|
Pendahuluan
Pada
makalah yang telah lalu, telah kami sajikan uraian beberapa pandangan
penganut materialisme dan ateisme yang mengklaim, bahwa mereka adalah
orang-orang yang menolak eksistensi Tuhan. Dan telah kami sajikan pula
uraian jawaban-jawaban yang disampaikan oleh para penganut agama yang
memperkenalkan diri mereka sebagai orang-orang yang menerima dan
meyakini keberadaan Tuhan. Dengan mengkaji secara cermat kedua pandangan
dengan berbagai argumen yang mereka sajikan tersebut, kita akan
mengetahui kebenaran dan kesalahan salah satu dari dua pandangan
tersebut. Berikut ini kami sajikan di meja makan Anda hidangan
lanjutan pembahasan tersebut. Selamat menikmati.
Tuhan dan
Keburukan
David
Hume adalah seorang filosof yang berusaha dengan gigih mengkritik dan
menolak argumen keberadaan Tuhan. Salah satu dalil yang diajukannya
adalah dalil keberadaan keburukan. Dalil tersebut berbentuk seperti ini:
" Apakah sebenarnya Tuhan itu ingin mencegah keburukan, tetapi Dia tidak
punya kemampuan? Jika demikian halnya berarti Tuhan tidak memiliki
kekuasaan. Apakah Tuhan itu memiliki kekuatan, tetapi Dia tidak
berkehendak untuk menghilangkan keburukan? Jika demikian halnya berarti
Dia berkehendak buruk. Ataukah Tuhan itu memiliki kekuataan dan juga
memnghendaki kebaikan? Jika memang demikian halnya, lalu keburukan itu
datang dari mana?
Argumen tersebut
bisa disusun dalam bentuk yang lebih sederhana sebagai berikut:
1-
Tuhan itu
Maha Kuat (Maha Kuasa).
2-
Tuhan itu
Maha Berkehendak baik.
3-
Jika
demikian, maka terdapat keburukan.
Ketiga proposisi
di atas saling kontradiksi. Jika proposisi satu dan dua itu dianggap
benar, maka proposisi ketiga itu dianggap batil. Tetapi karena proposisi
ketiga itu benar, maka berarti proposisi satu dan dua itu batil. Dengan
demikian, maka keberadaan Tuhan harus ditolak.
Dalam
menjawab persoalan di atas, pertama yang harus dipermasalahkan adalah
jenis kontradiksi yang disebutkan itu sendiri. Sebagai contoh, jika
seorang ayah menginginkan agar anaknya kelak menjadi seorang ilmuan,
maka karena keinginannya tersebut ia pasti rela melihat anaknya
mengalami kesusahan, penderitaan, kesulitan belajar, jauh dari kedua
orang tua dan kepahitan hidup lainnya. Apakah jika sang ayah yang tidak
mencegah kesusahan dan kesulitan tersebut dapat dikatakan tidak
menginginkan kebaikan terhadap masa depan anaknya? Tentu tidak demikian.
Oleh karena itu, sama sekali tidak benar jika seseorang yang memiliki
kemampuan untuk menghilangkan kesulitan tetapi hal itu tidak dia
lakukan, lantas dikatakan bahwa dia seorang yang berkeinginan buruk.
apatah lagi jika kesusahan tersebut merupakan satu hal yang tidak dapat
dipisahkan dari tercapainya tujuan yang baik itu sendiri.
Dalam hal
ini, mungkin saja Tuhan tidak menginginkan sebagian keburukan di alam
materi ini lenyap. Sebab keberadaannya itu justeru akan menyebabkan
kebaikan yang sangat besar. Bahkan malah sebaliknya bahwa ketiadaannya
itu dapat mengakibatkan banyak sekali kebaikan yang tidak bisa aktual,
karena keberadaannya merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dengan
alam materi itu sendiri. Coba saja kita bayangkan, apakah segi tiga
siku-siku itu bisa diciptakan, jika -disisi lain- tidak diinginkan segi
tiga tersebut mempunyai sudut 180 derajat?
