allah melalui mukjizat yadun baidho’ (tangan yang bercahaya) dan (perubahan tongkat menjadi ular)."[14]

Dengan demikian, harus dikatakan bahwa para nabi telah memahami dengan jelas dan yakin semenjak permulaan wahyu bahwa mereke itu telah menjadi nabi dan kalam Tuhan akan turun kepada mereka, mereka meyakini hal ini dan tidak ada keraguan dan kesamaran di dalamnya sehingga harus membutuhkan konfirmasi orang lain. Dan tidak dapat diterima apabila di dalam sejarah terlihat sesuatu yang bertentangan dengan ini.

 

Tanda-tanda Kehadiran Wahyu pada Nabi

Dari sebagian hadis, nukilan dan kesaksian para sahabat dapat disimpulkan bahwa ketika hadirnya wahyu, Nabi Muhammad saw mengalami beberapa kondisi dan keadaan yang mereka anggap sebagai tanda-tanda turunnya wahyu.

Dinukil bahwa penerimaan wahyu sedemikian berat bagi beliau sehingga pada musim dingin keringat bercucuran dan mengaliri wajah sucinya. Menurut nukilan lain, air muka beliau berubah dan kepala beliau menunduk ke bawah. Para sahabat menamakan kondisi tersebut dengan burohaa’ul wahy (kesukaran-kesukaran wahyu).[15]

Diriwayatkan bahwa ketika turunnya wahyu terkadang Nabi saw sedang berada di antara para sahabat, karena pengaruh wahyu beliau saw sampai tidak sadarkan diri dan keringat mengaliri sekujur tubuh, ketika kembali kepada kondisi semula beliau saw bersabda: Allah Swt telah menurunkan firman begini dan begitu, dan memerintahkan fulan amal dan melarang fulan perbuatan kepada kalian.[16]

Ikrimah berkata: "Ketika wahyu turun kepada Rasulullah saw sesaat beliau saw seperti seorang yang tidak sadar jatuh ke tanah."[17]

Abu Arwa berkata: "Aku melihat Nabi saw ketika turun wahyu padanya beliau sedang berada di atas hewan tunggangannya. Maka hewan tersebut mengerang, dan kaki-kakinya menjadi sedemikian lemas sehingga aku mengira akan segera patah dan terkadang lututnya ambruk ke tanah karena beratnya beban dan terkadang kaki depannya tertancap, dan kondisi ini berlanjut hingga selesainya wahyu. Dalam keadaan demikian ini keringat seperti mutiara mengucur dari kepala dan wajah Rasulullah saw."[18]

Dari sebagian hadis dapat disimpulkan bahwa kondisi-kondisi ini tidak terjadi pada setiap kali turunnya wahyu akan tetapi di saat Nabi menerima wahyu secara langsung dari sisi Allah Swt tanpa melalui perantara malaikat Jibril As.

Zurarah menukil dari ayahnya yang berkata: "Aku berkata kepada Imam Shadiq As: Bagaimana keadaan sulit yang terjadi pada Rasululah saw ketika turun wahyu? Imam Shadiq As bersabda: Kondisi sulit terjadi ketika tidak ada penghalang antara Allah Swt dan Nabi saw, yakni ketika Allah Swt bermanifestasi kepada Nabi. Dan inilah kenabian."[19]

Hisyam bin Salim menukil dari Imam Shadiq As ketika sebagian sahabat bertanya kepada beliau: Terkadang Rasulullah saw berkata: Jibril As, inilah Jibril As dan dia sedang memberikan perintah kepadaku, dan pada kesempatan lain dalam keadaan tidak sadarkan diri, apakah artinya? Imam Shadiq as menjawab: Kondisi tidak sadar terjadi ketika wahyu turun dari sisi Allah secara langsung tanpa melalui perantara Jibril, akan tetapi apabila Jibril As menjadi perantara wahyu tidak terjadi apa-apa, dan beliau saw berkata: Jibril As membisikkan demikian dan ini adalah Jibril As."[20]

