Para penganut materialisme dan ateisme mengklaim, bahwa
mereka adalah orang-orang yang menolak eksistensi Tuhan. Di sisi lain,
para penganut agama memperkenalkan diri mereka sebagai orang-orang yang
menerima dan meyakini keberadaan Tuhan. Untuk mengetahui kebenaran dan
kesalahan salah satu dari dua pandangan tersebut, kita perlu mengkaji dan
memahami argumen-argumen yang mereka sajikan.
Para penganut ateisme -untuk mempertahankan pandangan
mereka- telah berusaha semaksimal mungkin untuk menunjukkan
kelemahan-kelemahan konsepsi kaum beragama. Di antara argumen yang mereka
lontarkan terhadap para pemeluk agama adalah : Terjadinya kesalahan pada
akal dan alat pikir, keyakinan terhadap wujud Tuhan disebabkan karena
kebodohan, eksperimen-eksperimen ilmiah tidak dapat membuktikan keberadaan
Tuhan, banyak kejahatan dan keburukan yang tidak sesuai dengan pandangan
kaum beragama bahwa Tuhan itu adalah baik dan berkehendak baik, dan
sejumlah dalil serta argumen lainnya. Berikiut ini, mari kita kaji argumen
mereka.
Dalil pertama
:
Kesalahan akal dan alat pikir manusia.
Akal dan pikiran manusia dapat melakukan kesalahan,
karenanya ia tidak bisa dijadikan sandaran dan tolok ukur kebenaran. Di
samping itu, hasil pemikiran manusia dibagi dua. Pertama: Pemikiran yang
menerima penelitian dan eksperimen. Kedua: Pemikiran yang tidak menerima
penelitian dan eksperimen. Pemikiran yang menerima eksperimen dapat
diterima, dan sebaliknya pemikiran yang tidak menerima eksperimen harus
ditolak. Sementara persoalan-persoalan ketuhanan, termasuk hasil pemikiran
manusia jenis kedua, yakni tidak bisa menerima eksperimen. Dengan demikian
maka persoalan-persoalan agama dan segala hal yang berhubungan dengan
ketuhanan tidak bisa diterima dan harus ditolak.
Muthahari
dalam
menjawab masalah ini menulis:
Pertama:
Jika argumen tersebut benar, seharusnya tidak harus berpihak pada kaum
materialisme dan tidak juga pada kaum ber-Tuhan, tetapi sebatas pada kaum
"tidak mengetahui".
Karenanya, dalil tersebut tidak dapat mendukung mazhab meterialisme dan
tidak juga bermanfaat bagi mereka.
Kedua: Argumen tersebut termasuk argumen akal murni, bukan
eksperimen. Dengan demikian, jika selain eksperimen tidak ada argumen lain
yang bisa dijadikan sandaran, maka dengan sendirinya argumen inipun tidak
dapat dijadikan sandaran. Oleh sebab itu, dengan sendirinya dalil inipun
harus ditolak. Sebab, dia menolak keabsahan dalil yang bukan eksperimen.
Ketiga: Penelitian dan eksperimen itu berlandaskan
pancaindera. Sedangkan pancaindera tidak lebih kecil dan lebih sedikit
kesalahannya dibandingkan dengan akal. Oleh sebab itu, jika argumen akal
tersebut ditolak keabsahannya -dengan alasan mengalami kesalahan- maka
hasil eksperimen pun harus ditolak keabsahannya, karena pancaindera pun
bisa mengalami kesalahan, bahkan lebih banyak dibanding kesalahan akal.
Jadi pada dasarnya, sebagaimana kesalahan yang terjadi pada panca indera
itu tidak menyebabkan orang menolak seluruh pengetahuan yang diperoleh
berdasarkan penelitian dan eksperimen -karena kesalahan bisa dihindari
dengan pengulangan penelitian dan eksperimen yang lebih seksama dan
teliti- demikian pula halnya kesalahan sebagian dari argumen akal, tidak
harus menyebabkan seluruh bentuk argumennya tertolak. Sebenarnya manusia,
dengan ketelitian dan latihan yang sempurna dan dengan penuh kehati-hatian
pada materi dan bentuk istidlal (argumentasi akal murni), dapat sampai
pada satu seri argumentasi yang meyakinkan yang tidak perlu dibantu oleh
eksperimen. Bahkan sebagian besar dari masalah-masalah ketuhanan di dalam
filsafat dan teologi Islam ditetapkan berdasarkan argumen bentuk ini.