Untuk lebih
memecahkan permasalahan di atas, kami bawakan juga pandangan para
filosof dalam menghadapi permasalahan keberadaan keburukan:
1-
Quiditas
keburukan itu sendiri.
2-
Kebaikan
dan keburukan di alam materi merupakan dua hal yang tidak terpisahkan,
tetapi kebaikan lebih dominan atas keburukan.
Bagian pertama
yang perlu dijelaskan dari pembahasan di atas adalah bahwa keburukan itu
muncul dari "ketiadaan", bukan dari "ada". Sebenarnya terdapat dua
sumber keburukan yang perlu diperhatikan. Pertama, bahwa sesuatu itu
dapat dikategorikan buruk, apabila dia bersifat adam (ketiadaan)
seperti: buta (ketiadaan melihat), miskin, lemah, jelek, tua dan mati.
Kedua, sesuatu itu dapat dikategorikan buruk apabila ia merupakan
pangkal ketiadaan seperti: penganiayaan, bencana alam, kezaliman,
pencurian dan pembunuhan. Mati, miskin, lemah, tua dan jelek, semua itu
dapat dikatakan buruk karena dalam hal ini manusia tidak memiliki hidup,
tidak kaya, tidak kuat, tidak muda dan tidak cantik. Yakni dari sisi
ketidak punyaan dan ketiadaan memiliki sesuatu itulah dia dikatakan
buruk. Adapun penganiayaan, bencana alam, pencurian dan pembunuhan,
semua itu dikatakan buruk, karena hal itu menyebabkan hilangnya
kenikmatan dan kehidupan bagi manusia.
Dari penjelasan di
atas dapat disimpulkan bahwa ada itu sendiri semuanya baik, tidak ada
“ada” yang tidak baik, ketiadaanlah sebenarnya yang buruk. Yang dimaksud
dengan "tiada atau ketiadaan" disini bukanlah "tiada mutlak" yang sama
sekali tidak memiliki hubungan dengan wujud. Tetapi yang dimaksud dengan
“ketiadaan” di sini adalah "adam malakah" (ketiadaan potensi). Maksud
dari adam malakah ialah: setiap sesuatu yang maujud yang tidak memiliki
atau kehilangan sifat kesempurnaannya (seperti melihat, mendengar,
berbicara, dll) sementara ia termasuk sesuatu yang memiliki potensi
untuk menerima sifat kesempurnaan tersebut. Ketiadaan memiliki
kesempurnaan yang merupakan sifat suatu maujud itulah yang dikatakan
buruk. Buta, bisu dan tuli pada manusia itu dikatakan buruk, karena
sebenarnya manusia memiliki potensi untuk dapat melihat, berbicara dan
mendengar. Tetapi buta, bisu dan tuli pada batu tidak dikatakan buruk,
karena ia memang tidak memiliki potensi untuk itu.
Jadi keburukan itu
pada dasarnya adalah merupakan sifat relasi dan bukan hakiki yang
kemunculannya tidak membutuhkan penciptaan. Berbeda halnya dengan
kebaikan yang merupakan sifat hakiki bagi segala maujud yang dari sisi
keberadaannya bersumber dari “Kreator” kebaikan. Dari uraian ini kita
dapat mengetahui kebatilan konsep duisme penciptaan. Sebab yang tercipta
secara hakiki sebenarnya hanyalah wujud yang merupakan kebaikan.
Sementara adam -yang merupakan keburukan- tidak ada penciptaannya secara
hakiki. Dia hanyalah berupa relasi dari kesempurnaan yang tidak teraih
atau yang telah hilang. Dengan kata lain bahwa kebaikan dari sisi wujud
fi nafsi adalah benar-benar baik, sedangkan keburukan dari sisi wujud
nisbi dan qiyasi adalah keburukan yang tidak hakiki(relatif).
Adapun
permasalahan yang kedua, yaitu bahwa di alam ini terdapat banyak
kebaikan tetapi juga diikuti keburukan, dan mengapa alam ini tidak
diciptakan dengan dipenuhi kebaikan saja? Mengapa harus ada keburukan
yang mengisi kekosongan-kekosongan yang tidak dipenuhi oleh kebaikan?