Ringkasnya kondisi-kondisi tersebut adalah dari tanda-tanda wahyu dan sahabat Nabi saw telah terbiasa dengan hal tersebut. Abu Hurairah berkata: "Ketika wahyu turun kita juga mengetahuinya, atensi sahabat tertuju kepada Nabi saw dan hingga selesainya wahyu mereka tidak mengalihkan mata."[21]

Dari nukilan-nukilan seperti ini dapat disimpulkan bahwa ketika turun wahyu sebuah kondisi tidak alami menimpa Nabi saw, dan karena para sahabat tidak memiliki sebuah ekspresi yang benar untuk menjelaskan kondisi tersebut, mereka menceritakan kondisi tidak alami ini dengan bantuan kata-kata seperti: seperti kondisi tak sadar, tak terkontrol, dan lain sebagainya.

Kondisi ini dapat didefinisikan sebagai semacam keberpalingan dari dunia, tertarik dan tersambung dengan alam gaib. Karena memikul beban ini sangat berat atas seseorang maka tampaklah kondisi-kondisi seperti itu. Hubungan seorang manusia yang bersifat jasmani, walaupun sedemikian tinggi, dengan Tuhan yang Maha Besar adalah sebuah hal yang berat dan sulit.

Allah swt berfirman di dalam al-Qur’an: "Sesungguhnya Kami akan meurunkan kepadamu perkataan yang berat."[22] 

Ibnu Khaldun menulis: "Para nabi dalam kondisi turun wahyu terputus dari alam ini yang mana dapat digambarkan kegelisahan dan ketidaksadaran menyelimuti mereka, sementara tidaklah demikian, akan tetapi mereka tenggelam dalam menyaksikan malaikat wahyu. Pada saat itulah mereka memiliki sebuah persepsi spesial yang berbeda dengan persepsi-persepsi pada umumnya manusia."[23]

Di tempat lain ia menulis: "Di antara manusia harus ada orang-orang istimewa yang pada suatu waktu dan kesempatan dapat meninggalkan keterikatannya dengan alam materi dan terbang ke arah dunia malaikat, memperoleh ilmu-ilmu pengetahuan kemudian kembali ke dunianya dan berada di tengah-tengah manusia lain. Inilah arti wahyu. Karena efek keluar dari kejasmaniannya sehingga terjadilah kondisi-kondisi dan suara-suara yang tidak biasa mereka alami."[24]

Mungkin salah satu alasan tuduhan kepada Nabi besar Islam saw dengan penyakit gila, atau penyakit jiwa yang dilontarkan oleh musuh-musuh Islam adalah terjadinya kondisi-kondisi turunnya wahyu.

Akan tetapi tuduhan ini sepenuhnya tertolak, karena berdasarkan kesaksian sejarah, kehidupan Muhammad saw sebelum pengangkatan sebagai nabi dan rasul adalah sebuah kehidupan yang samgat teratur dan sehat, dan tidak pernah dituduhkan kepada beliau saw akan tertimpa penyakit gila; tidak pada umur kanak-kanak tertimpa penyakit-penyakit semacam ini, tidak juga pada periode remaja dan dewasa. Apabila ada sesuatu maka hal itu niscaya akan disinggung oleh sejarah. Pada kondisi-kondisi biasa tidak terlihat pengaruh-pengaruh dari kegilaan dan epilepsi. Hanya pada saat wahyu turun tampak kondisi-kondisi tidak biasa. Musuh-musuh Islam karena tidak mengetahui hakikat dan kejadian-kejadian yang berasal dari hal itu, melihat tuduhan gila sebagai hal yang pantas dan dengan perantara itu mereka menampakkan permusuhan terhadap Islam.

Apakah mungkin bagi orang yang tertimpa penyakit gila mendatangkan sebuah kitab seperti al-Qur’an, menciptakan dan menulis hukum-hukum dan undang-undang luas dan jeli, dan memberikan ilmu-ilmu mendalam seperti apa yang terdapat di dalam al-Qur’an dan hadis kepada manusia? Dan dalam jangka waktu 23 tahun berusaha dengan sangat jeli, perhitungan dalam bertabligh dan menyebarkan agama Islam, menjinakkan berbagai macam konspirasi musuh-musuh dan mengokohkan pondasi-pondasi Islam? Apabila tuduhan semacam itu memiliki kebenaran apakah kaum muslimin pada permulaan Islam yang mengetahui persis kondisi Nabi saw pasrah kepada seorang manusia yang gila dan berjuang serta berkorban hingga sampai batas ke-syahid-an dalam menjacapai tujuan-tujuannya? Kemungkinan irrasional seperti ini tidak dapat diterima oleh seorang manusia berakal.