Dalil ke dua
:
Manusia itu beragama (meyakini eksistensi Tuhan), disebabkan menyaksikan
berbagai peristiwa dan bencana alam, tetapi mereka tidak mengetahui sebab
khusus dari peristiwa dan kejadian alam tersebut. Kepercayaan terhadap
wujud Tuhan inilah yang dijadikan alat untuk menjelaskan ketidaktahuan
mereka terhadap sebab khusus tersebut.
Pada
dasarnya pandangan yang dipelopori oleh
August Comte
ini berpijak pada asumsi bahwa sumber didapatkannya agama dan kepercayaan
pada wujud Tuhan adalah karena kebodohan dan kejahilan manusia terhadap
gejala dan fenomena sebab akibat yang terjadi di alam ini. Kemudain,
dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan sains, pemikiran tentang Tuhan dan
agama pada manusia akan menjadi hilang. Jadi, pandangan ini berlandaskan
pada suatu teori bahwa hukum-hukum universal pada awalnya merupakan bentuk
hipotesa-hipotesa yang digunakan untuk menjelaskan peristiwa dan fenomena
yang tidak diketahui sebabnya. Kemudian penelitian dan eksperimen memiliki
peran untuk menentukan apakah hipotesa tersebut diterima ataukah ditolak.
Dalam hal ini, keyakinan manusia terhadap wujud Tuhan pun merupakan sebuah
hipotesa yang disebabkan oleh ketidaktahuan mereka terhadap sebab dari
berbagai peristiwa dan fenomena, seperti timbulnya berbagai macam
penyakit, gunung meletus, gempa bumi, gerhana matahari dan bulan, topan
dan bencana alam lainnya.
Tetapi
sebagaimana diketahui, tidak semua hukum-hukum dan judgmen-judgmen manusia
dari jenis tersebut harus diperoleh dengan jalan penelitian dan
eksperimen. Seperti proposisi mate-matika misalnya, proposisi jenis ini
tidak perlu dilakukan penelitian dan eksperimen laboratorium untuk
menemukan hasilnya apakah hipotesa sebelumnya cocok dengan hasil
eksperimen ataukah tidak. Tetapi dengan metode mate-matika itu setiap
orang dapat langsung memperoleh konklusinya tanpa melakukan hipotesa dan
eksperimen sebelumnya. Meskipun -seandainya- teori di atas dapat
dipercaya, tetapi hal itu tidak bisa dijadikan sebagai dasar untuk
meyakini wujud Tuhan. Sebab jika diasumsikan bahwa keyakinan terhadap
wujud Tuhan merupakan hasil suatu hipotesa, maka dia harus dinamakan
hipotesa " sebab dari
semua sebab - sebab"
(hatta sebab dari hukum kausalitas alam itu sendiri). Adapun hipotesa
sebab untuk akibat khusus tidak mempunyai hubungan dengan kepercayaan pada
Tuhan kaum beragama. Karena -menurut kaum beragama- suatu maujud yang
dapat memberikan efek khusus pada maujud lainnya (yakni suatu sebab
terbatas yang hanya bisa memunculkan akibat terbatas), tidak bisa dan
tidak layak dikonsepsi sebagai Tuhan. Bahkan itu hanyalah merupakan satu
makhluk dari makhluk-makhluk Tuhan yang tak terhitung jumlahnya.
Dalil ketiga
:
Manusia berpikir tentang Tuhan dan beragama dikarenakan keterbelakangan
dan problem-problem sosial serta ekonomi yang tidak dapat mereka atasi.
Kaum beragama itu berasal dari masyarakat strata bawah, kemudian
penderitaan dan kemiskinan yang dialaminya menyeret mereka pada kondisi
kebutuhan kepada perlindungan. Karenanya, berpikir tentang wujud Tuhan dan
beragama, mereka jadikan sebagai tempat bernaung untuk mengurangi
penderitaan mereka dan memberikan ketenangan jiwa. Di sisi lain,
masyarakat strata atas dan para penguasa mempunyai kesempatan untuk
memanfaatkan kondisi ini demi mempertahankan kekuasaan dan kekayaannya,
sehingga keyakinan dan kepercayaan kelas bawah tersebut tetap eksis dan
terpelihara. Atas dsar itulah aliran ini menolak agama, sebab agama
-menurut mereka- merupakan candu masyarakat.