Yakni, mengapa alam ini tidak diciptakan dalam bentuk di mana
posisi-posisi keburukan itu ditempati oleh kebaikan dan posisi-posisi
kekurangan diduduki oleh kesempurnaan, sehingga sama sekali tidak ada
lagi keburukan dan kekurangan? Dalam bentuk pertanyaan lain; mengapa
alam ini tidak diciptakan dengan sistem yang paling baik dan sempurna?
Untuk
menjawab permasalahan tersebut, terlebih dahulu kami uraikan tentang
kemungkinan adanya salah satu dari lima sistem di alam raya ini :
1-
Semuanya
hanya kebaikan
2-
Semuanya
hanya keburukan
3-
Kebaikan
lebih banyak dari pada keburukan
4-
Keburukan
lebih banyak dari pada kebaikan
5-
Kebaikan
sama banyaknya dengan keburukan
Kemungkinan yang
pertama -menurut pandangan filosof- hanya terdapat di alam akal, sebab
di alam akal sama sekali tidak terdapat keburukan. Di alam tersebut
hanya terdapat kebaikan semata, dan di alam itulah para malaikat hanya
sibuk bertahmid dan bertasbih pada Tuhannya. Mereka tidak pernah merasa
malas dan letih dalam melakukan tugas-tugasnya.
Kemungkinan yang
kedua, keempat dan kelima -berdasarkan pengalaman dan penyaksian
realitas- tertolak. Sebab kita semua menyaksikan bahwa kebaikan yang
terdapat di alam ini lebih banyak dibandingkan dengan keburukan. Adapun
orang yang mengira bahwa keburukan itu lebih banyak daripada kebaikan,
karena dia menyaksikan bahwa keburukan itu sering menimpa dirinya atau
orang lain di sekitarnya dan dia lupa menghitung kebaikan yang telah
banyak diperolehnya. Di samping itu, dia hanya melihat dirinya dengan
pandangan partikuler, dia tidak memandang alam ini secara universal
dengan isinya secara totaliatas. Dia hanya melihat kucing memangsa
tikus, macan memangsa kijang, ular mematuk katak, orang-orang yang kuat
memeras orang-orang yang lemah dan bodoh dan ia juga hanya memperhatikan
orang-orang yang ditimpa berbagai penyakit, semua itu ia nilai sebagai
keburukan. Dia lupa bahwa jika kucing tidak memangsa tikus, maka kucing
akan kelaparan dan mati, dan kemungkinan populasi tikus akan semakin
bertambah banyak dan mengganggu sawah serta tanaman para petani. Dia
lupa bahwa dengan adanya orang-orang yang ditimpa berbagai penyakit,
para ilmuan akan melakukan penelitian mencari sebab dari
penyakit-penyakit tersebut dan menemukan cara pencegahannya serta cara
pengobatannya sehingga akan memajukan pengetahuan dan teknologi
kedokteran. Singkat kata dibalik keburukan yang kita saksikan terdapat
kebaikan yang tersembunyi. Mulla Sadra dengan pandangan bijak seorang
filosof berkata: "Sekiranya tidak terdapat berbagai pertentangan di alam
ini, maka tidak akan langgeng anugerah (faidh) dari Pencipta (mabda)
yang dermawan"[1]. Oleh sebab
itu, sebagian filosof memandang bahwa keburukan itu merupakan
keniscayaan bagi alam materi yang memiliki hukum dan tabiat berbagai
pertentangan. Yakni, bahwa hakikat alam materi itu sendiri mengharuskan
terwujudnya berbagai pertentangan di dalamnya, dan mustahil keberadaan
alam ini jika tanpa tabiat dan watak semacam itu. Apabila Tuhan
menghilangkan sifat dan watak tersebut dari alam materi ini, sama halnya
Tuhan tidak menciptakan alam materi. Sementara meninggalkan penciptaan
alam materi, sama halnya dengan meninggalkan kebaikan yang sangat banyak
itu sendiri. Dan hal ini mustahil bagi Wujud yang Maha Dermawan.