 

Wahyu Hasil Manifestasi Aspek Batin Nabi

Sebagian ilmuwan Barat meyakini bahwa wahyu yang dimaknakan sebagai bentuk hubungan Tuhan dengan manusia, merupakan sebuah hal yang tidak mungkin. Dengan argumentasi bahwa wujud Tuhan adalah abstrak, nonmateri dan tidak terbatas, sementara wujud Nabi adalah materi dan terbatas, hubungan komunikasi antara keduanya menjadi tidak mungkin. Tuhan tidak memiliki tempat, lidah dan mulut sehingga dapat berkomunikasi dengan Nabi. Nabi adalah seorang manusia, bagaimana mungkin dapat menjalin hubungan dengan Tuhan?

Cendekiawan-cendekiawan ini tidak memiliki justifikasi yang dapat diterima mengenai kemungkinan terjadinya wahyu dan metode-metodenya, oleh karena itu mereka mengingkarinya. Akan tetapi, semenjak dimulainya pembahasan mengenai ruh dan jiwa manusia dengan berbagai macam eksperimen dan pengalaman-pengalaman panjang dan berulang-ulang, mereka sampai pada beberapa kesimpulan yang menakjubkan, dengan demikian metode justifikasi dan tafsiran wahyu terbuka lebar di hadapan mereka, dan akhirnya mereka meyakini wahyu sampai pada batas tertentu. Cendekiawan-cendekiawan yang meneliti wujud jiwa dan ruh, setelah sekian lama meneliti dan melakukan bermacam percobaan akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa manusia memiliki dua dimensi wujud: salah satunya adalah dimensi lahiriah yang bekerja dengan indera lahiriah dan memiliki kemampuan yang terbatas, dan yang lain adalah dimensi batiniah (esoterik) yang tak terbatas, abstrak, dan nonmateri. Mereka mengatakan: Di dalam dunia ini kita tidak hidup dengan seluruh wujud kita akan tetapi sebagian kecil darinya digunakan dalam area indera kita yang lemah. Kita memiliki sebuah keberadaan kehidupan yang lebih baik, lebih tinggi dan lebih luas, dan kita hanya mengalaminya dalam kondisi tidur atau kondisi tidak sadar lainnya.

Para cendekiawan menidurkan banyak orang dengan tidur buatan dan memperoleh informasi-informasi yang sangat menarik dengan pertanyaan dan jawaban-jawaban detail dari pemikiran-pemikiran internal dan kejadian-kejadian masa lalu dan masa depan mereka sendiri dan orang lain.

Seorang yang terbawa tidur akan memberitahukan tentang hal-hal gaib, kejadian-kejadian masa lalu dan masa depan. Dalam sekejap akan melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang sangat jauh dan membawa kabar tentang kejadian-kejadian di tempat tersebut. Akan kembali ke masa-masa lalu dan menyaksikan kejadian-kejadian di masa itu. Terkadang mampu dalam sekejap menjawab permasalahan-permasalahan rumit matematika yang pemecahannya memerlukan waktu berjam-jam.

Terkadang juga dapat disaksikan pada sebagian orang yang dalam waktu singkat dan terkadang beberapa bulan dan beberapa tahun tanpa tidur dan dalam kondisi biasa memiliki keadaan semacam itu. Para cendikiawan telah bekerja bertahun-tahun dalam permasalahan ini dan menuliskan hasil-hasil percobaan-percobaan dan kesaksian-kesaksian mereka di dalam buku-buku. Dan dari kumpulan ini mereka mengambil kesimpulan bahwa manusia, disamping kepribadian lahiriah dan yang telah dikenalnya, juga memiliki kepribadian lebih kuat yang belum dikenalnya di dalam batin yang terkadang muncul dan meninggalkan efek-efeknya.