Dengan menelusuri sejarah para nabi pendakwah agama dan
menyaksikan keragaman strata masyarakat yang menerima keberadaan Tuhan dan
beragama, pandangan ini dengan mudah dapat ditolak. Karena tidak semua
para nabi dan pendakwah agama itu dari kaum lemah, miskin, dan lapisan
masyarakat bawah. Bagitu pula orang-orang yang menerima seruan mereka,
tidak semuanya dari lapisan dan golongan masyarakat miskin dan menderita.
Di zaman sekarang ini kita saksikan, betapa banyak orang-orang pintar,
ilmuan, seniman, praktisi politik, penguasa, serta orang-orang kaya yang
berpegang teguh pada agama secara murni tanpa pretensi dan kepentingan
individu serta golongan. Bahkan tidak hanya sebatas itu, mereka malah
bersedia menjadi pasilitator untuk pengembangan dakwah agama ditengah
masyarakat. Kebalikan dari pandangan tersebut, justru kemiskinan yang
mendekatkan seseorang kepada kekufuran (menolak Tuhan dan keluar dari
agama).
Dalil Keempat
:
Pembahasan tentang Tuhan tidak akan sampai pada suatu konklusi, karena
jika segala yang maujud di alam ini memiliki sebab dan Tuhan adalah sebab
utamanya, maka berarti, Tuhan juga tidak bisa keluar dari hukum kausalitas
tersebut, artinya bahwa Tuhan juga harus memiliki sebab. Sesuai dengan
hukum ini bahwa setiap eksistensi harus mempunyai sebab.
Betrand
Russel
dalam buku kecilnya "Mengapa saya tidak beragama masehi (Kristen)?"
berkata: " Ketika saya masih muda, saya tidak memikirkan masalah yang
dalam ini, dan argumen sebab dari semua sebab-sebab sudah cukup lama saya
dengar. Sampai suatu hari ketika usia saya 18 tahun dengan membaca
otobiografi John Stuart Mill, saya dapati kalimat ini; ayah saya berkata
pada saya bahwa pertanyaan :siapa yang menciptakan saya? tidak punya
jawaban. Sebab jika ada jawabnya, maka akan segera disusul dengan
pertanyaan berikutnya: siapa yang menciptakan Tuhan? Kalimat sederhana ini
menjelaskan kepada saya tentang kebatilan argumen sebab dari semua
sebab-sebab. Jika setiap sesuatu harus mempunyai sebab, maka Tuhan juga
harus mempunyai sebab. Karena jika sesuatu itu dapat ber-eksistensi tanpa
sebab, maka sesuatu itu bisa berupa Tuhan dan bisa juga berupa alam.
Ditinjau dari sisi inilah kehampaan argumen tersebut".
Pada dasarnya orang yang
menganggap salah dan batil argumen sebab dari semua
sebab-sebab dikarenakan kerancuan pengetahuan mereka atas
maksud dari argumen tersebut. Sebenarnya argumen ini tidak
mengatakan bahwa setiap yang memiliki eksistensi itu harus
bersebab, sehingga wujud Tuhan pun butuh kepada sebab selain
diri-Nya. Tetapi yang dimaksud bahwa segala sesuatu yang
memiliki eksistensi itu harus bersebab adalah segala sesuatu
yang bersifat wujud mumkin (yakni segala sesuatu yang -dari
segi konsepsi- antara ada dan tidak adanya adalah sama).
Sedangkan Tuhan bukanlah wujud mumkin, tetapi Tuhan adalah
wujud wajib, yakni wujud yang keberadaannya bersifat niscaya
(dharuri) dengan sendirinya. Dengan demikian maka eksistensi
Tuhan tidak membutuhkan sebab. (Di dalam filsafat Islam,
prinsip ini dibahas secara luas dan detail. Pilar-pilarnya
adalah kemustahilan daur (sirklus) dan kemustahilan tasalsul
(berantai) dalam hukum sebab-akibat ). Pada saatnya nanti
kita akan sampai juga pada pembahasan yang cukup menarik ini.
Kami harap Anda sabar menunggu gilirannya.
[wisdoms4all.com]