Dengan demikian
maka sistem yang harus berlaku di alam materi ini adalah kemungkinan
yang ketiga dari lima kemungkinan tersebut. Yakni bahwa kebaikan itu
lebih banyak daripada keburukan. Hal ini sama dengan persepsi kita
terhadap segi tiga siku-siku yang mengharuskan terwujudnya 180 derajat.
Dengan kata lain bahwa segi tiga siku-siku itu tidak terpisahkan dengan
180 derajat tersebut.
Tuhan dan Teori
Sosiogenik
Teori
sosiogenik pada dasarnya tidak menafikan Tuhan secara mutlak, tetapi ia
memiliki pandangan yang berbeda tentang Tuhan dengan konsepsi Tuhan
pengikut agama-agama. Pendukung pandangan ini -terutama Emile Durkheim
(1858-1917) seorang sosiolog berkebangsaan Prancis- dalam menghadapi
realitas agama, disamping berusaha menjelaskan dimensi agama yang
memiliki aspek pragmatis dan kegunaan praktis dalam kehidupan
masyarakat, dia juga membantah dan menolak objektivitas luar dari
keyakinan dan pengalaman religius. Durkheim membagi hakikat agama kepada
dua bagian; bagian yang dikuduskan dan tidak dikuduskan
[2]. Bagian yang dikuduskan
itu berhubungan erat dengan masyarakat, sedang bagian yang tidak
dikuduskan berhubungan dengan individu dan pribadi.
Hal pertama yang
dilakukan oleh sosiolog ini menguatkan pandangan bahwa hakikat agama
bukanlah keyakinan pada eksistensi Tuhan yang Maha Tinggi dan
metafisika. Sebab terdapat agama -seperti Budhisme- yang tidak memiliki
keyakinan pada Tuhan. Agama Budha tidak menerima konsep Tuhan agama
Hindu, dan bahkan secara mendasar dalam maktab ini tidak terdapat
keyakinan tentang Tuhan dan atau suatu wujud yang maha tinggi dan
hegemoni.
Hal kedua
menjelaskan bahwa hakikat agama -seperti pemahaman gaib dan atau
matafisika- tidak memiliki pengaruh, sebab manusia awal secara umum
tidak mengenal keberadaan dua alam yang berbeda, yakni mereka tidak
memiliki konsepsi alam fisika dan alam metafisika. Manusia awal
menafsirkan semua fenomena dan gejala dengan mukjizat. Artinya mereka
tidak melihat keberadaan dua alam yang berebeda. Oleh karena itu mereka
melihat segala sesuatu sebagai perkara luar biasa dan matafisika.
Pembagian alam kepada alam fisika dan metafisika itu berhubungan dengan
manusia berperadaban dan memiliki atmosfir pemikiran kekinian. Sebab
manusia berperadaban tersebut mengetahui dan mendapat pengaruh dari
kaidah-kaidah ilmu alam.
Setelah melakukan
penelitian pada kabilah-kabilah yang terdapat di Australia, akhirnya
Durkheim berpendapat bahwa totem yang diagungkan oleh kabilah-kabilah
pada awalnya adalah merupakan suatu simbol, namun dia simbol dari apa?
Jawaban pertama yang bisa diberikan adalah bahwa totem adalah simbol
dari kekuatan tanpa nama dan menjadi alamat sesembahan dari suatu
kabilah. Tetapi jawaban tersebut tidak cukup sampai disini. Selanjutnya
Durkheim berpendapat bahwa jika totem adalah suatu gambaran realitas dan
objektivitas kabilah, maka totem adalah realitas masyarakat dan
merupakan tajassum darinya. Totem adalah lambang dan semboyan, bahkan
masyarakat itu sendiri dalam bentuk simbol. Yakni ketika masyarakat
tersebut tampak dalam tahap simbol, itulah dia totem. Durkheim dari dua
bentuk tinjauan tersebut mengambil kesimpulan bahwa Tuhan kabilah atau
kekuatan tanpa nama serta alamat, bukanlah sesuatu yang lain dari
kabilah itu sendiri dan menjelma dalam bentuk gambaran hewan atau
tumbuhan (totem). Oleh sebab itu totem adalah simbol kabilah
(masyarakat) dan sekaligus simbol Tuhan, sebab Tuhan dan masyarakat pada
hakikatnya adalah satu.