Sebagian cendikiawan mengeksploitasi hasil-hasil penelitian-penelitian tersebut dan berusaha untuk menjustifikasi dan menafsirkan wahyu para nabi. Mereka mengatakan: "Wahyu adalah bukan ilham dari dunia luar akan tetapi bersumber dari dalam diri nabi. Dimensi batiniah yang lebih tinggi dari nabilah yang membisikkan hal-hal tersebut ke hati beliau. Menyerahkan sepenuhnya ke tangan beliau program-program yang baik dan bermanfaat untuk diri beliau sendiri dan orang lain dan menginstruksikan untuk menyampaikan kepada orang lain. Memberitahukan hal-hal gaib dari masa lalu dan masa depan. Orang yang mengaku sebagai nabi beranggapan bahwa Tuhan memberikan berita-berita dan program-program ini dan berbicara kepadanya. Terkadang dimensi batin beliau menjelmakan sebuah bentuk kepadanya dan berbincang-bincang dengannya dan membayangkan bahwa itu adalah malaikat wahyu yang membawa misi dari sisi Tuhan. Sementara tidak ada sesuatupun selain dari manifestasi dimensi batin itu sendiri."[25]

Dengan memperhatikan kepada kajian-kajian yang telah dilakukan dalam menafsirkan dan menjustifikasi wahyu, mereka mengatakan: Memang benar bahwa para nabi adalah orang-orang yang ikhlas, jujur dan berkelakuan baik serta tidak ada kesengajaan untuk berdusta dalam hal-hal yang mana mereka katakan itu sebagai hakikat-hakikat gaib yang diwahyukan, hal ini adalah suatu kebenaran, akan tetapi bisikan-bisikan ini berasal dari dimensi internal dan batin mereka bukan dari wujud luar, dari sisi Tuhan atau melalui malaikat wahyu. Para nabi hanya melakukan kesalahan dari sisi bahwa wahyu yang mereka yakini itu bersumber dari sisi Tuhan. Inilah ringkasan perkataan cendekiawan-cendekiawan tersebut.

Dalam menjawab sanggahan di atas kita akan menyinggung beberapa hal:

 

Pertama: Anggap saja bahwa kita menerima aspek internal atau dimensi batin manusia dan meyakini bahwa hal tersebut terkadang dapat berdampak pada kepribadian lahiriah manusia dan membisikkan beberapa hal kepadanya, akan tetapi hal ini tidak dapat menjadi indikasi bahwa hakikat-hakikat yang telah dibisikkan kepada para nabi juga termasuk dalam kategori ini dan tidak datang dari sisi Tuhan. Wahyu dari sisi Tuhan juga bersifat mungkin dan hal itu tidak dapat diingkari. Oleh karena itu, minimal kita harus memberikan kemungkinan bahwa wahyu yang hadir kepada mereka adalah datang dari sisi Tuhan.

Kedua: Di dalam buku-buku teologi dan filsafat telah dibuktikan bahwa manusia dalam mengenal jalan-jalan penyembahan dan meraih kebahagiaan duniawi dan ukhrawi, jasmani dan spiritual membutuhkan tuntunan-tuntunan Ilahi. Dan tuntunan-tuntunan ini akan terrealisasi melalui para rasul dan nabi. Telah terbukti bahwa Tuhan yang Maha Tinggi tidak membiarkan hamba-hamba-Nya terhalang dari pancaran anugerah-anugerah tersebut. Oleh karena itu, kita harus menerima pengutusan para nabi dan pancaran anugerah pengetahuan-pengetahuan gaib sebagai sebuah hal yang urgen dan pasti. Tuhan harus mengutus nabi-nabi dan menyerahkan pengetahuan-pengetahuan yang diperlukan kepadanya. Rincian hal ini diluar pembahasan kita, silahkan merujuk kepada buku-buku akidah dan teologi.