Kelemahan
teori di atas dapat ditinjau dari beberapa sisi:
1-
Defenisi
memandang hakikat agama memiliki dua bagian; bagian yang dikuduskan yang
berhubungan dengan masyarakat dan bagian yang tidak dikuduskan yang
berhubungan dengan person adalah suatu asumsi yang menyusun metode
berfikir Durkheim terhadap agama. Jadi pada dasarnya, Durkheim dari awal
pemikirannya memiliki persepsi bahwa perkara yang disucikan itu adalah
perkara masyarakat, sementara perkara yang tidak disucikan adalah
merupakan perkara pribadi. Dari metode berpikir ini maka konklusi yang
akan diperoleh Durkheim adalah bahwa agama adalah manifestasi dari
kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang merupakan suatu perkara yang tidak
asing, sebab pada hakikatnya dengan berasumsikan hakikat agama seperti
tersebut, teori Durkheim sudah jatuh pada argumen daur (sirklus) yang
tersembunyi. Yakni bahwa apa yang sudah menjadi asumsi, itu juga yang
nantinya akan menjadi konklusi.
2-
Memandang
agama masyarakat awal tanpa berdasarkan pada keyakinan terhadap alam
metafisika, tetapi karena semua gejala dan peristiwa alam menurut
pandangan mereka adalah satu, juga pandangan yang tidak benar.
Sementarta para peneliti yang se-zaman dengan Durkheim memperlihatkan
bukti-bukti kebalikan dari pandangan tersebut. Masyarakat awal, meskipun
tidak memiliki pemahaman tentang alam metafisika yang sama dengan
pemahaman manusia sekarang, tetapi mereka memiliki pemahaman tentang
peristiwa luar biasa dan tidak bersumber dari alam fisika yang sangat
menyerupai dengan pemahaman manusia sekarang tentang pemahaman mereka
terhadap alam metafisika.
3-
Menurut
teori Durkheim, agama terbatas hanya pada seruan kelompok untuk tujuan
menjaga kelebihan-kelebihan khusus kelompok tersebut. Oleh karena itu,
agama dengan syariatnya tidak mungkin berhubungan dengan seluruh
manusia. Pandangan bahwa seruan Tuhan itu terbatas hanya pada seruan
kelompok saja, tidak benar dan bahkan kebalikan yang terdapat dalam
agama. Sebab dalam agama -pada umumnya- seruan Tuhan tidak membatasi
suatu kelompok tertentu. Bahkan seruan Tuhan menyeluruh untuk semua
manusia pada persamaan dan persaudaraan.
4-
Kebanyakan
para nabi dan utusan Tuhan bangkit menentang tirani dan sistem
masyarakat. Di samping itu merekapun memberi petunjuk manusia kepada
perbaikan individu yang pada akhirnya mengarah kepada perbaikan
masyarakat. Dan para nabi serta utusan ini mendakwahkan diri mereka
sebagai utusan Tuhan yang dekat dengan Tuhan. Dengan demikian, jika
Tuhan adalah masyarakat yang berpakaian lain, maka para nabi dan utusan
tersebut tidak mungkin mendapat ketetapan dari Tuhan sebagai utusan, dan
tidak mungkin pula mereka bangkit menentang serta menyalahkan sistem
masyarakat yang ada.
Tuhan dan Agama di
mata Freud
Teori lain
yang menolak objektifitas Tuhan (keberadaan wujud luar Tuhan) datang
dari Sigmund Freud (1856-1939) pendiri mazhab psiko analisis dalam ilmu
psikologi. Freud sendiri memiliki beberapa uraian dan teori tentang
hadirnya konsep Tuhan ditengah manusia, yang intinya adalah merupakan
kebutuhan-kebutuhan kejiwaan manusia. Yakni Tuhan di sisi Freud itu
bersifat negatif dan tercipta oleh ilusi manusia. Oleh sebab itu Tuhan
tidak memiliki eksistensi luar.
Menurut
Freud agama adalah suatu bentuk aksi manusia dalam mempertahankan diri
ketika berhadapan dengan kekuatan-kekuatan menakutkan alam tabiat.
Manusia ketika berhadapan dengan kekuatan-kekuatan alam tabiat seperti;
gempa, topan, banjir, penyakit dan kematian, tidak mampu mempertahankan
diri. Apabila kekuatan yang menakutkan tersebut merupakan perkara tabiat
murni yang tidak memiliki ruh, melihat serta mendengar, maka menusia
tidak mampu melakukan sesuatu ketika berhadapan dengannya. Tetapi jika
kekuatan-kekuatan itu datang dari maujud yang memiliki ruh, melihat dan
mendengar, maka mereka memiliki harapan untuk mengikat hati maujud
tersebut sehingga merasa aman dari keburukannya. Yakni mereka dapat
memohon belas kasihan kepadanya, memuji-mujinya dan memberikan kurban
untuknya. Sehingga dengan cara seperti itu dia bisa bermurah hati dan
tidak mengirimkan malapetaka lagi kepada umat manusia. Singkatnya
-menurut Freud- Tuhan adalah jelmaan rasa takut manusia.
Dalil
yang dikemukakan oleh Freud -dalam membenarkan pandangannya- merupakan
peristiwa-peristiwa yang dialami oleh hampir semua orang. Menurutnya
terdapat suatu hakikat yang sangat jelas yang kita alami ketika masa
kecil. Misalnya ketika kita merasa takut terhadap berbagai peristiwa
alam tabiat yang mengerikan, maka tempat berlindung kita ketika itu
adalah bapak. Pada saat itu sang bapak segera memberikan perlindungannya
sambil mengucapkan kata-kata yang mampu menenangkan dan menguatkan hati
kita. Ini pengalaman di masa kecil kita. Tetapi sekarang, ketika kita
telah menginjak usia dewasa bagaimana?
Menurut Freud,
sebenarnya pada masa usia telah dewasa, seruan agama itu tidak berbeda
dengan seruan bapak yang memberikan ketenangan kepada anaknya yang
sedang menegalami ketakutan. Keyakinan pada agama menciptakan Tuhan
sebagai tempat berlindung manusia ketika menghadapi berbagai ancaman
alam tabiat serta perasaan takut dari peristiwa-peristiwa yang
ditimbulkannya. Sehingga kematianpun tidak menimbulkan rasa takut dengan
mengingat Tuhan ciptaan tersebut.
Pandangan
lain yang dikemukakan oleh Freud -yang lebih populer dari pandangan di
atas- adalah bahwa kemunculan agama sebagai kepercayaan manusia adalah
akibat pengekangan libido mereka. Menurutnya, bahwa libido merupakan
induk dari semua kecenderungan-kecenderungan manusia, bahkan ia sebagai
satu-satunya kecenderungan. Libido ini, setiap kali tergerakkan ia harus
dipenuhi dan dipuaskan. Tetapi manusia sejak masa kanak-kanaknya sudah
dberikan pengajaran oleh orang tua mereka mengenai pandangan ketidak
bebasan libido secara mutlak. Bahkan mereka malah diperintahkan untuk
menutup alat kemaluannya. Setiap kali usia seseorang itu bertambah, ia
dapati berbagai keharusan masyarakat itu semakin membatasi gerak
libidonya. Tetapi manusia tidak merasa cukup dengan berbagai batasan
yang dibuatnya tersebut. Namun, setiap kali libido itu memuncak
sementara keharusan dan batasan masyarakat berusaha membendungnya, tetap
saja libido ini tidak hilang, tetapi ia bergerak dari alam sadar ke
alam bawah sadar kemudian terpendam di alam bawah sadar. Di alam bawah
sadar libido menumpuk, ketika tidak mendapatkan jalan keluar, maka ia
akan berubah dalam bentuk yang lain. Menurut Freud para penyair, seniman
dan bahkan para nabi muncul dari jalan ini. Yakni sair, seni, dan atau
pengajaran agama itu timbul dari libido yang terpendam di alam bawah
sadar yang tidak memiliki jalan keluar. Dengan kata lain bahwa -menurut
Freud- konsepsi Tuhan, kitab suci, ibadah dan hukum-hukum agama,
semuanya itu muncul dari libido.