Ketiga: Di dalam buku-buku teologi telah dibuktikan bahwa para pengklaim kenabian tidak dapat diterima begitu saja hanya dengan klaimnya semanta, akan tetapi harus disertai dengan mukjizat dan hal-hal yang sangat luar biasa. Karena wahyu, hubungan manusia dengan Tuhan, komunikasi dengan-Nya dan perolehan ilmu-ilmu gaib itu sendiri adalah semacam perbuatan yangsangat luar biasa. Oleh karena itu, orang yang mengaku sebagai nabi harus mendatangkan mukjizat untuk membuktikan kebenaran pengakuan kenabiannya itu. Dan dengan alasan inilah para nabi yang sesungguhnya sepanjang sejarah selalu memiliki mukjizat. Tentu saja tidak berarti bahwa nabi harus selalu dan pada semua tempat serta atas permintaan siapa saja melakukan perbuatan yang sanga luar biasa, akan tetapi beliau akan menampakkan mukjizat itu sesuai yang diperlukan dan pada batas kebutuhan tertentu. Jelas bahwa dengan mendatangkan mukjizat seiring dengan pengakuannya memperoleh wahyu dari sisi Tuhan adalah hal yang urgen dan benar, hal ini berbeda dengan orang-orang yang memperoleh hakikat-hakikat melalui aspek batin dan internalnya dimana dia tidak mengklaim memperoleh kenabian dan juga tidak memiliki mukjizat.

Keempat: Pengetahuan dan informasi yang didapatkan orang-orang yang mengalami eksperimen tidur buatan atau pada kondisi-kondisi tidak normal lain, dari aspek internalnya tidak dapat dibandingkan sama sekali dengan pengetahuan dan informasi luas dari para nabi. Penyelesaian beberapa permasalahan rumit matematika dalam waktu yang singkat, memberitakan tentang beberapa kejadian masa lalu dan masa datang, ilham terbatas, hal ini itu hanya berada pada kondisi tidur buatan atau kejadian-kejadian nonalami, sementara informasi-informasi gaib yang luas dari para nabi yang memiliki jangka waktu yang lama dihasilkan dalam keadaan normal dari kehidupan para nabi.

Misalnya al-Qur’an Karim diwahyukan kepada Nabi saw selama 23 tahun, dalam berbagai persyaratan dan kondisi, bahkan dalam situasi perang. Di dalam kitab agama yang rinci ini terdapat berbagai macam permasalahan: keyakinan, akhlak, sosial, politik, ibadah, kisah-kisah teladan, kesehatan atau kebersihan, jihad dan bertahan, pendidikan, ekonomi, peradilan, pidana dan berpuluh-puluh macam lagi. Demikian juga pengetahuan-pengetahuan, hukum-hukum dan undang-undang yang luas dan bermacam-macam lagi yang masih tersisa dalam wacana hadis Nabi mulia saw yang kemudian memformat sebuah agama yang komprehensif dan lengkap.

Apakah semua pengetahuan dan program-program luas agama Islam dapat diyakini bersumber dari kepribadian internal dan aspek batin Nabi saw? Perkataan ini tidak dapat diterima oleh setiap orang berakal manapun.

 

Kenabian dan Kejeniusan

Sebagian kaum intelektual meyakini kenabian sebagai kejeniusan tertentu, dan para nabi dipandang sebagai orang-orang jenius. Mereka menempatkan para nabi sebagaimana orang-orang jenius lainnya yakni orang-orang istimewa pada masa mereka dan memiliki akal yang sempurna, kecerdasan dan ramalan yang selalu benar.

Mereka memiliki pemikiran-pemikiran cemerlang, ide-ide mendalam dan keinginan tinggi. Selalu memikirkan kebaikan dan kebahagiaan umat manusia. Mengenal problema-problema masyarakat dan menemukan pemecahannya. Dari sinilah mereka berusaha merombak keyakinan-keyakinan manusia, menganjurkan untuk memelihara akhlak baik, menciptakan hukum dan undang-undang untuk memperbaiki manusia dan menjamin keamanan sosial. Dan mereka memperkenalkan hal-hal tersebut sebagai tugas Ilahi. Dan meyakini bahwa berusaha dalam jalan ini sebagai sebuah tanggung jawab Ilahi.

Ringkasnya, para nabi tidak memiliki hubungan khusus dengan Tuhan dan tidak ada wahyu dalam hal itu, akan tetapi seluruhnya berasal dari refleksi akal-pikiran para jenius ini yang mereka sandarkan kepada Tuhan.

Untuk menjawab asumsi kaum intelektual ini harus disinggung beberapa poin:

 

Pertama. Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa pengutusan para nabi adalah sebuah keharusan teologis. Manusia dalam menjamin kebahagiaan duniawi dan ukhrawi, jasmani dan ruhaninya memerlukan tuntunan-tuntunan Tuhan dan pengarahan-pengarahan para nabi. Oleh karena itu, Tuhan yang Mahabijak harus mengutus para nabi dan membekali mereka dengan pengetahuan-pengetahuan, hukum-hukum dan undang-undang yang dibutuhkan. Untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini keberadaan orang-orang jenius tidaklah cukup.

Kedua. Sebagaimana telah diisyaratkan sebelumnya dalam ilmu kalam (teologi), telah terbukti bahwa untuk membuktikan kebenaran klaim-klaim para nabi, mereka memiliki mukjizat dan perbuatan aneh yang sangat luar biasa, sementara orang-orang jenius tidak memiliki kekuatan-kekuatan supranatural ini.

Ketiga. Apabila para nabi adalah orang-orang jenius maka program-program mereka bersumber dari kejeniusan akal-pikiran mereka, oleh karena itu tidak ada alasan mereka untuk menyandarkan seluruh program dan pemikirannya kepada wahyu dan mengklaim bahwa hal itu diperoleh dari Tuhan, karena semua orang mengakui bahwa para nabi bukanlah para penipu dan pendusta.

 

Kenabian dan Anggapan "Kegilaan"

Sebagian orang menganggap pengakuan menerima wahyu dan kenabian sebagai bentuk kegilaan dan penyakit jiwa. Dan untuk menjustifikasi pendapat tersebut mereka mengatakan para nabi adalah orang-orang beriman dan fanatik, menginginkan kebaikan dan sangat merasa kasihan kepada umat manusia dan ketertindasan orang-orang lemah, membenci kezaliman, kesewenang-wenangan dan ketidakadilan para penindas. Selalu memikirkan solusi dan kebaikan-kebaikan sosial. Sedemikian rupa mereka memikirkan hal ini sehingga keluar dari kondisi keseimbangan jiwa. Dan dampaknya, seringkali mengalami mimpi buruk. Dalam mimpi mendengar ucapan-ucapan dan memperoleh beberapa hal. Ketika terjaga mereka menganggap apa yang telah mereka lihat dalam mimpi sebagai hakikat dan realitas yang dibisikkan dari sisi Tuhan yang berbentuk wahyu dan mereka lantas dipilih menjadi nabi. Secara bertahap ketika pemikiran ini semakin menguat seringkali perasaan seperti ini hadir pada mereka dalam kondisi terjaga. Mereka mendengar suara-suara yang berbincang-bincang dengan mereka dan membawa misi dari sisi Tuhan serta memberikan tugas.

Mereka juga beranggapan semuanya ini sebagai realita, meyakini tindakan ini sebagai wahyu dan diri mereka sebagai nabi. Sementara seluruh hal ini sebenarnya bersumber dari dalam diri mereka yang sensitif, fanatik dan tidak stabil, bukan dari sisi Tuhan dengan perantara wahyu. Tak ada wahyu dan tak ada malaikat, tak ada sesuatu apapun selain fantasi dan khayalan.

Anda dapat saksikan fantasi-fantasi, khayalan-khayalan, kesaksian-kesaksian dan perbincangan-perbincangan seperti itu pada sebagian orang gila.

Inilah ringkasan justifikasi orang-orang tersebut.