Freud
juga mempunyai teori lain tentang kemunculan agama yang ia utarakan
dalam bukunya "Totem dan Tabu". Dalam buku tersebut dia menguraikan
tentang kehidupan masyarakat awal, dan selanjutnya ia mengutarakan kisah
kemunculan agama. Dalil kemunculan agama yang diutarakan Freud -yang
dikenal dengan Oedipus Complex- tidak kita ungkap disisni, karena tidak
begitu menjadi perhatian para ahli studi agama dan menurut sebagian
mereka kisah tersebut tidak memiliki nilai ilmiah.
Salah satu
kritikan terhadap pandangan Freud tersebut datang dari ahli psikolog
sendiri. Mereka menolak metode dan teori psiko analisis Freud yang ia
gunakan untuk menjelaskan kemunculan agama. Pandangan Freud yang banyak
dikritisi khususnya adalah masalah libido. Bahkan sebahagian murid-murid
Freud sendiri seperti Yung dan Adler tidak menerima teori-teorinya
dimasa dia masih hidup. Mereka membuat teori sendiri yang berbeda dengan
teori gurunya.
Jika kita menerima
uraian Freud tentang agama, hal ini tidak berarti konklusi yang
diambilnya itu benar dan argumentatif. Apabila sebab manusia beragama
karena kejahatan original (sebagaimana dalam penjelasannya dalam odipus
complex), rasa takut, dan atau libido, tidak berarti bahwa konsepsi
tentang Tuhan hanyalah ilusi murni. Sebab memang bisa saja kepercayaan
terhadap sesuatu itu muncul dari perkara yang salah, tetapi tidak
mustahil sesuatu itu memilki realitas objektif. Freud melihat kebutuhan
manusia terhadap Tuhan hanya dari satu sisi, yaitu kebutuhan mereka
kepada perlindungan-Nya dari rasa takut terhadap bencana alam. Freud
tidak melihat sisi dan dimensi sifat Tuhan yang pengasih dan penyayang
yang dapat memberikan kenyamanan, ketenangan dan kenikmatan pada
manusia. Nah perasaan mendapatkan anugerah yang berlimpah inilah yang
memunculkan kebutuhan manusia untuk berterima kasih dan bersyukur pada
sipemberi semua itu, dan bukan karena rasa takut dan butuh perlindungan.
Oleh sebab itu ada atau tidaknya realitas Tuhan, tidak bisa dibuktikan
dan dinafikan dengan perasaan dan kebutuhan manusia. Tetapi wujud Tuhan
itu dapat dibuktikan dengan argumen akal, pengamatan yang dalam dan
pengalaman metafisika bagi yang memiliki pengalaman ini.
Hubungan antara
alam sadar dan alam bawah sadar sebagaimana dikonsepsikan oleh Freud,
tidak dapat diterima oleh psikolog. Apa yang terdapat di alam sadar akan
pergi ke alam bawah sadar ketika terkekang, dan alam bawah sadar menjadi
tempat penumpukkan kecenderungan-kecenderungan yang terkekang, masih
belum dapat dibuktikan kebenarannya.
Dalam
perjalanan sejarah ummat menusia, betapa banyak orang-orang yang dimasa
kecilnya sudah kelihatan bakatnya sebagai penyair atau seniman,
sementara libido pada usia dini belum dikenal oleh anak-anak. Bahkan
menurut Islam, Yahya dan Isa telah mendapatkan derajat kenabian semenjak
usia kanak-kanak.[wisdoms4all.com]
1-
Al-Asfar jilid 7 hal.77. 1.1.A
2-Tahap-tahap Mendasar Pemikiran dalam Sosiologi hal.37522
|