Tentu saja tuduhan tersebut bukanlah hal baru, akan tetapi dapat disimpulkan dari al-Qur’an bahwa pada masa turunnya al-Qur’an dimana sebagian orang yang menentang juga melontarkan hal semacam ini kepada Nabi Muhammad saw. Bahkan mereka berkata (pula): "(Al-Qur’an itu adalah) mimpi-mimpi yang kalut, malah diada-adakannya, bahkan dia sendiri seorang penyair, maka hendaknya ia mendatangkan kepada kita suatu mukjizat, sebagaimana rasul-rasul yang telah lalu diutus."[26]

Dan mereka berkata: "Hai orang yang diturunkan al-Qur’an kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila."[27]

Demikianlah tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: "Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila."[28] Dan ayat-ayat lain yang serupa.

Dari ayat-ayat seperti di atas dapat disimpulkan bahwa pada masa Nabi Muhammad saw terdapat orang-orang yang menuduh beliau sebagai orang gila, penyihir dan penyair dan dengan cara ini mereka menentang kenabian beliau. Orang-orang seperti ini dapat dibagi ke dalam dua kelompok:

 

Kelompok pertama. Adalah orang-orang bodoh dan tidak berilmu yang tidak mampu menjangkau dengan benar arti wahyu dan hubungan nabi dengan Tuhan yang adalah sebuah hal yang luar biasa, dan oleh karena itulah mereka mengingkarinya, dan untuk menjustifikasinya menuduh Nabi sebagai orang gila, penyihir atau penyair, sehingga dapat menenangkan hati sendiri dan juga memalingkan orang-orang dari beliau.

Kelompok kedua. Adalah para pembangkang dan orang-orang musyrik yang melontarkan tuduhan-tuduhan tersebut melalui pembangkangan dan permusuhan sehingga menghalangi syiar-syiar dan penyebaran Islam.

Akan tetapi setiap orang yang berilmu dan tidak fanatik mengetahui bahwa wujud suci Nabi besar Muhammad saw bersih dari tuduhan-tuduhan semacam itu, untuk menjelaskan hal tersebut akan disinggung beberapa poin:

 

1.       Kehidupan Nabi Islam sebelum dan setelah bi’tsat (pengangkatan sebagai nabi dan rasul) sangat jelas dan gamblang, rincian kehidupan beliau telah tercatat di dalam sejarah dan berada di hadapan orang-orang yang menginginkannya. Setiap orang yang tidak fanatik dan tidak bertendensi apabila merujuk kepada sejarah kehidupan beliau akan memahami bahwa beliau hidup dalam kesempurnaan akal dan kestabilan jiwa serta tidak memiliki titik kelemahan sekecil apa pun dalam kehidupannya dimana membuktikan bahwa beliau mengalami kegilaan atau ketidakseimbangan jiwa. Di dalam kehidupan rumah tangga, berhubungan dengan famili, interaksi dengan para sahabat, dalam kondisi perang dan damai, dalam wejangan-wejangan dan ceramah-ceramah, dalam menjelaskan hukum-hukum dan undang-undang, dalam berhadapan dengan musuh-musuh, dan secara universal dalam seluruh kondisi, menggunakan akal dan kebijaksanaan sempurna, dan apabila terlihat sebaliknya maka pasti akan tercatat dalam sejarah dan musuh-musuh beliau tidak akan begitu saja membiarkan hal ini.

2.       Al-Qur’an al-Karim yang telah turun selama 23 tahun kepada Rasul dapat dijadikan sebagai bukti terbaik kesempurnaan akal dan keseimbangan jiwa beliau. Apakah dari seorang yang gila atau penyihir dapat mendatangkan sebuah kitab yang indah seperti ini dengan segala kandungannya yang bermacam-macam dan berharga dari sisi saintis, keyakinan, akhlak, fikih, historis, politik, dan sosial? Karya seperti ini tidak memperlihatkan hal terkecil sekalipun dari ketidakseimbangan jiwa dalam wujud beliau.

3.       Pensyariatan agama Islam, penciptaan undang-undang dan hukum-hukum mendetail dalam aspek ibadah, politik, sosial, fikih, peradilan dengan seluruh kejelian dan keluasannya juga dapat dimasukkan sebagai bukti terbaik kesempurnan akal dan kesehatan jiwa beliau.

4.       Para penentang dan musuh Islam sendiri dalam melontarkan tuduhan kepada beliau juga tidak